
Dhiarra sedang dalam ruangan bersama Faiz. Memeriksa segala file miliknya, menggunakan sisa waktu untuk membereskan segala hal yang tertunda. Adrian berada di sofa ruang tunggu sendirian.
"Pukul berapa kalian terbang, Ra?" Faiz bertanya.
"Pukul tujuh petang, bang Faiz,," sahut pelan dan lirih Dhiarra. Urusan dengan file dan email telah tuntas terbereskan.
"Sekarang pukul lima kurang?" tanya Faiz memandang Dhiarra.
Gadis yang dipandang mengangguk perlahan "Mas Drian kata, jika dalam lima belas menit encik Shin tak datang, terpaksa kena tinggal." sahut Dhiarra hampir tak terdengar. Kemudian menunduk.
"Asal pulak, nampak semacam tak semangat?" Faiz terheran, harusnya Dhiarra semangat dan cerah. Tapi justru nampak gelisah dan lesu.
"Entahlah, bang Faiz,,aku rasa macam berat sangat nak tingggalkan tempat nii," jawab Dhiarra.
"Selepas kahwin, Dhiarra betul-betul tak balik sini lagi kee,,?" sambar Faiz cepat.
"Dulu mas Drian kata, aku kena tinggal kat Malaysia selepas kawin. Tapi tak tau juga, sebab parents dia dah bagi restu buat kita menikah nii, bang Faiz,,," jelas Dhiarra.
"Dhiarra rasa berat nak tinggalkan negara ini atau berat nak tinggalkan boss engkau kee,,?" Faiz bertanya hal aneh tiba-tiba. Wajah cantik itu menoleh Faiz sebentar, nampak terkejut. Tapi cepat membuang muka dan bungkam tak berkata.
Faiz pun agak menyesal kelepasan bertanya hal itu. Sebab baginya hal biasa juga jika perempuan yang sering dekat-dekat dan pergi bersama si boss lalu jatuh hati. Justru akan aneh jika si perempuan tak rasa apapun pada si boss.
Dan dugaannya berlaku juga pada Dhiarra. Meski statusnya bahkan keponakan sekalipun. Apalagi Dhiarra dan si boss terlalu sering pergi dan cuti bersama. Sangat mungkin jika hati Dhiarra lambat laun berubah rasa.
Sedang sekretaris yang dulu-dulu, meski sangat jarang menemani si boss keluar pun, pasti klepek-klepek pada si boss Adnan juga akhirnya. Sebab dulu, si boss lebih suka pergi dengan Faiz ke manapun daripada dengan sekretaris. Tetapi mereka tetap juga jatuh hati dan miang pada si boss. Dan berakhir pada tendangan maut berupa surat pecat dari si boss.
🍒🍒🍓🍒🍒
Pria bossy yang baru tiba itu nampak berjalan cepat memasuki lift dan berdiri diam tidak sabar. Jika mungkin, ingin menembus dinding dan lantai saja untuk sampai di Shin's Room dalam sekedip matanya. Ingin segera menjumpai orang yang tengah menunggu, kemudian pulang dan menemui Dhiarra.
Tiba juga di Shin's Room...Dengan cepat menghampiri pintu dan membukanya buru-buru.
Sangat terkejut Shin Adnan. Orang yang tengah duduk tegak di sofa ruang tunggu itu, yang Faiz kata orang penting dan sedang menunggu adalah orang yang paling tidak diharap kedatangannya saat ini oleh Shin. Setidaknya jangan sampai menampakkan diri sebelum saatnya. Sebelum Shin merasa benar-benar memiliki Dhiarra seutuhnya.
Namun orang itu sudah berdiri di depannya. Betul-betul sedang tersenyum menyapa dan sangat hangat memandangnya. Juga terlihat sangat tampan berkharisma.
__ADS_1
Shin merasa syaraf-syaraf di kepalanya mendadak jadi henk tak berfungsi. Merasa mati gaya tiba-tiba dan tak tahu harus bagaimana baiknya berhadapan dengan Adrian.
Seperti berhadapan dengan pemilik lama dari berlian yang sudah dicurinya.
Juga seperti berhadapan dengan seorang penipu yang harus disidangnya. Namun sayang sekali Shin tidak mempunyai bukti dan saksi.
"Apa kabar, tuan Shin,,?" sapa Adrian sangat hangat. Mendekati boss garment yang tertegun melihatnya.
"Baik, saudara Adrian. Silakan,,silahkan duduk," Shin mencoba bersikap gentle dan profesional.
Dua lelaki tampan berkharisma dan beda kebangsaan itu telah duduk tegak berhadapan, terpisah oleh meja. Shin mengambil dua botol air mineral kemasan yang sentiasa ada di meja dan diletak lebih dekat pada Adrian.
"Maaf, hanya ada ini, saudara Adrian. Silahkan,," Meski dada, kepala, serta darahnya sedang tersumbat, ucapan Shin terdengar tetap lancar dan tenang. Dan sebetulnya itu sangat susah dilakukannya.
"Tidak perlu repot-repot tuan Shin. Saya juga sedang dikejar waktu," Adrian menimpali dengan tersenyum agak lebar.
"Anda buru-buru,,??" tanpa sadar alis golok Shin bertaut sangat rapat.
"Betul, tuan Shin. Sebetulnya saya datang ke sini untuk mengucapkan terimakasih telah menampung serta menjaga Dhiarra selama saya belum bisa menjemputnya. Sekaligus meminta restu pada anda untuk pernikahan kami yang InsyaAllah berlangsung lima hari lagi. Dan sore ini juga saya dan Dhiarra akan bertolak ke Indonesia. Penerbangan kami tepat pukul tujuh, tuan Shin," meskipun mengatakannya cukup tenang. Nada Adrian terdengar tergesa.
