
Tok..Tok..Tok..Tok..!
Seseorang tengah mengetuk pintu di ruang pribadi Shin Adnan.
"Ya,,!" Shin menyahut agak keras dari duduknya.
Ceklerk..!
Gadis yang telah lama tidak dilihat itu membuka pintu dan melenggang masuk menuju kursi, tempat Shin Adnan duduk menyandar.
"Assalamu'alaikum, Shin,,,?" sapanya lembut dan riang. Saat ini mungkin Sazlina hanya ingin memanggil nama saja pada Shin, tanpa guna bang..bang..bang..
"Wa'alaikumsalam, Saz,,, engkau baru sampai?" tanya Shin pada Sazlina. Gadis itu masih mengenakan face mask di wajahnya.
"Betull,,? Nak jenguk om Hafiz kat hospital," jawab Sazlina sambil tersenyum.
"Asal pulak kau datang ofisku nii,,?" tanya Shin memandang Sazlina yang sudah menggelayut di bahunya.
"Rindu kat engkau laaaah.. Tak paham- paham juga kau ini pasal aku, Shin,," sahut Sazlina tanpa beban.
"Dah tak guna itu, Saz...Maafkan aku, aku dah kawin daah,," Shin pun berkata seolah tanpa beban. Sambil melepas lengan dan tangan Sazlina yang menggayut di bahunya.
"Kelakar lah kau ini, bang Shin,,?! Dengan siapa pulak dah kawin?!" Sazlina terkejut tak percaya.
"Dhiarra,,," Shin menyahut pendek dan cepat.
"Appaaaa??!!" melengking suara Sazlina. Mata yang memang sudah lebar itu kini menonjol ke arah Shin.
"Tak betul itu kan, bang Shin,,?!" seru Sazlina lagi. Kali ini menyemat bang pada Shin.
"Buat apa aku tipu untuk benda sakral macam tuu,, aku cakap betul-betul kat engkau, Saz.. Bila aku pernah cakap tak betul,,?" Shin berkata sembari berdiri.
"Tapi bila masa kalian kawin tuu? Aku tak ada dengar pun...!" protes Sazlina tak percaya.
"Masih just akad nikah saja, Saz,," Shin menimpali sembari meraih tas kerja dan merapikan dirinya. Memandang Sazlina yang masih tercengang sekilas.
"Nak ikut, kee? Aku ada klien hensem dari Filipina. Jika saja engkau terminat,," Shin berkata santai pada Sazlina.
"Tak nak, misal aku ikut pun sebab bang Shin, bukan sebab klienmu laah," tapi Sazlina juga meluruskan berdiri. Bersiap mengikuti Shin ke manapun.
🍒🍓
Sazlina mengikuti Shin yang berjalan cepat menuju tempat parkir. Dari kejauhan, Idris sudah standby dan buru-buru meluruskan muka saat Shin juga melihat ke arahnya.
__ADS_1
" Jangan merapat macam ini, Sazlina,, Kau boleh tanya kat Idris, sopirku. Aku dah kawin dengan Dhiarra,," Shin tetap berjalan cepat sambil melepasi lengan Sazlina yang melingkar di lengannya. Sangat risih dengan kelakuan Sazlina yang memaksa seperti itu.
Sazlina mungkin lelah juga, tidak mencoba lagi untuk merangkul tangan Shin. Hanya berjalan di samping Shin dengan wajah cantiknya yang masam.
Idris telah mulai menggerakkan mobil pribadi Shin menuju keluar melewati pintu gerbang di Shin's Garment. Kali ini bukan lagi mobil mahar yang dibawanya. Sang tuan tidak ingin frustasi siang malam dan itu akan membuatnya tidak fokus untuk melakukan pekerjaan.
Sebuah taksi warna biru yang sedang bergerak meluncur di depan gerbang, hampir saja tersenggol oleh Idris. Untung saja Idris begitu sigap menginjak rem di kakinya. Jika tidak,,, benturan kedua mobil itu pasti tidak bisa dielakkan. Entah mobil mana yang harus disalahkan. Yang jelas taksi biru berlogo itu telah meluncur cepat dan menjauh pergi berlalu.
🍒🍓
Shin sedang mememui Justin di salah satu rumah makan besar area Lorong Hang Jebat, Melaka. Bersama Sazlina yang duduk manyun di antara mereka.
"Jadi anda akan berada di Melaka selama dua hari, sir Justin?" tanya Shin dengan ramah.
"Yess, tuan Shin.. Dan saya akan beri anda kesempatan untuk menunjukkan pada saya jika ada rancangan terbaru dari disainer Dhiarra... Sebetulnya saya sangat kecewa. Anda tidak membawa Dhiarra di perjumpaan kita ini, tuan Shin," Justin terdengar kecewa, sebab Dhiarra ternyata tidak datang.
"Saya paham, sir Justin. Maafkan saya, desainer Dhiarra sedang ada keperluan. Pasti di kunjungan anda berikutnya, Dhiarra sudah luang kembali," jawab Shin berusaha tenang pada Justin.
Begitulah,,,Justin hanya menginginkan bertemu Dhiarra dan barangkali ada rancangan Dhiarra yang terbaru. Sebab untuk rancangan Dhiarra sebelumnya, Justin sudah memesan dan membeli begitu melimpah. Jadi barangkali ada model terbaru, Justin ingin menambahkannya.
