Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
110. Debar Calon Pengantin


__ADS_3

Pukul 04.30 am... Di pusat kota Kuala Lumpur..


Kriiìiiiìiiìiiiiiinñnnnng...........!!!!!!!!!!!


Bunyi nyaring alarm di ponsel pagi itu, telah memaksa sang pengatur alarm untuk membuka lebar matanya. Tidak langsung menghampiri guna menyambut dan kemudian mematikan nya. Namun abai sementara demi memperhatikan selimut hangat biru tua serta lingerie panas yang juga berwarna biru tua dan sedang membungkus rapat tubuhnya.


Gadis cantik dengan mata agak sembab dan baru bangun tidur, nampak terus saja tersenyum. Jika saja Shin melihat dia sedang di sana, bergelung di ranjang kamarnya dengan segala warna biru tua, lelaki itu pasti merasa sangat bahagia. Sayang, semalam Shin pasti tidak sempat menyadari keberadaan Dhiarra di mana.. Sambungan video call mereka hanya sebentar tersambung dan kemudian terputus tiba-tiba.


Kriiìiiiìiiìiiiiiinñnnnng...........!!!!!!!!!!!


Baru setelah bunyi dering alarm yang kedua kali ini terdengar, si pengatur alarm bangkit perlahan. Menyambar ponsel di dekat lampu tidur dan mematikannya. Menyambar handuk dan melesat masuk ke kamar mandi.


Dhiarra berjinjit tinggi-tinggi untuk melihat bayang wajahnya pagi-pagi. Cermin di kamar mandi Shin, jauh lebih tinggi dari wajah dan kepalanya. Sebab memang sudah diatur sesuai tinggi badan Shin Adnan. Tersenyum sendiri dengan bayang wajah sembab pucatnya di cermin. Dhiarra laju mencuci muka banyak kali di kran air wastafel. Berharap efek negatif dari tangis di matanya terlihat kian samar dan lebih cepat memudar.


🍒🍒🍓🍓🍒🍒


Gadis bermukena yang sedang meniti tangga besi lingkar itu baru kembali dari mushola di bawah kamarnya. Ya,, Dhiarra baru mengikuti subuh berjamaah bersama datuk Fazani selaku sang imam.


Sang datuk memang mewajibkan pada seluruh penghuni rumah, tak pandang siapa dan sebagai apa, untuk mengikuti jamaah ?subuh bersama. Kecuali pada security di depan. Untuk waktu yang lain, tak ada keharusan lagi dari datuk Fazani.


🍒🍓🍒


Pagi ini adalah rawatan kebugaran terakhir yang akan Dhiarra terima dan lakukan. Kelas kebugaran ringan sebagai penutup segala rangkaian rawatan yang telah dilakukan. Hanya senam ringan, serta yoga gerak dasar dan ritme pernafasan. Tidak terlalu menguras tenaga dan keringatnya.


Salah satu pegawai perawatan wanita menghampiri Dhiarra yang tengah meminum air dari botol kemasan. Sesi rawat bugar selama seminggu ini telah benar-benar berakhir. Mereka akan pergi undur diri sebentar lagi dan mungkin tidak akan saling jumpa dalam waktu yang lama.


"Cik Dhiarra, boleh tak kita orang nak ambil gambar bersamamu satu kali? Kita perlu buat dokumen kerja,," tanya wanita pegawai kebugaran yang mendekati Dhiarra.


"Oh, boleh saja, akak. Aku tak menolak,," Dhiarra tersenyum dan segera memposisikan diri. Ingin melakukan foto bersama dengan cepat. Calon mertua sedang menunggu di meja makan untuk breakfast.


Namun bukan mengambil foto sekali bersama saja. Mereka juga ingin berfoto sendiri-sendiri bersama Dhiarra dengan ponsel pribadi masing-masing. Tentu saja si gadis pingitan tidak ada hati untuk menolak dan mengecewakan mereka. Terus mengembang senyum demi mengukir kenangan manis yang terakhir bersama mereka.


"Terimakasih calon puan Dhiarra. Senang boleh ambil foto denganmu banyak-banyak. Anda adalah dara asing dari luar kerajaan yang cantik luar biasa. Jika perlu rawatan dari kami di masa mendatang, jangan segan hubungi kami, yaaa,,," ucap ketua pegawai rawatan dengan wajah puas dan gembira.


