
Dua kendaraan berbeda bentuk namun dengan roda yang sama jumlahnya, telah memasuki halaman dari rumah minimalis dan manis. Mereka parkir bergantian sebab halaman rumah itu hanya pas-pasan saja luasnya.
Hazrul nampak keluar pertama kali dari pintu kendaraan dengan diikuti anak sambungnya, Dhiarra. Mereka berdiri sejenak menunggu kendaraan kedua terbuka pintunya hingga keluar orang-orang dari dalamnya.
Idris adalah orang yang pertama kali nampak keluar menyusul Shin, diikuti Fara, kemudian datin Azizah dan yang terakhir tentu saja sisanya, datuk Fazani.
Mereka bergegas mengikuti Hazrul dan Dhiarra yang sudah terlebih dulu mendekati pintu rumah. Yang kemudian pintu itu dibuka oleh Hazrul dengan kunci di tangannya. Mereka memasuki rumah mungil itu berurutan hingga habis seluruh antrian.
Kecuali satu saja yang selalu sukarela untuk senantiasa menyisakan dirinya. Ya, Idris lah orangnya. Selalu menjauh dan menepi meski datuk Fazani mengajak untuk terus gabung saja bersama.
Namun Idris memilih untuk menunggu menjauh dengan menyantaikan diri sendiri sejenak. Merasa yakin akan sangat kikuk jika memaksa diri untuk bergabung.
Merasa diri hanyalah driver pribadi yang berguna. Bagaimana tidak,,, Shin mengajaknya serta untuk pergi ke pulau Penang dengan menaiki pesawat kelas VIP yang nyaman.
Terpaksa meninggalkan sang istri tercinta yang juga baru saja melahirkan di negeri Melaka. Selain sebab wujud abdinya pada sang tuan, yakni Shin Adnan, namun tuan tajirnya itu telah mengganti kompensasi bonus yang sangat memuskan untuknya di muka. Tentu saja Idris terus bersemangat memegang kendali mobil sewaan milik sang tuan kemanapun mereka menunjuk dengan sangat memuaskan.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Ruang tamu bermodel setengah-setengah di rumah Hazrul, setengah luas-setengah sempit, telah dipenuhi oleh satu keluarga yang memecah menjadi dua keluarga. Dan sebentar lagi juga akan mengembang menjadi tiga keluarga.
"Jadi Shin, papa ingatkan sekali lagi kat engkau nii... Tahan-tahanlah untuk tak sebilik sama Dhiarra sementara nii. Tadi tuu, papa nak jadi yang terakhir kau kedapatan kat bilik dua orang bersama. Jangan lagi coba gabung bilik sebelum kalian benar-benar kukawinkan ulang..." Datuk Fazani berhenti bicara sebentar. Memandang tajam sang putra yang sedang mengangguk.
"Jaga nama baik papa, Shiinn.. Ingat maruah keluargamu nii.. Engkau kena camkan pesan kataku ini, Shiiin..." datuk Fazani nampak lelah dan menyandar di sofa.
"Iya, paa..Aku paham,," sahut Shin akhirnya.
"Pegang itu kata-katamu, Shin. Cakap depan aku, engkau macam dah paham. Beda pulak saat kau berdepan dengan Dhiarra, pura-pura lupa lah kau ini, Shiiin,," datuk Fazani merasa sangat gerah dengan sang putra.
"Iya, paa,, tadi aku tengah khilaf. Maafkan aku," sahut Shin lagi dengan wajah suntuknya.
Datuk Fazani memandang Shin Adnan yang duduk tepat sebelah. Dan sebetulnya memang sangat di sadarinya, anak lelakinya itu sudah benar- benar kelewat dewasanya. Namun sang ayah terpaksa mengenyah hempas rasa iba pada putranya sementara.
Sebab prinsip datuk Fazani, pantang jika hakikat sebagai orang tua, khususnya sebagai seorang ayah, tidak diambil berat anak-anaknya. Terutama pada saat ini adalah sikap putra lelakinya, Shin Adnan.
