
Empat orang lelaki dan seorang perempuan cantik telah kembali menuju lobi. Mereka baru kembali dari mengunjungi bagian-bagian penting kegiatan produksi di perusahaan Shin's Garment.
Keempat lelaki itu adalah Shin, Faiz, Hafiz-manajer Shin"s Garment, dan Adrian, pengusaha muda dari Indonesia. Serta seorang perempuan sangat cantik, Velinda. Perempuan yang sedang disewa oleh Adrian sebagai asisten sementara yang menemani selama di Malaysia.
Sekilas, Adrian dengan wajah tampan baraura ningrat dengan Velinda yang begitu anggun dan cantik, sangat serasi saat berjalan bersama. Dan akan disangka bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang bertopeng hubungan kerja.
"Bagaimana, saudara Adrian? Anda masih ingin menjalin hubungan kerja sama dengan kami?" Shin tidak ingin bertele-tele.
"Perusahaan anda, sangat nyaman dan berprosedur, tuan Shin.. Apalagi, barang anda selalu melimpah. Sepertinya kami akan merasa aman jika mengambil barang darimu, tuan Shin..," Adrian, lelaki berwajah ningrat itu sangat tegas. Tak ada ragu saat mengatakan hal itu pada Shin..
"Jadi anda akan mengambil bahan baku,.sekaligus prodak jadi dari kami. Betul begitu bukan, saudara Adrian...?" Shin ingin mendengar ketegasan sekali lagi dari Adrian. Lelaki tampan sang calon distributor, dan bukan lagi investor..
Sebab Adrian langsung tertarik begitu meninjau isi bagian dalam dari Perusahaan Shin' Garment. Tempat yang bersih, prodak bagus, dan stok yang melimpah itu sangat disukai oleh Adrian.
"Betul, tuan Shin. Begitu lusa saya kembali, anda bisa langsung mengirimkan ke gudang saya di Indonesia. Saya sedia menunggu dan menerima. Agar bisa di distribusikan dengan lebih cepat di negara saya," Adrian menerangkan.
"Baik, saudara Adrian, kami paham." Shin menanggapi dengan cepat.
Sepertinya Shin tidak ingin berlama-lama menemani Adrian. Tapi hal itu Shin tutupi dari sikapnya yang nampak begitu tenang. Ada hal yang membuat Shin kurang suka dalam pertemuannya bersama Adrian.
Bincang mufakat kerjasama bisnis itu hanya berlangsung singkat. Rupanya Adrian pun juga bukan orang yang ribet. Dalam waktu yang singkat tercapai mufakat bersama dengan point-point yang telah disahkan dalam hitam di atas putih. Yang keduanya sama-sama memiliki salinannya, baik pihak Shin ataupun pihak Adrian.
Saat visitor Adrian mulai menunjuk gelagat undur diri, Faiz mendekati Shin dan membisikkan sesuatu.
Shin memandang Faiz dengan mata memicing. Faiz mengangguk. Tapi Shin hanya diam tanpa merespon apapun. Mungkin juga tengah berfikir.
"Tuan Shin. Saya rasa pertemuan serta perbincangan kita kali ini sudah cukup memuaskan. Jika ada yang kurang, bisa kita bicarakan di telepon." sepertinya visitor Adrian benar-benar akan berundur.
"Saudara Adrian, bagaimana jika saya tahan anda sebentar? Akan saya tunjukkan koleksi terbaru kami, yang akan kami luncurkan minggu depan. Barangkali anda tertarik, marilah singgah sejenak ke ruangan saya..!" Shin telah berdiri dan bersiap memimpin kembali berjalan.
"Baiklah, tuan Shin. Saya tunduk denganmu. Waktu saya juga masih longgar." visitor Adrian begegas berdiri, diikuti asisten sewanya yang cantik, Velinda.
Adrian berjalan, ternyata Faizlah yang mengarahkan jalannya. Sedang Velinda masih diam di belakang, melambat berjalan.
Shin sejenak berbicara dengan Hafiz-sang manajer.
"Om, kamu kembali saja ke ruangan. Visitor Adrian biar aku dan Faiz yang urus..!" Shin berbicara pada sang manajer.
"Oke, Shin. Ada apa-apa kabar serta info, bagi tahu padaku..!" Hafiz menjawab sambil menepuk pundak Shin.
"Iya, om..!" Shin mengangguk.
Langkah panjang Shin tengah mengejar Faiz dan Adrian.
"Abang...! Abang Shin..," wanita cantik, asisten sewa Adrian telah mensejajari langkah Shin.
Shin diam tak menyahut.
"Abang Shin, apa kursi sekretaris masih juga kosong? Sudah kubilang, tak kan kautemui perempuan sepertiku lagi. Kau bisa mengambilku lagi, bang Shin..," Velinda berkata berbisik. Tapi sangat jelas didengar Shin.
