Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
47. Datin Azizah


__ADS_3

Dhiarra dan Azlan telah kembali bergabung untuk bersiap meneruskan makan siang. Dan bertambah satu bujang lagi yang menumpang makan bersama mereka sekarang.


Azlan yang paham akan bisnis obat yang telah digeluti Chen Lei merasa salut dan memaksa untuk bergabung makan di taman barang sebentar. Karena Chen memang sedang buru-buru. Hanya karena melihat kelebat Dhiarra sajalah lelaki itu penasaran dan singgah.


Azlan berniat untuk mencoba berniaga ubat di Penang melalui Chen. Belum ada kedai obat di sekitar tempat bisnis Azlan terutama produk dari Indonesia. Sedang di Pulau Penang sana, menyemut juga warga dari negara Indonesia.


"Jadi anda adalah supplier obat di kedai milik Dhiarra kat Sentral?" Shin memandang Chen dengan hangat. Sebab tahu bahwa Azlan tengah berminat menjalin bisnis bersama Chen Lei, lelaki China itu.


"Benar, tuan Shin. Dhiarra cukup berbakat berniaga. Perputaran barang niaganya sangat laju terjual." Chen menyahut sambil memandang Dhiarra yang hanya membisu.


Dhiarra menunduk, kini Shin telah tahu akan status kedai obatnya di Sentral. Tapi lelaki itu nampak tak peduli dan hanya melirik wajahnya sekilas. Dhiarra tak menyangka jika Chen dan Azlan kembali membincangkan tentang niaga obat dengan serius bersama Shin.


Yang tentu saja merambat pada pembahasan kedai obat milik Dhiarra di Sentral yang pesat berjalan. Dan Chen sangat suka akan hal itu. Tak mungkin bagi Chen untuk tidak membahas, agar Azlan semakin yakin untuk menyambung bisnis bersamanya.


Akhirnya makan siang berlima itu selesai dengan puas dan cepat. Tentu saja karena sang juara makan Shin Adnan bertemu dengan Chen Lei yang ternyata hebat juga soal makan, mereka berdualah pionir makan bagi Azlan, Sazlin dan Dhiarra siang itu.


Chen berpamit undur diri dengan berjanji bersama Azlan untuk saling bertemu dan berhubungan lagi kemudian.


"Oke, Dhiarra. Selamat menikmati hari libur serta bahagia saat bertemu dengan ibumu. Jaga kesehatanmu. Manfaatkan apa yang tadi kupilihkan untukmu di kotak itu."


Chen sedikit menepuk bahu Dhiarra dengan pelan sambil dagunya menunjuk kotak berisi bermacam suplemen dan perobatan yang tadi telah dipilihkannya untuk Dhiarra. Ya..gadis itu memang mengeluhkan rasa badan yang sedang tidak nyaman pada Chen. Dhiarra sangat tahu jika Chen selalu membawa banyak stok seluruh jenis obat di dalam mobil besar bersamanya.


Chen telah berlalu bersama mobil limosin super besar. Lelaki itu bergabung kembali dengan beberapa pekerjanya di mobil. Chen Lei akan menuju arah Selangor untuk ikut mengantar sendiri obat-obatan resmi yang telah lama dipesan oleh kolega niaganya di sana.


"Kau yakin hanya perubatan resmi saja yang dia edarkan?" Shin memandang seksama pada Azlan.


"Jika saja tidak, kurasa Chen sudah professional, bang. Dia sangat mengerti kondisi relasi. Serta tak ingin melibatkan apapun masalah pada relasinya yang bersih. Contoh saja orang yang memiliki kedai obat sebelum Dhiarra hingga sekarang dipegang Dhiarra. Aman, bang,," Azlan menarasikan argumen.


"Betul juga yang kau cakap itu, Lan,," Shin tidak berminat lagi untuk memperpanjang bahasan itu bersama Azlan.


Dua lelaki itu berdiri, bersiap untuk berjalan menghampiri Sazlina yang baru datang dari toilet di taman. Sedang Dhiarra sudah pergi ke mobil membawa kotak obat yang diberikan Chen barusan.

__ADS_1


Shin sempat menghampiri petugas bebersih taman yang tadi dilambai dan datang mengemas sisa-sisa makanan. Lelaki tegap menawan itu mengulur beberapa puluh ringgit dan menyelipkan di saku baju petugas. Kemudian pergi dengan diam menyusul Azlan yang hampir mencapai mobil di parkiran.


Destinasi menara kembar Petronas kembali dicoret dengan paksa. Orang tua shin talah mengabari bahwa mereka telah sampai kembali di rumah namun para bujang yang menunggu ternyata kelayapan.


Shin segera memutuskan pulang saja sebab waktunya tidak banyak. Malam nanti kedua orang tua yang disayang itu akan kembali ditinggalkan untuk menuju pulau Penang bersama Azlan dan Dhiarra.


🍒🍒


"Assalamu'alaikum,!" keempat bujang serentak bersalam.


"Wa'alaikumsalam,," sahut lembut seorang wanita tengah baya.


Wanita berumur namun nampak bersemangat dan berkerudung panjang itu membuka pintu lebar-lebar. Tersenyum hangat memandang sang putra dan juga pada Azlan serta Sazlina.


