
Pesan untuk Adrian dari sore kemarin belum juga mendapat balasan. Merasa sang pujaan tidak sungguh-sungguh mengharap bertemu dan tidak benar-benar serius merasa rindu. Telah berapa puluh kali membuka layar pesan, tak juga ada masuk pesan balasan. Rasanya kembali sangat kecewa pada Adrian.
Dengan rasa kecewa tapi berdebar, berangkat kerja juga pagi ini. Menjalani profesi baru sebagai sekretaris. Penuh harap dalam hati, agar profesi kerja barunya ini, akan mempertemukan Adrian secara tak sengaja dengan dirinya siang nanti.
Terlalu pagi, sarapan di meja makan hanya terlihat encik Shin seorang saja. Penghuni kursi lain, belum juga nampak kelebatnya.
"Selamat pagi, encik Shin...," sedikit senyuman menambah luwes di wajah cantiknya.
"Heemm...," lelaki yang disapa tidak membalas. Hanya memberi deheman sangat kecil dan lirih. Dan hanya sangat sekilas melihat pada Dhiarra.
Dhiarra mencoba tak peduli. Segera mengambil piring dan mengisi. Mengambil sendok dan garpu, lalu mulai makan dengan cepat.
Lelaki sangat tampan yang sedang dingin di depannya itu nampak makan buru-buru. Dan sebab itulah Dhiarra meniru. Menyendok nasi ke mulut dengan laju.
"Apa yang sedang kau kejar?" lelaki itu tiba-tiba menegur, memandang Dhiarra lagi sekilas. Dan menunduk lagi sambung makan.
"Saya mengejarmu, encik Shin..!" gadis itu hanya sekilas memandang Shin. Dan terus fokus lagi makan laju.
"Dhiarra..?" kali ini Shin lekat menatap dengan ekspresi penuh tanya. Urusan di piring telah diselesaikannya.
Tangan kokoh itu menghentikan gerak sendok dan garbu. Mata Shin telah melaser tepat di wajah Dhiarra yang cerah.
Dhiarra segera sadar.. Menyadari sahutannya barusan. Tersenyum sengih memandang pada Shin.
"Eh, maksudku... Saya ingin berangkat ke tempat kerja bersamamu. Jadi saya harus kejar anda. Apa boleh saya menumpang keretamu (mobilmu), encik Shin..?" Dhiarra cepat menunduk sehabis berbicara. Terus lagi lanjut makan.
Merasa Shin terlalu tajam menatap. Dhiarra tidak nyaman, rasanya salah tingkah.
"Berangkatlah denganku...., tapi pelankan makanmu itu, Dhiarra..," akhirnya Shin bersuara lumayan lembut juga padanya.
Dhiarra cepat mengambil air putih di gelas. Meneguk cepat, sebelum benar-benar tersedak sebab nada ucapan Shin yang sangat hangat tiba-tiba.
"Habiskan saja sarapanmu dengan tenang. Kutunggu di depan..," Shin berdiri sambil bicara dengan pelan. Lalu berjalan pergi, meninggalkan Dhiarra yang sendirian di meja makan.
Bukan melambatkan, tapi gadis itu tetap saja makan cepat. Seperti khawatir jika ditinggalkan sang paman, kemudian gagal mendapat tumpangan.
🍒🍒
🍒🍒
Kebisuan dalam kereta(mobil) itu pecah saat sang sopir telah membelok di parkiran perusahaan. Shin bergegas keluar diikuti Dhiarra. Keduanya jalan beriring dalam diam memasuki gedung kilang. Sesekali Dhiarra menatap punggung gagah yang jalan laju di depannya.
Jika saja harus menutup mata sambil melangkah, Dhiarra pasti tidak perlu memegang tongkat peraba jalan. Sebab hembusan wangi terus berkibar dari tubuh tegap lelaki besar yang berjalan cepat di depannya. Cukup dengan harum parfum itulah Dhiarra akan terus bisa membuntuti.
Banyak para pekerja yang menyapa dan mengangguk hormat pada Shin. Lalu termangu heran memandang gadis jelita di belakangnya. Meski sebagaian juga sempat membalas lemparan senyum Dhiarra yang manis. Namun ada juga yang hanya sangat menunduk dalam saat sedang berpapasan dengan Shin, tak berani menatap sedikitpun.
__ADS_1
Ceklek...
Sebab asyik memperhatikan orang-orang yang bersapa dengan Shin, tak terasa sang boss telah membuka pintu ruangannya.
"Selamat pagi, tuan Shin..!" Faiz telah menyambut hangat sang tuan. Lelaki itu juga nampak baru tiba beberapa detik di ruangan.
"Hai, Dhiarra.....," Faiz menoleh menyapa Dhiarra.
"Pagi, bang Faiz...," senyum indah itu mengembang sekali lagi.
Faiz terpaku memandang Dhiarra tanpa ingat berkedip. Sekretaris baru itu terlihat sangat cerah dan terlalu cantik pagi ini. Seperti ada sesuatu yang membuat gadis itu berhias lebih bagus lagi dari kemarin. Faiz terhipnotis, lupa jika ada Shin juga di depannya.
"Ehhmemm..! Iz, kendalikan matamu itu, Iz..!" teguran stereo cukup keras dari Shin, dan tentu mengejutkan.
