Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
60. Aib Terindah


__ADS_3

Wajah cantik yang biasa cerah itu nampak suram sekarang. Juga bibir merah meronanya telah mulai pucat merapat dan samar bergetar. Gadis itu sedang menahan dingin yang sangat. Shin mengambil nafas kuat-kuat dan menghembuskan dengan cepat.


"Mak cik, segera tunjuk bilik itu dan berikan kuncinya padaku. Lihatlah keadaannya, dia sudah akan pingsan!" Shin berkata kuat dan tegas pada resepsionis tua itu. Ingin memberi sedikit intimidasi agar tidak banyak bertanya.


"Mari kutunjukkan. Tenang saja, penginapanku ini bebas untuk siapa pun. Sebab jarang orang datang. Hari ini saja kebetulan ramai," Mak cik berkata lirih penuh arti pada Shin sambil menyambar kunci terakhir di kabinet.


Shin terdiam. Rupanya penginapan ini tidak beridealis dan bebas. Meski terletak di daerah yang nampak tradisional sekalipun.


Mungkin diam-diam telah banyak pasangan tanpa ikatan yang sedang menggunakan kamar di penginapan milik mak cik saat ini. Shin memang paham dengan penginapan seperti ini yang cukup melimpah di negerinya. Mengingat banyaknya pendatang asing dari bermacam negara yang mungkin sangat memerlukan di saat terdesak.


Hanya tidak menyangka, penerapan bebas menginap itu berlaku juga di wilayah pelosok tradisional. Shin memahami, uang memang lebih manis dari apapun.


"Encik Shin, apa kita akan guna satu bilik bersama?" Dhiarra bertanya dengan bibir terbuka kaku dan suara tercekat-cekat sebab giginya pun telah bergerak beradu.


"Tidak ada waktu lagi untukmu, Dhiarra. Pikirkan keadaanmu. Kau jangan sampai membuatku repot," Shin berkata tegas dengan memandang sekilas gadis itu. Bibir cantiknya bergetar dan sedang adu gigi.


Mereka telah melewati anak tangga dan berjalan di lantai dua. Penginapan ini memang tidak besar dan memiliki dua lantai. Tidak ada pelayanan apapun yang disediakan. Hanya dari kamar-kamar bebas itu sajalah pemasukan melimpah diharapkan.


Lorong penginapan nampak lengang, sempit dan terkesan agak suram. Mungkin sebab kurang fentilasi dengan pencahayaan serba minim.


Mak cik berhenti di ujung lorong, di kamar pojok dekat angin-angin di atas bagian dinding ujung lorong. Memasukkan kunci di lubang dan membukanya lebar-lebar.


"Kalian masuklah. Tutup dan kuncilah pintu rapat-rapat," mak cik berkata santai sambil mengulur kunci pada Shin. Namun Shin menangkap sesuatu dari ucapan mak cik.


"Dhiarra, cepatlah masuk,!" Shin menyeru dan memandang gadis itu sekilas.


"Encik Shin, apa kita benar-benar akan menggunakan kamar ini bersama?" gadis itu tetap berdiri di tempatnya. Merasa sangat kikuk dan cemas.


"Apa kau sangat tamak dan ingin menggunakan sendiri? Kau ingin aku tetap di luar, sedang keadaanku juga sama sepertimu. Apa begitu?!" Shin berkata keras.


Merasa Dhiarra tidak memahami dan lambat bekerja sama. Tangan halus itu segera di sambar dan ditarik dorong perlahan ke kamar.


Ceklerk..!


Pintu kamar telah ditutup Shin dengan rapat. Anak kunci masih digenggam di tangan.


"Mak cik,,!" Shin berseru pada pemilik penginapan yang sudah mulai beranjak.


"Apa penginapanmu ada pemeriksaan?" Shin bertanya menyelidik dan lirih saat mak cik pemilik penginapan mundur sedikit dan menatapnya.


"Iya, memang ada. Tapi biasanya hanya awal bulan. Tenanglah, ini masih mendekati akhir bulan. Kau jangan khawatir. Nikmati saja kamar yang sudah kau sewa itu. Tidak ada lagi penginapan lain di sekitar sini," Mak cik memandang Shin sungguh-sungguh.


"Baiklah. Aku percaya denganmu, mak cik. Terimakasih." Shin mengangguk kecil dan berbalik. Mendekati pintu kamar, membukanya.


Dhiarra sedang duduk tegak dengan mata melebar memandangnya. Itulah penampakan pertama yang Shin dapati saat berada dalam kamar. Pintu kayu kamar telah dikuncinya rapat-rapat.


"Tukarlah bajumu segera. Apa kau tidak sayang dengan dirimu sendiri?" Shin bertanya cepat-cepat.


Sangat heran pada kelambanan Dhiarra yang seperti tidak peduli pada baju basahnya. Air hujan yang terjebak di baju masih terlihat meneteskan sisa air.


"Gegaslah, Dhiarraaaa,," Sepertinya Shin sedikit geram pada gadis yang semakin terlihat gemerutuk giginya saling adu. Tapi si pemilik justru mematung tak peduli.