"Apa kabar, ma?" Shin menyapa sambil mendekat. Sang ibu menyambut dan mereka berangkulan.


"Mama baik, Shin," wajah cerah wanita itu membenarkan. Melepas rangkulan dengan mata menuju Sazlina.


"Mama Zizah, Sazlin rindu,,," Sazlina menyapa sambil buru-buru mendekat dan memeluk ibunya Shin, mereka saling berpelukan sangat akrab.


Wajah anggun itu sambil sedikit berkerut saat matanya mendapati Dhiarra.


"Apa dia anak dara Hazrul yang baru?" wanita itu bertanya lirih mengamati Dhiarra, lalu berganti memandang Shin. Melepas pelukan perlahan pada Sazlina.a


Gadis Indonesia itu memberi senyum terbaik untuk ibunya Shin Adnan, dan segera mendapat sambutan senyum yang tak kalah hangatnya. Entah siapa yang memulai, mereka kini telah saling bersalaman.


"Betul, ma. Dhiarra namanya," Shin menjawab tanya ibunya.


"Iya, Shin. Fara dah banyak cerita kat mama.." sang ibu menimpali.


"Mama Zizah, apa kabar?" tinggal Azlanlah yang terakhir menyapa sambil menyalam tangan itu dengan khidmat.

__ADS_1


"Mama sehat, Azlan,," ditepuknya bahu Azlan.


Wajah ibu Shin terus tersenyum tetap hangat sambil menepi agar muda-mudi segera masuk dalam rumah. Tangan halus Dhiarra masih tetap dipegang dengan tangan sebelah. Lalu ditarik dan didudukkan Dhiarra di sofa. Mereka duduk berlima di sofa lebar dengan melingkari meja saling berhadapan.


Ibunya Shin, datin Azizah menyeret sebuah bungkusan besar berisi banyak kemasan kecil-kecil. Rupanya kemasan kurma sebagai oleh-olehnya dari Kelantan. Dikeluarkan banyak kemasan kurma itu di meja.


"Ayolah, hanya ini bawaan mama. Tak sempat beli apapun. Papa kalian sedang tidak enak badan kat perjalanan." tawar sang mama pada mereka.


"Papa tidurkah, ma?" Shin belum juga melihat kelebat ayahnya.


"Iya, lepas minum obat masa sampai tadi, langsung baring-baring kat bilik," tangan datin masih sibuk manarik kemasan kurma yang tak ada habisnya.


"Sazlin..Azlan... Keluarga sehat,,?" datin Azizah bertanya sangat lembut.


Yang ditanya menjawab serupa bergantian. Mereka terus saling bercerita pada datin Azizah dengan gembira. Ibu Shin begitu sabar dan adil menanggapi seluruh cerita dan kicauan mereka. Kecuali Dhiarra, gadis itu hanya menyimak dan tersenyum sambil mulutnya sibuk menyisil dan mengunyah buah kurma.


"Dhiarra,," datin Azizah memanggil.


"Iya, datin,," Dhiarra menjawab dengan segan. Agak penasaran dengan apa yang akan disampaikan atapun ditanyakan oleh sang datin.


"Malam ini, jadikah pergi ke Penang?" soalan datin Azizah lembut sekali. Sangat nyaman didengar, melebihi kelembutan ibu kandung.


"Saya sangat berharap pergi ke Penang malam ini, datin. Semoga encik Shin tidak ingkar janji," Dhiarra memanfaatkan situasi dengan cepat.


Sebab sejak pulang dari taman KLCC, lelaki itu tidak lagi ada senyum. Aura dingin melapis tebal di wajahnya yang justru membuat Shin Adnan kian tampan. Tapi tentu membuat Dhiarra jadi enggan jika tak sengaja saling bertatapan. Bahkan Sazlina yang biasanya bermanja pun merasakan dan terlihat berjarak. Dhiarra sedikit menebak kenapa Shin jadi berubah kabut mendung seperti itu.


Lelaki yang dimaksud kian bungkam tak mendengar. Menyandar di sofa dengan mulut sibuk mengunyah kurma. Segala cerita pasal perusahaan telah habis dikatakan pada ibunya.


"Jika bang Shin tak ikut. Pergi denganku juga tak masalah, Dhiarra,," sepertinya Azlan sedang mencari dukungan dari datin Azizah.


"Yelah tuh. Kau pergi saja kat Penang just sama Azlan. Tak payah harap abang Shin hantar kau kat Penang," Sazlina menyahut dengan gaya sadis manjanya.

__ADS_1


"Itu betul, Dhiarra. Bukankah Azlan juga akan bertolak ke Penang malam ini? Pergilah dengan Azlan. Pasti mamamu pun sangat rindu kat engkau. Salam pada Hazrul dan mamamu dari mama Zizah, Dhiarra,," datin Azizah dengan lembut menyarankan.


"Terimakasih, datin. Iya baiklah, saya akan menumpang bersama Azlan saja malam ini," tak ragu lagi Dhiarra mengiyakan. Mengerti akan maksud Azlan mencarikannya peluang izin dari datin. Dan kesempatan bagus ini telah cepat disambutnya. Tak peduli pada Shin, atasannya itu mengizinkan atau tidak..


__ADS_2