
Geragapan Dhiarra terbangun, satu guncang keras terasa mengejutkannya dari tidur yang lelap. Idris telah mengerem kereta mendadak sebelum benar-benar menghentikan di simpang empat lampu merah.
"Kau mengantuk kah, Driss?!" suara stereo itu terdengar agak keras menegur. Sebab jalanan itu hanya lurus dan tanpa sedikit pun tanjakan.
"Maaf, tuan Shin. Saya memang kurang tidur," Idris mengangguk dan menjawab lirih, merasa bersalah akan lalainya.
"Semalam, apa kau buat?" Shin menoleh Idris dan mengamati sebentar. Wajah sang sopir memang terlihat sangat kusut.
"Saya tak boleh tidur cepat-cepat macam biasa. Istri saya tengah hamil tua, tuan Shin," sahut iIdris menerangkan pada sang juragan.
"Itu sangat bahaya, Driss. Lepas lampu ni, kita singgah kat kafe depan simpang arah KL. Kau rehatlah kejap!" Shin berkata tegas pada Idris.
"Terimakasih, tuan Shin," jawab Idriss mengangguk.
Simpang empat di lampu merah yang cukup ramai telah di lewati perlahan oleh Idris. Teguran dari sang tuan padanya sudah cukup manjur untuk menghempas rasa ngantuk di mata dan berat di kepalanya sementara. Perasaan malu dan tak enak hati justru membuat matanya terang dan kepalanya jadi segar.
Kafe resto super nyentrik adalah tempat yang disinggahi oleh Idris, dan itulah kafe yang di maksud oleh sang tuan. Kafe terdekat di simpang empat Seremban, yang menuju arah kota Kuala Lumpur.
Gadis cantik yang duduk seorang diri di bangku belakang merasa galau dan bingung. Idris telah keluar dari parkiran. Shin Adnan pun juga baru keluar menghempaskan pintu mobil. Tak ada undang sapa untuk gadis Indonesia agar segera turun dan bergabung. Tak ada tawaran untuk Dhiarra agar minum kopi bersama di kafe.
Dhiarra memilih berkecil hati dan menikmati perasaan gamangnya dengan tidak ikut turun dari mobil. Memilih menyandar punggung dan kembali memejam kelopak mata dengan rapat. Menyumpal lubang telinga dengan head set yang tersambung pada ponsel guna mengusir sesak hatinya.
Dhiarra kembali mengantuk. Semalam hampir pukul dua setengah barulah bisa tidur. Hanya memikirkan apa yang telah dilakukannya bersama Shin. Hatinya terus saja berdebar tak percaya..
Dan pagi tadi, Dhiarra kembali lambat terbangun. Hanya mandi dan berbedak ala kadarnya sambil jalan. Tak difikir lagi muka yang polos tanpa make up di wajahnya. Tidak juga menyisir atau pun mengikat rambut di depan kaca seberti biasanya. Semua dilakukan serba cepat dan tergesa.
🍒🍒
Shin mengundang Idris untuk duduk semeja bersama. Melirik mobil di parkiran yang pintunya terus menutup tidak juga terbuka.
"Driss, cakap pada gadis Indonesia kat dalam. Aku nak rehat lama, jika dia nak turun, suruh menyusul," Shin berkata pada sang driver sambil tangannya melambai pada lelaki pegawai kafe.
__ADS_1
"Akan saya bagi tahu, tuan Shin," sahut Idris.
Pegawai kafe bergegas mendatangi Shin dan mencatat apa saja yang telah dikatakan Shin padanya. Shin nampak sudah terbiasa dengan menu pilihan yang disediakan kafe itu. Dia memesan tanpa membaca sekilas pun daftar menu pilihan yang terpampang di meja. Dan Idris telah berlalu sedari tadi.
Sayup-sayup mendengar namanya di seru dan dipanggil. Dhiarra segera membuka kelopak mata dan mendapati Idris berada di kaca jendela.
"Cik Dhiarra. Tuan Shin nak rehat lama. Jika minat, sila turun dan menyusul ke kafe," Idris bersikap sopan pada Dhiarra.
"Marilah, cik Dhiarra!" Idris mengangguk kecil pada Dhiarra. Lalu driver muda itu berbalik dan berjalan kembali menuju kafe.
Bukan Shin sendiri yang menghampiri dan menawari. Tapi tidak mengapa, kedatangan Idris sudah cukup membuatnya sedikit bersemangat. Dhiarra tersadar, merasa diri egois. Masih ingin diperhatikan Shin Adnan. Padahal lelaki itu tengah sangat kecewa pada nya. Ah, inilah resikonya...
Gadis Indonesia telah tiba menyusul Shin di kafe. Tanpa diinginkan, rasa kecil hati kembali menghasut. Shin mengabaikan kedatangannya. Melirik pun tidak apalagi melambai, atau juga bersuara menyapa. Shin hanya sibuk mengaduk isi minuman di cangkir. Idris tidak ada, mungkin sedang ke toilet.
Tanpa ragu, Dhiarra memilih duduk sendiri di kursi yang mejanya agak jauh dari Shin. Sebab Shin pun juga belum memesan minum untuknya. Cangkir di depan Shin tadi adalah milik Idris. Sebab ada kunci mobil di samping cangkir tadi.