"Iya, kaak. Sama-sama. Terimakasih juga telah sabar mendatangiku serta sepenuh hati menemani kebugaranku,," tukas Dhiarra dengan ramah dan manis.


"Berlebih-lebih terimakasih...Cik Dhiarra telah sedia dan bagi hasil rawat kebugaran dengan sangat memuaskan pada kami," sahut cepat wanita pegawai itu.


Dhiarra menyambut dengan anggukan dan senyuman. Menerima ulur salam perpisahan bergantian. Mereka perlahan berjalan pergi dan hilang dari pandangan.


Ah, rawat bugar yang menyiksa namun juga menyenangkan telah habis diterimanya.


Esok akhirnya tiba juga. Tinggal satu kali rawat saja. Rawat cantik luar dalam yang terakhir petang nanti untuknya. Bermakna hari H pesta kawin Dhiarra bersama Shin Adnan sudah nyata di depan mata datangnya. Dhiarra berdebar merasa seperti tak percaya.!


🍒🍒🍓🍓🍒🍒

__ADS_1


Makan pagi yang terakhir juga minggu ini di rumah datuk Fazani. Makan pagi bersama keluarga sang suami tanpa ada suaminya.


Dhiarra duduk berhadapan dengan Fara. Sedang di sampingnya adalah datin Azizah yang duduk berhadapan dengan sang suami, datuk Fazani.


"Kak,,, akak semalam menangis kee?" tanya Fara setelah puas mengamati mata Dhiarra.


"Nampak kee, Fara?" jujur Dhiarra sambil mengerjap mata pada Fara.


"Asal pulak Dhiarra menangis,,?!" suara datin Azizah terdengar terkejut bertanya.


Menoleh menatap detail di wajah Dhiarra. Begitu juga yang tengah dibuat datuk Fazani pada Dhiarra. Keduanya bersamaan menatap menunggu Dhiarra berbicara.


"Pasti menangis lepas tengok video abang Shin kat Zeta Bar itu yeee,,," sahut Fara menyelidik tersenyum.


Dhiarra tak menyahut, menunduk menatap piring yang belum juga diisinya.


"Dah kau bagi copy kat Dhiarra juga kee, Fara?" tanya datuk Fazani pada Fara.


Fara mengangguk."Iya, pa,,,semalam. Biar makin hot rindu dia kat abang Shin,,ha..ha.." terang dara cantik itu sambil tertawa kecil menampakkan sedikit gigi depannya.


"Betul kee, Dhiarra? Engkau dah menangis sebab tengok video yang Fara bagi tuu?" tanya detail sang datuk.


Dhiarra mengangguk nampak suram muram wajahnya.


"Yelah, kita paham. Dhiarra tak yah menangis lagi yaa.. Asal tak pernah Dhiarra ulang pasal tuu, jangan ulang tinggalkan Shin lagi yaa.. Kalian mesti berbahagia, mesti bergembira dan mesti saling sayang selamanya. Ingat tu, Dhiarra yaa,,," pesan datin Azizah sungguh-sungguh.


Menepuk-nepuk lembut punggung Dhiarra dengan rasa sangat sayang. Lalu sang datin mengambilkan sedikit nasi untuk Dhiarra di piringnya. Menambah sedikit sayur dan memenuhinya dengan bermacam lauk-pauk.


"Makan dulu cukup-cukup. Lepas ni akan ada orang butik we o datang. Nak pastikan baju pengantinmu benar-benar sudah pas kat badanmu," terang sang datin sambil menyodor piring lebih dekat ke depan Dhiarra.


"Iya, ma. Terimaksih,," sambut Dhiarra terharu.


Tak ingin menghampakan sang datin, dengan cepat memegang sendok garpu dan mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


"Dhiarra, petang nanti orang perawatan dah tak datang. Mama lupa nak cakap. Petang nanti kita dah bertolak ke Melaka. Kat Melaka nantilah kau akan dapatkan perawatan yang terakhir," terang sang datin tiba-tiba.


Mendengar kata bertolak ke Melaka, ini tentu mengejutkan Dhiarra. Kota yang sedang dirindu bersama Shin Adnan di sana, akan lebih cepat lagi didatanginya malam ini. Apa dirinya juga akan berjumpa Shin malam ini? Dada Dhiarra berdegup kencang tak terkira.


