
Kaki yang sempat sakit luar biasa, kini telah berjalan cepat lagi seperti tidak pernah cidera sama sekali. Menolak tawaran Ladisa untuk menggandeng jalan tangannya. Kaki indah itu sudah tidak terasa sakit apapun lagi.
"Jika ada apa-apa atau terasa sakit tiba-tiba, segera calling bang Shin, Dhiarra. Kau ada namber dia, kan?" Ladisa nampak perhatian.
"Iya, kak. Sudah tidak sakit. Terimakasih," sahut Dhiarra tersenyum pada Ladisa. Enggan memandang wajah Shin. Lelaki itu seperti tidak peduli akan musibahnya.
"Ada waktu istirahat untukmu. Pukul delapan, klien dari Manila itu ingin bertemu. Apa kau tidak apa-apa?" kali ini barulah terdengar suara Shin. Dhiarra menatap sekilas wajahnya. Wajah Shin masih kaku dan dingin.
"Tidak apa-apa, encik Shin. Aku sudah seperti biasa. Benar-benar tidak sakit," sahut Dhiarra sambil memegang daun pintu di kamarnya.
"Nasib baik ada Justin yang berbaik hati menggendongmu, Dhiarra,," Ladisa berkata lirih memyahut. Seperti sengaja mengingatkan moment itu.
"Itu betul, kak. Kami sempat saling berkenalan di dalam rumah hijau. Lalu sesat bersama tak tahu jalan keluar," Dhiarra berkata sengaja dan tersenyum.
Senyum tanpa beban dan nampak manis sekali di pandang. Padahal hati sedang sangat jumpalitan. Ladisa berdiri begitu merapat pada Shin. Ladisa seperti sengaja menunjukkan kedekatan itu pada Dhiarra. Mereka seperti sejoli yang sangat serasi berpasangan..
🍒🍒
🍒🍒
🍒🍒
Dhiarra memegangi ponsel dengan sejuta rasa hati dan pikiran. Sesuatu yang menjadi tanya besar di tiap waktu - tiap hari, terjawab juga pada akhirnya.
Banyak jejak panggilan tak terjawab dan pesan kabar itulah yang akhirnya dikirimkan. Kabar di ponsel barusan adalah dari Adrian. Sang calon suami menuliskan bahwa segala urusan telah selesai dan lancar dibereskan.
Adrian akan datang lusa pagi dan akan langsung membawa Dhiarra ke Indonesia. Tidak juga pergi ke Penang menjumpai sang ibu seperti yang pernah Adrian bilang. Namun akan langsung menikahi Dhiarra di Indonesia dengan mendatangkan beberapa kerabat keluarga Dhiarra yang ada di Yogyakarta.
Bukan indah berbunga atau rasa lega luar biasa yang sedang Dhiarra rasakan. Tapi justru rasa sedih, resah dan sesak luar biasa yang kini didapatkan.
🍒🍒🍒
🍒🍒🍒
Seperti biasa, tugas Dhiarra seperti harus berjalan di belakang mengikuti dua orang yang nampak sedang kasmaran. Memasuki rumah makan di hotel CH yang lokasinya berada di lantai tiga hotel itu.
Dhiarra tak habis pikir mengamati. Perempuan-perempuan yang nampak anggun, berdedikasi serta berkelas, akan menjadi cacing panggang seketika jika berdekatan dengan Shin.
__ADS_1
Seperti yang penah nampak pada Sazlina, tak ubahnya juga pada Ladisa. Sikap dan perilaku Ladisa kian lama kian nampak meresahkan. Teringin sangat untuk kian mesra dan kian dekat bersama Shin Adnan di segala moment dan suasana. Ah, apa dirinya pun juga mulai bersikap begitu? Merasa panas dingin jika di dekat Shin,,? Tidak,.Dhiarra tidak miang (genit) di dekat Shin!
Asyik mengamati, ternyata Shin dan Ladisa telah sampai di meja tujuan. Bahkan telah menempati kursi masing-masing yang telah ditarik siapkan oleh seorang pegawai khusus dan standby di sana.
"Haii,! Dhiarra,?!" seruan lelaki tiba-tiba terdengar saat Dhiarra hendak duduk di kursi yang juga ditarikkan. Gass Dhiarra menoleh.
" Sir Justin,?!" ternganga tak percaya rasanya.
Dengan nuansa terkejut dan tak menyangka, seluruh warga di meja saling berjabat tangan menyalami. Sepertinya urusan bisnis Shin Adnan bersama pengusaha Filipina akan berjalan lancar dan sukses lebih cepat kali ini.
"Tak menyangka, Dhiarra. Ternyata desainer Shin's Garment adalah kamu. Dan kita sudah saling berkenalan,?!" Justin terlihat sangat gembira bertemu lagi dengan Dhiarra.
"Saya juga tidak menyangka, sir Justin. Senang berkenalan denganmu,!" sambut Dhiarra.
