Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
52. Merapat Tegang di Feri


__ADS_3

Mobil itu telah menurunkan Shin dan Dhiarra di pelabuhan kota besar Butterworth di Penang. Dengan kesepakatan saling menunggu di pelabuhan kota George Town di seberang. Setelah itu, mobil yang berisi Azlan dan driver kembali melaju meninggalkan pelabuhan menuju jembatan penghubung daratan.


Kedua insan tengah ikut berjubel dalam sensasi berebut tiket kapal feri di antrian loket yang panjang. Mengabaikan adanya calo dan preman yang menawarkan kemudahan mendapat tiket dengan cepat di tangan.


Itulah yang memang diinginkan Shin. Kembali merasa keseruan sebagai warga negara biasa dengan layanan ala kadarnya. Meski berasal dari keluarga datuk dan terpandang, namun Shin di kala muda telah belajar banyak dan cukup makan asam garam dalam kehidupan bebas dan keras. Dan Hazrul lah guru pengajar gaya hidup semacam itu pada Shin.


Terminal dan pelabuhan telah diakrabinya bersama Hazrul kala dulu. Penang adalah kampung asal Hazrul. Meski orang tua Shin tak kurang-kurang melapangi fasilitas. Tapi Hazrul tetap memilh cara yang biasa saat pulang mengunjungi keluarga di Penang. Dan karena itulah Shin sering mengikuti dan merasakan dunia luar.


Namun saat ini,,, Shin terlupa jika dirinya tidak sendiri, tapi sedang bersama seorang gadis yang sudah pasti jadi tanggungannya. Meskipun Dhiarra merasa cukup bisa sendiri dan mampu menjaga dirinya.


Shin segera menyuruh Dhiarra menepi dari antrian. Sebab antrian itu saling dorong dari depan dan belakang. Beberapa kali Shin terdorong oleh pria yang sama besar dengan dirinya di belakang. Tak sengaja tubuh Shin juga hampir menabrak rapat Dhiarra banyak kali. Dan sesekali terhempas lambat menahan diri dan menabrak Dhiarra dari belakang.


Meski Dhiarra sudah berdiri menepi pergi dari antrian, tapi rasanya tidak nyaman. Shin tahu, Dhiarra beberapa kali terpergok menyembunyikan tawanya. Saat itulah Shin tersadar, dirinya bukanlah muda lagi. Mendadak rasa gengsi dan turun harga diri menyadarkannya.


Tanpa ragu Shin keluar barisan dan memanggil seorang preman tiket yang sedari tadi mengincar menawari Dhiarra. Bertranksaksi cepat dan dalam sekejap dua tiket feri telah didapat.


"Apa aku terlihat lucu?" Shin telah kembali berdiri di samping Dhiarra.


"Apa encik Shin marah jika saya tertawa?" gadis itu memandang segan dan menyimpan senyum pada pria tampan yang wajahnya nampak pias.


"Jika kau rasa itu menghibur, tertawalah," Shin berpaling wajah dan melangkah perlahan. Dhiarra bergegas mengikuti untuk menuju pada beberapa petugas periksa tiket serta kartu identity. Dermaga ini cukup ramai meski pagi buta, Dhiarra tak ingin terpisah dari Shin.


"Keluarkan segera ICmu," Shin berkata pada Dhiarra yang terus mengekor di belakang.

__ADS_1


"Iya,," sahut si gadis sambil mengeluarkan dompet dan mencabut ICnya. Lalu mengulur pada Shin.


"Kalian nampak serasi. Dah kawin kee,,?" petugas tiket itu sangat usil. Padahal antrian masih ada terus di belakang.


"Dia keponakanku, pak cik," Shin meluruskan.


Petugas itu menggaruk kepala sebentar, lalu menyerahkan kembali IC Dhiarra dan kepunyaan Shin. Mengangguk dan menepi sedikit. Kedua insan pun berlalu.


Tempat duduk di feri telah habis terisi. Shin mengajak Dhiarra menepi di pagar besi anjungan feri. Di bawah mereka telah menyambut langsung air selat yang menghampar. Mereka berdiri diam dan saling membisu. Tak tahu harus membicarakan apa saat itu.


Kapal feri telah mulai bergeser menengah ke selat. Bergerak maju perlahan menjauhi dermaga pelabuhan. Dhiarra berpegangan pagar anjungan sebab merasa feri sedang oleng bergoyang.


Shin yang sengaja berdiri tepat di belakang Dhiarra berusaha mencengkeramkan kaki dan memegang erat dinding feri di sampingnya. Shin tak ingin orang-orang di belakang bergesekan dengan Dhiarra. Sebab kapal feri pagi ini hanyalah satu lantai dan sangat berdesakan. Shin merasa berkeharusan melindungi posisi Dhiarra seaman dan senyaman mungkin di kapal.


