Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
97. Bincang Terbuka


__ADS_3

Hazrul adalah lelaki terakhir yang mendatangi mushola demi ikut berjamaah shalat maghrib. Sempat menghampiri Fara dan Dhiarra untuk mengusung kotak-kotak makan dalam mobil agar diambil dan dibawa ke meja.


Dan kedua gadis muda itu segera berhambur melakukannya. Dhiarra merasa lalai lagi kali ini, bertambah lagi pengakuannya bahwa Hazrul cukup baik.


Dhiarra dan Fara bekerjasama menata kotak-kotak berisi lauk pauk dan sayur mayur ke meja makan. Sekaligus melengkapi dengan piring, sendok serta alat makan lain yang diperlukan.


"Nasib baik tadi Fara halang masa mama nak beli makan kat kedai..Coba kita tadi dah makan, mubadzir daah. Banyak sangat bang Hazrul ni beli lauk laah,," entah apa maksud Fara berbicara ini. Entah memuji atau juga menggerutu.


"Nasib baik pulak, Fara. Papa Hazrul ingat nak beli semua nii kat tempat Azlan. Sebab jujur aku tak mampu pikir beli-beli macam nii,," jujur Dhiarra mengakui.


"Kami pikir pun nak jemput akak dan abang Hazrul guna dinner ramai-ramai kat kedai bang Azlan. Tapi kat rumah pun best juga. Kasihan kan, kak Ira serta baby kena tinggal sorang-sorang kat rumah,," Fara menimpali. Lalu tersenyum memandangi Dhiarra.


Mereka hampir tamat menata seluruh isi meja. Datin Azizah berada di kamar bersama mama Ira dan baby boy, sebab ini waktu maghrib.


"Fara, aku ke kamar dulu. Jika ingin shalat maghrib pergi kamarku saja, Fara,," Dhiarra berkata menawari sambil berjalan menuju kamarnya.


"Siap kak,,!" sahut Fara. Menatap Dhiarra hingga habis di pintu.


🍒🍒🍓


Telah tunai mandi dan maghribnya. Wajah cantik itu juga berias tipis dan merekah. Meninggalkan kaca rias dan berdiri di pintu. Fara tidak juga masuk ke kamar yang sengaja tidak dikunci pintunya. Entah di mana gadis itu berbenah diri..


Berdiri di pintu dengan dada terus jumpalitan. Samar terdengar para laki-laki itu tengah berbincang seru di meja makan. Sesekali terdengar juga suara datin Azizah yang ikut terbahak. Dan semakin berdebar saat terdengar juga suara Shin Adnan. Entah apa yang sedang mereka seru bincangkan di sana.


Merasa tidak enak jika saja mereka tengah menunggunya datang berkumpul untuk mulai makan malam. Dhiarra menahan nafas dan membuka pintu kamarnya.


Berbalik setelah menutup pintu kamar, merasa orang-orang yang telah duduk dan baru berbincang seru itu kini senyap tiba-tiba. Mungkin dirinya sedang jadi objek pandang mereka sesaat. Dhiarra segan memandang wajah mereka satu per satu.


Entah siapa yang mengatur, enam kursi di meja makan telah terisi semua. Kecuali satu kursi di sana, tepat di seberang meja Shin Adnan, suaminya,,!


Seperti tanpa sadar saja kini gerak duduknya. Meletak dengan rasa kaku pinggul pantatnya di kursi. Duduk kaku sejenak sambil sekilas memandang orang-orang di sebelah sambil melempar senyuman.


Dan merasa berdebar benar-benar saat matanya berakhir singgah pada orang di depannya. Shin Adnan memang tengah menunggu mata bening itu dengan laser matanya yang siaga.

__ADS_1


Dua pasang mata berbeda bentuk itu saling mengunci pandangan. Seperti tidak akan peduli lagi dengan orang lain yang duduk di sekitarnya.Bibir indah itu tersenyum ragu-ragu pada lelaki di depan.


