Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
35. Driver Aneh


__ADS_3

Dua karib tengah rebah terlentang di ranjang super besar dalam kamar tamu yang sekarang ditempati oleh si gadis pendatang. Bukan lagi Dhiarra yang berkunjung ke rumah Yuaneta, tapi kini sebaliknya.


Tentu saja hari ini kedai obat di Sentral juga tutup. Bahkan Denis Tan pun telah memberi izin bagi sang istri untuk menemani sang karib menghadiri acara launching baju malam nanti di Shin's Garment.


"Ra.., adik ayah tirimu sudah mempesona maksimal masih juga kaya raya seperti ini. Kau kuat sekali tak membelah hati dari Adrian," sang Karib berbicara sambil menatap langit-langit kamar dengan nyaman.


"Sebab hatiku bukan amoeba, Nett..," Dhiarra menanggapi dengan mata masih tertutup. Mereka baru saja bangun tidur siang hari.


"Jika aku yang jadi kamu, kuputuskan Adrian. Lawong orang nggak jelas gitu,," Yuaneta berucap lirih, seperti berbicara sendiri.


"Nggak jelas gimana? Kami saling cinta dan sebentar lagi akan menikah. Sudahlah Nett, bahas yang lain. Sangat tidak memuaskan jika membicarakan hal yang tak kau suka bersamaku!" Dhiarra merasa tidak nyaman jika terus-menerus dapat rongrongan dari Yuaneta.


"Dia bilang akan menikahimu saat datang. Tapi buktinya dia tidak membahas lagi kan? Ra..,,jangan-jangan kamu ini kebelet nikah,?" Yuaneta membalik badan jadi miring, menghadap Dhiarra.


"Emang salah, aku berharap dinikahi Adrian cepat-cepat? Kita kan udah pacaran lebih dua tahun. Tujuanku ya memang nikah, Nett. Aku tak ingin main cinta-cintaan terus. Pengen yang serius. Pengen punya teman hidup. Lelaki baik tempatku bersandar. Seperti kamu, udah nikah. Kayaknya tenang dan enak kulihat. Ada yang merhatiin. Kemana-mana minta izin.... ,," Dhiarra meluahkan perasaan terdalamnya.


"Ya memang tenang dan enak kalo udah nikah. Tinggal kita berusaha rukun-rukun terus saja sama suami. Setelah nikah, tak masalah kita ada di manapun asal sama suami. Dan paling penting..., emang nggak perlu main cinta-cintaan lagi deh Raa. Tapi..,, terus-terusan saja bercintaa,,,! Ha..ha..ha..!!" sang karib benar-benar tertawa lepas setelah bicara.


Dhiarra hanya memandang tawa Yuaneta yang panjang. Sepertinya sang karib memang sudah sangat bahagia sekarang. Tapi tawa itu tak kunjung habis juga. Dhiarra maraih bantal empuk dan meletak santai di atas wajah Yuaneta dengan pelan. Lalu berbalik memunggungi sambil membawa senyuman.


🍒


Pukul 06.45 pm..


Dua bidadari cantik nampak menyelip melewati gerbang besar dan tinggi. Menghampiri sebuah mobil mewah namun masih juga mendapat gelar sebagai taksi gelap. Dan itu adalah taksi gelap baru yang didapat Yuaneta secara acak di layanan online barusan. Sebab semua simpanan nomor taksi yang telah coba di dial sedang terpakai saat itu.

__ADS_1


Driver yang ternyata seorang pemuda Melayu itu melajukan taksinya menuju Lorong Hang Jebat, Melaka sangat laju. Tidak peduli dengan segala protes yang dilayangkan Dhiarra atau juga Yuaneta akan cara dia menyetir. Beruntung mesin di dalam sesuai dengan penampakan fitur body mobil. Jadi guncangan itu masih bisa ditolerir.


"Tak payah bayar, kak. Just senang- senang saja aku bawa kereta. Jika korang nak kuhantar balik nanti. Calling saja aku, kak!!"


Driver gagah itu menolak saat Dhiarra mengulur beberapa lembar pecahan puluhan ringgit. Dhiarra menarik cepat kembali tangannya dari jendela mobil. Sebab lelaki itu sudah bersiap lagi untuk terbang bersama mobil mewahnya.


"Driver aneh..," Yuaneta mendesis.


"Dah lah..!" Dhiarra menyambar tangan Yuaneta dan menarik memasuki gerbang Shin's Garment. Melewati seorang security di pos jaga yang mengangguk pada Dhiarra.


