Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
50. Penang On the Way


__ADS_3

Sebab ditawari oleh Azlan, maka dipilihlah posisi terdepan bersama sang sopir. Sedang Azlan akan duduk di belakang. Kereta besar Azlan telah siaga pada mode gelap gulita. Hanya sorot lampu halaman saja yang kadang terang menembusi kaca mobil.


Mobil meluncur meninggalkan rumah megah datuk Fazani di iringi lambaian tangan sang datin. Bibir wanita yang malam larut begitu tanpa berkerudung dan hanya digelung asal, terus tersenyum hingga hilang dari jangkauan.


Mulut gadis itu mengatup, bibir merona indah telah merapat segaris. Hatinya memang lega gembira dan penuh harapan. Namun secuil rasa hampa dan kosong terselip janggal di dadanya. Pemandangan dan gedung-gedung raksasa penggapai langit yang gemarlap di kanan kiri jalan tidak lagi menarik.


Perjalanan yang disangka akan bersama Shin Adnan, namun pada akhinya sang paman tidak jadi mengantar. Dan justru dipercayakan perjalanan ini kepada sepupu lelaki meski itu adalah pilihan Dhiarra sendiri.


Lebih kecewa lagi saat berangkat, Shin tidak nampak sebentarpun menyapa. Entah di mana bujang tampan itu. Ataukah sedang tidur tanpa sedikitpun peduli. Atau ternyata tiba-tiba berubah pikiran lalu memilh menghantar pulang Sazlina sekarang,,?


Tak sadar bibir Dhiarra mencibir. Ada keinginan melintas untuk tidak akan kembali kepada Shin. Tinggal dan bekerja di pulau Penang bersama sang ibu bisa jadi menyenangkan. Meminta Azlan untuk membantu mendapat kerja, pasti lelaki itu tak kebetatan.


Tapi... , urusan kariernya juga sedang berada di tangan Shin. Bagaimana nasib baju-baju rancangannya..Bagaimana dengan barang-barang miliknya yang tertinggal di kamar tamu di rumah besar sang paman?


Bagaimana juga dengan kedai obat di Sentral yang telah laju dan sukses? Apa Yuaneta rela mengurusi demi dirinya?


Dan bagaimana jika Adrian tiba-tiba datang ingin menemui untuk menikahi? Tidak jauhkah letak pulau Penang? Apa Adrian tetap akan menyusulnya? Serabut kecamuk membenam di kepala Dhiarra.


Sejenak berdiam, kepala Dhiarra perlahan siuman. Siapa juga Shin baginya, begitu juga sebaliknya, siapa juga dirinya di mata Shin. Dhiarra sudah dewasa, bukan keharusan Shin untuk terus menjaga. Kenapa juga terlalu baper sebab Shin tidak jadi mengantar. Untuk apa merasa kecewa, seharusnya itu tidak perlu.


Bukankah Shin sudah terlalu baik dengannya. Dan tentang kedai obat itu, bukankah Dhiarra dan Shin sudah sepakat saling makhlum. Lalu, kenapa hatinya jadi berubah merana begini..


Berapa lama perjalanan ini akan di tempuh, dan berapa kilo meter jauh sebenarnya ke Penang ini. Kenapa dirinya tidak pernah bertanya detail pada Shin. Terlalu pasrah dan percaya sekali selama ini pada Shin. Sehingga hal sepenting ini diabaikannya.


Dhiarra mulai sibuk berselancar dengan ponselnya. Mencari keberadaan tepat posisi pulau Penang. Ternyata tidak terlalu jauh, lebih kurang lima jam saja. Bisa lebih cepat atau juga lebih lama. Tergantung kelihaian sang sopir serta kemauan si penumpang sendiri. Sebab saat malam-malam begini, jalur KL-Penang tidak akan ada cerita macet.


Lelah berangan dan berdamai dengan hati sendiri, serta rasa pegal dengan gerak mata yang terus mengikuti perjalanan dengan tatap hampa, Dhiarra lama-lama mengantuk.


Apalagi dengan senyap dan dingin AC dalam mobil. Entah sedang apa Azlan di belakang. Mungkin lelaki itu telah lama tertidur. Dhiarra memandang sang sopir di samping yang terus saja fokus dan serius. Perlahan diletak kepalanya di sandaran. Mata dan kepala telah benar-benar merasa sama-sama kolapnya.

__ADS_1


🍒


Dhiarra tengah bermimpi bahwa tangan seseorang mengguncang-ngguncang bahunya sangat kasar dan keras. Sambil orang itu menyebut namanya berkali-kali dan nyaring. Dalam mimpinya orang itu adalah lelaki dan sangat jelas dia adalah Shin.


"Dhiarra.. Dhiarra..Dhiarra.." suara panggilan keras itu semakin sayup terdengar. Begitu juga dengan guncangan di bahu yang terasa telah pelan.


