
Ruangan yang biasa ditempati Dhiarra dan Faiz itu kembali satu kursi saja yang diguna. Lelaki tampan Malaysia sebagai penghuni setia ruangan, sedang duduk lemas termangu-mangu menatap monitor komputer dengan pandangan yang kosong.
Merasa shock dengan penampakan panas yang baru saja disaksikan tak sengaja di ruang seberang. Jadi sangat yakin dengan prasangka salahnya selama ini. Bukan Dhiarra saja yang berubah perasaan, namun justru si boss Adnan sendirilah yang nampak jelas dengan tindakan paksaannya.
Ceklerk,,!!
Terkejut asisten Faiz, si boss yang sedang direnung dalam kepala, membuka pintu kasar dan masuk buru-buru.
Mendekati Faiz dengan mata tajam melaser dan wajah tegang mengeras.
"Faiz,,!" Shin berseru kasar pada Faiz.
"Ya, tuan Shin,!" Faiz langsung berdiri menyambut panggilan si boss.
"Apa kau lupa, dah lama aku nak engkau selidik pasal tunang Dhiarra?!" berapi Shin bertanya pada asistennya.
Wajah Faiz memerah, kepalanya sakit tiba-tiba.
"Sorry, tuan Shin. Saya benar-benar lupa,," Faiz tidak menampik kesilapannya.
Jari panjang itu mengusap wajah tampan kusutnya sendiri. Memandang Faiz sesaat. Shin sedang mengendalikan amuk dirinya.
"Tolong aku, Iz,,Jangan kau buat main-main kali ini..! Terus follow up Dhiarra serta tunangnya. Juga lanjut selidik pasal Adrian. Fara kata laki-laki tunang Dhiarra tu dah kahwin. Tapi belum ada pegang bukti. Kau paham apa tugasmu, Iz,,?!" Shin berkata keras dan tegas pada Faiz.
"Paham, tuan Shin,,!" Faiz menjawab cepat sang tuan.
Meski yang Faiz rasa adalah kian tak paham dan kian aneh, asisten itu hanya mengangguk. Sangat terheran dengan sikap dan respon sang tuan yang baginya sangat berlebihan.
"Iz,,,!!" tiba-tiba ada seruan keras dari Shin. Si boss telah duduk di sofa.
Demi mendengar panggilan si boss padanya, asisten Faiz meluncur tergesa ke ruang tunggu dan duduk menghadap sang tuan.
"Ada apa tuan Shin?" Faiz memandang begitu heran. Sang tuan nampak begitu gelisah, tidak setenang biasanya. Faiz kian menduga-duga prasangkanya.
"Iz... Kau tau Iz, aku dah berkahwin,,!" Shin tiba-tiba menjawab dengan lantang pada Faiz. Seperti sedang menumpahkan beban berat yang selama ini dipikulnya.
Tentu Faiz terkejut, melebihi rasa kejut saat bertabrakan dengan tikus gila yang berlari terbirit ke arahnya.
"Apa tuan Shin? Anda sudah kawin?? Wanita mana penyebab tuan Shin berkahwin,,??" tak terkira lagi respon kaget Faiz. Kegusarannya telah menyaingi boss Shin Adnan. Bahkan Faiz telah menarik-narik dasinya sendiri hingga longgar.
Sangat mengejutkan. Tanpa angin tanpa hujan,,,, tuan Shin yang dingin mendadak bercakap jika dirinya telah berkahwin...
"Dhiarra Iiiiiizz...! Aku dah kahwin dengan Dhiarraaaaa...!!" semakin lantang saja jawaban Shin kali ini. Bukan saja lantang, tapi seperti tengah berseru di tepi lautan. Panjaaang...
Kian kaget juga Faiz mendengar itu. Meski telah mendapati sang tuan dan sang desainer sedang berbuat asusila di depan mata, tak menyangka juga jika si boss telah nekat mengawini ponakannya.
Faiz bungkam sejuta kata, hanya matanya saja yang terus menyimak Shin Adnan. Faiz paham, dirinya sedang tak diperlukan berbicara. Saat ini, Shin hanya ingin seorang penyimak yang mendengar luapan hatinya.
Shin yang membanting punggung di sandaran sofa dengan badan menggelosor, menarik badan dan duduk tegak seketika.
Faiz yang mengira Shin sudah mulai bertenang, ikut duduk lurus dan bersiap siaga lagi demi mendengar segala ucapan sang tuan.
"Izzz,,,! Aku nak cari angin,,! Jaga syarikat elok-elok selama aku tak ada! Pandai-pandailah kau atur kerja dengan direksi lain. Ingat, om Hafiz tengah sakit,,!" Shin berucap seru sambil berdiri segera.