"Diamlah. Anggap kita tidak pernah mengenal..," Shin pun berkata sangat lirih.
"Waktu itu salah paham, bang Shin.. Hatiku tak berubah..," Velinda kembali berbisik.
Shin membisu dan terus berjalan, berusaha meninggalkan Velinda. Namun perempuan itu terus di sampingnya dengan berjalan sangat cepat seperti setengah berlari.
__ADS_1
"Abang Shin, percayalah. Itu salah paham.," Velinda tidak lelah.
"Apa selain jadi asisten sewa, kau juga disewa oleh visitor Indonesia itu ke Hotel?" mungkin justru Shin yang lelah. Langkahnya melambat sambil berbisik menyahuti ucapan Velinda.
"Aku tidak pernah seperti itu, abang Shin..," Velinda berdesis.
"Kau selalu berusaha menipuku, Velinda..," Shin menyahut sangat lirih.
Tidak ada lagi balas sahut dari Velinda. Mereka telah hampir mencapai ruangan Shin dengan Faiz yang telah membuka pintu ruang Shin's Room.
Shin cepat merapat pada Adrian dan Faiz, tak ingin memberi peluang untuk Velinda kembali mengusiknya.
"Mari, silahkan masuk, saudara Adrian..!"
Shin yang mempersilahkan masuk dengan Faiz yang standby menahan pintu.
Adrian masuk melewati Faiz dan diikuti Velinda di belakangnya. Kemudian Shin, lalu Faizlah yang terakhir.
Adrian telah duduk di sofa dengan aura ningrat yang tenang. Velinda di sofa sebelah dengan wajah gusar dan gelisah. Mengamati ruangan yang tidak berubah semenjak ditinggalkan tiga bulan yang lalu. Velinda adalah sekretaris terakhir yang sempat dimiliki oleh perusahaan Shin's Garment.
Dan akhirnya Dhiarra yang terpilih untuk mengisinya kembali.
Shin sedang masuk ke ruangan miliknya. Menembusi kaca memandang ruangan di sebelah. Nampak si gadis pendatang yang tengah menunggu untuk bertemu dengan kekasihnya, sedang merenung di jendela. Tubuh sempurna yang tengah menyandar di dinding jendela itu terlihat indah dari belakang.
Shin bergegas keluar ruangan setelah menyambar laptop kerjanya. Mendapati Faiz yang juga tengah melihat padanya.
"Iz, bagitahu Dhiarra untuk membuat teh dan kopi..!" Shin mengeraskan suaranya pada Faiz. Dan memang disengajanya..
Faiz segera beranjak melakukan pesan sang atasan.
Mata laser mengamati sang tamu, Adrian. Pengusaha muda tampan itu nampak jelas sedang terkejut. Mungkin nama yang baru disebut Shin tadilah penyebab gusarnya.
Pintu terbuka itu adalah satu-satunya objek yang sedang dipandang sekarang. Sosok jelita nampak muncul menyembul dengan wajah mengarah keluar mengamati. Yang sepertinya juga sedang melepas rasa ingin tahu di benaknya.
"Arra..!!" sambil berdiri tiba-tiba, Adrian berseru dari tempatnya.
"Mas Drian..?!" Dhiarra juga berseru.
Mereka berdua saling pandang di tempatnya. Adrian dengan kecamuk perasaan serta semrawut kepalanya tiba-tiba.
Dan Dhiarra dengan kebimbangan harus bagaimana sekarang. Merasa lega bahwa akhirnya bertemu. Tapi terluka, sebab Adrian tak benar-benar berniat menemuinya. Ingin bicara, namun moment dan tempat sangat tidaklah mendukung.. Bagaimana ini..
"Tuan Shin, apakah Dhiarra pegawai anda?" Adrian menoleh pada Shin dan bertanya.
"Dhiarra sekretarisku. Adakah sesuatu, saudara Adrian..?" Shin pura-pura tidak paham.
"Saya dan Dhiarra sedang ada urusan pribadi. Bolehkah saya membawa Dhiarra keluar sebentar?" Adrian terus terang.
Shin tidak langsung menjawab. Mengeluarkan ponsel dan menyimak layarnya.
"Ini masih jam kerja sekretaris saya, saudara Adrian. Maaf, saya hanya tak ingin memberi dan membiasakan contoh kurang bagus di perusahaan saya. Tapi jika anda tak keberatan, saudara Adrian boleh berbincang dengan sekretaris saya di ruangan ini..."
"Faiz, masuk ke ruanganmu dan selesaikan kerjamu..!" Seperti tanpa jeda, Shin memberi arahan pada Faiz.
"Velinda, kita bahas kembali kerjasama ini di ruanganku..!" Shin melanjutkan arahan dengan tegas.
__ADS_1
"Saudara Adrian, silakan anda berbincang dengan sekretarisku..," Shin tersenyum hangat pada Adrian sebelum melesat masuk ke dalam ruangannya. Sebab, Velinda yang kegirangan telah meluncur masuk cepat-cepat.
