Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
116. Melaka River Cruise


__ADS_3

Sebelum dzuhur, Dhiarra di antar Shin Adnan ke hotel Casa del Rio Melaka kembali. Shin hanya singgah di kamar sebentar. Keluar lagi dan meminta diantar Idris ke syarikat Shin's Garment untuk berjumpa dengan Faiz sebentar. Ada sedikit masalah perusahaan yang perlu dibahas langsung bersama sang asisten.


Ternyata keluarga mertua sudah meninggalkan hotel sebelum tengah hari, sesaat sebelum Dhiarra dan suami kembali ke hotel. Mereka telah bertolak menuju kota Kuala Lumpur dan tidak sempat berjumpa, hanya suara pesan lewat telepon saja yang Dhiarra dengar dari sang ibu mertua, datin Azizah. Sedang yang lain, juga menitip salam melalui panggilan datin Azizah.


Telah menjelang Isya, Dhiarra begitu gelisah. Shin belum juga kembali dan tak memberinya kabar sebuah pesan pun. Merasa risau jika ini berhubungan dengan kegaduhannya bersama Sazlina di toilet resto hotel ini pagi tadi. Apa Shin sudah mendengar dan akan menjadi orang yang tidak mempercayainya. Begitu galaunya hati Dhiarra.


Ting...! Ah, suara itu,,Dhiarra cepat berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati pintu, berdiri kaku dan menunggu.


Ceklerk...! Akhirnya muncul juga orang yang sedang ditunggu-tunggunya. Memandangnya tersenyum sambil menutup dan mengunci pintu kembali. Menaikkan alis golok itu dengan pandangan hangat seperti biasa. Ah, Dhiarra merasa sangat lega rasanya. Yang jelas bukan sebab Sazlina...


"Hon Shin,,, kenapa lama sangat baru kembali?" tanya Dhiarra menyambut Shin Adnan.


Shin tidak menyahut, justru berjalan cepat melewatinya, Dhiarra membunti Shin yang menuju wastefel di luar kamar mandi. Lelaki itu mencuci kedua tangan tergesa di sana. Mengeringkan tangan itu dengan handuk. Dan membalik badan menjumpai wajah Dhiarra.


"Kenapa? Kau sudah rindu?" tanya Shin tersenyum.


Sambil tangan memegangi wajah Dhiarra. Menyentuh bibir merona sang istri. Tanpa basa basi lagi, Shin menciumi bibir itu dan melummhatnya dengan lembut. Membawa Dhiarra ke pelukan dan merapatkan erat le tubuhnya. Dhiarra menyambut bersemangat penuh rindu. Saling melummatt dan menghissap sepuasnya dan lamaaa...


"Kau sudah mandi, Ra,,? Aku akan mandi sebentar. Kita makan di luar sambil melihat sungai Melaka malam hari. Tidak jauh, kita jalan kaki saja. Kau mau?" tanya Shin disela deru nafas panasnya.


"Iya hon Shin. Aku tertarik melihatnya. Cepatlah, keburu malam,," sambut Dhiarra. Melepaskan diri dan sedikit mendorong tubuh Shin menjauh darinya.


"Iya, Ra.. Setelah makan dan jalan-jalan, kita buat input lagi ya, Raa.. Kita mesti cepat-cepat rilis. Bagi parentsku output segera. Setuju tak, Raa,,?" Shin tersenyum sambil menaik- naikkan lagi alis goloknya.


"Apa kamu ini tidak penat, hon Shin?" Dhiarra tersenyum pura-pura keheranan. Menyembunyikan rasa debar di dadanya.


Shin tidak menjawab, tapi sangat cepat menyambar bibir sang istri kembali dan melummat hissapnya sesaat.


"Aku merasa lelah dan penat jika tidak di dekatmu, Raa. Sepertinya mulai sekarang, kau harus bersamaku ke manapun,," Shin menatap penuh arti. Menyudahi paguthannya dan berbalik menjauhi Dhiarra menuju kamar mandi.


Dhiarra berdiri tegak kaku dan memandang termangu pada punggung suaminya. Mengingat ucapan Fara yang sedikit banyak pasti juga andil pada pola pikir sang suami. Dhiarra tersenyum mendekati sofa dan duduk menghempas di sana. Menunggu sang suami selesai mandi dan keluar dengan sangat tidak sabar.