"Dan Dhiarra..." kali ini sang datuk berganti lekat memandang Dhiarra.
__ADS_1
Penyandang nama yang baru disebut itu sontak mendongak. Setelah sekian lama menunduk sebab malu dan merasa seperti tengah dapat sidang dari calon ayah mertua.
"Iya, datuk,," sahut lirih Dhiarra sambil memandang sang datuk.
"Kami dah anggap kau nii keluarga juga. Kami dah rasa sayang kat engkau. Tak sangka pulak, kalian diam-diam tengah buat skandal. Dan kami dah makhlumkan pasal tuu,, bahkan aku nak bagi restu baik-baik pada korang. Kalian kena pahamkan. Tolong bantu sikit-sikit demi kelancaran tujuan baik keluarga kita,, nii." Datuk Fazani berhenti bicara pada Dhiarra sejenak.
Mengambil air teh manis hangat dalam gelas besar yang telah disediakan sang menantu, mama Ira. Sesaat sebelum rombongan dua kendaraan itu berdatangan.
"Jadi Dhiarra, berusaha abailah sementara pada suamimu. Tahan-tahanlah untuk berjauhan dengannya. Tak payah dulu kau bagi sambutan jika saja Shin nak jumpa dengan engkau." Datuk Fazani menyudahi bicaranya.
"Iya, datuk. Saya akan buat apa yang anda pesankan kat saya,," jawab Dhiarra dengan lembut.
"Dhiarra, jangan sebut aku datuk lagi.. Sebut saja papa, dan itu mamamu. Sama hal dengan Fara serta Shin panggil aku,," terang datuk Fazani sangat pelan pada Dhiarra.
Tentu saja Dhiarra sangatlah terharu. Merasa diterima baik dalam keluarga sang datuk, orang tua dari Shin Adnan.
"Terimakasih, datuuuk,," sahut Dhiarra terharu.
"Papa,, akaaak... Panggil papa dan mama,," tiba-tiba Fara menegur.
Sekilas menyambar pandang pada Shin yang tengah menaikkan sedikit alis golok hitam itu sambil memandang senyum padanya. Cepat-cepat membuang muka. Takut jika ekspresinya terhanyut oleh adu pandang mereka. Sedang sang mertua terua saja terfokus mata pada Dhiarra.
"Emm,,paaa,,maa,, juga Shin serta Dhiarra,, sepertinya kami, maksudnya aku dan baby terpaksa tak boleh hadir kat hari H. Harap makhlum pada papa dan mama. Titip bahagia untuk anak dara saya, Dhiarra,,," mama Ira berbicara nampak sendu.
"Tak pe lah, Ira... Apa boleh buat, kan...? Kesihatan perutmu pun belum kering. Baby boy juga baru nak rasa-rasa dunia. Boleh kejut-kejut pulak jika kena paksa pergi jauuuh. Ira cukup kirim doa banyak-banyak semoga acara lancar jee,, Misal dah rasa sihat dan baby dah kuat, pergi jalanlah kat KL. Pergi kunjung kat rumah parentsmu nii,," sahut datin Azizah sangat lembut pada mamanya Dhiarra.
"Terimakasih pengertiannya, maa,," sahut mama Ira merasa sangat lega.
"Hazrul, macam mana dengan engkau? Papa harap kau boleh datang,," kata datuk Fazani.
"Akan aku usahakan datang, pa. Akan kucarikan orang kampung buat kawankan Ira selama aku pergi Melaka atau KL." sahut Hazrul dengan tegas.
Memandang mama Ira yang dibalas anggukan oleh oleh sang istri.
"Bang Hazrul, kau kena cakap awal-awal pasal nii kat Azlan. Mengingat dia tengah runsing pasal pekerja dia yang tak cukup,," kali ini suara stereo Shin Adnanlah yang berkata.
