
Shin kembali tenggelam di antara perbukitan yang akhir-akhir ini selalu memenuhi kepala dan menganggu tenangnya. Menjadi bagian obsesinya yang berat dan menuntut. Dan saat ini Shin telah berhasil mendapatkan.
Menghabiskan dua puncak kembar itu dengan rakus bergantian. Serta tangan kekarnya yang juga terus bergerak menerjang dan menjarah seluruh permukaan dan kedua batu kennyall di puncak bukitnya bergantian.
Sesekali diam tanpa gerakan, hanya lidah dan bibirnya yang bekerja membuat pahatan satu demi satu hingga begitu banyak dan merata penuh di sana.
Bibir Dhiarra tak henti menngerrang, menndessah dan melennguhh. Begitu jelas berulang-ulang dan sama sekali tidak ingin ditahan rasa indahnya. Ingin dinikmati sepenuh jiwa raga apapun yang sedang Shin buat di atas tubuhnya.
Sesekali tangan halusnya mencengkeram pundak Shin Adnan yang lebar, tebal dan kekar. Pegangan erat tangan Dhiarra sama sekali tidak berpengaruh pada kesibukan Shin di atas dada dan leher Dhiarra. Dan justru segala respon yang Dhiarra tunjuk adalah pemompa semangat bagi Shin untuk kian gencar dan terus melakukannya.
Shin sedang terengah di atas wajah Dhiarra setelah melummhat bibir Dhiarra sangat lama.
"Appa,, massihh dinnginn,,,Raaa,,?" dengan engah Shin kembali bertanya.
Mata Dhiarra melebar. Memandangi wajah yang luar biasa tampan di atasnya.
"Sssedikkiit,,hanngaatt,, encik Shiiiiinnn,,"
Aahh,,Shin tahu apa makna jawaban Dhiarra. Adalah lampu hijau dari gadis itu agar Shin melanjutkan sentuhannya.
Shin kembali menggelosor mendaratkan wajahnya di dada Dhiarra. Memainkan sebentar dan menggeser wajah lagi ke bawah. Menyapukan lidah dan membasahi seluruh permukaan kulit perut Dhiarra yang kencang dan mulus.
Tangan lebar dan kekar itu mulai menyelusup di paha. Mengusap elus perlahan berulang-ulang hingga Dhiarra terus menndessah.
Tangan Shin terus merambat dan akhirnya menyusup masuk ke dalam lipatan pangkal paha. Mengambil celah dan membentangkan pahanya. Tangan yang sebelumnya sempat membuang kain sisa penutup tubuh bawah Dhiarra itu telah bergerak-gerak membawa nikmat di tubuh dan jiwa Dhiarra.
Terus bergerak memainkan seluruh bagian yang ada di sana. Dengan mulut dan lidah yang telah kembali bermain rakus di dada indah Dhiarra.
Tangan Shin yang terus memainkan area dibalik lipatan paha itu membuat Dhiarra terus menggeliat hebat dan tak berhenti menngerrang. Melebihi gerakan cacing kepanasan di atas panggangan.
__ADS_1
Dhiarra terus bergerak hebat dan sangat tidak beraturan. Hingga mengantarkan pada kenikmatan luar biasa yang membuat tubuhnya mengejang dan intinya bergetar-getar tak berujung...
Shin sangat menyadarinya. Segera beringsut memeluk tubuh Dhiarra begitu erat. Terasa Dhiarra begitu terengah dengan tubuh yang sesekali masih mengejang.
"Apa, masih dingin?" Shin berkata lembut dan hangat begitu Dhiarra telah mulai nampak bertenang.
"Panasss aku, encik Shin,," kali ini Dhiarra jujur dan merasa malu. Wajahnya memerah. Shin kembali erat memeluknya.
"Aku masih kedinginan, Dhiarra. Apa kau tidak kasihan?" pertanyaan Shin ini begitu penuh maksud bagi Dhiarra. Kembali diusap-usapnya kulit punggung Shin yang hangat.
"Panaskan dirimu, encik Shin. Tapi aku tak tahu bagaimana membantumu,," Dhiarra menjawab dengan terus merona.
"Akan kupanaskan sendiri, Dhiarra. Kau cukup menikmatinya,," Shin berkata sangat lembut. Mereka berpandangan dan saling tersenyum penuh hasrat.
Shin kembali menelusur. Dari ujung kepala Dhiarra, bibir bahkan hingga di ujung kaki. Memanasi kembali tubuh indah di bawahnya agar kembali menndessahh, menngerrangg dan hissterriss. Dan Shin telah lebih cepat membuat Dhiarra kembali kelojotan kali ini.
