Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
49. Pergi ke Penang


__ADS_3

Makan malam bersama di rumah orang tua Shin yang terakhir, berjalan sangat tenang dan terasa cukup hangat. Kali ini bertambah dengan kembalinya sang orangtua di kursi makan masing-masing. Ayahnya Shin, datuk Fazani terlihat masih lesu dan tidak terlalu berselera.


Sang ayah tidak juga bernafsu berbicara. Namun cukup ramah untuk menyempatkan diri bertanya kabar pada Sazlina, Azlan, dan Dhiarra. Serta berpesan untuk berhati-hati saat di perjalanan pulang mereka sebentar lagi.


Suara datuk Fazani terdengar sangat dalam dan sedikit serak. Benar-benar kepenatan sehabis mendatangi acara pesta perkawinan salah satu saudara di Kelantan. Namun kini mulai membaik setelah mendapat perawatan dan pengobatan dari dokter pribadi keluarga mereka yang diundang untuk datang.


Datuk Fazani dan datin Azizah telah mengosongkan kursi mereka dengan cepat. Datin Azizah terus mengikuti sang suami yang ingin segera menyambung istirahatnya dalam kamar. Mereka pergi setelah datuk Fazani sempat mengeluh bahwa pinggang pinggulnya terasa panas jika duduk lebih lama lagi.


"Minum air hangat sering-sering, pa..!" Shin berkata saat ayahnya telah berdiri.


"Itu sudah pasti, Shin. Kau juga, pandai-pandailah jaga kesehatanmu,,!" bersamaan datuk Fazani berbalik dan berjalan menuju kamar besar utama di lantai satu diikuti sang istri di belakangnya.


Itulah percakapan terakhir bersama orang tua Shin yang terdengar di meja makan. Selebihnya keempat bujang itu saling bisu saat mengurusi isi piring mereka masing-masing. Hingga keempat lajang sukses hersama mengeksekusikannya dengan bersih.


"Pukul berapa kau berangkat, Saz?" tatapan Shin mengarah pada Sazlina.


"Habis inilah, Shin,,kau nak hantar aku kee? Seremban saja pun, tak jauh sangat kan?" Sazlina sangat harap diantar Shin.


"Apa jangan-jangan kau juga akan ke Penang?" sambung Sazlina.


"Aku ingin istirahat saja, Saz. Soal ke Penang, itu urusan Azlan." Shin menjawab.


"Pukul berapa berangakat, Lan?" Sazlina menoleh pada Azlan.


"Sebelum tengah malam. Pukul sebelas kot. Aku nak balik rumah kejap," Azlan menyahut.


"Kau bawa sekali gadis itu kee?" Sazlina melirik sedikit pada Dhiarra.


Dhiarra hanya menyimak pada Azlan. Lelaki yang dipandang mengangkat alis dan tersenyum.


"Kau nak ikut ke rumahku kah, Dhiarra? Tak jauh sangat dari sini, kita bertolak ke Penang dari sana,," Azlan menawari.

__ADS_1


"Seberapa jauh dari sini, Azlan?" Dhiarra bimbang.


"Tak lama.... Mungkin dua puluh menit saja," pandangan Azlan lurus pada Dhiarra.


Hanya sebentar, pasti memang dekat. Tapi.... Dhiarra memandang tak sengaja pada Shin dengan bimbang. Shin menyambut matanya sesaat.


"Azlan, kat rumahmu tak ada orang. Om Hafiz dan mamamu kat rumah Ayer Keroh, kerja. Tak payah kau bawa dia. Masa berangkat Penang nanti, kau yang datang jemput dia kat sini,," sahutan panjang tiba-tiba dari Shin.


Azlan dan Shin berpandangan saling tatap. Berakhir dengan senyuman kecil Azlan bersamaan Shin yang mengangkat alis goloknya tinggi-tinggi. Keduanya lalu sama-sama saling melengos membuang muka.


"Yelah, Dhiarra. Istirahat sajalah kau kat sini. Pukul sebelas pasti kau kujemput," dengan sisa senyum di bibir, Azlan memberi putusan.


"Thanks, Azlan. Akan kutunggu datangmu," jawab Dhiarra cepat-cepat.


Kemudian berdiri meniru Azlan yang juga telah berdiri. Tak peduli dengan apa maksud Azlan dan Shin bersikap begitu padanya barusan.


"Dah lah, tuh. Menungguuu,,, macam menunggu kekasihmu saja,,?! Ha..ha..!" selip celoteh Sazlina seru terdengar. Bersama langkah kaki ringannya yang berayun menuju tangga ke atas.


Dara Malaysia itu akan bersiap juga untuk pulang. Driver orang tuanya sudah sampai menjemput di depan. Besok pagi-pagi akan terbang mengudara menuju kota dunia, Paris.


