
Perjalanan pulang yang tidak ada rasa indah-indahnya. Hamparan perbukitan menghijau sebab tanaman brokoli juga daun wortel, tidak mampu jadi penyingkir serabut di kepala.
Lembah merah stroberi serta berjuta tanaman kaktus bermacam bentuk yang nampak indah dan telanjang tanpa terbungkus rumah kaca, tidak juga menggeser bongkahan batu yang mengganjal di dada.
Shin dengan wajah tampan yang suntuk dan kusut, berkali-kali mendapat panggilan telepon dan kabar dari beberapa orang yang berbeda. Terutama dari Faiz, keluarganya,, juga keluarga om Hafiz.
Menanyakan tentang kapan dan bagaimana kepulangan Shin ke Melaka. Sang ibu, ayah juga Fara yang kini juga on the way to Melaka, tak henti-henti berpesan pada Shin untuk tidak buru-buru dan berhati-hati dalam perjalanan. Shin tak bosan-bosan juga mengiyakan segala pesan-pesan yang datang.
"Hati-hati, Driss! Fokus,,,jika penat dan mengantuk, kau kena cakap kat aku cepat-cepat, Driss!!" dirrect juga Shin berseru pada Idris setiap mendapat telepon pesan hati-hati dari sang ibu dan yang lain,,,
"Siap, tuan Shin. Saya tidak mengantuk. Terimakasih," itulah jawaban Idris tiap kali Shin berseru padanya. Sangat paham akan perasaan sang boss pada apa yang sedang menimpa sang paman di Melaka.
Bagaimanapun, berkendara di jalan raya memang seperti sedang bertaruh nyawa sepanjang jalan. Hanya berusaha serta berpasrah jugalah akhirnya.
Sehati-hati apapun,,,sesepi bagaimanapun kondisi di jalanan, jika sudah tersambar nasib dan takdir, pengendara dan penumpang yang mungkin bagiNya hanyalah semut hilir mudik itu lalu bisa apa?!
Hanya doa banyak-banyak, sikap baik dan saling berbagi pesan peringatan lurus sajalah yang akan meringankan rasa sakit dan sesal jika suatu masa terjadi hal buruk tak disangka di antara kita...
ππ΅π΅π
Wajah gadis jelita yang tetap meminta duduk di depan bersama Idris, sang sopir, nampak lebih kusut lagi dari penumpang lelaki yang duduk di kursi belakang. Seperti berjuta masalah sedang terkalung di tengkuk, penyebab aura gelisahnya begitu jelas terlihat. Hanya Idris sajalah yang perlahan menyadarinya. Disaat memungkinkan, akan sedikit melirik Dhiarra yang sering gelisah di sebelah.
Sedang lelaki yang duduk dikursi tengah pun tak jauh bedanya. Alis lebat golok itu terus saling bertaut mendekat. Sebentar menyandar punggung,,sebentar duduk tegak dan sebentar terbatuk berdehem.
Entah kenapa sebegitunya. Kepala yang biasa sangat mudah dan tunduk jika diajak bertenang, kini begitu melawan dan berserabut tidak tenang. Shin merasa gelisah yang terus menerus, tidak berujung dan tanpa sebab yang jelas.
Sedang Azlan yang juga dalam perjalanan pulang menaiki pesawat, sempat mengabari bahwa kondisi om Hafiz mulai stabil dan baik, sesaat sebelum Azlan lepas landas barusan.
Begitu juga dengan Faiz, sang asisten telah juga memberi kabar terbaru bahwa tim pelawat dari Jepun itu sanggup menunggu hingga sang pimpinan datang dan mendampingi.
__ADS_1
Harusnya Shin merasa tenang dan aman. Namun tidak, rasa gelisah dan tak tenang itu terus merongrong dirinya. Shin merasa begitu lelah yang sangat.
Dan untuk Ladisa,,,tentu saja sangat gundah. Lelaki yang sempat bersikap hangat, perhatian dan dekat, terlebih saat berangkat hingga menyusuri petak stroberi, kini nampak acuh dan abai. Sangat paham juga dengan kabar musibah yang menimpa omnya Shin. Tapi Ladisa juga tidak tuli saat Shin mendapat angin segar dari Azlan dan juga sang asisten.
Lalu,,apa lagi penyebab lelaki yang berhasil dipujanya dalam waktu singkat itu terus saja gelisah dan acuh? Apa salahnya? Apa berhubungan dengan kelebatnya dari kamar gadis yang duduk di depan itu pagi-pagi tadi,,? Ah, betapa galaunya perasaan Ladisa! Kecewa,, Perjalanan yang diharap sangka akan selalu indah terlewati, nyatanya jadi hambar tak berasa...
Bahkan hingga sampai tepat di halaman rumahnya pun, Shin tak mengajaknya berbincang sepatah kata pun. Hanya menjawab salam sapa pamitnya saat Ladisa keluar turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam, Ladisa! Salam buat mama serta papamu. Cakap aku minta maaf tak sempat singgah.,!" sahut Shin dengan melurus punggung duduk tegak.
Ladisa hanya mengangguk perlahan, merasa kecewa dengan lelaki yang diharap turun dan mengantar hingga pintu rumah saja pun, ternyata lebih sayang pada kursi mobil yang didudukinya!
