Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
73. Jujur Pada Fara


__ADS_3

Sambil berjalan ke pintu, Shin menyambar kembali tangan Dhiarra. Dan berhenti tepat di depan pintu kamar.


"Ingat Dhiarra, malam ini kau tidurlah di kamarku," Shin berkata agak lirih dan pelan.


"Aku akan tidur bersama Fara saja di kamarnya," berbisik Dhiarra menyahut.


"Nanti kau menyesal," Shin mencoba membujuk.


Dhiarra terdiam, tidak lagi menyahut membantah. Lebih berdebar kini dadanya. Pintu kamar kembali diketuk. Melepas hentak tangannya dari pegangan Shin. Dan terlepas, segera menepi di pojok pintu. Tak ingin tertangkap basah sedang berada di kamar Shin oleh siapa pun yang sedang mengetuk pintu di luar.


Shin membuka pintunya. Seorang perempuan telah menerobos masuk ke dalam kamar Shin. Ternyata perempuan itu adalah Fara.


"Ada apa, Fara?" begitu tenang Shin bertanya pada Fara yang nampak ngos-ngosan sendiri.


Shin segera menutup rapat pintu kamar kembali.


"Aku nak bawa kak Dhiarra ke kamarku. Ini tak betul bang Shin. Jika papa tahu abang bawa kak Dhiarra masuk kamar, papa boleh kambuh jantung yang parah. Abang tak paham aturan agama kee?!" Fara telah berubah sengit pada sang abang.


"Jangan kau bagi Dhiarra vonis macam-macam kat kamarmu, Fara,," Shin menyahut.


"Abang Shin, kau dah buat benda yang betul-betul tak patut. Aku tak sangka kalian dah buat benda hina macam tuu,,!" Fara berkata lirih tapi menjerit. Menatap Dhiarra yang juga menatapnya dari pojok pintu.


"Fara,,!!" Shin menegur keras adiknya.


"Abang fikir aku asal cakap kee? Semalam aku dah nampak keranjang baju kak Dhiarra. Kurasa masa aku datang ke kamar abang, kak Dhiarra pun ada kat sana. Betul?? Ingat, bang Shin. Jaga kelakuanmu. Papa boleh sakit jantung lalu masuk wad (IGD) jika saja dengar. Abang nak macam, tuu?" bicara Fara mulai sedikit pelan.


Fara mengambil tangan Dhiarra dan menariknya ke pintu. Menoleh sebentar pada sang abang.

__ADS_1


"Bang, mana handuk dia? Tadi kak Dhiarra guna tutup handuk kat kepala dia, kan?" Fara kembali sinis menyelidik.


Shin bergegas menuju ranjang tanpa bantahan. Mengambil handuk basah yang terlepas dari kepala Dhiarra akibat ulah ganasnya barusan. Dan membawanya kepada Dhiarra dan Fara lalu diulurkan.


"Kalian baru buat pasal terlarang itu lagi, kee?" Fara hanya lirih bertanya sambil menyambar handuk itu. Mungkin memang sedang tak habis fikir pada kelakuan Shin dan Dhiarra. Fara seperti lelah menanggapi. Shin hanya diam dan membisu.


"Acara dah nak mulai. Abang kena turun awal-awal. Aku nak ajak kak Dhiarra bersiap kat bilikku,!" Fara kembali berbicara pelan pada Shin.


Dhiarra mengikuti Fara yang kembali menarik tangannya. Keluar dari kamar Shin Adnan, dan berjalan menuju ke kamar Fara dengan tergesa.


🍒🍒🍒


"Jadi bang Shin dan akak dah kawin? Kawin sebab Jais? Dan bang Shin nak sangat untuk serius lanjut perkawinan? Tapi akak nak setia dengan calon suami? Dan bang Shin dah nak sentuh-sentuh akak? Duh, sakit kepalaku, kak,,!" Fara mengeluh sambil tangannya terus merangkul pundak Dhiarra.


Dhiarra tidak ragu memilih terbuka segalanya saat didesak paksa oleh Fara untuk jujur. Bagi Dhiarra itu akan lebih baik daripada mendapat tatapan remeh dan menyelidik dari Fara terus menerus. Dhiarra tidak tahan jika harga diri dan nama baiknya sebagai perempuan Indonesia pendatang tercoreng direndahkan. Dan sekarang perasaannya telah jauh lebih lega setelah membuka apa adanya pada Fara.