Tiba-tiba terpikir sesuatu, Shin tidak meminta, tapi yakin sang suami pasti suka jika Dhiarra sukarela melakukannya. Perempuan cantik itu berdiri dan tersenyum.


🍒🍒🍓🍒🍒


Teramat bahagia Shin Adnan, wajah tampannya tak berhenti tersenyum. Betapa tidak, istri jelitanya yang sudah rapi itu tengah menunggu saat Shin keluar dari kamar mandi. Siaga dengan baju pilihan dan memakaikannya di badan polos Shin Adnan. Tercengang tegang Shin diam mengikuti perlakuan Dhiarra padanya. Merasa melayang dimanjakan oleh sang istri seperti itu.


"Suamiku, kamu sudah tampan. Ayo kita keluar,," ucap Dhiarra sambil meletak sisir yang baru di guna untuk menyisir rambut Shin Adnan.

__ADS_1


"Raa, terimakasih. Kenapa kita tidak menikah sedari dulu saja,,?" tanya Shin sambil mencermati wajah Dhiarra yang kian cantik saja di matanya.


Dhiarra hanya tersenyum tanpa menanggapi, telah berapa kali Shin bertanya seperti itu.


"Cepat, hon Shin. Aku sangat lapar," pungkas Dhiarra memandang Shin sesaat.


Dhiarra menarik tangan sang suami menuju pintu dan keluar dari kamar. Namun merasa bingung akan ke mana lagi menarik tangan Shin Adnan.


Shin yang menyadari hal itu langsung bertukar mengambil tangan Dhiarra dan membawanya berjalan menuju keluar hotel Casa del Rio Melaka. Namun bukan jalan keluar biasanya yang dilalui mereka kali ini. Tapi Shin membawa Dhiarra keluar melewati gerbang hotel yang ada di bagian belakang.


Begitu keluar melewati gerbang, Dhiarra merasa tercengang dan terkagum. Rupanya di bagian belakang hotel adalah sebuah sungai besar yang telah dikomersilkan sebagai wahana wisata air sangat indah.


Melaka River Cruise di malam hari sangatlah luar biasa indah dan menakjubkan. Lampu warna-warni menghias di seluruh sisi sungai dan di sepanjang alirannya. Bangunan-bangunan kuno nampak lebih eksotis terpampang di malam hari. Lengkap dengan perahu-perahu kapal yang nampak berlalu laju membawa penumpang sewanya menyusuri sepanjang aliran sungai di sana.



Shin membawa Dhiarra makan malam di kafe tradisional terapung di atas sungai Melaka. Sangat romantis dengan lampu warna-warni dan remang. Disyahdukan lagi dengan alunan musik jazz pop yang lembut diputarkan di sana. Shin dan Dhiarra serasa jadi sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang sebab dilanda rasa cinta.



Pelayan telah menghampari meja pilihan mereka dengan bermacam menu dan sajian. Berjalan mondar-mandir mengantar segala pesanan dan perlengkapan makan di meja.


"Tidak, hon Shin. Aku lebih suka melihat saja. Hawa di sini dingin sekali. Dan angin dari kapal kecil itu nampaknya kencang sekali," tegas Dhiarra sambil menggeleng.


"Lain kali kita bawa jaket tebal jika pergi ke sini. Sangat seronok naik kapal kecil dan kencang seperti itu. Kau perlu mencobanya sesekali, Raa,," sahut Shin Adnan sambil memperhatikan kapal kecil itu di kejauhan.


"Iya, hon Shin. Apa kita akan ke sini lagi?" tanya Dhiarra seperti tak percaya.


"Tentu saja, Raa. Sungai ini hanya di Melaka, dan kita tinggal juga di Melaka. Sangat mudah menjangkaunya. Kau tahu di sebelah sana itu,, yang nampak tinggi gedungnya itu adalah Shin's Garment Store milikku di Mahkota Parade. Kau pernah mengunjunginya kan? Itu milikmu juga sekarang, Raa,," terang Shin sambil menyendok makanan yang telah diisikannya penuh di piring.


"Hon Shin, betulkah itu juga punyaku?" tanya Dhiarra sambil menerawang jauh ke bangunan di Mahkota Parade. Shin tersenyum, mengulurkan tangan mengelus rambut di kepala Dhiarra.