"Akak nak tahu kee, kat mana tujuan kita pergi kat Melaka?" tanya Fara yang juga terus menyimak.


Dhiarra memandang Fara sambil menggeleng dan mengunyah. Namun mata sembab itu sedang menatap ingin tahu.


"Kat hotel bintang Casa del Rio Melaka, akaak,,,, sukee taak,,?" tanya Fara tersenyum.


Dhiarra mengangguk perlahan. Sebenarnya sangat tidak paham dengan nama hotel yang telah disebut Fara barusan.

__ADS_1


"Yang betul lagi, Shin pun juga akan kumpul kat hotel itu malam ini, Dhiarra,," tiba-tiba datuk Fazani pun ikut serta berkata.


Gadis yang semalam menangis itu memandang sang datuk sebentar.


"Iya datuk," jawab Dhiarra mengangguk dan tak tahu harus berkata apa.


Lalu menunduk dan tidak lagi menanggapi. Hanya pipi mulusnya saja yang sedang nampak pias merona.


Datin Azizah, datuk Fazani, serta Fara saling pandang bergantian. Mereka nampak melebar mata dan mengulum senyum masing-masing sambil melirik Dhiarra.


🍒🍒🍓🍓


🍒🍒🍓🍓


Perjalanan santai yang justru terasa sangat tegang bagi Dhiarra selama dua jam, akhirnya sampai juga. Dan kini Dhiarra tengah merebah tegang di kamar barunya. Kamar nyaman dan hangat di hotel Casa del Rio Melaka. Dan di hotel ini jugalah pesta kawin Dhiarra besok pagi dirayakan.


Dhiarra bergulingan kembali di atas ranjang yang berbusa sangat lembut dan empuk. Kenyaman seperti ini selalu mendatangkan ingatan pada Shin Adnan. Berkhayal jika saja Shin sedang merebah bersama dan saling memberi erat pelukan.


Ah, Shin juga sedang berada di bawah atap hotel yang sama dengannya saat ini? Sudah datangkah? Di mana kamar Shin Adnan? Di mana Shin sekarang?


Tok..Tok...Tok...!!


Terkejut rasanya dengan ketukan di pintu. Dengan dada terus berdegub, membuka pintu kamar dengan pelan.


Fara tengah berdiri di depan pintu kamar bersama beberapa wanita berseragam.


"Kak layan rawatan terakhir buat akak, nii.. Lekas ikut kak, terkejar malam,," kata Fara mendesaknya.


"Aku ambil tasku dulu, Fara,," sahut Dhiarra. Calon pengantin itu hilang sekejap dalam kamar. Dan kembali keluar tergesa kemudian.


Fara memasrahkan Dhiarra pada para wanita berseragam. Dan gadis itu berpamitan bahwa sedang ada urusan lain yang akan didatanginya. Dhiarra hanya pasrah mengangguk dan mengikuti mereka ke arah yang berlawanan dengan Fara.


Memasuki sebuah ruang luas bertulis 'skin care of beauty room' , Dhiarra diambut dengan para pegawai wanita lainnya.


Sang calon pengantin hanya pasrah saat mereka menanggal seluruh baju dan mengganti dengan selembar handuk kecil mini di tubuhnya.


Dhiarra direbah rentangkan, dibalur lulur dan kemudian dipijat dengan lembut. Ada tiga pegawai wanita yang terlibat mengurusinya begitu.


Rasanya sangat hangat dan nyaman melenakan. Setengah sadar dan mengantuk rasa kedua mata bintangnya.


Sreet..!!


Seorang pegawai wanita yang baru datang, membuka gorden di pembatas kaca tiba-tiba. Dhiarra meembuka mata sempurna sebab terkejut dengan suara gorden yang tadi ditarik kasar terbuka sebagian.


Degh,,!! Tersengat kejut Dhiarra. Seseorang yang sangat dirindu tengah terbaring juga di ruang sana, di seberang kaca. Lelaki itu lebih dulu menyadari adanya Dhiarra. Shin sedang menatapnya tercengang saat Dhiarra mendapatinya di sana. Mereka sedang mendapat rawatan terapi yang sama malam ini..

__ADS_1


__ADS_2