Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
44. Berenang Pagi


__ADS_3

Sampai selesai mandi pagi dengan buru-buru pun, pemilik kamar tidak nampak juga berkelebat. Kesempatan untuk cepat kembali ke kamar melalui pintu balkon. Shin telah mengunci pintu utama dari luar. Berpesan di ponsel agar Dhiarra melalui pintu balkon dan menguncinya saat mandi.


Merasa tidak enak dan malu, baju yang dipilih adalah baju yang dipakai seharian kemarin walaupun sempat rasa bimbang. Meski bekas sehari dipakai, tapi tetap wangi dan tanpa noda sedikitpun. Rasanya malu jika mengenakan salah satu baju dalam koper.


Dhiarra telah turun di ruang makan. Namun meja itu masih rapi dan tidak ada satu orang pun yang duduk di sana. Sepertinya mereka sedang berada di luar.


Seorang pegawai yang pernah dilihat kemarin nampak datang dan menghampiri Dhiarra.


"Nona, anda segera makan saja. Tuan muda Shin, tuan Azlan dan nona Sazlin sedang berenang di belakang." pelayan itu khidmat memberi laporan.


"Iya, terimakasih, kaak," sahutan Dhiarra lembut dan sopan.


Mendekati meja makan, menarik kursi sama dengan yang dipilihnya tadi malam. Duduk senyaman mungkin dan mulai mengisi piringnya beragam. Melengkapi dengan pilihan berimbang demi mengembalikan produksi cairan merah yang mengalir deras keluar. Dhiarra tidak ingin terlihat lemas dan pucat berterusan.


Setelah nyaman dengan perut yang cukup terisi, Dhiarra menerima sambutan pelayan yang menawari untuk mengantar ke kolam renang di belakang. Pelayan itu berjalan cepat sambil tangannya memegang kemoceng. Mungkin setelah mengantar Dhiarra, dia akan bersih-bersih kembali.


Kolam renang berada di belakang, tepat di samping bawah kamar Fara. Jernihnya air dengan tiga orang yang telah akrab di dalamnya mulai terlihat.

__ADS_1


"Lajulah, Shin,,! Kejar aku,,!" suara Sazlina terdengar cukup nyaring.


Sazlin berenang dengan lihai di depan, Shin nampak berenang santai tapi mengejar Sazlina di belakang. Nampak menyenangkan sekali cara mereka berenang dipandang.


"Pagi, Dhiarra! Sinilah duduk! Kau nak berenang?" seruan dari Azlan. Nampak ramah menyambut kedatangan Dhiarra.


"Tidak, Azlan. Aku nak gabung saja," jawaban pelan Dhiarra. Azlan telah naik dari air dan duduk di kursi tepi kolam.


Gadis itu duduk di kursi kecil yang juga ada meja. Sedang Azlan duduk baring di kursi model landai. Menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk. Azlan tengah memakai baju renang lelaki warna hitam.


"Aku menang, bang Shin! Lekas tarik aku, kau dah sepakat,,!"terdengar lagi seruan Sazlina yang centil.


Shin tidak ingkar janji. Segera menyambut telapak tangan Sazlina yang terulur. Mulai berenang menarik telapak Sazlina untuk terus menyeret mengambang maju di air . Sazlina berenang terlentang menghadap ke atas. Sangat ringan membawa diri sebab ditarik oleh Shin. Terlihat serasi dan indah seni berenang mereka seperti itu.


"Benar tak minat berenang, Dhiarra?" pertanyaan kembali dilempar oleh Azlan.


"Tidak, Azlan. Aku tidak pandai berenang," jujur jawaban Dhiarra.

__ADS_1


"Kenapa? Kau jarang turun ke air?" Azlan menoleh dengan pandangan mengamati Dhiarra.


Baginya meski jika Dhiarra benar-benar tidak pandai berenang. Tapi penampilan dan bentuk badan gadis itu sangat cukup mempesona dan bahkan mendekati sempurna.


"Iya, aku kurang gigih mencoba. Lagipula aku tak sempat, tak ada kawan yang hobbi renang." Dhiarra mengakui. Memandang sesaat pada Azlan yang sepertinya sedang mendapat panggilan di ponselnya.


Dhiarra memandang ke dalam kolam renang. Memandang Shin yang terus asyik berenang bersama Sazlina. Mereka terus berenang dengan gembira dan mesra. Terus saling tarik menarik, saling mendahului dan sesekali menyelam bersama cukup lama.


Apa yang mereka buat saat menghilang bersama dalam air? Mereka tidak nampak saat menyelam. Mata Dhiarra berkedip-kedip menetralkan perasaan janggal tidak nyaman yang datang terasa tiba-tiba.


"Dhiarra, kau nak kat mana?!" seruan Azlan menghentikan langkahnya.


"Aku akan ke kamarku sebentar, Azlan. Aku lupa bawa ponsel!" alasan Dhiarra meyakinkan.


"Segeralah turun, habis ini kita bersarapan!" Azlan terus berseru.


"Aku telah bersarapan, Lan. Kalian makan saja!" bibir Dhiarra sambil tersenyum. Gadis itu berbalik lagi dan melangkah cepat untuk kembali saja ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2