
Dua insan yang sedang kian sadar bahwa dunia sangatlah indah, sedang menyisir pantai menyambut sambaran ombak yang membasahi kaki dan pasir di pantai. Meski matahari pagi sudah mulai menyengat terik, tapi tidak juga bermakna bagi mereka. Pandangan heran, jadi tontonan, dan mungkin sedang digunjing lebay oleh pengunjung pantai yang lain, mereka tidak ambil peduli sama sekali. Shin tetap menggendong tenang sang istri untuk terus melangkah berayun menyusuri pasir putih di bibir pantainya.
Dhiarra nampak terkaram di tiap ayunan langkah Shin yang terus kokoh dan lurus membawanya berjalan. Merebah letak kepala di pundak dan mengalung lingkarkan tangan yang menyatu di dada. Keduanya menempel rapat dan saling menikmati sensasi guncangan langkahnya.
Shin yang semula terus tersenyum sebab merasa seru dengan sensasi guncang tempel tubuh Dhiarra di punggung serta pundak, merasa agak aneh dengan gerak guncang kepala Dhiarra di pundak lehernya. Bahkan kulit Shin terasa basah dan hangat di bagian pundak yang menembusi bajunya. Dhiarra juga sedang mengeratkan peluk lengannya di leher dan dada Shin Adnan.
"Raa,,apa kau menangis? Raaa,,?!" Shin berhenti berjalan, menunggu Dhiarra berbicara.
Shin sangat jelas merasakan, guncang kepala Dhiarra adalah sebab isakan. Gadis yang sedang digendong dan meletak kepala di pundaknya itu sedang menangis sesenggukan.
"Raa, cakaplah. Jangan diam,, akan kuturunkan, tak nak aku terus dukung macam ni, Raa,,?" Shin sangat serba salah, kenapa Dhiarra menangis. Dan kini justru terasa makin kencang isakannya.
"Raaa,,,nak cakap tak? Tetap diam? Turun sajalah... Kulepas penahan tubuhmu nii sekarang yaa,,?" Shin tidak main-main. Sebab Dhiarra terus diam. Sengaja dilonggarkan sebelah tangannya dari menahan berat Dhiarra di paha pantatnya.
"Auwh, hon Shin, aku nak jatuuuh,,,!" tercekat berseru Dhiarra. Sambil mengeratkan jepit paha kakinya di pinggang Shin agar lekat tidak jatuh.
"Lalu, apa hal engkau menangis? Tak nyaman aku menggendong orang menangis nii, Dhiarraaa,," desak Shin pada gadis yang kian menempel di punggung.
"Aku sedih, hon Shin.. Aku terharu,, jadi ingat almarhum ayah semasa aku kecil. Beliau sering sangat dukung aku macam ini,,hik,,hik,," Dhiarra merebah kepala lagi di pundak Shin dan terisak menangis tanpa ingin ditahannya.
"Benarkah, Raa,,? Kau umur berapa ayahmu tiada?" Shin kembali erat menahan beban tubuh Dhiarra di punggung dengan kedua tangan kekarnya.
"Masa masih kecil, aku sepuluh tahun, hon Shin,,"lirih jawab Dhiarra. Shin mengencangkan gendongan dan mulai berjalan lagi lebih cepat.
"Engkau sepuluh tahun,,, dan aku sembilan belas tahun. Jika tahu engkaulah calon istriku di masa depan, aku pasti akan mencarimu. Tak sangka sebab bang Hazrul pulak kita berjumpa, Raa,,," Shin berkata dengan nada seperti menyesali. Merasa iba pada Dhiarra.
Dhiarra semakin mengeratkan pelukan dan tidak menyahut, hanya menikmati rasa nyaman dan aman saat berada dalam gendongan di punggung tegap dan kokoh Shin Adnan. Masih seperti tidak percaya jika boss germent yang biasanya bermulut dingin dengan teguran-tegurannya itu, kini tengah menggendong eratnya dengan hangat tanpa nampak lelah sedikit pun. Shin terus berjalan lurus ke depan tanpa henti, seperti tidak akan pernah habis saja tenaganya..
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
Dua insan yang sebetulnya telah terikat dalam perkawinan sakral, kini sedang singgah di salah satu mall pulau Penang, di Gurney Paragon. Pusat keramaian dan perbelanjaan sangat besar di Georgetown, herritage.
"Apa yang ingin kau beli, Raa,,?" Shin mengikuti Dhiarra memasuki sebuah butik betulis Baby, Kids & Mom yang berada dalam mall di Gurney Paragon.
"Ingin beli perlengkapan baby dan mom. Hon Shin bisa pilihkan juga jika minat," jawab Dhiarra bergembira. Mata bintangnya menyapu ke pelosok sudut di butik.
Suasana dalam butik sangatlah tenang dan damai. Lengkap dengan pernak-pernik baby, anak dan ibu. Serta hembusan udara di ruang butik itu adalah wangi aromaterapi yang sangat nyaman melenakan.
__ADS_1
Setelah berputar-putar puas, Dhiarra mulai mengumpul baju-baju, sepatu, sarung kaki, topi dan beberapa perlengkapan khusus untuk baby berjenis lelaki. Serta beberapa mainan dan kotak musik yang juga berbau lelaki.
Shin yang mengikuti dan memperhatikan saja di belakang dengan sesekali tersenyum, mulai berkerut keheranan. Merasa aneh dengan barang pilihan Dhiarra yang semua cenderung khusus digunakan untuk bayi laki-laki.
"Raaa,,?" panggil Shin sambil terus tersenyum.
Dhiarra menoleh sekilas dan kembali fokus pada area khusus popok atau diapers.
"Semua kau pilih untuk jenis baby lelaki, kee,,?" tanya Shin lirih di belakang Dhiarra.