🍒
Tidak ada salam tangan, apalagi saling peluk. Dua orang saling cinta yang lama tak bertemu itu duduk berhadapan. Mereka telah saling bincang cukup lama. Dengan pandangan mata yang mengungkapkan bahwa sebenarnya ada rindu yang menggebu....
"Jadi mas Drian tetap nggak mau bilang alasannya padaku..Kenapa tidak mengunjungiku? Kenapa tidak pernah membalas pesanku...?" Dhiarra bertanya sangat lirih.
"Yang jelas aku sangat mencintaimu, Ra. Aku rindu denganmu. Itulah, aku akan menikahimu di sini. Kita menikah di negara ini dan kau tinggal di sini.." Adrian mengiba.
"Kenapa hanya aku yang tinggal di sini? Kenapa mas Drian tidak membawaku pulang atau mas Drian juga tinggal di sini denganku?" Dhiarra merasa heran dengan pemikiran Adrian.
"Kumohon mengertilah, Arra. Kedua orang tuaku belum siap menerima kita. Tapi aku sangat ingin menikahimu, Arra."
"Dan usaha fashionku ada di negara kita. Tidak mungkin aku terus menetap di sini. Bagaimana aku mengurusnya...? Jadi sementara kita akan sering saling berjauhan dulu, Ra.. Sampai orang tuaku mengerti dan menerima pernikahan kita nantinya..," Adrian berbicara meyakinkan.
"Kira-kira, kapan mas Adrian akan menikahiku?" sepertinya Dhiarra mulai luluh dengan cinta matinya pada Adrian.
"Akan kupercepat kepulanganku, Arra. Nanti malam aku tebang. Minggu depan aku kembali datang. Aku akan mendesak tuan Shin agar memberi tahu posisi mamamu di pulau Penang. Kita akan menikah di sana." Adrian berkata sangat serius.
Sedang Dhiarra menyimak termangu. Gadis itu hanya mengangguk, seperti tengah tak sadar akan apa yang sedang berkecamuk di hatinya.
🍒🍒
Di dalam ruangan Shin..
"Tetap duduk di kursimu, Velinda. Jangan coba-coba mendekat lagi padaku..!!" Shin sidikit mendorong tubuh Velinda untuk duduk kembali di kursi.
"Aku tak percaya jika kau tidak pernah sekalipun meniduri wanita, bang Shin..!" Velinda melengking agak marah.
"Terserah kau, Velinda. Asal saja kau paham, jangankan meniduri, menyentuh pun aku tidak...!" Shin meluruskan fakta dirinya.
"Cobalah sekali saja denganku, abang Shin..," rasa penasaranya pada Shin, menghempas harga diri Velinda.
"Kau sudah menampakkan aslimu, Velinda. Kau seperti itu dari dulu. Coba jika kau tidak menawarkan tubuhmu. Mungkin aku tetap berminat mengawinimu (menikahimu)....!" suara stereo itu sangat jengah.
"Aku tak meminta agar bang Shin harus mengawiniku (menikahiku). Cukup jadikan aku wanitamu.. Jadikan aku kekasihmu lagi, bang Shin..," suara Velinda melembut. Tak lelah mencoba merayu.
"Itulah yang membuatku kehilangan minat tiba-tiba padamu, Velinda. Sebagai wanita, seharusnya kau mendambakan perkawinan. Tapi kau tidak. Adab pergaulanmu sangat bebas. Jadi pahamlah, aku sama sekali sudah tidak berminat denganmu..!" eksekusi pria melayu itu memang sadis. Begitulah tuan Shin, so rule dan idealis..!
🍒🍒🍒
Pengusaha muda Indonesia telah pamit undur diri. Begitu juga dengan asisten cantik sewaannya. Mereka benar-benar pergi setelah makan siang bersama.
Dhiarra sedang membuat kopi panas sore hari di pantry...
🍒
Sementara di ruangan penyambut tamu di Shin's Room...
"Iz..!" Shin muncul dari pintu ruangannya.
"Yes, tuan Shin..?!" lelaki yang tengah menulis sesuatu di meja sofa itu menegakkan punggungnya.
"Lekas cabutkan memory card di CCTV. Dhiarra jangan sampai tahu, Iz..!" pria tampan di pintu kembali masuk karam ke ruangan.
__ADS_1
"Ya, tuan Shin...!" meski tahu Shin telah tak ada, Faiz tetap juga menyahutnya.
Faiz bergegas berdiri. Menyeret kursi tinggi dan dinaiki. Lelaki itu mengambil sesuatu dari CCTV super mini sangat canggih dan hampir tak bisa dilihat. Terletak di atas kotak AC dengan warna yang senada. Tentu tak ada seorang pun yang sanggup menyadari. Kecuali Faiz dan tentu saja Shin sendiri..