Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
36. Lamaran Adrian


__ADS_3

Beberapa artis Malaysia senior nampak bertebaran menghiasi kursi dan meja dalam aula. Dhiarra tidak terlalu mengenali wajah serta nama-nama artis negara Malaysia yang diundang.


Hanya satu wajah dan satu nama artis yang Dhiarra begitu hafal di luar kepala. Dan itu membuatnya begitu rindu pada sang ibu. Artis Aaron Aziz.


Artis yang sangat diidolakan oleh ibunya lewat film Ombak Rindu, film import buatan Malaysia. Saat itu Dhiarra masih bersekolah di bangku SMP. Dan Dhiarra juga latah menggilai sang aktor Aaron Azis yang tentu berumur sangat jauh lebih tua dari Dhiarra.


Dhiarra benar-benar tidak menyangka akan melihat artis lelaki tampan itu secara nyata dan langsung. Dhiarra hanya pernah melihatnya melalui layar televisi di rumahnya bertahun-tahun yang lalu bersama sang ibu.


"Mantanmu, Ra..!" Yuaneta reflek berbisik histeris dan langsung mendapat angguk senyuman dari Dhiarra.


Selebihnya hanya mata nanar mereka yang terus menyapu para artis senior dengan penampilan luar biasa tanpa termakan zaman dan usia.


"Asal pulak artis yang diundang bukan yang mudi, oll tuwir deh Ra,," Yuaneta akhirnya mengeluh.


"Nikmati aja pemandangan ini, jangan rewel, Nett.,," Dhiarra menegur sedikit tersenyum, sang karib mengangguk.


"Aku tak sabar menunggu giliranmu lenggak lenggok di sana. Kau jangan sampai kesandung, Ra..,," Yuaneta merasa khawatir.


"Aku sudah terlalu sering melakukannya. Aku tidak lupa, jangan risau. Doakan saja aku, Nett," Dhiarra tersenyum. Yuaneta lagi-lagi mengangguk.


Seorang lelaki tegap dan tampan yang beberapa saat lalu meninggalkan meja mereka, kembali datang dengan seorang lelaki yang tak kalah rupawan dan gagah.


"Sorry tadi kutinggal agak lama, Arra..," Adrian duduk menghempas di kursi sebelah Dhiarra. Gadis itu mengangguk sembari menatap wajah Adrian yang tak bosan dipandangnya.


Adrian memang pergi untuk menjumpai rekan lain sesama pengusaha tekstil dan garment setelah menunjuk kursi pada Dhiarra dan Yuaneta. Dan sekarang datang menghampiri meja kembali bersama Shin Adnan di sampingnya.


"Sebentar lagi giliranmu berdiri di sana, Dhiarra," suara stereo yang khas tiba-tiba menyela diantara kesibukan Dhiarra memandang sang kekasih. Shin Adnan menunjuk panggung dengan isyarat mata dan dagunya.


"Untuk apa Dhiarra harus di panggung, tuan Shin?" Adrian langsung menyahut terheran. Sebab hati lelaki itu sangat ingin berdekatan dengan sang kekasih di sela keterbatasan waktu dalam kunjungannya malam ini.


"Maaf saudara Adrian, selain baju-baju yang mendapat aplaus sangat meriah yang sedang diperaga para model di sana itu, Dhiarra juga mempunyai karya luar biasa. Baju yang sedang dipakainya. Saya telah membeli desain model baju itu. Dan akan dipamerkan sendiri oleh perancangnya, Dhiarra sebentar lagi akan berlenggok di sana,," Shin menjelaskan dengan tegas meyakinkan. Matanya menatap Adrian cukup hangat.


"Benarkah,,,,?" Adrian menanggapi bergumam, tak berkomentar apapun. Hanya sangat merasa tertampar oleh penjelasan Shin Adnan padanya barusan. Dipandangnya wajah cantik Dhiarra dengan raut penyesalan.

__ADS_1


"Dhiarra,,,,maafkan aku waktu itu,," dipandangi lekat-lekat sang kekasih yang kemudian mengangguk.


"Semua dah berlalu, mas. Sudah terlanjur," hanya itu yang bisa Dhiarra ucapkan. Sekillas melirik pada Shin. Lelaki itu sedang memandang Dhiarra dengan mata lasernya.


Salah seorang lelaki pemandu acara tengah bergegas menghampiri Shin Adnan dan mengabarkan bahwa saatnya untuk Dhiarra menaiki panggung dan berlenggok. Shin lalu mengangguk menanggapai sambil matanya tetap pada Dhiarra.


"Sedang giliranmu sekarang, Dhiarra. Berdirilah,," Shin berkata sambil ikut berdiri.


Dhiarra terkejut, serba salah tak menyangka. Shin mendekati dengan mengulur tangan kanannya bermaksud agar Dhiarra menyambut. Dhiarra tanggap dan paham, tangan kirinya menyambut perlahan sambil memandang pada Adrian. Lelaki yang dipandang hanya diam dan membatu. Tajam memandang Shin dan Dhiarra yang akhrnya berjalan maju ke panggung.


Dhiarra tidak berlenggok, hanya berjalan anggun dan melenggang di samping Shin Adnan yang gagah. Dengan pemandu acara yang berjalan di belakang. Sang pemandu begitu luwes dan lantang menyertakan ulasan dan informasi mengenai baju indah yang sedang dipakai Dhiarra sebagai peraga.


Shin Adnan pun begitu santai membawa Dhiarra dalam genggamannya mengitari seluruh sudut panggung sambil sesekali diam berdiri dan tersenyum. Sedang Dhiarra dengan cukup pengalaman, mengimbangi sempurna bersama tebaran senyum pesonanya pada mata-mata yang memandang takjub padanya.