Melebar besar mata Faiz, membungkam tak menyahut. Merasa diri sebagai penanggung segala musibah dan masalah.
"Izz,,! Start bulan ini salary engkau naik, Iz! Kerja sesuai arahanku dengan betul. Akan kubagi bonus besar kat engkau,,!" Shin telah membuka pintu Shin's Room saat berpesan pada Asistennya.
Faiz tetap saja termangu. Meski Shin meninggalkan jaminan dan imingan pada hasil kerjanya. Rasanya tetap saja sangat berat. Ini adalah tugas besar dan pasti beresiko. Yang pada akhirnya hanya pasrah sajalah yang diyakini oleh Faiz. Sambil berharap sang tuan tidak pergi lama dan segera kembali.
🍒🍒🍓🍒🍒
__ADS_1
Idris kembali memacu kereta baru yang kini sedang tidak bertuan. Pemilik cantik dari kereta baru telah pulang ke Indonesia meninggalkan mobil mahar. Sekalian sang sopir mahar yang konon adalah Shin Adnan.
Sepaket mahar yang tak diakui itu sedang dibawa Idris membelah lebuh raya menuju kota besar metropolitan Kuala Lumpur.
Sang sopir hanya bersedia empat lima menuruti ujaran sang tuan ke mana harus pergi, tanpa harus tahu tujuan pasti ke mana tempat perginya.
Hanya merasa pelik pada perjalanan kali ini. Sang tuan tidak lagi membawa keponakan jelitanya. Sebab, akhir-akhir ini mereka berdua, sang tuan dan Dhiarra ibarat sepaket yang jika pergi jauh pasti akan ada bersama. Tapi kali ini di mana gadis Indonesia itu?
Idris melirik Shin Adnan dari kaca di atas kepalanya. Perilaku yang gelisah, tidak tenang, dan dengan wajah pucat kusutnya. Seringkali mengusap kasar wajah dan menarik kuat rambut lebat hitamnya. Dalam pandangan Idris, lelaki yang duduk di belakang dan sedang ia bawa itu seperti bukan sang tuan biasanya. Bukan Shin yang selalu tenang dan berwibawa.
"Dah kat kota Kuala Lumpur, tuan Shin. Anda nak saya hantar pergi mana?" Idris tak ingin disalahkan kemudian.
"Bawa aku kat Zeta Bar, Driss,?" lirih Shin menyahut.
Tapi Idris yang terbiasa dengan suara serta ucapan Shin, sangat jelas menangkapnya. Dan merasa heran, untuk apa sang tuan pergi ke sana dengan penampilan kusut seperti itu?
Sebab, penampilan sang tuan selalu fresh dan perfect jika akan bersua dengan para relasi di manapun tempatnya. Bahkan pertemuan bisnis dalam bar, club, hotel, atau juga di restoran, Shin selalu dalam kondisi yang rapi. Idris begitu paham akan hal ini.
Idris hanya menepikan kepelikan di benaknya. Merasa tugas di pundak hanya membawa sang tuan pergi dan pulang dengan selamat dan tepat.
"Driss,!" Shin yang belum keluar dari mobil memanggil Idris.
"Ya, tuan Shin," Idris menoleh ke belakang.
"Ikutlah masuk ke dalam denganku,!" Shin berseru sambil turun keluar.
Meski sedang tercengang, tapi Idris nengangguk dan segera menyusul sang tuan.
Bangunan gedung Zeta Bar sangat luas dan gemerlap. Ini adalah pertama kali Shin mendatangi gedung hanya sendiri dan bukan sebab bisnis. Sebelumnya memang sering datang ke Zeta Bar, tapi baru kali ini sendirian dan hanya berteman dengan Idris.
"Driss, awasi aku,, kau duduk saja denganku. Aku pesan denganmu, jika ada wanita yang mendekat, kau halau saja, Driss,," Shin berkata pada Idris dengan nada sungguh-sungguh.
Idris berdiri di dekatnya bersiaga. Terus memperhatikan sang tuan yang sedang mengambil sebotol arak dan mengocoknya sebentar. Membuka tutup dengan cepat dan menuangkan di gelas sangat kecil. Meneguk sekaligus tanpa ragu. Berulangkali dituangkan dan sekaligus diteguknya.
Shin memandang Idris yang berdiri di sebelah.
"Duduk saja, Dris!" Shin masih tegas berkata. Minuman panas itu belum bereaksi padanya.
"Ya, tuan Shin," Idris duduk di kursi ujung, berjauhan dengan Shin. Idris seperti risau jika Shin akan menyuruhnya menemani minum bersama.
Shin menyingkirkan botol arak tadi yang setengahnya saja belum habis. Berganti dengan botol lain yang berbeda persentase dan berbeda jenamanya. Tapi Shin tidak peduli dengan itu. Sebab sebenarnya Shin kurang paham dengan bermacam botol-botol yang diantar pegawai Zeta bar.
