
Meski rasanya sesak dan mungkin juga hampa, tetap berusaha memiliki semangat untuk dirinya. Dan gadis pendatang telah bersiap menunggu seseorang yang akan datang sebentar lagi guna menjemput dan membawanya pulang kembali ke negara asalnya, Indonesia.
Dhiarra telah begitu cantik dengan menyemat baju terbaik di tubuh indahnya. Juga sangat wangi dan jauh lebih cerah terlihat saat itu. Merasa sangat segar, sebab juga sempat merendam tubuh sangat lama dengan air hangat di kamar mandinya tanpa gangguan. Rumah besar sedang lengang tanpa satu pun penghuni di rumah, kecuali para pegawai dan Dhiarra sendiri.
Tidak lagi membawa pulang koper besar yang dulu dibawanya datang. Hanya membawa satu paper bag besar yang berisi beberapa baju serta peralatan pribadi seperlunya. Koper besar itu ditinggal dengan berisi seluruh barangnya, barangkali suatu saat ada peluang untuk mengambil. Serta ada beberapa barang yang akan dia pasrahkan pada Shin Adnan melalui beberapa pesan di ponsel.
Adrian benar-benar datang. Beberapa menit lalu menghubungi Dhiarra bahwa dirinya telah sampai pada alamat yang diberinya dan sekarang duduk menunggu di pos penjagaan. Sebab Adrian orang asing, beberapa pegawai jaga tidak memberi izin pada Adrian untuk masuk mendekati rumah besar.
Pintu kamar telah dikunci. Memandanginya sesaat, juga memandang dengan sesak kamar Shin di sebelah yang berposisi lebih tinggi dari kamarnya. Terbayang wajah Shin Adnan, pemilik kamar itu.
Sedih...Aku pulang ya, encik Shin,,, maafkan aku,,,duh, nyesek.. Bersalahkah, aku???
Tidak ingin air mata jatuh lagi, kakinya berbalik cepat meninggalkan teras dan melewati halaman. Terlihat dari jauh, lelaki yang mulanya duduk, segera berdiri begitu melihat Dhiarra tengah menapak di halaman. Bahkan tak sabar juga berjalan sedikit maju, demi menyambut kedatangan Dhiarra.
"Assalamu'alaikum, mass,,!" diseru cepat sang calon suami untuk lebih meneguhkan tekad hatinya.
"Wa'alaikumussalam, Arra,,!" Adrian membalas sapa dan semakin mendekat.
Adrian yang tersenyum agak tertegun menatap sang calon istri. Dalam pandangan matanya, Dhiarra semakin nampak cantik dan segar. Sangat ingin memeluk, tapi Adrian tahu, Dhiarra tidak pernah mengizinkan. Dalam ingatannya, Dhiarra adalah gadis milenial yang idealis dan polos. Dan itulah,,, Adrian tidak surut menyimpan cinta untuk Dhiarra.
"Sudah siap, Ra,,?" tanya Adrian dengan lembut.
"Ssudah, mass,,?" tercekat Dhiarra menjawab.
Memandang lelaki tampan beraura ningrat yang terus tersenyum. Ada sedikit debar di dada, namun seperti debar yang hampa,, debar gelisah. Bukan debar seperti yang dirasanya dulu, tiap kali berjanji jumpa dengan Adrian.
"Tuan Shin tidak dirumah. Kita pergi saja ke syarikatnya," Adrian sedikit melirik ke arah rumah besar Shin Adnan.
Perkataan Adrian memgejutkan Dhiarra.
"Untuk apa datang ke Shin's Garment, mas?!" dengan gugup Dhiarra bertanya.
__ADS_1
Adrian terheran pada reaksi sang calon istri.
"Tentu saja untuk berpamitan, Arra... Tuan Shin sudah bersikap sangat baik denganmu. Dengan kita,, Ayolah, nanti kita tertinggal pesawat,". Adrian berkata sambil mengambil lengan Dhiarra dan menariknya melangkah.
Dhiarra termangu mengikuti langkah Adrian menuju mobil hitam yang menyandar depan gerbang. Mobil Malaysia, sewaan Adrian bersama sang driver sekalian.
🍒🍓🍒
"Kenapa nggak jadi mengunjungi ibuku di Penang, mas? Padahal mas Drian kata akan menikahiku di sana,,," Dhiarra bertanya pada Adrian yang masih juga memandangnya.
"Sorry, Ra,, Aku sudah berbicara panjang pada mamamu. Mama bilang lebih baik kita menikah di Indonesia dengan mengundang kerabatmu. Dan juga disaksikan kerabatku. Kata mama, di Penang tidak ada siapa-siapa. Kurang sakral katanya, Ra. Dan setelah sah menikah, mama ingin kita pergi ke Penang. Mungkin juga saat itu sambil melihat adikmu, Ra,," Adrian sangat jelas menerangkan.