Meski hatinya tengah runsing, namun berusaha profesional dan ingin segera mengeksekusinya. Sepertinya, sama saja dengan apa yang tengah difikirkan oleh Shin.
Shin telah berhasil menggiring obrolan panjang bersama Justin. Pebisnis dari kota Manila itu cukup terbuka dan kondusif. Tidak terlalu sulit untuk menggiring Justin pada sebuah mufakat dan kesepakatan.
"Bagaimana jika suatu saat saya berkunjung ke Melaka dan Dhiarra menemani berkeliling?" pertanyaan Justin ini adalah kode dari keberhasilan mufakat.
"Tentu saja saya tidak keberatan dan dengan senang hati akan menemani anda, sir Juatin. Apa maknanya anda telah bersetuju untuk menjadi klien utama kami?" Dhiarra nampak merayu mengejar.
"Apa Shin's Garment akan terus memakai rancanganmu, Dhiarra?" tanya Justin memastikan.
Dhiarra tergagap, diliriknya Shin Adnan. Dhiarra berharap, Justin akan mendapat jawaban dari Shin. Ternyata lelaki tampan itu juga sedang meliriknya.
"Tentu, tuan Justin. Rancangan nona Dhiarra selalu terbaik dan terlalu sayang untuk diabaikan. Jadi saya harap anda tidak ragu untuk melanjutkan kerja sama ini, tuan Justin," sahut Shin dengan tenang dan tegas kepada Justin. Pramusaji restoran CH tengah mengantar banyak sajian di meja.
"Baiklah. Anda sangat beruntung memiliki desainer cantik dan hebat seperti nona Dhiarra ini, tuan Shin. Saya lanjut kerja sama kita ini sebab ingin terus bertemu nona Dhiarra. Di pertemuan kita selanjutnya, mungkin sayalah yang akan sering berkunjung ke Melaka," Justin menerangkan santai dengan mata yang terus memandangi Dhiarra.
Dhiarra paham dan mengangguk pelan pada Justin. Ah, yang ingin Dhiarra dapat adalah segera berakhir saja meeting ini...
🍒🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍒🍒
Dhiarra memegangi daun pintu di kamar. Matanya jauh lurus memandang dua punggung yang juga menjauh di lorong. Rasa sesak terus mengganjal di dada.
__ADS_1
Shin,,,dua malam lagi punggung itu tidak akan pernah lagi dilihat. Mungkin juga jika berjumpa tak sengaja dengan keadaan yang berbeda. Dengan masing-masing milik orang lain dan tak lagi saling berhak. Shin....
Ceklerk,,,!
Ditutupnya pintu kamar dan berakhir juga pandangan pada punggungnya. Berjalan gontai menuju tempat tidur dan merebah miring di sana.
Jadi, apapun yang dijanjikannya pada Justin barusan adalah pembohongan? Demi pencapaian kesepakatan bisnis bagi Shin Adnan? Apakah perginya Dhiarra lusa juga akan memberi berjuta masalah pada mufakat bisnis Shin? Maaf, encik Shin,,!
Gadis itu ingin tidur saja. Kepalanya sangat nyeri sebab telah kehilangan begitu banyak waktu tidur. Akibat tidak bisa tidur memikirkan Shin Adnan. Apa Shin juga begitu?
Tapi setahu Dhiarra, Shin begitu mudah menstabilkan dirinya kembali..
Pukul 11.30 pm
Harusnya merasa nyaman setelah membersihkan diri dan menyambut isya'nya. Tapi nyatanya tidak, begitu galau memikirkan kedatangan Adrian lusa pagi..
Juga sedih sesak tidak akan melihat lagi Shin Adnan. Lelaki yang telah mengenalkan segalanya pertama kali... Pertama menikahi..Pertama menyentuhnya...Pertama menciumnya...Pertama tidur seranjang bersama.. Memberinya sekoper hadiah.. Pertama apa lagi.. Sedih rasanya..
Pukul 12.05 am...
Tengah malam dan larut. Terasa lelah tapi tak mengantuk. Lelah jiwa raga tapi begitu tegang rasanya. Jauh di hati mengharap sesuatu... Sesuatu yang sudi datang dan manemani saat ini..Siapa?
Tapi dia tak peduli. Tidak lagi mengingatnya sama sekali..
Haruskah dirinya yang bicara dan mengharap terang-terangan agar dia mau datang menemani..? Ah tidak,,tidak,, Itu sangatlah memalukan...
Drrt..Drrt..Drrt..Drrt...Drrt..
Pukul 12. 27 am..
Seperti akan terloncat saja rasanya. Ponsel di meja semakin nyaring berbunyi tiba-tiba. Melompat meluncur turun menghampiri.
Ah, terasa setengah jantungan saja sekarang..
*Sudah tidur?*
Ah, panasnya dada seperti mendapat guyuran air segar rasanya.. Terasa nyass nyass hanya sebab sebuah pesan yang ditunggu,,,
__ADS_1