Hanya ingin memecah gumpalan keras yang sedang menyumbat kepalanya. Membebaskan diri dari rasa henk syaraf yang tak kunjung refresh sendiri. Shin sudah tidak sabar dan tidak berminat untuk menempuh cara bagus yang lain. Mungkin inilah cara pintas dan puas yang sedang tepat untuk dilakukannya.
Shin memang sudah berniat pergi ke Zeta untuk melakukan hal ini. Sebagaimana rekan-rekannya yang sudah pakar dan senior pada botol-botol di depannya.
Sebelumnya Shin tidak pernah tergoda pada bujuk ajak mereka. Yang mengajak untuk berlanjut minun di meja tersendiri.
Tapi juga sesekali menerima segelas kecil hanya bertujuan demi menjaga baik hubungan. Dan itu dilakukan sekedar di meja makan saat berbincang bisnis dengan relasinya.
🍒🍒🍒
Sudah banyak botol terbuka dan semua telah dicoba rasa oleh Shin. Tapi semua sama rasa, hanya panas dan membakar. Tidak ada yang seperti diinginkannya. Tidak ada yang panas, membakar namun terasa manis.
Baginya botol-botol itu tidak ada yang menyimpan rasa seperti rasa istrinya yang pergi. Tidak ada sebotolpun yang menyimpan rasa nikmat seperti nikmat manisnya Dhiarra.
Shin telah mulai oleng sekarang. Kandungan air dalam botol-botol di meja telah bereaksi keras di tubuh Shin Adnan. Selain tak biasa namun memaksa. Di antara botol-botol itu, tentu terselip banyak botol dengan persentasenya yang tinggi. Tapi Shin tak peduli dan asal hantam minum saja.
Mulut Shin Adnan mulai bersuara kata tak jelas pasal dan maksudnya. Hanya dua kata yang terlalu banyak diracaukan oleh Shin, bisa dimengerti dan dipahami sangat jelas oleh Idris.
"Raaaaaaaa.....Dhiarraaaaaaaaa,,," Shin menyebut panjang nama itu ke sekian kali dari banyak kali di sebutnya.
__ADS_1
Kini Idris paham, apa penyebab sang tuan hingga pergi sendiri ke tempat semacam ini.
"Raaaaaaaa.....Dhiarraaaaaaaa,,,"
Lolongan sang tuan terus mengudara di antara sibuknya Idris menolak dan menghalau usaha wanita-wanita Zeta Bar untuk mendekati sang tuan. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak wanita yang sudah Idris tolak semenjak sang tuan baru duduk hingga kolaps seperti sekarang.
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Akulah jodohmu itu, Raaaaaa...."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Akulah jodohmu, akulah suamimu, Raaaa..."
Lolongan sang tuan semakin lebay saat musik di Zeta bar memutar lagu viral "Aku Bukan Jodohnya" yang dibawakan oleh Zidane dari Indonesia. Tak henti-hentinya menyebut nama Dhiarra dan mengakui nama itu sebagai istri dan jodohnya.
Idris merasa ini sudah cukup. Saatnya membawa sang tuan untuk hengkang keluar dan pulang. Pembayaran seluruh tagihan sudah dilunasi sang tuan sedari awal sebelum duduk.
Idris membawa Shin keluar dengan susah payah yang akhirnya dibantu oleh pegawai Zeta bar.
Idris sempat dilema saat rintik hujan dari langit KL berubah jadi guyuran yang deras. Angin sangat kencang dan sudah mendekati hampir tengah malam. Harus ke mana membawa sang tuan pulang?
Idris nekat membanting kemudi dari lurus ke bengkok. Meninggalkan jalur arah Melaka beralih pada jalur perumahan elite di pusat kota Kuala Lumpur. Perjalanan yang hanya akan memakan waktu dua puluh menit menuju rumah orang tua sang tuanlah tujuan Idris sekarang.
Idris sangat galau dan merasa pening dengan kondisi sang tuan yang kian meresahkan...
"Raaaaaaaaaa........Dhiarraaaaaaaa....."
"Ayolah kita bercinta, Raaaaaaa......Dhiarraaaaaaaa..........!!!"
😂😂😂😂😂🍒😂😂😂😂😂
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
Hanya satu bab yaaa..😘🙏
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍒🍒🍒🍒
Numpang promo yaa.... Barangkali belum ada yang pernah singgah di sini...
Bukan Kacung Kaleng-Kaleng
Bukan Kacung Kaleng-Kaleng yaaaa...
Yang lain tuh milik orang.. boleh juga disamperin... 😄😄
😘😘😘😘😘
__ADS_1