
Dua lelaki beda usia namun sama kebangsaan itu tengah duduk menyamping dan sesofa. Sisa-sisa makan tengah hari masih berserakan di meja. Mereka baru selesai makan siang yang diantar oleh pekerja khusus konsumsi di perusahaan.
"Gadis itu cakap nak pergi mana, Iz..?" tanya Shin sambil meraih cangkir kopi di meja. Kopi peninggalan sekretaris barunya sebelum dia pamit pulang.
"Maksud anda, Dhiarra kee..?" asisten Shin menoleh padanya. Shin mengangguk.
"Kat mana lagi lah tuan Shin... Jika tak ke tempat sang karib..," muncul sedikit senyum di bibir Faiz.
"Gadis itu tengah runsing, Is. Sebab telah kudesak untuk mendatangkan kawan desainernya. Telah kucakap, aku nak jumpa..," Shin tersenyum. Faiz bahkan lalu tertawa sambil menoleh.
"Mungkin Dhiarra tengah cari-cari kawan lagi, tuan Shin..," tawa Faiz perlahan habis di akhir bicaranya.
"Kupikir tidak...Tunggu saja, gadis itu pasti akan menyerah. Ini berhubungan dengan uang dan pendapatan,Iz. Dhiarra tidak bodoh, menghadirkan tokoh palsu itu akan lebih menyusahkan..," cangkir kopi itu telah diletak semula ke tatakan. Hanya sedikit diseruput.
"Kurasa betul juga cakap anda, tuan Shin..?" Faiz menimpali.
"Kenapa dia tak terus terang saja padaku..? Ketakutannya itu berlebihan. Apa dia lupa, Hazrul itu siapaku.. Harusnya dia percaya padaku, aku bisa menerima karyanya sekaligus melindunginya." Shin berbicara pada Faiz setengah bergumam.
"Kasihan, Dhiarra.. Encik Hazrul memang dah kelewatan.," Faiz menimpali sangat lirih.
Shin menoleh..., Faiz tersadar ..., laju tangannya menyisir rambut di kepala. Faiz paham, bagaimanapun polah Hazrul, sang tuan tetap sayang kepada sang abang.
"Sorry, tuan.Bukan maksud..," Faiz merasa tidak enak, tapi Shin telah mengangguk makhlum padanya.
"Itulah, Iz. Akan kubantu gadis Indonesia itu mendapat lagi apa yang hilang sebab Hazrul..," sambil melepas sepatu menyisakan kaus kaki di kaki, Shin menyandar punggung di sofa.
"Jadi sebetulnya, job sekretaris ini hanyalah formalitas. Aku tak ingin mengambil tenaganya berlebihan. Aku ingin dia terus saja berkarya sesuai kesenangannya..," setelah bicara Shin memejamkan matanya.
"Kurasa kesenangan Dhiarra selain merancang baju hanyalah berjumpa kawan, tuan Shin..!" Faiz tiba-tiba menimpali dengan konyol.
Tak disangka Shin justru tertawa sebab selorohan sang asisten. Dan akhirnya Faiz pun berani tertawa terang-terangan. Keduanya sama-sama tertawa, menertawakan seorang gadis Indonesia yang jelita.
Tawa dua pria itu mereda, ruang santai penyambut tamu hening sesaat. Berakhir dengan tanya Shin pada Faiz.
"Iz...Kau tidak tidak pernah membahas sekretarisku sebelum ini. Apa kali ini sekretaris baru itu menarik hatimu..?" mendadak sang tuan bertanya.
Pertanyaan Shin yang seperti itu pada Faiz, seakan dia tidak ikut tertawa saja sebelumnya. Tapi Faiz sangat mengerti sikap dan sifat sang tuan. Tukang pahat-tukang angin, kadang hangat-kadang dingin. Ya begitulah memang tuan Shin..
"Tuan yang mengundang saya berbincang pasal dia...,"suara Faiz nampak kikuk.
"Hei, Iz.., biasanya kau hanya cakap betul dan tidak, sampai berujung kusuruh buat surat pecat pun, kau tak peduli, Iz..!" Shin tak puas-puas memancing sang asisten.
" Jujur, tuan Shin. Saya hanya merasa sudah lama kenal Dhiarra. Lagipula Dhiarra adalah ponakan anda sendiri. Dan Dhiarra bukan sekretaris, tuan nak dia jadi desainer pribadi perusahaan anda, kan..?" Faiz berbicara nekat sambil menahan senyuman.
Shin meredupkan mata memandang sang asisten.
__ADS_1
"Ah, Faiz.. Kau memang telah terlalu lama bekerja padaku! Apa sebaiknya kucari saja penggantimu..?" kaki panjang Shin sambil bergerak-gerak memasang, hingga masuk tepat di sepatu.
"Apa tuan Shin tidak khawatir akan mendapat stress dan amarah sebab berhadapan dengan orang baru..?" Faiz menahan senyumnya. Sebab tahu, Shin sudah tak selera lagi mencari orang baru.
"Iz...!" Shin yang telah berdiri akan pergi dengan membawa cangkir kopi, memandang Faiz sungguh-sungguh.
"Ya, tuan..?" Faiz memandang menunggu.
"Jangan cakap pada Sazlina dulu tentang posisi Dhiarra. Ingat, Iz, Dhiarra adalah sekretaris..!" sambil jalan sang tuan berseru.
"Siaga, tuan Shin..!" jawab Faiz berseru. Sang tuan telah hampir karam di pintu.
Pria muda Malaysia itu termangu menatap pintu di ruangan Shin. Teringat pada Sazlina.. Desainer wanita cantik Malaysia yang terang-terangan jatuh cinta pada Shin. Serta tidak putus asa menunggu hingga hati Shin terbuka padanya.
