Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
56. Chew Jetty


__ADS_3

Beberapa kali tubuh tegap besarnya hampir menabrak orang-orang yang berpapasan atau juga yang berjalan searah dengannya. Mata itu terlalu sibuk menyapu tiap wajah yang menyemut di kampung China, guna memastikan di mana gadis Indonesia. Meski tak yakin jika orang yang sedang dicari berkunjung juga di sana, Shin tetap yakin berjalan dan mencari.


Hanya dengan insting yang biasanya tepat dan meleset pun sedikit, Shin berjalan menuju pasar apung nelayan meninggalkan lingkungan rumah wisata di Chew Jetty. Setelah melewati sedikit tanah lapang, pasar apung itu sudah mulai terlihat sebagian. Kampung Chew Jetty memang tepat berada di pesisir dan pinggiran.


Shin berdiri di pagar besi pembatas antara daratan dan air di pasar apung Chew Jetty. Sekali lagi mencari wajah gadis Indonesia di antara ratusan orang di bawah sana.


Apa yang menjadi kata hatinya terbukti. Diantara berjubel orang di atas kapal pasar apung, sangat mudah mendapati sosok gadis Indonesia itu terselip di sana. Berjalan terhuyung dan terpental-pental kembali ke kapal kecil. Gadis itu kalah berebut dari jubelan orang yang keluar sehabis berbelanja. Tak sadar Shin tertawa sendiri memperhatikan Dhiarra.


🍒


Sebab galau tiba-tiba memikirkan keakrabannya bersama Shin Adnan dalam tanda kutib, kepala tubuhnya lelah namun mata tak bisa terpejam. Dhiarra buru-buru keluar kamar dan pergi dari rumah tanpa bilang pada siapa pun.


Menjelajahi perumahan wisata Chew Jetty yang unik dan indah. Memasuki pasar-pasar cinderamata serta oleh-oleh. Dhiarra telah berbelanja sepuas hati di sana. Belanjaannya telah penuh tersangkut di tangan kanan kiri hingga kerepotan berjalan.


Keinginan untuk kembali ke rumah urung seketika. Setelah tak sengaja mendapati tempat penitipan barang yang buka selama dua puluh empat jam. Segera mendaftarkan seluruh barang belanjaan di sana. Dan lanjut jalan bersemangat menuju pasar apung yang tadi sempat menarik perhatian.


Berjalan di atas pasar apung yang kadang bergerak dan oleng sebab ombak air datang menumbuk kapal sampan, sungguh sensasi luar biasa yang sangat menegangkan. Dhiarra merasa keasyikan dan lupa keadaan. Berputar-putar saja tanpa ada tujuan membeli apapun.


Sebab malu pada pandangan para penjual yang sesakali memandang heran padanya. Dhiarra membeli sesuatu atas arahan salah satu penjual yang berhasil memikat Dhiarra untuk singgah lama di kapal sampannya.


Setelah sangat puas berkeliling pasar apung di atas perahu, Dhiarra berniat naik ke daratan dengan membawa sedikit belanjanya. Tangga penghubung dari air ke daratan itu hanya kecil. Sudah berusaha antri untuk naik, tapi mereka yang juga akan meninggalkan pasar tidak mau beratur. Lebih suka berebut, berdesakan dan saling sikut.


Setelah lelah mendapat sikut banyak kali, gadis Indonesia itu merasa cukup dan bosan. Serasa bernostalgia sebab terdesak, Dhiarra yang menguasai teknik dasar taekwondo, segera menerapkannya di sana.


Dengan sangat mudah, gadis itu berhasil naik dengan gesit ke darat. Meninggalkan cepat pengunjung pasar lain yang masih saja berebutan. Kini dirinya telah bernafas lega dengan berdiri kembali di daratan. Bersiap untuk meneruskan lagi penjelajahan.


"Dhiarra,,!" suara yang telah dihafal itu menyeru namanya.


Lelaki pemilik suara itu memang Shin Adnan. Berdiri di tepi sana lalu berjalan ke arahnya. Berhenti tepat dihadapan Dhiarra dengan tatap menyelidik.


"Encik Shin, anda sedang apa?" mata Dhiarra mengamati, lelaki itu tak membawa apapun.


"Hanya jalan-jalan dan kebetulan melihatmu," jawaban lelaki itu perlahan.

__ADS_1


Shin mengikuti gadis Indonesia yang mulai berjalan meninggalkan pasar apung. Rambut panjang itu nampak berkilau terkena surya sore. Meninggalkan angin wangi untuk Shin yang berjalan di belakang.


"Asal berdiri kat sana, tak turun?" Dhiarra memperlambat langkah, menunggu Shin untuk berjalan sejajar bersama.


Tidak nyaman jika lelaki itu jalan di belakang, menolak menjadi objek pandang Shin Adnan. Sebab Dhiarra sendiri pun begitu. Akan terus memandang Shin jika sedang berjalan di belakangnya.


"Aku tak tertarik. Aku lebih memilih mengamatimu, Dhiarra." Shin berjalan pelan mengimbangi langkah Dhiarra.


"Apa yang anda amati dariku?" wajah cantiknya berkerut menoleh pada Shin.


"Masa naik tangga, kau nampak pelik (aneh). Kau tolak (dorong) mereka mudah sangat. Apa kau pandai bersilat?" Shin yang kini menoleh. Dhiarra terdiam sesaat memandang Shin.


"Tidak pandai jugalah, encik Shin. Hanya dasaran taekwondo saja. Saya merasa kena belajar buat jaga diri. Sebab saya tak ada ayah. Mama pun janda,,,kadang risau juga hanya dua perempuan kat rumah. Bermacam kejahatan ada selalu di negara saya, encik Shin," bibir Dhiarra tersenyum mengakhiri jawaban.