πππ
Idris menghentikan mobil di tepian sebelum memasuki jalan tol bebas hambatan. Sebab, Shin tiba-tiba berseru menyuruhnya berhenti sebentar setelah kira-kira seribu meter berjarak dari rumah Ladisa di Kuala Lumpur.
"Ra, Dhiarra! Pindah duduk saja kat belakang. Aku ingin cepat sampai Melaka sebelum tengah hari. Jadi, biarlah Idris duduk sendiri. Biar dia fokus bawa kereta,!" ternyata beginilah maksud Shin Adnan menyuruh sang sopir behenti.
Dan akhirnya apa yang diinginkan Shin terlaksana. Dhiarra telah berpindah duduk di sebelah Shin Adnan.
Dhiarra memandang wajah kusut Shin yang juga sedang memandangnya dengan alis golok terangkat sedikit. Punggung menyandar itu beralih ke duduk lurus dan tegang.
"Jalan, Driss! Pandai-pandai kau atur macam mana bawa aku dan Dhiarra dengan selamat ke Melaka!"
"Iya, tuan Shin," jawab Idris bersemangat. Baginya memang lebih menyenangkan jika bangku di sebelahnya itu kosong saja. Apalagi jika yang duduk di sana adalah perempuan, khususnya Dhiarra. Bisa mati gaya bang Idris!
Dhiarra yang menyandar punggung di sebelah Shin, justru kian gelisah rasanya. Ingin membincangkan sesuatu bersama Shin saat itu. Sebab Dhiarra tahu, tidak akan ada waktu lagi setelah ini bersama Shin. Adrian akan datang petang ini.
Deggh,,,berdebar kaget di dada. Tangannya telah disambar tangan besar Shin tiba-tiba. Lelaki itu menutup tangan mereka dengan bantalan kursi mobil.
__ADS_1
Wajah tampan itu barlakon seolah tak bersalah dan tak berbuat apapun. Terpejam sangat rapat dengan kepala di letak di sandaran.
Matanya diam rapat sangat tenang, namun tangannya yang aktif bergerak itu terus menekan dan meremas tangan Dhiarra tanpa henti. Bahkan Dhiarra berdebar panas dingin jadinya.
Berbeda dengan Dhiarra yang jantung dalam dada sedang bersalto, tapi tidak dengan Shin. Rasa gusar dan gelisahnya justru perlahan sedang reda. Bahkan kini kedua mata Shin mulai mengantuk dan ingin benar-benar memejam. Merasa lelah jiwa raga yang ditanggung sedari tadi telah mendapat penawar yang manjur dan mujarab.
Shin mulai terseret tidur dengan tangan yang mulai diam namun tetap erat menggenggam tangan Dhiarra.
Dhiarra tidak tahan rasanya. Debar panas dingin itu telah berubah rasa jadi sebak sesak di dada. Merasa putua asa dan tidak tega mengganggu Shin untuk mengajaknya berbincang. Tangan yang terasa hangat dalam genggaman tang Shin Adnan, sama hangat dengan mata Dhiarra yang menitikkan air mata beberapa bulir tanpa mampu lagi ditahan-tahannya.
Melepas bebas rasa sedih sesaknya dengan menangis diam-diam sambil memandangi Shin yang sedang tidur sangat pulas sesekali. Dhiarra tidak berani lekat memandang terang-terangan, khawatir jika Idris memergoki dan jadi terfikir macam-macam, itu pasti akan mengganggu fokus mengemudinya....
πππ
πππ
Dhiarra dalam perjalanan menuju rumah besar Shin di Ayer Keroh dengan hanya bersama sang sopir, Idris. Lelaki yang duduk di sampingnya telah turun beberapa menit lalu di Shin's Garment di Lorong Hang Jebat, Melaka.
Menyempatkan diri singgah di kedai obat, Sentral. Namun sang karib tidak ada di sana. Yuaneta tidak membuka kedai obatnya hari ini.
Dhiarra mengambil sisa rancang baju terbaik yang sengaja ditahan untuk tidak diberikan pada Shin. Memasukkannya ke bag besar dan membawa keluar dari kedai. Akan dibawa Dhiarra ke rumah besar Shin Adnan di Ayer Keroh.
Kembali meminta Idris untuk mendatangi rumah Yuaneta di Batu Berendam. Namun rumah mungil itu sangat lengang dan sama sekali tak ada sahutan saat Dhiarra mengetuk berulang kali pintunya.
Tidak ada lagi tempat yang ingin dikunjungi. Entah di manalah sang karib saat ini. Sedang Dhiarra tak bisa menghubungi lewat ponsel. Milik Dhiarra kembali mati, sebab pagi tadi hanya sempat terisi daya sebentar saja. Shin telah mengajaknya untuk segera cek out keluar dari CH. Sedang power bank, Dhiarra terlupa membawanya.
Idris seperti begitu paham dengan suasana perasaan Dhiarra. Begitu seksama dan sigap menemani Dhiarra dengan segala pinta tujuannya. Idris sedang menuju destinasi akhir yang disebut Dhiarra,,, rumah besar sang paman...
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
__ADS_1
πππππππππππ
π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³