Shin tidak pernah menyiakan kesempatan. Dengan tubuhnya yang poloss sedari awal itu, Shin telah menempatkan kapitan tegang kakunya di mahkota Dhiarra. Bersiap meluncur dan menembak. Dan Shin telah mulai meluncurkannya.
"Hahh..!! Sakiit,,,!! Jangan..! Jangan roggoll..Jangan roggoll aku, encik Shiin,,!" histeris Dhiarra memohon.
Kalimat Dhiarra itu sangat mengejutkan Shin Adnan. Sedikit kena mental baginya. Tidak ingin menyakiti dan memaksa Dhiarra sebenarnya. Tapi hasrat dan nafsu Shin telah sampai di ubun-ubun. Harus segera dilepaskan, entah bagaimanapun caranya.
Shin yang sempat berhenti itu kembali bergerak-gerak. Membawa sang kapitan mencari puas dan panas dengan caranya.
Dan Dhiarra yang sempat merasa sakit luar biasa kembali merasa nikmat geli yang hebat.
Menikmati setiap gesekan dan gerakan milik Shin Adnan di area sensitifnya. Keduanya sama-sama terus menndessah dan menngerrang bersahutan.
Yang akhirnya keduanya sama-sama bergetar dan mengejang bersamaan.
__ADS_1
"Dhiarraaaaaah,,,,,!!"
"Enciik Shiiiiinnn,,,!!
Shin telah rebah menggelosor, sambil menggeram, mengejang, dan bergetar. Begitu juga Dhiarra,,,, Keduanya sedang terengah-engah dan tersengal bersama sambil saling berpelukan. Keringat basah telah menitik keluar di dahi Shin Adnan.
🍒🍒🐝🐝
Shin tidak ke kamar mandi. Tapi telah ketiduran sambil menunggu Dhiarra kembali dari dalam kamar mandi. Dhiarra membiarkannya, tidak tega membangunkan. Menyelusup ke dalam selimut dan tidur berpeluk tubuh polos Shin Adnan. Dada Dhiarra kembali berdebar, seperti tidak percaya bahwa mereka telah melakukannya.
Memandang wajah tampan yang nampak lelah dalam tidur. Dhiarra pun sebenarnya kelelahan. Tapi sebab hampir tak ada tenaga yang dikeluarkan, dirinya masih juga bertahan. Tidak mengantuk meski kepala mulai pening.
Lama memandang wajah Shin dengan hati berserabut. Apa tadi Shin telah melakukannya? Mengambil harta miliknya yang terakhir? Jadi, apa dirinya sudah tidak gadis lagi sekarang? Kegadisannya telah berhasil didapat oleh Shin? Apa ada noda darah di sprei? Dhiarra akan memeriksanya nanti, setelah Shin terbangun,,,
Dhiarra ragu, sebab setelah rasa sakit yang sangat. Shin hanya sebentar meletak miliknya di dalam. Setelahnya, Shin meletak dan melakukannya di luar. Menggesek miliknya di luar milik Dhiarra. Menggerak dan terus menginduksi hingga mencapai puncak bersama.
Jika saja iya, Dhiarra tidak menyesal, justru merasa lega dan rela. Seperti ikhlas jika harus meninggalkan Shin dan pergi untuk menepati janjinya pada Adrian.
Urusan ini dengan Adrian, Dhiarra siap menanggung resikonya. Jika saja Adrian menyadari, menanyakan atau bahkan tidak terima, Dhiarra siap menghadapinya.
Dhiarra tidak paham, kebodohan hakiki bagaimana yang sedang dipilih dan sedang dilakukannya. Hanya merasa rela jika Shin lah yang telah mengambil miliknya.
Bingung rasanya,,, apa dirinya telah menyukai dan jatuh cinta pada Shin? Jatuh cinta setengah mati dalam kebodohan? Sebab tetap juga berniat untuk terus menikah saja dengan Adrian. Atau dirinya ini sebenarnya sedang serakah? Ah, sangat pening rasanya..
Dipandanginya Shin yang lelap terpejam. Sudah berapa lama lelaki ini tidak tidur.. Apa juga karena dirinya? Ah, kasihan sekali Shin Adnan,,
Dhiarra tidak hanya memeluk. Tapi tangan halusnya telah bergerak menyisiri tubuh Shin dengan bibir yang tersenyum. Meski merasa dirinya begitu miang dan mesum,, tapi Dhiarra terus saja melakukannya..
Biarlah,,,lusa, lelaki ini akan ditinggalkannya dan mungkin tidak akan dilihatnya dalam waktu yang lama,,
__ADS_1