Shin Adnan terdiam, menatap teduh wajah Dhiarra. Lelaki itu mengisyarat agar Dhiarra mengikuti. Mereka terus berjalan di antara ramai wisatawan. Chew Jetty akan semakin ramai saat sore.


Shin membawa Dhiarra ke sebuah rumah makan China bermenu makanan khas Indonesia. Melihat wajah si gadis yang agak mengkerut, Shin menjelaskan bahwa pemilik adalah sepasang lelaki China dan wanita Indonesia. Jadi masakan di sana sangat aman dan halal. Dan memang tertulis halal di mana-mana pada dinding rumah makan. Hati Dhiarra lega karenanya.


Rumah makan yang biasa ramai itu sedang agak sepi. Mereka duduk menepi berhadapan. Pantai di Chew Jetty terlihat lurus dan begitu jelas dari sana. Angin sore berhembus semilir menerpa wajah dan mempermainkan rambut Dhiarra, menjadikannya terlihat sangat cantik.


"Apa yang kau beli kat pasar apung tadi,,?" Shin memecah kebisuan. Sebab, semakin saling diam akan membuat dirinya semakin tidak nyaman.


"Emmh,,, Bahan-bahan nak buat nasi lemak," jawan Dhiarra sambil menoleh wajah ke pantai.


"Kau ingin belajar cara membuat nasi lemak?" wajah tampan itu tersenyum.


"Betul, encik Shin. Sambil belajar membuat masakan yang lain pada ibuku," wajah itu menunduk tersenyum.


"Apa kau ingin melakukan saranku sebab takut jika calon suamimu itu diam-diam tidak puas denganmu?" wajah itu terdiam memandang Dhiarra.


"Sebab ingin memanfaatkan kebersamaan dengan ibuku,," sahut Dhiarra.


"Apa kau punya waktu? Besok pagi kita mesti balik ke Melaka. Kasihan Faiz serta om Hafiz," Shin memandang tajam Dhiarra.

__ADS_1


Dhiarra tertegun, merasa sangat wajar jika Shin keberatan untuk tinggal lebih lama lagi di Penang. Tapi barusan sampai dan besok pagi harus pulang, rasanya sangat kurang.


"Encik Shin, bolehkah saya tinggal dua malam lagi kat Penang? Anda pulang sajalah dulu. Saya akan kembali ke Melaka dengan naik bas (bus/bis)," Dhiarra seperti memohon.


Shin terdiam, wajahnya menghadap pantai. Mengamati sesuatu yang jauh dan tak jelas wujudnya. Hanya wajahnya kini nampak kaku. Senyum yang kadang tergaris di wajah, telah lenyap sama sekali.


"Baiklah. Terserah dirimu. Tapi jangan kembali dengan menggunakan bas. Jangan menyusahkanku, Dhiarra. Akan kuminta driverku menjemputmu," mata itu meredup melaser Dhiarra.


"Menyuruh drivermu kembali ke sini? Bukankah itu justru sangat merepotkanmu?" Dhiarra terheran dengan ucapan Shin.


"Jujurlah, Dhiarra. Jika saja, kau bertemu serta dimangsa perogol kat feri atau kat terminal. Siapa orang pertama yang kau harap menolong? Aku,,Ibumu,, ayah tirimu,, atau calon suamimu yang masih di negaramu itu?" pertanyaan Shin terdengar tajam menusuk. Tidak peduli dengan wajah Dhiarra yang berubah pucat dan merah.


"Anda berharap hal buruk terjadi padaku? Anda salah, saya bisa menjaga diriku sendiri dengan baik," tak kalah pedas Dhiarra membalas.


"Bagaimana jika mereka bergerombol?" Shin semakin merongrong dan menakuti Dhiarra.


"Aku akan lari,," putus asa jawaban Dhiarra.


"Apa kau akan terus berlari? Jawablah, Dhiarra. Siapa yang kau harap datang dan menolongmu?" Shin masih terus mendesak Dhiarra untuk menjawab. Meski sadar bahwa mungkin dirinya sedang kekanakan.


Gadis itu terdiam, bibir meronanya kembali terkatup sangat rapat.


"Apa anda sangat ingin tahu?" perlahan wajah merona itu nampak cerah kembali.


"Aku hanya ingin tahu isi kepalamu," Shin nampak menunggu lagi jawaban si gadis. Tidak peduli bagaimana Dhiarra menilai kekonyolannya.


"Polis (polisi), encik Shin." Dhiarra samar tersenyum.


"Selain itu,,,pilihlah yang kusebut padamu tadi,!" Shin terlihat tidak sabar. Memandang tajam lagi pada Dhiarra.


Gadis itu mengerti maksud pandangan sang paman.


"Emmmhh.. Ibuku, mama perutnya besar. Mana bisa aku mengharapkannya.. Ayah Hazrul, aku tidak ingin merepotkannya. Adrian, sangat ingin dia yang datang, tapi kan tidak mungkin.. Jadi siapa lagi kalo bukan andalah orang yang kuharap itu, encik Shin," Dhiarra tersenyum kembali memandang santai pada Shin Adnan. Ada selip senang berbincang hal seperti ini dengan sang paman. Senang mendapati wajah tampan Shin yang nampak kaku dan tegang.

__ADS_1


Dan memang seperti itulah, wajah Shin berlainan dengan Dhiarra, lelaki itu sedang pias, tidak puas dengan jawaban Dhiarra yang berbelit dan panjang..


__ADS_2