"Akan kumiliki dengan siapa, jika tidak kumiliki bersama kamu, Raa,,?" tanya Shin bersungguh-sungguh memandang Dhiarra.


"Fara,,,mama,,,atau datuk?" tanya Dhiarra memastikan seberapa kaya Shin Adnan.


"Mereka sudah memiliki segalanya sendiri," tegas Shin menatap Dhiarra.


Dhiarra tidak lagi bertanya. Nampak fokus pada makanan yang menghampar di meja. Sedikit bingung ingin mengambil yang mana. Semua nampak lezat dan sangat menggugah selera. Beginilah jika makan bersama sang juara makan bertahan. Segalanya melimpah ruah dan kepuasan makan itu sangatlah dipikirkan.

__ADS_1


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Shin dan Dhiarra telah kembali ke hotel Casa del Rio Melaka. Berada dalam kamar pengantin yang hangat dan terlindung dari hawa dingin dari luar. Bergelung peluk dalam bentangan selimut super lebar dan tebal.


"Hon Shin, apa kamu tahu, apa yang terjadi pagi tadi antara aku dan Sazlina?" tanya Dhiarra hati-hati pada Shin yang sedang menjepit memeluknya.


"Tahu,,,Fara dan papa pergi ke perusahaan. Fara bercerita pada kami," jawab Shin seperti acuh dan itu sama sekali bukan masalah.


"Kamu percaya padaku,,? Aku tidak memulai menyerang Sazlina. Dia duluan yang menabrakku," jelas Dhiarra dengan bersemangat.


"Itu hal kecil. Jangan dipikirkan. Fara itu usil, dia telah merekam semuanya saat kalian di toilet. Raa, kenapa kau tak cakap jika Sazlina menekanmu saat kalian berjumpa di bandara?" tanya Shin sambil mengeratkan pelukan.


"Aku lupa. Kupikir itu tak penting, hon Shin." sahut Dhiarra.


"Lain kali, apapun yang terjadi dan apapun yang kau alami,, katakan semuanya padaku. Jangan sorok hal sekecil apapun dariku. Kau paham? Kau berjanji padaku, Raa,,?" tanya Shin sambil tangannya mulai berekspedisi menelusuri beberapa bagian sensitif di tubuh Dhiarra.


"Iya, hon Shin. Kamu pun juga tidak boleh mencoba sorok-sorok apa saja dariku. Jangan mencoba tidak jujur dariku, hon Shin," pinta Dhiarra menengadah, memandang wajah Shin Adnan di sampingnya.


"Iya, Raaaaa,, jangan khawatir padaku." Shin sungguh-sungguh berkata.


"Besok kita kena meninggalkan hotel bersejarah ini. Sekarang, ayo kita puas-puaskan lagi malam kita di sini. Rilis cucu untuk parents, Raa,,," ucap lembut Shin sambil merapati Dhiarra.


"Jangan banyak-banyak, hon Shin. Kita harus cukup istirahat jugaa,,," manja ucap Dhiarra mengingatkan sang suami. Shin Adnan tersenyum nampak mesum.


"Kuusahakan sekali saja, Raa.. Kuusahakan,," gamang Shin Adnan berkata.


"Kuusahakan,,,?" gumam Dhiarra.


"Ya, kuusahakan, sebab aku dah pesan tiket lagi ke Langkawi.. Jadi memang perlu kumpul tenaga buat pergi kat sana, Raa.." sahut Shin Adnan.


"Pergi langkawi? Betul kee, hon Shin?" tanya Dhiarra berbinar. Menyambut memeluk punggung sang suami. Shin telah di atas dan menindih tubuhnya.


"Iya..Kita sambung honeymoon kita yang tertunda waktu itu. Kau suka, Raa,,?" bisik Shin dengan nafas yang mulai memanas. Telah menciumi seluruh wajah halus Dhiarra.


"Iya, hon Shin. Aku bahagia,," jawab engah Dhiarra. Dan tidak ada suara yang terdengar lagi. Hanya deru nafas dan desah terengah yang memburu. Shin telah mengahabiskan seluruh bibir dan lidah Dhiarra ke dalam mulutnya.


Malam panas yang kedua telah mulai diarungi bersama penuh hasrat. Dengan janji sang suami akan diusahakannya sekali saja terjadi...Akan diusahakan...

__ADS_1


__ADS_2