__ADS_1


Dhiarra memandang Shin dengan lemah. Mata yang biasanya berkilat cerah itu nampak sayu.


"Encik Shin,,,,Koperku tertinggal di rumah mama,," lirih dan pelan perkataan Dhiarra. Imun tubuh Dhiarra mungkin sedang kembali melemah.


"Apa,,?!" Shin terperanjat sekaligus tersadar. Dhiarra tak nampak membawa kopernya sejak berangkat dari Penang.


"Saya buru-buru, lupaa,," Dhiarra menjawab sambil menunduk. Perasaannya jadi sedih tiba-tiba.Perasaan ingin menangis tapi tidak keluar air mata.


Shin menyadari perasaan gadis itu saat ini. Juga merasa bersalah sebab seperti mendesak Dhiarra untuk segera berangkat cepat-cepat. Akibatnya gadis itu tidak siap dan melupakan hal penting yang seharusnya di bawa. Shin menyesal namun sudah terlanjur.


" Tidak masalah,, Gunalah selimut tebal itu sementara. Lekas tanggalkan baju basahmu. Kau bisa masuk angin. Kumohon, Dhiarra,," Shin seperti sedang frustasi sendiri. Lupa pada dirinya yang sama juga keadaannya.


Shin telah memeriksa kamar mandi yang hanya ada selembar handuk tipis di sana. Hanya selimut yang terlihat tebal serta lebar itu sajalah yang ada. Disambar dan diulurkan pada Dhiarra.


"Lepas bajumu di sana,," ucap Shin saat Dhiarra menerima selimut itu dengan setengah tenaga dan hatinya. Dhiarra menunduk menghindari pandangan Shin yang dia yakin pasti sedang menatapnya.


Ceklerk,,!


Shin bergerak setelah tercenung memandang punggung Dhiarra yang telah menutup kamar mandi. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Dris, kau di mana? Sedang apa?" tanya Shin begitu sang sopir menyahut dari seberang.


Idris sedang bersantai di Mushola di luar area penginapan.


"Carikan baju perempuan lengkap dengan onderdilnya, di manapun, Driss! Secepatnya! Juga carikan makanan, jangan pedas! Secepatnya,Driss!" Shin terdiam sejenak.


"Dhiarra, Driss! Kau pikir siapa lagi yang sedang denganku?!" Shin terdengar jengah pada sang sopir.


Kemudian meraih rensel yang teronggok di lantai dan mengeluarkan isi dari ransel. Sepasang baju kerja dengan jas kerjanya. Koko panjang dan sarung, serta dua potong wear bawahan dan sebuah singlet lelaki.


Beberapa baju santai dan underrwearrr, sengaja dia tinggal di rumah Hazrul. Bila-bila berkunjung lagi, tidak perlu membawa baju ganti. Dan hanya inilah sekarang yang ada dengannya. Tentu Shin tidak menduga hal seperti ini akan terjadi di perjalanannya kali ini. Terlebih saat sedang membawa seorang perempuan bersamanya.


Ceklerk..!


Shin cepat mendongak demi mendengar bunyi pintu. Dhiarra memandang redup dengan selimut yang melilit rapat tubuhnya.


Meski rasanya begitu cepat gadis itu menggunakan kamar mandi, tapi Shin segera menepis dugaannya. Menyambar sarung koko serta sepotong dalamman. Tubuh yang nampak kekar sebab terbalut tshirt basah itu berjalan cepat ke kamar mandi. Ingin segera menghempas segala benda basah yang melekati badannya.


Benarr yang disangka, Shin tidak menemukan baju basah yang tadi dipakai Dhiarra sepotong pun di sana. Rasanya sangat jengkel dan geram. Serta agak kecewa, merasa Dhiarra tidak mempercayai dirinya.


Dengan menahan rasa kesal yang bercampur sedikit emosi, Shin buru-buru menanggal baju dan mandi. Ingin segera selesai dan keluar lagi untuk menegur keras Dhiarra.


Ceklerk..!


Gadis yang telah membuatnya kesal sedang berdiri di cendela yang tertutup kacanya. Tentu dia tidak akan berani duduk, sebab di balik selimut itu masih melekat baju basahnya.


"Dhiarra,,," panggilan Shin terdengar dingin. Lelaki itu sedang menahan rasa marah kecewanya.


Dhiarra sudah menduga, Shin pasti akan tahu dan menegurnya kembali. Lelaki yang baru keluar dari kamar mandi dengan baju koko serta sarung bergaris itu sangat wangi dan tampan. Dhiarra memandang redup Shin tanpa menyahut panggilannya. Tubuhnya gemetar, antara dingin, meradang dan lapar. Merasa dirinya begitu lemah sekarang.


"Kenapa masih tak kau tanggal bajumu? Kau tak percaya padaku? Bukankah kau bisa bersilat? Buka bajumu,,!" Shin membentak Dhiarra agak keras.

__ADS_1


Dhiarra yang sedang merasa gemetar dan lemah sangat terkejut dengan teguran Shin yang kasar barusan. Apa dirinya begitu besalah? Dhiarra merasa sedih dan hanya menunduk menahan rasa tangis yang menggayut tiba-tiba.


