Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
89. Adrian...


__ADS_3

Dhiarra meneguk coklat hangat favorit sambil melirik Adrian yang belakangan selalu nampak tegang dan gelisah. Jauh beda saat datang menjemput di rumah Shin Adnan, Adrian selalu tersenyum dan terlihat cukup cerah. Mungkin Adrian tak jauh beda dengan Dhiarra yang terus menggantung mendung di wajahnya.


Dan semakin mendung pekat saat Dhiarra menolak keinginan Adrian untuk membawanya langsung ke rumah orang tua Adrian di Kota Sleman yang tidak jauh dari kawasan Bandara.


"Dhiarra,,"


"Mas Drian,,"


Adrian dan Dhiarra hampir bersamaan saling memanggil dan berpandangan.


"Ada apa, Ra. Kamu ingin berbicara?" tanya Adrian lembut pada gadis di depannya.


"Iya, mas. Ada hal yang harus kubicarakan secepatnya. Tapi, apa mas Drian juga ingin bicara? Mas Drian saja dulu yang bicara,,," jawab Dhiarra.


"Kamu saja dulu yang bicara, Arra,," kata Adrian dengan lembut. Namun wajah tampannya tetap saja mendung berkabut.


Dhiarra menunduk sebentar, memandang Adrian dengan mata beningnya.


"Mas, sebenarnya berat dan sangat beban untuk terus terang padamu. Tapi aku juga tidak tahan memendamnya. Lebih tepatnya, merasa ini sedang salah," Dhiarra sangat cepat berbicara. Seperti tidak ingin apa yang dipikir dan akan dikatakannya jadi terlupa tiba-tiba.


"Salah,,, sedang salah bagaimana, Ra,,?" tanya Adrian keheranan. Menatap wajah cantik itu lekat-lekat.


"Sebenarnya,,, Aku ini istri orang mas. Aku sudah menikah,," jawab Dhiarra. Membalas pandangan Adrian padanya.


"Menikah? Dengan siapa kamu telah menikah, Ra,,?" tercengang dan tercekat Adrian bertanya. Matanya tak bergeser sedikitpun dari mata Dhiarra.


"Dengan.....dengan encik Shin Adnan, mas,," sahut Dhiarra dengan cepat.


"Apa, Arra,,?! Kamu menikah dengan boss garment itu? Pamanmu? Aku sudah curiga kemarin, bahwa kalian ada hubungan istimewa. Tapi aku tidak menyangka jika kalian ini menikah,,!" ucap Adrian agak keras.


"Kamu mengkhianatiku, Ra ? Kamu tidak mengabariku?" sambung Adrian.

__ADS_1


"Maaf, mas. Bukan aku berkhianat. Tapi pernikahan itu tiba-tiba. Kami kena tangkap, kami sedang terjebak tak sengaja,," sahut Dhiarra dengan cepat.


"Jadi kalian hanya terpaksa menikah?" desak Adrian.


"Iya. Tentu saja waktu itu kami menikah dengan terpaksa," jawab Dhiarra.


"Jadi, tuan Shin sudah menceraikanmu?" tanya Adrian.


Mata Dhiarra membulat mendengar pertanyaan Adrian. Sama sekali tidak tahu menahu hal ini, Dhiarra tidak memikirkannya. Atau waktu itu Dhiarra tidak peduli dan menggampangkan..


"Aku,,, aku tidak menanyakannya, mas,," Dhiarra menjawab tercekat.


Mendadak membahas hal ini, justru datang bersit takutnya jika Shin telah menceraikan dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai istri. Jantung Dhiarra berdegup cepat sebab risau.


"Baiklah, Dhiarra. Terimakasih dengan jujurmu. Aku akan menanyakan sendiri tentang statusmu pada tuan Shin besok pagi. Kurasa membiarkanmu kubawa, otomatis kalian sudah bercerai,,," Adrian berkata lirih menduga.


Diam-diam dada Dhiarra tersentak mendengarnya.


"Iya, mass. Kami sudah melakukannya," Dhiarra berharap dengan jawaban ini, Adrian akan marah dan segera bersetuju untuk membatalkan niat menikahinya.


"Kalian melakukannya? Bagaimana jika ternyata kamu hamil, Ra,,?! Ah, ini rumit sekali, Ra,,!" suara Adrian cukup keras. Nasib baik, Adrian mengambil fasilitas privacy room di kafe itu.


Dhiarra menggigit bibir dengan vonis yang diserukan Adrian. Menahan untuk tidak meluruskan. Anggapan itu justru akan lebih baik dan mudah untuknya.


"Tetapi itu tidak masalah, Ra.. Keluargaku sudah terlanjur mempersiapkan pernikahan kita. Tidak mungkin menunggu untuk memastikan kamu hamil atau tidak. Jika saja kamu mengandung anak tuan Shin, aku akan menerimanya, Ra.. Kita harus tetap menikah," tegas Adrian sungguh-sungguh.


Keteguhan Adrian, membuat Dhiarra beban dan kian kebingungan. Keputusan Adrian tidak seperti harapannya.