Faiz segera membuang pandangan. Lalu mengangguk khidmat pada Shin dan kembali memandang Dhiarra sambil tersenyum manis dan tipis. Berbalik badan menuju ruangannya, dengan Dhiarra yang cepat mengekor di belakang.
Shin memandang datar pada kedua bawahannya yang menghilang. Lalu bergegas masuk ke dalam ruang pribadi miliknya. Ruangan itu hening kembali...
🍒
Dhiarra merasa kikuk, telah beberapa kali Faiz kedapatan meliriknya. Memang berusaha mengacuhkan, tapi tetap saja terganggu. Apalagi hanya berdua saja di ruangan. Tapi lama-lama pun, Dhiarra berhasil mengabaikan.
Setelah puas meneliti kurva pemesanan baju cipta miliknya yang semakin menjulang, Dhiarra berdiri.
"Tugas pagi hari, bang Faiz..," sahutan yang tetap ramah dari Dhiarra.
🍒
Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!
Tak ada sahutan...
"Dhiarra..!" panggilan ini dari Faiz. Lelaki itu sedang muncul di pintu.
Gadis itu berbalik menghadap pada Faiz.
"Masuk saja, tuan Shin sudah keluar. Tamu dari Indonesia telah datang. Aku diminta menyusul ke lobi..," sembari bicara, Faiz duduk tergesa di sofa.
Menyambar salah satu cangkir berisi teh yang baru diletak sang sekretaris di meja.
Jantung Dhiarra berdegub sangat kencang sekarang. Adrian telah datang..., sepagi ini.. Jadi, kapan sampai di negara ini? Kenapa pesan yang dikirimnya tak juga dibalas? Bahkan sebelum membuat teh tadi, balasan yang diharap masih zonk juga dilihatnya. Tega sekali Adrian.. Sakit..
"Terimakasih tehnya, Dhiarra.. Aku menyusul tuan Shin ke lobi..!" Faiz nampak jalan buru-buru.
"Bang Faiz..!!" seruan Dhiarra.
__ADS_1
"Ada apa..?!" Faiz berhenti di pintu.
"Aku nak ikut, boleh..?!" suara Dhiarra bergetar. Sepertinya gadis itu tengah menahan tangisnya.
"Kau kenapa, Dhiarra..?" lelaki itu berjalan lagi ke dalam, mendekati Dhiarra yang tengah menahan tangisnya.
"Kau kenapa, ceritakan padaku, Dhiarra...? Faiz mengulangi tanyanya. Air mata Dhiarra telah menetes.
Dhiarra masih menunduk. Merapikan matanya kembali.
Lalu mendongak pada Faiz. Air mata itu telah disimpan rapat kembali di dalam. Tapi mata itu masih basah.
Faiz mengangguk, membujuk dengan matanya..
"Bang Faiz...," gadis itu mulai bicara. Faiz mengangguk lagi dan menyimak.
"Nama visitor itu sama dengan nama kawanku... Aku hanya ingin melihatnya. Benarkah dia Adrian Dibyo Matarmaja, temanku itu.. Boleh tak aku ikut, bang Faiz?" nada Dhiarra setengah memohon.
Faiz terdiam memandangi wajah Dhiarra.
"Kawan..? Sekedar kawan..?" Faiz menyelidik tak percaya.
Dhiarra menunduk, lalu mendongak lagi pada Faiz.
"Kekasihku..., bang Faiz...," lirih Dhiarra mengakui.
Mata Faiz meredup..Bibirnya terus mengatup sangat rapat.. Lekat memandang Dhiarra.. Lalu menghempas nafas yang ditahan di dadanya..
"Dhiarra, tuan Shin melarangmu untuk turut. Dia nak engkau standby kat sini. Sebab kau pegawai baru." Faiz diam sejenak.
"Baiklah, aku janji kat engkau. Akan kuminta pada tuan Shin untuk membawa tamu Indonesia itu ke sini. Nanti bisa kau lihat, dia lelaki yang kau maksud apa bukan. Bagaimana?" Faiz pelan berbicara. Nampak bayang kecewa di wajahnya. Tapi Faiz adalah lelaki Melayu sejati yang baik.
"Terimakasih, bang Faiz. Aku benar-benar menunggu..," gadis itu mengangguk. Wajah cantiknya nampak mulai cerah kembali.
Faiz lalu mengangguk, tersenyum samar dan tipis.
"Tapi Dhiarra... Kau harus bercerita padaku, kenapa kalian terlihat susah berjumpa. Okay, tak..?" lelaki itu menatap lekat Dhiarra.
"Okey, bang Faiz. Nanti aku akan cerita denganmu..," Dhiarra tersenyum berjanji. Faiz mengangguk sekali lagi.
"Baiklah...Aku turun dulu, Dhiarra..," Faiz berbalik dengan cepat tanpa menunggu anggukan Dhiarra. Ponsel di saku telah getar-getar cukup lama. Dan Faiz sangat paham, sang tuan mulai tak sabar menunggu..
Dhiarra melepas kepergian punggung itu penuh harap. Bukannya tak paham akan sinyal perasaan yang samar terlihat dari Faiz. Tapi Dhiarra sedang tak ada cara lagi.
Meski kecewa dan sakit, hatinya masih rindu dan ingin bertemu. Setidaknya membicarakan dengan jelas, masih sejauh mana perasaan serta hubungan dirinya dengan Adrian saat ini..
__ADS_1