Dan semakin berdebar maksimal saat bibir tipis menawan lelaki itu menyambut senyum padanya. Keduanya sedang saling pandang dan saling senyum penuh debar dengan perasaan yang sama-sama luar biasa leganya.


Lega,, sebab seperti telah terbebas dari jutaan masalah yang sebelumnya menggantung berat di tiap-tiap kepala mereka.


Sangat lega untuk Dhiarra,,,rasa bersalah, menyesal dan malu atas putusan sepihaknya pada Shin. Rasa ingin tahu dan penasaran apakah Shin marah padanya. Kini semua terjawab,,,hanya sebab sebuah senyum hangat darinya...


Amat lega bagi Shin,,,rasa menyesal dan bersalah sebab tindak paksa asusilanya waktu itu. Saat terakhir bersama Dhiarra di oficenya, sesaat sebelum Dhiarra memilih pergi meninggalkannya. Kini semua terjawab sangat lega,,, hanya dari senyum manis yang merekah dari bibir indah itu untuknya...


Kini perasaan kedua insan itu telah sama. Sama-sama ingin kembali bersama dan berdampingan selamanya. Dan sangat tidak sabar menunggu kapan waktu untuk bersatu itu akan tiba.


"Ehhmmm,," dehem pelan dari datuk Fazani ini mengejutkan.


"Ayo segera berdoa sendiri dan dimulai makan malam. Lepas ni, aku ingin semua berkumpul kat sofa. Hazrul,, aku nak bicara denganmu dan juga dengan istrimu sekali. Ini masalah penting keluarga kita,," datuk Fazani telah mulai beraksi.


Ingin segera menghabiskan beban dan masalah keluarganya. Masalah sang putra, Shin Adnan yang memang nampak harus segera ditolong bereskan. Melihat mereka, Dhiarra dan Shin yang sepertinya memang telah saling cocok dan jodoh.


Hazrul yang duduk berhadapan dengan Fara segera mengangguk dan kian terheran pada maksud ucapan datuk Fazani. Yang sebelumnya juga dibuat heran dengan sikap Shin dan Dhiarra jika keduanya tengah bertemu berhadapan.


🍒🍒🍓🍒🍒


Wajah mama Ira sangat tercengang dan terkejut. Serasa tak percaya saja saat menyimak penjelasan datuk Fazani mengenai kebenaran rahadua antara Dhiarra dan Shin kepadanya.


Sama juga dengan sang istri, Hazrul pun masih saja sangat terkejut meski telah sempat berprasangka menduganya. Namun pria itu lebih bisa mengatur ekspresinya daripada sang istri.


"Apa yang papa bilang?! Sepertinya tidak mungkin... Ra,,, Arra,,, benarkah itu,,yang dibilang datuk Fazani bahwa kau sudah menikah dengan adik ipar mama,,Syafiq,, Bagaimana bisa kalian tertangkap jais dalam satu kamar?!" mama Ira menatap dengan pandangan yang sayu.


Merasa bingung, tak percaya, dan kasihan pada putrinya. Juga rasa kecewa bahwa mereka menikah sebab dapat tindakan dari Jais.


"Semua hal yang telah dibilang datuk Fazani mengenai kami itu, semua betul, maaa,," jawab Dhiarra dengan tenang. Sambil memandang pada Shin yang juga teduh menatapnya.


"Lalu, bagaimana ini,,? Apa kamu tidak keberatan dengan pernikahan ini?" tanya sang mama tetap pada Dhiarra.

__ADS_1


Pertanyaan mama Ira cukup membingungkan, Dhiarra menoleh pada Shin yang masih membungkam. Berharap lelaki itu saja yang bersuara.


"Kak Ira,," akhirnya bersuara juga Shin Adnan. Dhiarra menyimak wajahnya, menunggu penuh debar penasaran.