Seorang lelaki pegawai kafe menghampiri Dhiarra dengan bersemangat tanpa dilambai. Wajahnya cerah saat menyapa ramah pada Dhiarra.
"Saya nak satu cangkir kopi pekat tanpa susu dan sedikit gula ya, bang!" sahut Dhiarra cepat.
"Siap, akak tunggu. Kejap lagi saye hantar apa yang akak nak!" pegawai itu tersenyum lagi dan berlalu.
Dhiarra membuka aplikasi di ponsel, menulis sebuah pesan untuk sang karib yang terasa lama tak saling berkembang. Yuaneta sudah lama tak dilihatnya.
"Hii..Assalamau'alaikum. Selamat siang beauty girl!" suara sapa asing mengusik Dhiarra.
Seorang lelaki asing berkulit putih juga tampan, telah duduk dan menyapa santai pada Dhiarra. Sepertinya lelaki itu berkebangsaan negara Pakistan. Dan orang Pakistan memang cukup banyak yang stay di negara Malaysia.
"Keberatan kah jika saya join duduk denganmu?" tanya lelaki Pakistan terang-terangan.
"Oh, silakan saja, saudara,,, saya tak keberatan. Sebab kurasa seluruh bangku kat sini, bebas kena guna bagi sesiapa sahaja!" Dhiarra menyahut cepat dan ramah. Sedikit menunjuk senyum indah di bibirnya.
__ADS_1
Lelaki Pakistan itu tertegun sekian detik. Sepertinya sangat terpesona pada gadis Indonesia yang duduk tenang di depan.
"Girl, boleh kenal tak? Siapa name awak?" lelaki Pakistan itu nampak dah lama tinggal di negara ini. Sejenak Dhiarra berfikir. Sekedar nama,,, rasanya tak masalah.
"Dhiarra, sir," Dhiarra menjawabnya dengan pendek. Dan tanpa menyambut ulur tangan yang disodor pria Pakistan itu.
"Woowww,! Namamu sama cantik dengan wajahmu. Dhiarra, boleh tak saya nak number ponselmu?" tanya lelaki Pakistan itu mengharap.
Dhiarra memandang ramah lelaki Pakistan yang tak lepas memandangnya. Pria tampan, berkulit putih, hidung super mancung, dengan mata coklat dan bibir sangat merah. Ingat pada pesan Yuaneta, bahwa lelaki dari bangsa itu adalah salah satu player di negara ini.
"Maaf, sir. Ponsel saya mati, saya tak pernah ingat pada nomor ponselku," sahut Dhiarra tetap ramah.
"Hei, Dhiarra,, boleh bagi yang lain? Facebook, instagram,, dm,, tik-tok,, atau awak ada akun you tube pun boleh share padaku, girl,,?" lelaki Pakistan itu mulai bersikap meresahkan pada Dhiarra. Gadis berwajah cerah itu mulai suntuk dan sangat jengah serba salah.
"Sorry, sir. Saya tak ada semacam itu semua. Saya just gadis kuno dan kolot," sahut cepat Dhiarra. Nada ramah mulai hilang terdengar. Berganti nada agak ketus dari setiap katanya.
"Okelah, tak masalah macam tuu. Dhiarra tinggal kat mana?" lelaki Pakistan itu pantang menyerah. Terus tersenyum memandang Dhiarra.
Gadis Indonesia yang terus dicecar tanya oleh pria Pakistan terlihat sangat gusar. Antara benar-benar bungkam tak peduli lagi atau pura-pura beretika menanggapi.
"Ehhemm,,!" seseorang berdehem keras di samping. Tentu saja Shin Adnanlah orang itu. "Dhiarra, pergilah duduk bersama Idris. Sorry, tuan. Gadis ini adalah keponakanku yang degil," suara stereo terdengar menyambung, bersama pemiliknya yang meluncur merapat di mejanya.
Lelaki Pakistan hanya terdiam melihat Shin yang dengan santai mengambil cangkir coklat hangat milik Dhiarra. Membawa dan diletak cepat di mejanya. Telah duduk sang sopir di sana.
Dhiarra tidak membuang waktu dengan peluang emas yang diulurkan Shin untuknya. Dalam hitungan detik, gadis Indonesia telah berpindah duduk bersama Idris mengikuti cangkir coklatnya yang dipindahkan oleh Shin. Dhiarra telah duduk memunggungi posisi meja si lelaki pakistan. Rasanya sangat aman dan nyaman.
Namun sang dewa tampan tidak nampak duduk di kursinya. Hanya cangkir kopi beserta jam tangan hitam milik Shin sajalah yang terkulai di meja. Dan Idris juga yang sedang bertugas menjaganya.
"Bang Idris,, pergi mana encik Shin?" tanya lirih Dhiarra pada Idris.
"Pergi dzuhur kat belakang kafe, cik,," Idris menjawab kikuk. Lelaki muda itu seperti tidak nyaman hanya duduk diam berdua bersama Dhiarra yang jelita...
__ADS_1