Suasana ramai sebab kedatangan anak-anak dari jauh, mengingat tiap harinya hanya mereka berdua saja yang bersama. Tapi sayang, saat kesehatan terganggu, kenyamanan apapun yang ada, hadir nikmat itu jadi lenyap tanpa rasa.


🍒🍒


Hadiah sekoper mini yang sempat ragu dibawa atau tidak, pada akhirnya ditarik juga. Telah siap dikemas terletak berdiri dekat pintu. Sangat standby untuk mendapat tarikan jika sang pemilik bergerak kapanpun.


Gadis pemilik koper tetap tidur gelisah meski telah minum obat disaat perutnya tengah terisi dengan baik. Mata itu memang rapat terpejam, namun gerakan badan dan mimik gelisah di wajah sangat jelas terlihat saat tidur. Mungkin sang pemimpi sedang merasa tidak nyaman di jiwa saat itu.


🍒🍒


Kamar Sebelah....

__ADS_1


Bujang mapan dan tampan tengah rebah terlentang dengan sebelah punggung tangan menumpang di dahi. Matanya terbuka redup memandang kosong pada langit-langit biru di kamar. Seperti sedang bimbang pada sesuatu yang sedang keras dipikirnya.


Sangat lama seperti itu tapi tak juga terpejam matanya. Mengganti posisi merebah menyamping ke kiri. Sangat lama begitu, ternyata masih juga terjaga. Mengganti posisi menyamping ke kanan, cukup lama,, mungkin akhirnya tertidur.


Ternyata belum,,,,,,lelaki itu terlentang lagi sebentar. Kemudian bangun tiba-tiba dan berdiri berjalan menuju ruang ganti pakaian. Menyambar handuk lembut putihnya. Berjalan cepat menuju kamar mandi dan lenyap ke dalam.


Banyak menit kemudian....


Shin telah berdiri di bawah pancuran shower yang diputarnya maksimal. Air menyembur keras menerjang kepala dan membasahi wajah serta tubuhnya dengan deras. Badan bagus tanpa baju sedang nampak nyaman berdiri tegak seperti itu sangat lama dan berterusan. Entah apa saja yang dilakukan dan entah sampai kapan bertahan...


🍒🍒


Tok...Tok...Tok...Tok..Tok...


Ketukan pelan beberapa kali di pintu kamar, membuat bergegas untuk mengakhiri polesan lipstik merona di bibir. Segera disambar ponsel di ranjang dan laju diselipkan dalam tas bahunya. Si gadis pendatang berjalan cepat menuju pintu dan menarik membuka.


"Cik, puan datin meminta saya memanggil. Anda tengah ditunggu kat depan. Tuan Azlan telah bersiap kat keretanya,," gadis muda Melayu dan berlainan dari gadis yang kemarin, memandang Dhiarra dengan bermacam ekspresi.


"Iya, kak. Marilah turun," ajakan ramah dan lembut Dhiarra pada gadis itu sambil tersenyum.


"Eh, tak payak, kak. Tak berat, ini ringan,, biar kutarik sendiri,," Dhiarra melarang saat gadis muda itu mengambil kopernya. Tapi memang benar, koper mini itu sama sekali bukan beban. Hanya berisi beberapa potong baju dan dallaman.


🍒🍒


"Hati-hati ya... Jika mengantuk, tidur saja. Nikmati perjalanan panjangmu ke Penang malam ini. Tak yah risau, kawan jalanmu tuh baik-baik," datin Azizah bercakap untuk akhir kali pada Dhiarra. Wajah ayu itu tersenyum sangat damai dipandang.


"Terimakasih, datin Azizah. Anda pun kena jaga kesehatan baik-baik. Akan saya sampaikan salam anda pada orang tua kat Penang. Salam buat datuk Fazani, semoga beliau lekas sehat seperti semula." Dhiarra berkata-kata untuk detik-detik akhirnya kali itu.


"Sama-sama, anak dara baru Hazrul. Jika kelak datang kat sini lagi, menginaplah yang lama,,," datin Zizah menepuk lembut pipi Dhiarra yang merona.


"Baik datin. Saya berangkat. Assalamu'alaikum,,!" Dhiarra menyalam tangan tebal itu dan mencium khidmat punggung tangannya. Tapi datin Azizah tidak memeluknya kemudian.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati,,!" hanya melambai tangan sajalah datin Azizah padanya.


Dhiarra mengedip-ngedipkan mata dan mengambil nafas sambil membalas lambaian. Mencoba sadar bahwa siapalah dirinya. Berani mengharap ingin dipeluk datin pulak...!


__ADS_2