Dhiarra adalah brand ambasador prodak baru terbaik yang tampil bersama pemilik Shin's Garment malam ini. Shin dan Dhiarra nampak sangat serasi berpasangan. Seluruh tamu undangan bertepuk riuh menanggapi suguhan langka yang begitu sedap di pandang.


Dan Shin Adnan pun merasa begitu puas saat ini...


🍒


🍒


Acara telah selesai sangat gemilang dan seluruh tamu pun telah pulang.


Adrian berjalan cepat menghampiri Shin Adnan. Ada yang akan disampaikan.


"Tuan Shin, sebelum pamit, saya memberitahu anda. Bahwa malam ini Dhiarra tidak pulang. Saya akan membawa calon istri saya bersamaku. Ada yang akan kami bicarakan malam ini," Adrian memandang Shin dengan tegas.


"Apa Dhiarra setuju ikut denganmu, saudara Adrian?" Shin bertanya tak kalah tegasnya.


"Dhiarra nampak gembira ikut denganku. Tapi Dhiarra ingin saya mengatakannya dulu padamu, tuan Shin." Adrian memang berkata sebenarnya.


Shin terdiam, kemudian melangkah mendekati Dhiarra yang nampak agak cemas memandang Shin. Yuaneta berdiri tanpa ekspresi di sampingnya.

__ADS_1


"Dhiarra, betul kau sukarela ikut saudara Adrian malam ini?" Shin memandang tajam Dhiarra. Gadis itu terdiam, bibir indahnya semakin merapat, dan kemudian mengangguk.


"Anda bermalam di mana, saudara Adrian?" Shin kembali memandang Adrian.


"Saya telah memilih sebuah hotel di Ayer Keroh, tuan Shin. Dan saya pastikan Dhiarra akan aman bersama saya. Saya calon suaminya," Adrian terkesan mulai tidak sabar.


"Dhiarra...," Shin agak lirih memanggil nama itu. Dhiarra memandang menyimak bertanya.


"Jika kau ingin, ikutlah calon suamimu. Tapi jangan kembali lagi ke rumahku. Aku paling tidak suka melihat perempuan yang keluar malam dengan lelaki yang belum ada ikatan. Dan kemudian keluar masuk di rumahku.,," mata Shin terus saja melaser Dhiarra.


"Baiklah, saya tidak akan membawa Dhiarra bersamaku. Saya akan berbicara dengan Dhiarra di sini, sebab ini sudah malam." Adrian berkata menyambar, nampak kesal memandang wajah Shin Adnan.


"Tuan Shin dan Yuaneta, saya harap,,,,marilah duduk bersama kami. Saya akan menumpang bicara bersama Dhiarra di sini," Adrian merasa keadaan sudah tanggung. Ditangkapnya tangan Dhiarra dan dibawa menuju meja, lalu mereka duduk di kursi berhadapan.


Shin Adnan terdiam sejenak, lalu pergi mendekati meja dan ikut duduk bergabung tanpa segan. Memandang pasangan kekasih itu bergantian. Dhiarra hanya menunduk membuang pandangan.


"Yuaneta, kemarilah..!" Adrian kembali mengundang sang karib. Yuaneta ragu mendekat, yang kemudian duduk juga bergabung.


Tiba-tiba entah dari mana, Faiz datang dan seperti akan berbicara pada Shin. Namun Adrian telah berseru memanggil untuk duduk dulu bersama. Faiz ragu memandang Shin. Yang kemudian juga duduk sebab Shin telah mengangguk padanya.


"Terimakasih pada semua yang telah duduk di sini menemani kami, saya dan Dhiarra. Saya merasa dengan adanya anda-anda bersama kami, sangat menguntungkan bagi saya." Adrian terdiam sejenak.


"Sebab, dengan disaksikan anda, tuan Shin..., encik Faiz..., dan Yuaneta.. Pada kesempatan ini saya resmi melamar kekasih saya, Dhiarra , untuk serius akan saya nikahi. Namun sebab berbagai alasan, saya belum bisa menikahi Dhiarra saat ini. Tapi saya sudah merencanakan, pada kedatangan saya ke sini berikutnya, saat itulah saya akan menikahi Dhiarra. Jadi dengan besar hati, saya harap bantuan anda semua untuk penjagaan pada calon istri saya. Selama saya terpaksa pulang ke Indonesia untuk mengurusi banyak hal. Terutama pada anda, Tuan Shin. Bantulah saya menjaga calon istri saya, Dhiarra," Adrian memandang Shin penuh harap.


Shin terdiam, matanya redup melaser Adrian.


"Anda jangan pernah memberi harapan palsu pada Dhiarra, saudara Adrian," kalimat itulah yang akhirnya Shin ucapkan pada Adrian.


"Saya tidak berniat mengingkari janji pada Dhiarra, tuan Shin. Saya sangat mencintai Dhiarra. Anda boleh memegang kata-kata saya," Adrian seperti sedang bersumpah di hadapan Dhiarra dan Shin Adnan.


Adrian nampak memasukkan tangan ke dalam kantung jas. Mengeluarkan sebuah kotak kristal dan dibuka. Sebuah cincin indah gemerlapan. Cincin berlian.


Diambilnya jemari kiri Dhiarra. Dengan mesra dan kelembutan, Adrian melingkarkan cincin itu di jari manis Dhiarra. Kemudian tersenyum dan mendekatkan bibir di jemari lentik itu. Adrian mencium punggung tangan Dhiarra, sangat romantis dan terlihat penuh cinta.

__ADS_1


Dhiarra termangu dan seperti tak sadar dengan apa yang sedang dilakukan Adrian padanya. Hanya memandang kosong wajah Adrian di depannya dan diam menurut saja tanpa respon. Dhiarra menyerupai patung hidup yang jelita saat itu...


__ADS_2