"Iya, hon Shin. Hanya baby lelaki,," jawab Dhiarra mengiyakan.
Mendadak gadis itu menoleh ke belakang. Sangat heran dengan wajah tampan yang terus saja tersenyum menatap padanya.
"Hon Shin, asal senyum-senyum?" Dhiarra bertanya menyelidik memandang Shin.
"Ra, apa kau sudah sangat yakin? Aku pasti buatkan baby lelaki untukmu? Kau tengah pikir mama serta papa yang teringin sangat timang cucu kee?" Shin memandang hangat Dhiarra dan sempat menaikkan alis goloknya ke atas sekilas.
"Haih,,, apa maksudmu ini, hon Shin?" Dhiarra menahan tawa terheran. Shin tertegun menatap gadis di depannya.
"Ra, perlengkapan baby lelaki sebanyak ini untuk siapa?" Shin berubah nampak bingung. Senyum sudah mulai luntur dari wajahnya.
"Aku pilihkan semua nii buat adik baby boy aku, hon Shin... Sedih pulak petang nanti meninggalkan mereka," jelas gadis itu memandang hangat dan tersenyum manis pada Shin.
Hingga Dhiarra selesai memilih segala belanjaan pun, Shin belum juga menampakkan hidungnya.
Antrian di seluruh kasir dalam butik sangat panjang beratur. Tidak ada satu pun yang nampak lumayan untuk dipilh sambung jadi baris antrian.
"Raaa,,!!" sebuah seru panggilan untuk Dhiarra terdengar. Shin yang sedang berdiri di salah satu antrian kasir dengan posisi lumayan jauh di depan, tengah melambai Dhiarra.
"Come here, Raaa,,!!" panggil Shin.
Wajahnya nampak berekspresi menunggu agar Dhiarra mendatanginya.
Dengan rasa heran pada apa yang sudah di beli Shin hingga ikut baris di antrian, Dhiarra mendekat.
Shin segera menyambar belanjaan Dhiarra untuk dibawa dalam antriannya.
"Hon Shin, ini tak baik. Segan dengan orang yang tengah antri di belakangmu!" agak berbisik Dhiarra berkata pada Shin.
__ADS_1
"Tenang sajalah, Raa... Kurasa untuk baris ini, hanya khusus bagi para suami yang setia! Hanya para lelaki yang beratur di sini. Dan semuanya sedang menunggu istri-istri mereka berbelanja. Aku hanya meniru cara mereka. Kau duduk dan tunggulah aku di sana,,!" Shin menunjuk deretan bangku kosong di sebelah pintu masuk.
Dhiarra kemudian mengangguk setuju. Berbalik arah dengan mata sekilas mamandang di sepanjang barisan Shin Adnan. Nampak konyol juga dilihat, seluruhnya adalah laki-laki.
Tak paham Dhiarra, hal itu kebetulan atau sudah peraturan. Aturan spesial hanya untuk pasangan setia bahagia yang baru saja memiliki momongan. Yang jelas, apa yang sudah Shin Adnan lakukan, benar-benar nyata sangat berguna baginya.
Wajah manyun Dhiarra yang sempat merasa suntuk pada panjang di baris antrian tadi, kini tengah mengulum senyum dengan bibir yang sesekali mengembang melebar. Sambil matanya juga seringkali memandang takjub pada Shin Adnan di baris antrian..
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
Mobil sewa yang dikemudikan Idris tengah mengangkut keluarga datuk Fazani dan Dhiarra. Kereta melaju cukup sedang menuju Bandar Udara International Penang di Georgetown, bandara besar di Pulau Penang.
Fara tengah menepuk-nepuk lembut punggung Dhiarra yang menangis sekali lagi saat ini.Gadis Indonesia itu tiba-tiba merasa berat dan sedih saat berpamitan pada sang mama serta meninggalkan adik baby boy barunya yang gemuk dan lucu. Serasa berat saat berjalan mendekati kereta sewa keluarga datuk Fazani. Mereka sengaja datang menjemput untuk berangkat ke bandar udara bersama di Georgetown.
Dan Sedikit terhibur saat sang ayah sambung berjanji akan datang menyusul Dhiarra ke Melaka atau juga ke KL.
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒.
Mereka berenam telah duduk setengah tenang- setengah resah di kabin pesawat. Duduk tegang bersama kursi berkelas pilihan Shin Adnan semalam.
Meski Shin dan Dhiarra telah duduk sederet dengan nomor kursi pesawat yang beruntun berurutan, mereka mencoba pasrah dengan keadaan. Sebab tepat di samping mereka, yang duduk di seberang itu adalah papa dan mama, sang parentsnya.
Sedang Fara, duduk tepat di bangku depan sang parent di seberang. Sangat jelas bisa melihat, jika saja ingin menoleh ke bangku seberang di belakangya. Yaitu posisi tempat duduk Shin dan Dhiarra yang sederet.
Wacana pramugara yang membawa berita bahwa pesawat sebentar lagi mengudara, memberi efek tegang kepada seluruh penumpang. Mengikuti arahan pramugara untuk berdoa sejenak demi keselamatan bersama selama menempuh perjalanan di pesawat.
Berharap seluruh penumpang, seluruh awak pesawat, serta seluruh isi perut dalam pesawat, akan baik-baik mengudara dan kemudian berhasil mendarat di titik tujuan dengan selamat dan sempurna. Mungkin seperti itulah isi doa seluruh penumpang dalam pesawat yang akan lepas landas saat itu..
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓🍒🍒🍒
#Selalu terimakasih pada dukung dan semangat darimuuuuuu...
__ADS_1
Hanya up 1 bab...
Otor kedatangan lawan bincang dari jauh dan sangat lama tiba-tiba hari ini... 😄😄##