"Dhiarra..." panggilan terakhir inilah yang akhirnya menarik Dhiarra dari mimpi dan membuat matanya terbuka.


Azlan sedang berdiri di samping mobil dengan posisi tangan masih terulur melewati jendela.


"Lelap sangat tidur, oii.. Banyak kali kubangunkan, tapi kau tak respon,,!" terang Azlan sambil tertawa.


"Jam berapa, Azlan? Kita sampai kat mana?" gelagapan gadis Indonesia itu bertanya.


"Kejap lagi sampai, daah. Tapi kita makan dulu. Ada kedai makan dua puluh empat jam kat sana,!" Azlan menunjuk rumah makan yang sepertinya memang ramai.


Dhiarra bergegas turun dan mengikuti Azlan berjalan. Sambil melihat jam berapa saat itu di ponsel. Pukul tiga dini hari. Mungkin sekitar pukul empat mereka akan tiba di Penang.


"Duduklah, Dhiarra. Akan kupesankan, kau nak makan apa?" Azlan memasang mimik menunggu.


"Nasi goreng apa saja, Azlan. Asal pedas," jawab Dhiarra.


"Pagi-pagi makan pedas,,?" Azlan tak yakin.


"Betul, Lan,, biar aku tak pening," kepala Dhiarra memang terasa agak pusing.


"Baiklah, akan kupesankan. Kau duduklah manis kat sini," Azlan menunjuk kursi dengan matanya.


Dhiarra mengangguk dan duduk. Mengikuti langkah Azlan yang menuju antrian pesanan. Tapi ternyata Dhiarra hanya mampu sebentar saja duduk manis. Rasa perut bawah kembali tidak nyaman dan ingin ke toilet.

__ADS_1


Tak sempat lagi berbincang dengan Azlan. Gadis itu langsung saja keluar dan berburu kamar mandi.


Nampak toilet namun sebuah papan besar tertempel di sana. Pemugaran, itulah yang Dhiarra baca di papan. Mata bintang kembali menyisir. Mendapati tanda panah bertulis, bilik bersuci cadangan. Dengan cepat Dhiarra meluncur ke arah tanda panah itu.


Harapan Dhiarra yang menggebu serasa menguncup. Antrian pada tiga kamar mandi itu sama-sama nampak panjang. Tak sempat lagi berfikir, Dhiarra langsung sambung antrian yang terdekat dan paling belakang. Dengan perasaan pasrah dan cemas.


Perasaan semakin was-was, antrian masih banyak kepala lagi. Dhiarra benar-benar cemas sebab tak tahan lagi. Sempat terfikir untuk keluar antrian dan mencari kegelapan di semak-semak. Berdiri gadis itu jelas nampak gelisah tidak tenang.


Deg..!


Ditengah rasa was-was, Dhiarra sangat terkejut saat merasa tangannya ditarik pelan dan kuat oleh seorang lelaki. Tak sempat memperhatikan siapa sebab panik, Dhiarra telah didorong masuk ke dalam kamar mandi.


"Gunalah gilaranku ini dengan baik,!" pintu itu telah ditutup dari luar bersama sebuah seruan.


Suara itu.,,,terdengar sangat hafal dan kenal, tapi rasanya tidak mungkin. Yang jelas bukan Azlan!


Segera dikuncinya pintu dan tak ingin buang waktu.


Dengan hati berdebar penasaran, segera diselesaikan urusan super urgentnya itu dengan cepat. Juga tak ingin berlama-lama, sebab antrian sangat panjang. Dhiarra memahami apa yang tengah dirasa orang-orang dalam antrian di luar pintu.


Dalam hitungan detik setelah siap dengan urusannya, Dhiarra telah berada di luar dengan perasaan sangat lega yang dahsyat. Berjalan pelan dengan mata berlarian, barangkali orang yang disangka memang nyata adanya. Tapi sekali lagi rasanya tidak mungkin.


Lalu siapa pemilik suara yang terdengar sama persis dengan suara stereo milik Shin Adnan? Penuh kecamuk Dhiarra berjalan kembali menuju pintu masuk restaurant.


Kakinya telah melewati pintu masuk kembali dan menuju meja kursi yang tadi ditinggalkan. Mungkin Azlan telah lama menyelesaikan pesanan dan kini menunggunya untuk makan.


Deg..!!!!!!!!


Kembali terkejut tegang Dhiarra. Bahkan mungkin jadi setengah jantungan sekarang. Orang yang diyakini tak mungkin ada dan telah jauh ditepis, telah duduk tenang dan manis di kursi.

__ADS_1


Shin sedang mengobrol santai bersama Azlan dengan mata sesekali melaser pada Dhiarra yang berjalan pelan nampak gamang menuju kursi di mejanya..


__ADS_2