Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
96. Berjumpa


__ADS_3

Dhiarra mengikuti Hazrul yang berjalan cepat menuju latar parkir. Sang ayah sambung itu telah memiliki mobil baru yang nekat dibeli mendadak setelah kelahiran anak lelakinya beberapa hari yang lalu.


Dan itu adalah sebab paksaan Dhiarra yang meminta membelikannya sebagai hadiah untuk adik bayi sekaligus untuk sang mama. Dhiarra tidak tega dan iba jika mereka keluar dari hospital tidak memiliki kendaraan sendiri.


Sudah seperti budaya jika di negeri upin dan ipin ini, memiliki mobil pribadi adalah seperti keharusan. Meski belum memilliki garasi, tempat parkir bahkan rumah sekali pun, asal sudah memiliki kendaraan beroda empat itu, maka hidup akan terasa sangat nyaman. Dan prinsip begini bukan sekedar di kota, namun telah mengakar hingga ke penjuru dan pelosok.


"Bang, ini letak kat mana,,?" seseorang bertanya dari samping luar. Rupanya salah seorang pegawai Azlan.


"Letak belakang saja,,!" Hazrul berseru dari kursi kemudi.


Pegawai itu dengan cepat membuka pintu belakang untuk meletak beberapa kotak berisi makanan. Kotak-kotak berisi makanan segar dan masih terasa hangat itu dibeli oleh Hazrul dari tempat Azlan. Dan demi menjamu kedatangan keluarga angkatnya yang datang dari negeri Melaka di rumahnya.


Dhiarra memandang salut pada sang ayah sambung yang telah bijak berfikir. Sedang Dhiarra yang perempuan saja belum mampu berfikir sejauh itu. Dhiarra merasa telah terlalu lama hidup sendiri dan hanya memikirkan kebutuhan dirinya saja.


Oh, tidak,,! Lebih tepatnya, sang pamanlah yang selalu menyediakan makanan untuknya. Dan meja makan di rumah sang paman, terlalu melimpah ruah untuk menerima tambahan menu apapun, seandainya seseorang menambahkan satu jenis makanan saja dari luar.


Meski awalnya terpaksa, Dhiarra merasa sudah terbiasa menggantungkan isi perutnya selama ini pada Shin Adnan. Berfikir lagi, ternyata bukan saja isi perut yang telah ditangggung sang paman, namun juga ketebalan isi dompetnya sudah ditanggung sang paman. Meski untuk hal ini tidak secara langsung ditanggungnya.


Apalagi yang sudah ditanggung Shin Adnan untuknya.. Kehidupannya,,? Ah, iyaaa,,mungkin hidupnya telah ditanggung Shin Adnan. Lelaki itu telah menikahinya. Bahkan telah beberapa kali meminta untuk meneruskan hidup bersama selamanya.


Betapa seriusnya Shin Adnan padanya. Namun Dhiarra telah mengabaikan serta menyiakannya. Buta oleh tekat setianya pada Adrian,, oleh ingatan rasa cintanya pada Adrian. Ternyata baru disadarinya bahwa rasa cinta untuk Adrian telah pudar. Juga tekat setianya yang ternyata sia-sia.


Meski kini merasa menyesal dan malu, tapi begitu ingin kembali padanya. Bisa dekat lagi dengan Shin Adnan. Apa masih ada harapan? Apa tidak terlambat? Apa masih ada maaf dan kesempatan,,?


Apa Shin Adnan tetap suaminya,,,Atau Shin telah menalak dan mencerainya diam-diam,,,


Dan siapa Sazlina bagi Shin Adnan,,??

__ADS_1


Rasanya sangat rinduuu.. dan sebentar lagi akan bertemu.. Maafkan aku, encik Shin,,!!


"Dhiarra, jauh sangat kamu melamun? Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" suara Hazrul membuat wajah Dhiarra menoleh sebentar pada ayah sambungnya.


"Tidak,,," sahut Dhiarra sangat pendek. Membuang pandang lurus di jalanan.


🍒🍒🍓🍒🍒


Hazrul telah membelok di jalan kecil yang mengarah ke rumahnya. Berjalan perlahan dan hati-hati. Banyak anak-anak sekitaran yang sedang bermain di tepinya.


Membelok lagi memasuki halaman kecil rumahnya. Telah ada sebuah mobil besar yang terparkir di sebelahnya. Dan sudah dipastikan itu milik siapa. Meski mobil itu tidak pernah dikenalinya. Mungkin itu adalah mobil sewaan mereka.