"Tapi aku tidak ingin meneruskan pernikahan ini, mas Drian. Aku tidak bisa,,, maafkan aku,," Dhiarra memandang Adrian serba salah. Tapi Adrian tidak memahami keinginan Dhiarra, dan mengartikan hal lain dari seluruh pengakuan Dhiarra.


"Dhiarra, percayalah padaku. Aku benar-benar akan menerimamu apa adanya. Kamu tidak berkhianat. Aku tetap mencintaimu, Ra.. Tidak berubah." Adrian terdiam sejenak.

__ADS_1


"Asal kamu tahu Dhiarra, aku sebenarnya sangat merasa bersalah denganmu. Akulah yang berkhianat, aku tidak jujur padamu. Maafkan aku, Ra,, Sebenarnya akupun juga sudah menikah. Aku terpaksa menerima perjodohan. Aku pun sudah punya istri, Raa..." Adrian menunduk di depan Dhiarra.


Dhiarra sungguh terkejut dengan pengakuan Adrian barusan.


"Aku kurang paham, mas. Tolong, jelaskan lagi padaku, mas,," desak Dhiarra yang merasa sangat terkejut.


Meski benar-benar tidak ingin melanjutkan pernikahan dengan Adrian. Mengetahui fakta ini, hatinya sangat sakit dan kecewa. Adrian tidak jujur dan begitu tega menipunya.


Bahkan Dhiarra sampai meninggalkan Shin Adnan. Yang hakikatnya masih sah sebagai sang suami, hanya demi memberatkan untuk menikah dengan Adrian. Ternyata Adrian begitu tega padanya. Adrian telah mengkhianatinya diam-diam. Sedang Dhiarra begitu berusaha untuk tidak mengkhianati Adrian. Ah, rasanya begitu malu pada Shin Adnan. Dhiarra dangat malu...


"Aku pun menikah juga terpaksa, Dhiarra. Dijodohkan keluarga. Dilingkungan keluargaku, sangat pantang menolak keinginan dua pihak orang tua. Jadi aku menerimanya. Tapi wanita yang dinikahkan denganku, ternyata sedang sakit. Dan dokter telah memvonis jika rahimnya tidak mampu dibuahi. Kami tidak akan bisa memiliki keturunan Dhiarra."


Adrian terdiam menatap Dhiarra dengan matanya yang memerah.


"Pada mulanya aku memang tidak berniat menikah lagi. Berusaha kuterima takdir dan menerima keadaan wanita yang kunikahi apa adanya. Itulah, aku telah mengabaikanmu. Maafkan aku, Ra,,. Padahal aku selalu rindu dan ingin bertemu denganmu. Sampai tak sengaja aku melihatmu di syarikat tuan Shin. Maka saat itu kuanggap kau adalah jodohku. Dan harus dapat kupertahankan."


"Dan aku terus terang tentang dirimu pada keluarga juga pada wanita yang sekarang jadi istriku. Tentang niatku untuk menikahimu. Memang susah, tapi akhirnya semua menyetujui dan memahami. Jadi, Ra...Ayolah kita teruskan pernikahan kita. Jangan berubah pikiran, kumohon, Dhiarra,,"


Adrian memandang sayu dan hangat pada Dhiarra. Sangat berharap agar Dhiarra tetap sudi melanjutkan pernikahan.


"Mas, zaman dah modern. Dunia kesehatan semakin ajaib dan canggih. Sebenarnya istri mas Drian sakit apa?" tanya Dhiarra hati-hati. Merasa bersimpati dengan nasib Adrian, mantan kekasihnya,,,, mantan calon suaminya,,,


"Sakit kanker rahim, Ra,, dan dokter telah memvonis itu jenis yang ganas,," Adrian nampak muram. Wajahnya semakin kelam berkabut.


Perasaan Dhiarra yang tadinya kecewa dan memanas, mulai berubah rasa jadi iba.


"Belum terlambat, mas. Selama kita masih bernafas, harapan untuk sehat dan sembuh jangan pernah dihempas. Kasihan istrimu mas. Mas Drian harus selalu mensupportnya. Berilah semangat tanpa putus. Kesehatannya, semangat sembuhnya,,, semua ada di tanganmu, di tangan kalian,, seluruh keluarganya." tulus ucapan Dhiarra pada Adrian.


"Itulah, Ra... Dia sangat ingin melihat aku menikah lagi. Dia kata jika aku sudah menikah lagi, dia akan tenang dan tidak tertekan untuk menjalani apapun jenis dan cara pengobatannya. Dia bilang, sakitnya ini membuatnya sangat tertekan dan hanya terus memikirkan kesendirianku,," sendu Adrian berkata.


Memandang wajah jelita yang juga mendung di depannya.

__ADS_1


Mata indah bening itu menatap sayu dan hangat pada Adrian. Pandangan penuh serabut dan kecamuk yang kian kusut masai tak terbentuk. Menatap lelaki yang ternyata mempunyai nasib yang juga sama rumit dengan dirinya...


__ADS_2