Adrian meluruskan wajah memandang Shin, terkesan kaget dengan pertanyaan boss garment. Namun wajah itu hanya tertawa kecil kemudian.
"Dari siapa anda dengar rumor itu, tuan Shin? Apa anda tidak salah dengar? Memang di keluarga besar saya hari-hari ini sedang hiruk pikuk semenjak beberapa hari lalu. Sebab para kerabat berkumpul untuk mempersiapkan segala adat pernikahanku dengan Dhiarra," Adrian menjelaskan dengan wajah yang serius. Sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.
Shin kembali merasa mati gaya dan buntu. Skak matnya begitu mudah terpatahkan oleh Adrian. Dan bantahan itu memang juga masuk akal. Ah,,rasa frustasi mulai melanda Shin Adnan.
"Oh, tuan Shin! Hampir saja saya lupa. Dengan sangat hormat, saya mengundang anda secara langsung. Semoga anda berkenan datang di hari pernikahan kami, tuan Shin. Untuk waktu tempatnya, saya akan mengirim undangan melalui email dan website." Adrian menerangkan dengan tenang.
Ucapan Adrian seperti lolongan serigala bagi Shin Adnan. Sangat memuakkan dan meresahkannya. Lebih kesal, Shin merasa tak bisa berbuat apapun.
Bisa saja Shin balas menyerang mental Adrian dengan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Shin dan Dhiarra telah sah menikah dan bahkan sudah tidur bersama.
Namun Shin merasa cara itu adalah jalan pintas yang curang dan egois. Memikirkan perasaan Dhiarra, Shin tidak tahu isi hati gadis itu bagaimana. Dan Adrian pun, bagaimana buruk baiknya calon suami Dhiarra itu Shin tidak yakin.
Dan Shin tidak pernah lupa, bahwa menikahi Dhiarra waktu itu selain kehendakNya mungkin juga sebab faktor beruntung dan unsur kecurangan dirinya. Shin tidak ingin terlalu serakah pada Dhiarra.
__ADS_1
Namun juga tidak ingin kehilangan Dhiarra. Apalagi dijemput Adrian secepat ini. Shin tidak siap dan tidak menyangka. Merasa dirinya sangat lambat dan membuang kesempatan di depan mata selama ini. Ah, Shin semakin frustasi,,
Ceklerk,,!!
Kedua lelaki beda bangsa menoleh bersama ke arah pintu yang bersuara saat terbuka. Gadis jelita yang tengah dibincang berjalan keluar dari sana dengan wajah memerah memandang keduanya. Seperti sedang menahan tangisan.
"Encik...Shin,,"gugup Dhiarra menyapa pada Shin. Wajah tampan itu sedang menatap tajam padanya.
"Kau benar-benar akan ikut saudara Adrian dan menikah di Indonesia? Kenapa kau tidak mengatakan rencana kedatangan saudara Adrian padaku,?" Shin tidak menutupi lagi isi di kepalanya. Suara Shin terdengar kaku dan tegang.
"Tentu saja, tuan Shin. Kami memang akan menikah. Maafkan, mungkin Dhiarra lupa untuk mengatakan kabar kedatanganku pada anda,!" Adrian menyahut cepat, terheran dengan pertanyaan Shin pada calon istrinya.
"Dhiarra, aku bertanya padamu,," Shin mulai abai pada Adrian dan hanya memandang Dhiarra. Adrian kian keheranan.
Dhiarra merasa ada hawa panas yang sedang mengalir dari Shin Adnan.
"Maafkan aku, encik Shin. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Tapi pikiranku hanya mengingat pada kondisi om Hafiz. Aku sangat mencemaskan om Hafiz," Dhiarra merasa mendapat alasan yang tepat. Mengatakan hal itu dengan sangat lembut pada Shin.
Bicara Dhiarra terdengar seperti sedang merayu. Adrian semakin heran dengan unsur drama yang tengah diendusnya. Cara Dhiarra bicara dan sikap Shin yang seperti itu...
Adrian yang berdarah biru, merasa sikap keduanya tidak wajar dan nampak berlebihan.
"Dhiarra,,! Sebelum kau resign, ada beberapa file pending yang ingin kutanyakan! Pergilah ke ruanganku sebentar!" tiba-tiba Shin berseru pada Dhiarra. Lalu memandang pada Adrian.
"Saudara Adrian, harap anda menunggu. Saya ada perlu sebentar dengan desainer saya,!" Shin sangat tegas berbicara.
Adrian termangu tanpa kata-kata dan akhirnya ragu mengangguk.
"Jangan berlama-lama, tuan Shin!" seru Adrian kemudian. Shin hanya samar mengangguk. Dan kembali memandang Dhiarra.
"Gegas, Dhiarra. Kalian sedang mengejar waktu bukan,,?!" Shin berseru tanya sambil mengisyaratkan Dhiarra ke arah ruangannya.
Lalu berjalan cepat menuju pintu ruangan pribadinya.
"Sebentar ya mass,," Dhiarra berkata dan menoleh sebentar pada Adrian. Dan tidak lagi menunggu tanggapannya.
__ADS_1
Berjalan lebih cepat menyusul Shin menuju ruang pribadinya yang luas. Mengikuti dengan debar dan cemas. File apa yang di maksudkan Shin Adnan padanya,,?