"Cik Dhiarra,,," sebuah sapaan pelan dari seseorang di teras saat Dhiarra berjalan ke sana. Dan lelaki yang menyapanya itu adalah Idris, sopir pribadi Shin Adnan.


"Hah,,bang Idris, apa kabar? Dah lama tiba?" tanya Dhiarra berdebar.


Dhiarra mengangguk berdebar. Rasa debar sebab mengingat dengan siapa Idris datang. Berdegup kian laju jantungnya.


Bisa jadi Shin sedang mengawasi sekarang. Sebab ruang tamu di rumah Hazrul bersambung langsung dengan teras. Dan menggunakan kaca ribben hitam yang tembus ke luar dan tidak tembus ke dalam saat siang.


"Kenapa diam, ayolah kita masuk, Ra,," suara ayah Hazrul menegurnya.


Seperti kaku saja langkah Dhiarra. Rasa debar padahal belum apa-apa itu seperti memberati kakinya.


Hazrul membuka pintu rumah setelah mengetuk bersalam beberapa kali dan tanpa sahutan. Dan memasuki ruang tamu diikuti Dhiarra.


"Abaangg,,,!! Kak Dhiarraaa,,!!" suara merdu yang mulai dihafal Dhiarra. Fara,,!

__ADS_1


"Hai Fara,,,!" seru Dhiarra yang hampir berbarengan dengan seruan Hazrul pada adik angkatnya.


Fara menubruk peluk Dhiarra sangat erat setelah memeluk renggang sang abang sekilas. Hazrul, adalah sang abang yang juga disayang. Yang kadang juga terasa seperti seorang ayah baginya.


"Heih,,,,Dhiarra,,!!! Hazruul...!" seruan barusan ternyata datin Azizah.


Dhiarra menyapa dan mendekat, tapi tidak memeluk. Mereka berdua kembali tidak saling berpeluk. Hanya berjabat salam dan saling berciuman. Sang datin sedang menggendong cucu lelaki barunya yang kecil imut dan mungil. Sang mama mengikuti datin Azizah di sampingnya.


Degh,,,!!! Benar-benar berdebar jantungan rasanya. Lelaki yang muncul dari ruang tengah dan sedang basah mukanya itu memandang lekat Dhiarra. Wajah pias itu semakin tampan dengan basah air di mukanya. Keduanya saling berpandangan dan bungkam. Hanya debar di dada sajalah yang sedang hingar bingar dan bising.


Tak bisa berlama-lama memandang. Dhiarra merasa malu dan kikuk jika didapati oleh orang-orang yang berdiri di samping dan depannya. Dan telah muncul datuk Fazani di belakang Shin. Juga dengan muka basahnya.


"Datuk Fazani,,, apa kabar?" sapa Dhiarra cepat demi mengalihkan pandangan serta mengurangi debar degub di dada. Datuk Fazani dan Dhiarra tengah bersembang seru sebentar.


Shin memandang tanpa putus wajah perempuan yang telah dipikirnya siang malam. Hasrat ingin memeluknya rapat tanpa jarak terpaksa dihempas sementara.


Meski merasa Dhiarra adalah hak dan miliknya, namun masih ingat ada dua orang yang harus dijaga perasaannya. Mamanya Dhiarra... Juga abangnya, Hazrul,, yang pasti belum tahu sama sekali dengan berita tentang hubungan Shin Adnan dan putrinya. Dan mereka harus tahu sebentar lagi..


"Fiq,,!! Sehat, kau,??!" seru abang Hazrul menggerakkan mata Shin agar berkedip.


"Baik, bang,,, Tahniah atas keselamatan baby boy engkau tuu,,!" sahut Shin berseru. Keduanya tengah saling berangkulan.


"Rull,,,! Shin,,!! Lekaslah,,!! Kita boleh habis makmum nanti,,!!" datuk Fazani tengah berseru tiba-tiba dari pintu.


"Iya, pa,,! Aku akan menyusul,,!" sahut Hazrul dan bergegas pergi ke belakang.


Rupanya mereka tengah bersiap untuk berjamaah maghrib di mushola dekat rumah. Dan berbekal wudhu dari rumah. Sebab saat maghrib, jemaah akan menumpah dan begitu panjang untuk antri bersuci.

__ADS_1


Shin berjalan melewati datin Azizah. Melirik wajah cantik yang juga sedang memandangnya. Sangat gemas pada pipi mulus yang terus saja terlihat kian merona. Lelaki itu berjalan cepat dengan menyembunyikan senyum, menyusul sang papa. Berjalan sangat cepat,,, khawatir sucinya akan membatal tiba-tiba..


__ADS_2