"Adikku,," bagi Dhiarra, kata adik cukup asing baginya.
"Mama kata, dalam hitungan hari lagi akan melahirkan. Kita doakan saja persalinannya lancar dan selamat,," jelas Adrian sekali lagi.
Dhiarra mengangguk dan menyahut "Iya, mass,," Sesak,tiba-tiba ingat Shin Adnan. Ingat saat pergi ke Penang bersama Shin, dan terjadilah peristiwa tak terduga itu..
🍒🍓🍒
Shin sedang berkumpul dengan orang tuanya dan Fara yang jauh lebih dulu sampai di hospital. Juga ada istri dan keluarga om Hafiz yang lain. Namun Azlan tidak nampak sebab belum datang. Mereka sedang berkumpul di ruang pavilyun VIP yang telah disewa guna ditempati om Hafiz, jika sudah dilepas dari bilik ICU.
Datin Azizah nampak mendekati sang putra kesayangan. Menepuk bahunya perlahan.
"Shin, mama ingin bicara sebentar," datin memberi kode agar Shin mengikutinya.
Shin segera berdiri mengikuti mamanya ke teras belakang pavilyun.
"Apa hal, ma,,?" Shin telah duduk bersebelahan dengan datin di kursi panjang.
Datin nampak gusar saat menatap lembut putranya.
__ADS_1
"Shin, mama nak cakap something...Anak sambung Hazrul tuu, Dhiarra,,, Tunangnya, calon suami dia tuu, mama ada dengar kabar tak sedap dari kawan Fara,," datin terdiam, menunggu reaksi putranya.
Shin nampak terkejut tanpa berusaha ditutupi.
"Kabar tak sedap? Apa itu, ma??" Shin sangat nampak penasaran.
"Kawan Fara cakap, tunang Dhiarra tuh dah kawin kat negaranya,," datin kembali menatap lekat pada Shin.
"Ehemm!!" seperti tersedak Shin mendengar ucapan sang mama. Datin samar tersenyum.
"Dhiarra dah macam keluarga kita, Shin. Kau kena tolong die,,, cakap kat Dhiarra pasal nii, Shin. Kasihan sangat anak sambung abang engkau itu,," datin berkata lembut dan tegas pada Shin.
Datin Azizah pura-pura tidak tahu segalanya. Dan itu atas permintaan Farahida Adnan. Hampir dua hari ini Fara telah bekerja keras menjadi detektif demi sang abang. Menggali banyak informasi serta membayar mahal seorang Indonesia yang telah profesional di bidangnya. Dan itulah hasilnya, Fara dapatkan info dengan tempo yang singkat. Hanya saja bukti akuratnya belum juga diterima olef Fara.
"Ma, cakap pada fara untuk bagi kat aku bukti akurat itu jika dah dapat,,," sahut Shin akhirnya.
Datin Azizah terus menyimpan senyuman. Merasa puas dengan reaksi sang putra. Shin nampak begitu pias dan serius menanggapi masalah Dhiarra. Shin sangat menggebu dan bersemangat.
Bermakna Shin memang tengah ada minat yang kuat pada Dhiarra. Sang putra telah tertarik serius pada wanita, dan dia adalah Dhiarra. Bisa dibilang cucu datin Azizah atau juga keponakan Shin Adnan.
Tidak peduli dengan hubungan apapun, datin Azizah sangat gembira dan penuh syukur kali ini...
🍒🍓🍒
Rasanya ingin cepat pulang menjumpai Dhiarra. Namun apa daya, Faiz memberitahu jika ada seseorang cukup penting yang sedang menunggu Shin Adnan di Shin's Room.
Dan Shin ingin bertanya kembali pada Faiz. Bahwa bulan lepas, Shin pernah meminta pada Faiz agar menyelidiki tentang saudara Adrian. Sang customer dan klien yang ternyata adalah tunangnya atau calon suami Dhiarra.
"Singgah kejap kat syarikat, Driss. Tapi kau kena siaga tunggu aku. Jika bukan sebab lapar, kau kena standby tunggu kat latar parkir, Driss," Shin berkata tegas pada Idriss sebelum sang driver menghentakkan kereta barunya.
"Siaga dan siap tuan Shin," sahut Idris dengan sikap patuhnya....
__ADS_1
Idris memacu kereta baru yang dibeli atas permintaan tiba-tiba dari sang tuan, saat terjebak hujan di penginapan Terengganu waktu itu. Dan bahkan harus segera diantar sangat cepat ke penginapan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dan perintah itu sempat membuat Idris benar-benar kalang kabut dan juga sakit kepala.. Namun terlaksana juga pada akhirnya...