Jika hari biasa, jam segini banyak pekerja yang berhiliran keluar dan pulang. Namun saat ini banyak kereta yang baru datang memasuki gerbang perusahaan. Mereka adalah para tamu yang datang demi memenuhi undangan dari pihak manajemen perusahaan atau khusus dari Shin Adnan pribadi.


Dhiarra membawa Yuaneta ke lantai tiga di perusahaan. Jumblah lantai di gedung Shin's Garment adalah empat lantai. Bagian produksi, administrasi, mini shop, aula dan fasilitas bergunan yang lain, semua telah tersedia di bangunan Shin's Garment. Tinggal menggunakan sesuai fungsi serta moment masing-masing.


"Terimakasih, bang..!" Dhiarra menyahut dengan senyum.


Security mengarahkan mereka untuk masuk ke aula megah di lantai tiga itu. Suasana gemerlap dan berkelas menyergap mata serta perasaan begitu langkah kaki membawa badan ke tengah aula.


Rasa bingung langsung hilang saat melihat Shin Adnan tengah berbicara pada seorang lelaki sambil melihat pada mereka. Dhiarra dan Yuaneta diam di tempat sambil menunggu lelaki yang berbicara dengan Shin itu berjalan mendekat.


"Selamat malam, cik berdua. Apakah kalian sudah makan?" lelaki yang telah berdiri dekat itu berbicara sangat sopan.


Dhiarra dan Yuaneta saling menoleh berpandangan. Mereka belum makan malam dan memang sedang lapar. Bersamaan juga kembali menoleh dan memandang. Lelaki itu sambung bicara sebelum dua perempuan itu mengangguk mengakui.


"Cik Dhiarra, tuan Shin memintamu pergi ke ruang kerjamu. Kalian disuruh makan dulu, setelah itu kembali lagi ke sini." penjelasan lelaki itu segera dipahami.

__ADS_1


"Baik, terimakasih pak cik." tangan Dhiarra segera menyeret Yuaneta menuju tempat yang di maksud lelaki tadi.


Tempat kerja Dhiarra memang di lantai tiga jugalah setiap hari. Mereka telah sampai dan duduk gembira di sana.


Now, in the Shin's Room....


"Encikmu siaga banget deh, Ra. Tau aja kita lagi zombie..," Yuaneta tengah sibuk memilih sajian yang beragam di meja. Mereka di sofa ruang tunggu di Shin's Room.


"Dia memang killer soal perut,," Dhiarra mulai mengurusi isi di piringnya. Sambil ingat bahwa Shin memang tak ada ampun pada urusan makan dan jam malam. Dhiarra mengunyah makanan sambil mengendalikan senyuman.


"Adrian manaa.... Doi mana mikir kamu sedang lapar atau enggak,," Yuaneta sempat juga merongrong.


"Namanya juga el de er, ya kayak gini.. Urus diri masing-masing. Yang penting kan saling setia. Lagian dia kan tamu di sini,," tak bosan Dhiarra menutupi kebenaran kata-kata Yuaneta.


"Yelah.., yelah..., el de er...," Yuaneta lantas terdiam. Dhiarra pun tak lagi menyahuti.


Keduanya saling diam. Kembali mengurusi isi piring masing-masing dengan isi kepala yang juga berlainan.


Urusan makan telah beres. Mereka sedang merapikan penampilan menjadi seperfect semula. Bersiap untuk kembali ke aula tempat launching baju diselenggarakan. Dhiarra mengajak Yuaneta segera keluar dari Shin's Room. Sebab pesan dari Adrian bahwa dirinya telah datang dan menunggu, baru saja masuk di ponsel Dhiarra.


Suasana aula jauh beda dari yang ditinggalkan tadi. Lebih riuh lagi dan meja telah nampak terisi penuh. Bahkan kursi-kursi yang berada di samping kanan kiri panggung sempit memanjang khas ajang raga busana dan catwalk itu telah terisi orang-orang. Entah semeriah apa konsep yang diterapkan oleh Shin demi launching prodak Shin's Garment kali ini.


"Arra..!"


Berdegup...,panggilan yang ditunggu, suara inilah yang dirindu. Merasa gembira bercampur rasa berdebar. Lelaki di hati telah datang kembali. Meski sekali lagi bukan sebab dirinya saja alasan kedatangannya. Di antara debar bahagia, ada selip rasa yang membuat Dhiarra menggigit ujung bibir merahnya...

__ADS_1


__ADS_2