Antara dua taruhan jika mengatakan hal sebenar pada sang ayah. Antara sang ayah akan gembira bersetuju ataukah sang ayah justru kena serang sakit jantung. Sebab Shin dan Dhiarra telah menikah diam-diam atas tindakan Jais Terengganu. Dan itu sungguh masuk aib dan memalukan.


Lagipula Dhiarra juga tak minat lanjut perkawinan dengan sang abang. Ingin setia saja pada Adrian, calon suaminya di Indonesia itu.


Jadi kenapa abang Shin nak sangat lanjut perkawinan, hingga nekat sentuh-sentuh pulak pada Dhiarra,,? Kemajuan lah nih pada abang Shin,, terminat pulak nak sentuh perempuan,,,


Fara berfikir keras sambil mengamati gadis Indonesia yang memang jelita tak bosan dipandang. Juga mengamati beberapa stempel yang masih nampak jelas saja meski si pembuat ulah alias sang abang sudah menyalepnya,,, atau sang abang justru sambil menambal sulam stempel-stempel itu di kamarnya? Ah, Fara jadi ikut merasa sakit sendiri di kepalanya.


🍒🍒🍒


Fara dan Dhiarra telah berbarengan menyerahkan bungkus hadiah pada datuk Fazani. Dhiarra memberi sebungkus hadiah berisikan peci hitam yang dibelinya di butik dekat rumah makan di simpang empat Seremban saat berangkat dan berhenti istirahat di kafe.

__ADS_1


Obrolan seru di meja makan itu dibuka dan diawali dengan panjat doa yang dibacakan oleh datuk Fauzan. Yang diaminkan penuh khidmat dari segenap anggota keluarga datuk Fazani serta keluarga datuk Fauzan.


Dhiarra dan Fara kembali memilih duduk berdekatan di kursi paling ujung. Dhiarra telah bertukar baju dengan miliknya yang lain di paper bag. Baju dengan kerah tinggi serta rambut indah tergerainya, membuat perasaannya jadi nyaman.


Sedang Shin telah diarahkan oleh sang ayah untuk duduk di tengah dan berhadapan tepat dengan si cantik Ladisa. Mereka benar-benar berusaha dirapatkan.


"Shin, selagi ada masa dan peluang, kalian kena pergi jalan-jalan bersama. Kau jadi pergi ke Camerun tak? Ajaklah Disa sekali pergi naik,," datuk Fazani sangat bersemangat memberi arahan pada sang putra kesayangan.


"Akan kupertimbangkan, pa. Sebab ini perjalanan kerja. Aku tak yakin, ada masa luang atau tak ada," segera Shin menyahut. Memandang sebentar pada Ladisa yang nampak menarik saat sedang mengunyah makanan.


Ladisa, dara cantik berusia dua puluh enam tahun yang bekerja sebagai dosen pengajar lepas di salah satu university kebangsaan Malaysia. Tentu saja akan memiliki banyak waktu cuti dan berlibur.


Ladisa bersedia dan siap jika saja Shin mengundang pergi bersama ke suatu tempat atau bahkan mengikuti perjalanan bisnisnya ke puncak Cameron Highland besok petang. Ladisa siap mendampingi Shin bepergian ke manapun.


"Bang Shin, boleh ajak aku kat tempat manapun. Asal kena jaga aku dengan baik dan selamat,," Ladisa berkata begitu jelas dan terbuka. Ada nada manja dalam suara katanya. Tidak merasa segan pada Shin sedikit pun.


"Kau pasti akan dijaga elok-elok oleh angkel Shin, Disa.. Ingat tak, dulu abang Shinmu tuh suka sangat dukung (gendong) engkau. Dah besar remaja pun nak dapat dukung pulak, engkau nii,,," Nimra menyahut ucapan Ladisa yang duduk di sampingnya.


Semua mata memandang dara cantik yang sedang merona tersenyum memandang Shin di depan. Shin pun sedikit tersenyum menanggapi pandangan Ladisa untuknya.


"Mungkin kalian dah berjodoh sedari lahir,,," Hisyam menyelutuk menimpali.


"Sebab masa tu, Disa tengah terkilir kakinya. Tak ada yang kuat nak dukung dia. Sebab badan Disa tinggi dan besar," Sang juara makan menerangkan sambil makan.


"Betul tuh. Kau tuh Syam, badan sebesar gajah pun tapi tak nak coba tolong Disa," kembali Nimra mengungkit masa dulu.


Mereka memang tumbuh dan bermain bersama semasa tinggal berdekatan di Melaka. Dan jika ada hal dan masalah, mereka tak akan segan mengadu pada sang paman, Shin Adnan, untuk mendapat pembelaan dan bantuan..

__ADS_1


__ADS_2