🍒🍒🍓🍓
Shin telah kembali ke Shin's Room tanpa disertai Sazlina. Gadis itu tengah mengejar waktu kunjung untuk melawat om Hafiz di hospital.
"Iz,,!" Shin tengah berdiri di depan pintu ruangan Faiz.
"Kabar Iiiiiizzz,,,,kabbaaaarr,,, asal harus kutanya selalu, Iz,,? Ada kabar apa, Izz,,?!" Shin bertanya tidak sabar pada Faiz yang duduk di depan komputer.
"Data entry dari bandara yang saya minta,, baru keluar, tuan Shin," sahut Faiz.
"Apa ada kabar bagus?" tanya Shin mendekat. Ikut melihat data entry penumpang yang telah dibocorkan pada Faiz.
"Itu, Iz,,!.Ada Iz,,,! Dhiarra Azzahra Lara, Iiizz,,!!" Shin terkejut sendiri dengan temuannya.
"Masuk Malaysia pukul tujuh pagi, tuan Shin!" Faiz sambil membaca data itu.
"Sekarang dah petang, Iz,,!! Harusnya Dhiarra dah datang,,!" Shin berseru.
Melangkah cepat menuju ruang pribadi dan menyambar ponselnya. Menghubungi beberapa orang pekerja rumah serta security.
Wajah tampan yang sempat cerah itu kembali kaku dan lurus. Gadis yang sedang diduga telah datang, tidak pulang ke rumahnya,,
Lalu ke mana? Gadis itu sedang ke mana? Ke toko obat? Sang karib,,? Yuaneta,,? Mungkin saja,,! Shin mencoba sedikit bertenang kembali.
__ADS_1
Sayang sekali, Shin tidak terfikir untuk menyimpan nomor ponsel karibnya Dhiarra.
Shin berharap Dhiarra segera pulang kembali ke rumahnya setelah puas bersembang bersama Yuaneta. Kembali datang untuk mengakuinya sebagai suami.... Ah, Dhiarraaaaaa...!!
🍒🍒🍓🍓
Malam ini Shin pulang cukup larut. Hampir pukul setengah dua belas malam.
Setelah berjumpa Justin, ada kunjungan mendadak dari negera Myanmar yang ingin mengunjungi langsung perusahaan. Namun harus menunggu hingga pukul delapan malam. Sebab mereka masih dalam perjalanan dari bandara KLIA menuju Melaka.
Sebetulnya, pulang larut begini sangatlah tidak disukai. Semakin mengingatkan Shin pada Dhiarra.
Para pekerja dan security menjawab pertanyaan Shin dengan sangat mengecewakan. Dhiarra tidak juga terlihat datang dan pulang. Tidak ada yang melihat gadis itu memasuki gerbang rumahnya dari pagi hingga malam hari ini. Berkerut merut hati Shin Adnan. Sangat kecewa rasanya. Sebenarnya sedang di mana kamu, Raa...Dhiarraaa..
🍒🍒🍓
Shin langsung merebah sehabis mencuci dirinya. Tidak ada rasa lapar dan selera makannya. Meski sudah larut, pelayan akan siaga menyiapkan makanan.. Tapi kali ini sangatlah malas tak berminat. Gelar juara makan telah benar-benar tanggal darinya.
Pukul 12.35 am..
Mata yang telah mulai memerah tidak juga terpejam. Shin sangatlah gelisah..
Berjingkat bangun dan berjalan cepat keluar dari kamar. Tiba-tiba sangat ingin mendatangi kamar Dhiarra. Seperti gadis itu tengah menunggunya di sana. Shin merasa sedang merindukan Dhiarra sangat-sanggat.
Crklerk,,
Dhiarra tidak menguncinya,,, merasa kecewa, gadis itu memang benar-benar tidak ada.
Shin telah menyalakan lampu hingga terang benderang. Sangat jelas keadaan kamar Dhiarra yang masih sangat rapi. Ah..Dhiarra tidak pulang..
Ada koper besar di lantai. Milik Dhiarra,, gadis itu tidak membawanya,,?
Sebuah baju di atas tempat tidur. Shin memegangnya. Ingat jika itu adalah baju yang dikenakan Dhiarra dan ingin dibelinya waktu itu. Dhiarra tidak membolehkan. Selembar sticky note warna kuning tertempel di sana.
To : encik Shin *Encik Shin, tolong hantar baju ini untuk Yuaneta. Thanks, encik Shin.*
Dhiarra ingin memberikan baju itu untuk Yuaneta?
Shin menempelkan stick note di baju itu kembali.
Bergeser pada sebuah bungkusan yang juga ada stick note warna kuning di sana.
To : Encik Shin ~ Encik Shin, ini adalah stok pilihan akhir rancang bajuku. Nilailah sendiri. Tapi ini sangat bagus. Semoga bisa bermanfaat untukmu. Akan kurancangkan lagi lain kali.
__ADS_1
Ah, ingin berteriak kencang rasanya. Terharu Shin Adnan. Teringat pada keinginan klien Justin sore tadi. Dan ini adalah rancangan terbaru Dhiarra.
Ah, Dhiarraaaaa.... Dimana kamu ini, Raaa..??