__ADS_1
Shin memandang Dhiarra sekilas. Gadis itu seperti tengah terfikir sesuatu. Wajah cantiknya sedikit terhalang oleh kerut di dahi. Sambil memandang kosong pada baby boy di pangkuan sang mama. Terasa sangat iba Shin mendapati Dhiarra melamun begitu. Tapi apa daya, aturan sementara dari sang papa membuatnya mati kutu.
"Bang, tolong cakapkan lagi kat Azlan. Dhiarra dah henti buat kerja kat dia. Jangan sampai Azlan lupa pulak. Lalu paksa Dhiarra untuk datang kerja,," Shin berkata seraya menatap wajah abangnya.
Hazrul mengangguk dan menoleh pada Dhiarra. Gadis itu tengah memamdang Shin lalu juga menoleh pada Hazrul.
"Ra, kau dah cakap juga pasal stop kerjamu kat Azlan, kee,,?" tanya Hazrul hangat pada putri sambungnya.
Raut wajah itu nampak bingung.
"Sebenarnya, aku belum cakap pada Azlan. Tolong sampaikan pada Azlan pasal ini. Terimakasih, paa,," jawab Dhiarra. Melirik pada Shin yang tengah berkerut dahi padanya.
"Baiklah, kurasa bincang keluarga kita nii dah cukup. Sebab malam dah larut, kita kena balik dulu ke penginapan. Shin, jangan lupa,, pesankan tiket buat enam orang sekali," kata datuk Fazani pada Shin.
"Iyaa... Jadi untuk esok petang nii, paa,,?" tanya Shin untuk kembali memastikan.
"Iya, Shin." sahut cepat sang papa.
"Eh, Shin. Kau nak duduk sebangku dengan Dhiarra kat pesawat kee. Boleh,,, atur sendiri lah itu,," kata datuk Fazani sambil berpaling muka dan berdiri.
Mendengar itu, Shin seketika menoleh Dhiarra. Mereka adu pandang dan lalu tersenyum samar bersama. Dhiarra cepat membuang muka lagi, sadar akan situasi dan kondisi.
"Heleeehh,,, suka lah tuuu..! Baik-baiklah abang dengan akak duduk kat pesawat. Jais pun merata-rata tempat ada.. Jangan sampai kalian kena ciduk dua kali, bang Shiiin,," Fara berseru tertawa.
Bukan hanya Fara saja yang akhirnya tertawa. Akhirnya semua juga ikut tertawa. Tapi ada dua orang yang menahan tertawa...
Datuk Fazani hanya samar tersenyum. Dan juga mama Ira... Nampak menahan lepas tawanya. Sebab bekas luka operasi sesar dalam perut masih terus terasa sakit dan ngilu jika dibuat tertawa melebar...
🍒🍒🍓🍒🍒
Sambil melamun, tangan Dhiarra bergerak pelan di bawah pancuran air wastafel yang aliran airnya telah diatur kecil. Gadis itu sedang mencuci gelas bekas teh dari ruang tamu. Rumah mungil ini telah kembali sepi dan sunyi. Hazrul dan mamanya serta si baby telah senyap tanpa suara. Mungkin mereka sudah lelap di kamarnya.
Idris telah membawa kendaraan itu berlalu dari halaman rumah dengan berisikan keluarga datuk Fazani di dalamnya. Juga membawa sang suami untuk berpisah darinya sementara.
Sebenarnya cukup konyol dengan Shin Adnan. Lelaki yang biasanya dewasa,,berwibawa,, berumur,,dan tegas padanya, kini serasa jadi anak papa dan mama. Tak berkutik dengan apapun aturan yang telah diputuskan sang papa.
__ADS_1
Meski seperti itu memang konyol. Tapi rasanya juga sangat bahagia. Merasa antara dirinya dengan Shin seperti sepasang kekasih yang direstui dua keluarga masing-masing dan sedang diupayakan pernikahannya. Shin dan Dhiarra hanya berperan sebagai calon pengantin yang pasrah dan tak tahu apapun. Mengikuti apa saja yang akan diarahkan orang tua pada mereka. Ah, mungkin tak bisa dikata tentang rasa resahnya!