Sebab Sazlina tahu, hati Shin masih belum terisi semenjak dekat dan kemudian menjauh dari Velinda. Entah apa sebab, hubungan tuan Shin dengan Velinda yang memang sempat akrab dan dekat itu mendadak saling jauh.
🍒🍒
🍉🍉
Kedai obat yang selalu banjir pembeli, tengah sepi sore ini. Sang karib yang mulai lihai dengan profesi dadakannya, tentu saja bahagia. Longgar pembeli seperti saat itu adalah moment yang langka untuknya.
"Sudah, mikir-mikir banget tuh tidak guna..! Dah kuberi banyak saran hebat untukmu, kan?" Yuaneta menggelosor di kursi kedai, di samping sang karib.
"Memang iyaaa.., tapi rasa delima itu pasti ada..," Dhiarra malas-malas menjawab.
"Dah paham pun, dilema..!" Dhiarra meluruskan sambil menyengir.
"Eh, Ra ! Aku mau keluar bentar, pengen semangka, gerah banget.. Kau minat nitip apa-apa tak?" Yuaneta telah meloncat berdiri.
"Belikan sate, Nett..! Di kedai makan Jawa itu, belakang gedung!" Dhiarra nampak bersemangat menitip.
"Minum...?!"
"Limau ais..!"
"Ya...! Tunggulah..!" mantan gadis itu telah hilang terhempas pintu.
Dhiarra kembali menimang ponsel serepan. Ponsel yang masih berisi sim card dari Indonesia itu tetap berfungsi. Dan sudah hampir dua hari ini tak diintipnya. Sebab ponsel itu Dhiarra simpan dalam laci di ruang cipta baju, kedai obat.
Hasil intip itulah penyebab gadis itu rasa shock, dan lemas, sungguh kejutan. Kekasih hati, Adrian telah menjawab pesan yang dikirim Dhiarra sebulan lebih yang lalu, semalam..
*Arra..Lusa aku akan ke Malaysia. Aku sangat ingin menemuimu. Di mana alamatmu? Kau tinggal di mana? Aku ingin berbicara denganmu. Miss you. Adrian.*
Selang 20 menit..
__ADS_1
*Balaslah, Ra......Please... Aku sangat merindukanmu*
Dhiarra dilema, alamat mana yang harus diberikan pada Adrian? Pukul berapa Adrian akan menemuinya? Sedang besok Dhiarra harus pergi bekerja di Shin's Garment.
Dan sekarang Dhiarra sangat yakin, memang Adrianlah yang besok akan berkunjung ke perusahaan Shin's Garment. Bagaimana kalau bertemu besok saja?
*Jam berapa, mas?"
*Aku juga rindu..Besok kita bertemu, akan kuberi alamatku*
Dhiarra telah membalas pesan Adrian...
🍒🍒
🍐🍐
Pukul lima lebih sedikit. Taksi gelap yang membawa Dhiarra telah berhenti tepat di sebuah gerbang tinggi. Berselisih detik dengan sandar taksi gelapnya, mobil hitam pekat juga mendadak menyandar antri di belakang.
Bergegas gadis itu membereskan urusan dengan driver. Sebab sangat paham, mobil siapa yang sedang mengekor di belakang. Dhiarra tak ingin mendapat teguran sebab lahirnya kasus baru. Pak cik driver memang menyandar tepat menutup pintu masuk.
Melempar sedikit senyum pada pegawai pagar, Dhiarra cepat melenggang melewati gerbang menuju setapak jalan di halaman. Tak ingin terkejar oleh orang yang menaiki mobil hitam di belakang.
Semangat untuk segera menghampiri pintu kamar, seketika jadi ambyar. Bunyi langkah tajam di lantai teras itu pasti berasal dari langkah kaki Shin yang bersepatu. Semakin dekat di belakang punggunngnya.
"Dari mana...?" teguran yang sudah diduga pun, tetap juga mengejutkan. Shin telah berjalan di samping. Bersama hembusan angin wangi darinya...
"Jumpa kawan.," jawaban sangat padat dan singkat. Dhiarra menoleh sedikit mendongak, lelaki itu lebih tinggi darinya. Kepala Dhiarra hanya sebatas leher Shin.
"Spesial sekali kawanmu. Apa tak ada hobimu yang lain, selain jumpa kawan..?" Shin bertanya menyembunyikan senyuman. Ingat akan perkataan Faiz siang tadi.
Dhiarra tak menjawab, semakin mempercepat langkahnya. Namun Shin tetap santai berjalan di samping.
"Aku memulangkanmu tengah hari, agar dirimu istirahat. Sebab setelah ini pekerjaanmu akan berat. Tapi kau justru menjumpai kawanmu...," ucapan Shin melandai tanpa nada.
"Maaf, encik Shin. Tidak kuulang lagi lain kali..,"
"Permisi, encik...," Dhiarra segera membelok ke sebuah pintu. Kamar di samping hampir saja terlewat.
Sang paman terdiam dan terus berjalan. Melewati kamar gadis itu untuk kemudian sampai juga di kamarnya. Menoleh sebentar, yang ditoleh telah lenyap ke dalam.
🍒
Dhiarra rebah sebentar diranjang...
Usahanya untuk tergesa pulang, terasa sia-sia. Shin yang disangka pulang saat hari sudah gelap, ternyata telah pulang saat terang.
__ADS_1
Nasi sate madura yang dibelikan Yuaneta, membuatnya banyak makan. Dan ngantuk pun melanda hingga Dhiarra ketiduran. Tidak akan bangun jika Yuaneta tak mengusik. Sang karib telah bersiap tutup kedai dan sebentar lagi akan pulang....