"Buka bajumu, Dhiarra,," Shin yang menyadari respon gadis itu memelankan bicara meski terus memendam rasa geram.


Tapi gadis itu terus bisu dan bungkam.


"Apa kau ingin kubantu melepasnya? Aku tidak main-main, Dhiarra,,!" Shin membentak kedua kalinya. Dhiarra semakin menunduk dan diam.


Lelaki itu kembali tak mampu menyimpan kesalnya. Tangannya dengan cepat menyambar ujung selimut yang dililit Dhiarra di leher dan membukanya. Dalam sekejap gulungan selimut itu telah berpindah di tangan Shin seluruhnya. Tingggal lekuk tubuh Dhiarra dengan dress basahnya.


Shin ingat, itu adalah dress darinya. Letak resleting ada di bagian belakang. Seperti lupa diri, Shin tidak ragu melingkarkan kedua tangan melewati leher Dhiarra dan mencari kait resleting dan menarik ke bawah dengan cepat. Tangan lemah Dhiarra yang berusaha menepis tangan Shin tak berarti apapun.


Dhiarra semakin lemah dan pasrah saat Shin meloloskan lengan baju dari bahunya. Gadis itu benar-benar pasrah tak berdaya. Berdiri mematung dengan redup sayu memandang wajah Shin yang dingin. Shin semakin cepat melepasinya saat tak sengaja menyentuh kulit mulus bahu Dhiarra yang begitu panas. Gadis itu tengah demam.


Dress yang jatuh itu ibarat pembuka aib indah Dhiarra yang selama ini selalu rapat tertutup. Meski pampangan indah itu tengah menghentikan kerja jantung dan aliran darahnya, Shin masih terus bergerak menarik selimut yang dijepit di sela pahanya. Shin menyelimuti lagi tubuh pualam itu dengan dada menahan nafas.


Tidak terus berhenti, Shin kembali melingkarkan tangan melewati leher Dhiarra. Mancari pengait bra dan melepasnya dengan cepat. Shin yang pemula itu terlihat sangat professional. Tak ada keraguan sedikit pun pada gerakannya. Tangan gadis itu menahan di dada lebar Shin menyangga dirinya agar tidak menempel langsung pada Shin.


"Lanjutkan sendiri,Dhiarra. Yang belakang sudah kulepaskan." Shin berkata kaku setelah menutup rapatkan selimut itu seperti semula.


"Jatuhkan, Dhiarra," Perkataan Shin begitu dingin, menutupi debar dadanya yang panas.


Bluk..! (entahlah, bunyi bra jatuh itu gmn)


Tangan Shin menyambar benda sakral yang jatuh itu serta dress Dhiarra. Namun dress itu masih tersangkut di kedua kaki pemiliknya.


Sudah tak sabar lagi, Shin langsung menyambar tubuh Dhiarra yang berbalut selimut dan merebahkan di ranjang penginapan. Dhiarra terkaku-kaku dan semakin panas dingin rasanya. Seperti tak percaya pada apa yang baru dilakukan Shin Adnan padanya. Dhiarra merasa terhipnotis, tiada daya menolak.


Tokk..!!!Tok..!!!Tokk...!!!


Tokk..!!!Tok..!!!Tokk...!!!


Tokk..!!!Tok..!!!Tokk...!!!


Tokk..!!!Tok..!!!Tokk...!!!


Bunyi gempuran di pintu penginapan dengan gencar terdengar. Shin yang baru meletak set baju Dhiarra di kamar mandi nampak menegang wajahnya. Segera menghampiri ranjang dan merapikan selimut Dhiarra hingga di kaki. Mengamati wajah Dhiarra yang sedang tegang memandang ke pintu.


Shin telah menduga, siapa yang sedang berada di luar kamar dan menggedor gencar pintu kamar. Perkiraan pemilik penginapan mungkin sedang meleset bulan ini...


🐾🐦🐾🐾🐾🐾🐾🐦🐾🐦🐦🐾🐾🐾🐦🐾🐦🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍 πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚πŸ¦‚


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“š Dearest readers... Pembaca tersayangku meski jumlahnya tak seberapa..mudah2n ceritaku ini mampu menghiburmu yaaa.... Sedikit membuatmu tersenyum,,,dan itu akan membawa berkah tersendiri untukku..


Tapi juga tolong bantu aku sediiikiiit saja... Agar otor kelas bilis ini bisa naik sedikiiit lagii, agar karya2ku bisa terbaca lebih banyak readers lagiii,,


Terimakasih banget datangmuuu... singgahmu...


Mohon kasih bintang 5 yaaaaa............... Mohon kasih vote yaaaaaaaaaa............ Mohon kasih apapun hadiah yaaaaaa.... Dan paling penting, paling kuharap, paling kutunggu, sangat menyemangatiku adalah komentarmuuuu... Tinggalkan banyak2 tulisan jejakmu di sini yaaaa...


Aku padamu !!!! πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“š

__ADS_1


🐝🐝🌺🌺🌺🌼🌼🌷🌷⚘⚘


__ADS_2