Begitu juga dengan orang-orang yang ikut duduk berbincang. Hazrul, datuk Fazani, datin Azizah, Fara, dan juga mamanya pasti juga ingin tahu dan menunggu.


"Kak Ira, sebelumnya aku minta maaf. Tidak bermaksud menikahi Dhiarra dengan cara seperti itu. Tapi apa pun dan bagaimana pun, kami sudah menikah, dan aku suaminya. Aku akan mempertahankan pernikahan kami," Shin terdiam sebentar.


"Dan putri kak Ira yang gagal menikah dengan tunangnya itu, kuanggap sebab aku dan Dhiarra berjodoh."


"Saat ini aku juga ingin membuat pengakuan padamu, Dhiarra. Sekaligus minta maaf,, sebenarnya pernikahan kita itu bukan murni sebab Jais. Tapi juga sebab inginku sendiri. Aku yang meminta Jais untuk menikahkanku denganmu,," jelas Shin Adnan dengan wajah tenang dan pasrah.


Dhiarra terkejut, matanya melebar memandang Shin Adnan.


"Maksudnya apa, encik Shin,,???" alis indahnya bertaut dengan mata bening yang memicing pada Shin.


Shin memandang hangat wajah jelita yang tidak habis juga dirinduinya. Berbicara tenang dan menjelaskan segalanya dengan jujur tanpa ragu. Berharap Dhiarra tidak terlalu kecewa padanya.


Wajah cerah itu menunduk. Ada tetes air dari matanya. Shin menduga Dhiarra sangat kecewa dan sakit hati pada dirinya saat ini.


Gadis yang sedang menunduk menyamarkan tangisan, perasaannya sedang bercampur baur sekarang. Memang terkejut dan kecewa. Namun hanya sebentar. Rasa marah sebab dijebak dan dibohongi pun tidak juga terasa. Hanya merasa bingung dan tidak paham, kenapa Shin Adnan melakukan hal senekat itu.


"Apa alasanmu melakukan hal itu padaku, encik Shin,,?" Dhiarra mengangkat wajah dan memandang Shin Adnan. Lelaki tampan yang dipandang itu nampak menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Sebab,,,, kurasa tak ada alasan kuat lagi selain aku menyukaimu,Dhiarra. Kurasa juga aku sudah mencintaimu saat itu. Maafkan aku, Dhiarra. Aku terlambat mengatakannya,," jelas Shin dengan tegas dan serius.


"Apa kau marah? Kau kecewa padaku, Ra?" tanya Shin hati-hati. Memperhatikan seksama wajah bungkam itu. Rasanya lega, tak ada kemarahan serta air mata lagi di sana.


"Bagaimana, Dhiarra. Apa kau tidak keberatan, jika aku ingin memeruskan pernikahan kita ini,,?" Shin bertanya semakin mengejar. Tak sanggup lagi membayangkan, jika saja kepala gadis itu bergerak menggeleng. Ya, Shin hanya ingin mendapat anggukan.


"Tidak. Saya tidak keberatan, encik Shin. Marilah kita lanjut pernikahan kita ini bersama," sahut Dhiarra memunduk.


Haah..hah..hahhh.. Lega sangat yang dirasa Shin Adnan sekarang. Dirinya telah melamar gadis tercinta dengan baik-baik dan benar. Biarlah, terlambat lebih baik daripada tidak dilakukan seumur hidupnya. Merasa lega dengan disaksikan orang-orang tercinta di sekelilingnya. Shin merasa bahagia, merasa menjadi pria beruntung dengan pernikahannya.

__ADS_1


Merasa bagiannya telah selesai. Kini mempersilahkan sang ayah untuk kembali berbibacara. Berbicara yang dirasa perlu dibincangkan dengan sang calon besannya.


Mempersilahkan apapun acara yang jika saja parents ingin buat untuknya. Atau jika tidak pun Shin tetap saja bahagia. Menjalani hidup bersama Dhiarra selamanya, pasti lebih menyenangkan dari apa pun segalanya..!!


__ADS_2