Oleng goyang kapal feri perlahan mereda. Bersama tarikan nafas Shin Adnan yang juga merasa sangat lega. Keadaan telah aman terkendali. Kini berdiri kaki Shin, perlahan telah santai dan longgar kembali. Tidak lagi tegang dan tidak lagi mencengkeram. Shin tengah memandang jauh di hamparan air laut yang pekat sekarang.


Dhiarra sedang mencermati air di bawah anjungan. Rupanya beberapa penyelam kecil telah mulai turun sebab hari mulai terang. Dan mereka memang biasa ada untuk menangkap siling atau koin sen ringgit Malaysia yang sengaja dilempar penumpang feri ke bawah agar ditangkap mereka. Kerap juga mereka harus menyelam untuk mengejar siling yang terlepas dan tenggelam.


"Kau ingin melempar siling?" Shin sedikit merendah di kepala Dhiarra agar ucapannya terdengar lebih jelas.


Gadis itu menoleh mendongak, mata bintangnya menyambar wajah Shin.


"Saya tak ada siling, encik Shin," Dhiarra bergumam.

__ADS_1


"Tidak harus melempar siling. Mereka akan suka jika dilempar kertas ringgit. Itu lebih mudah," Shin membuka dompet dari saku jaket dan menarik banyak lembar kertas ringgit. Menyerahkannya pada gadis di depannya.


"Terimaksih, encik Shin," tangan halus itu menerima dan mulai menghitung. Ada sepuluh lembar pecahan sepuluh ringgit. Sedang anak-anak di bawah ada sekitar tujuh penyelam. Dhiarra tersenyum merasa bergembira.


"Lemparlah," terdengar ucapan Shin di belakang.


Dhiarra mulai melempar selembar dengan senyum cerah gembiranya. Shin memandangi wajah cerah itu dengan senyum. Teringat akan Hazrul, dirinya menyempatkan menukar pecahan sebelum memasuki dermaga.


Hazrul kecil adalah bagian dari para penyelam siling di kapal feri Butterworth. Namun tidak lagi dilakukan setelah berpindah ke Melaka dan diangkat anak oleh orang tua Shin Adnan. Dan sebaliknya, Hazrul selalu melempar banyak ringgit setiap menaiki feri saat berkunjung ke pulau Penang. Dan Shin Adnan kecil begitu gembira dan asyik meniru melempar siling ke bawah seperti yang selalu dilakukan sang abang.


Di tengah lamunan memandang gadis di depan. Tiba-tiba kapal feri oleng dan bergoyang kembali. Dan bahkan lebih keras. Entah apa yang sedang mengganggu dari luncur laju kapal feri saat itu.


Yang jelas Shin sama sekali tidak siap dengan cengkeraman kuda-kudanya. Tak bisa di kendalikan lagi, Shin telah menubruk cepat punggung dan badan Dhiarra. Tubuh besar Shin telah merapati Dhiarra hingga tubuh gadis itu menempel erat di pagar anjungan. Keduanya mematung beberapa saat sebab oleng goyang itu bergerak cukup lama. Beruntung pagar anjungan itu cukup tinggi dan safety. Jika tidak, mungkin mereka berdua telah terlempar keluar dari anjungan.


Shin segera menyeimbangkan diri dan cepat berdiri tegak semula di belakang Dhiarra saat kapal sedikit tenang kembali.


"Maafkan aku. Ini tak sengaja, Dhiarra," Shin melihat wajah jelita itu telah berubah pias dan merona. Sangat meresahkan bagi Shin.


"Saya paham dengan situasi ini, encik Shin. Jangan risau," lirih sahut Dhiarra.


Gadis itu telah bersiap lagi melempar dengan sisa lembaran ringgit di tangan. Berusaha mengabaikan peristiwa tegang dirinya bersama Shin Adnan barusan. Berusaha nampak tenang meski dadanya kembali mulai setengah jantungan.


Tak ubahnya dengan Shin Adnan yang terlihat telah santai. Padahal reaksi tubuhnya justru semakin tegang hingga sekarang. Susah payah dilemaskan, namun semakin kencang dirasakan. Shin segera merapatkan resleting jaket hitam panjangnya agar aman menutup tubuh bagian depan. Tak ingin seorangpun menyadari reaksi tegang pada bagian bawah tubuhnya di sana.

__ADS_1


Ketegangan keduanya sedikit lapang saat kapal mulai merapati dermaga di pelabuhan ibukota Penang, kota besar George Town. Seluruh penumpang bersiap dengan seluruh barang bawaan masing-masing. Bersiap untuk mengantri lagi menuju pintu keluar.


Shin dan Dhiarra justru sebaliknya. Memanfaatkan situasi yang mulai lapang itu untuk lebih menepi di pagar anjungan. Tak ingin sama sekali untuk berebut keluar dari kapal bersama mereka. Perasaan keduanya masih sangat tegang saat ini...


__ADS_2