
Iklan baju DIAZ dari prodak Shin's Garnent tidak hanya terpampang dalam satu tempat saja. Ternyata merata-rata hampir di tiap sudut dinding lorong kaca yang menuju ruang tunggu itu sangat banyak bertebaran.
Dan ini adalah bandara besar mega internasional. Pasti biaya yang dikeluarkan untuk membayar sewa tempat iklan guna dipajang sepenuh masa ini juga bukanlah main-main.
Kian pening kepala Dhiarra berfikir hal itu. Shin tidak tanggung-tanggung telah melakukan semua untuknya. Seperti yang pernah lelaki itu janjikan. Penghasilan melimpah akan Dhiarra dapatkan.
Dan Dhiarra memang sudah merasakan, seperti tidak akan pernah mengalami lagi habis uang. Luar biasa lagi, Shin mewujudkan ucapannya dalam waktu sangat singkat.
Ah, encik Shin...Bermaknakah aku bagimu? Sedikit bermakna,,,, atau sangat bermakna,,?
Eh,,,dada Dhiarra hampir terkena tubrukan punggung lelaki yang berdiri antri di depannya. Adrian telah membawa tergesa Dhiarra untuk ikut beratur memasuki pintu pelepasan menuju badan pesawat. Sebab di sini akan ada satu kali lagi pengecekan dokumen oleh petugas bandara sebelum benar-benar memasuki pesawat.
Dhiarra di letak Adrian tepat di depannya. Dan lelaki gendut yang berdiri di depan itulah dengan tak rasa berdosa sedikit menginjak jempol kakinya dengan punggung hampir menyenggol dada Dhiarra. Kaget dan kesal bukan kepalang, tapi apalah daya dirinya pun paham sikon..
Ah,,,lagi-lagi pikiran melayang. Isi kepala telah berlari jauh lagi ke Melaka. Wajah Shin Adnan mengganjal lagi di mata. Ingat pengalaman konyol dengan Shin Adnan. Saat antri berdesak untuk membeli tiket naik feri di loket dermaga bersamanya. Yang Dhiarra dikeluarkan dari antrian oleh Shin. Dan berakhir dengan Shin yang juga memilih menyusul meninggalkan antrian.
Ah, encik Shin,,, mungkinkah seperti itu terulang lagi?
Dhiarra kembali memilih berjalan di belakang Adrian. Kali ini sudah tidak ada apapun yang harus dibawa. Memilih memasukkan seluruh bawaan ke dalam hitungan bagasi pesawat. Hanya tas di bahu berisi dokumen dan benda-benda penting saja yang dia bawa bersama. Kali ini langkahnya sangat mudah dan tanpa hambatan.
Seharusnya....
Seharusnya merasa gembira dan bahagia saat berjalan di belakang Adrian, sang calon suami. Seharusnya merasa mengawang saat berjalan di belakangnya. Seharusnya merasa berdebar melayang saat itu. Atau sedikit merasa panas dingin saat memandang tubuh belakang Adrian.
Tapi semua rasa yang harusnya ada di hati pasangan yang saling menyinta dan sebentar lagi juga saling sukarela menikahi, sama sekali tidak dirasakan olehnya.
Dhiarra telah jelas menyadari hal itu sekarang...
__ADS_1
Beda jauh jika bersama Shin adnan, saat berjalan di belakangnya. Resah berdebar serasa kaki sedang berjalan mengawang. Terkadang merasa panas dingin hingga seperti melayang. Hanya dengan mencuri pandang seluruh belakang Shin Adnan. Punggung,,rambut,,leher dan apapun lainnya..
Ah, encik Shiiiiiìin,,,! Hampir saja bibirnya akan berteriak menyebut nama itu.. Tapi sangat sadar dirinya di mana,,dan siapa yang sedang di depannya itu...
Dia bukan encik Shin, tapi Adrian, bahkan calon suaminya,,! Tapi hati Dhiarra justru gelisah dengan rasa debar yang hambar. Seperti keterpaksaan dan hanya sekedar mengikutinya tanpa sadar. Dhiarra tidak merasa gembira. Juga tidak sedang bahagia..
"Ini kursi kita, Ra,, duduklah. Pejamkan mata saja jika mengantuk,," Adrian lembut menegur Dhiarra.
Mereka telah berada dalam lambung badan pesawat. Hanya dalam hitungan detik lagi, pesawat benar-benar akan memulai penerbangannya. Pramugari peraga alat bantu pengaman dan misi selamat, telah selesai dengan tugas cantiknya beberapa menit yang lalu.
"Ra, kamu lapar,,?" suara Adrian tiba-tiba berbisik di telinganya.
Dhiarra agak terkejut. Memandang Adrian lalu menggeleng. Tidak ada rasa lapar dan nafsu makan sedikitpun yang dirasakannya.
"Kamu tidak lapar? Kita tadi ketemuan sebelum ashar, dan sampai sekarang tidak lapar,,?" Adrian memandangi Dhiarra dengan heran.
Mengamati wajah cantiknya yang sedang menggeleng satu kali tanpa sepatahpun bersuara. Adrian bukan tidak paham dengan perempuan mendung yang sedang bersamanya itu. Tapi hanya berusaha mengacuhkan.
Adrian bersabar dan tetap bergegas membawa gadis itu untuk segera pulang ke Indoneaia. Mengabaikan kecewa dan emosinya. Sadar jika dirinya pun sedang tak sebaik yang gadis itu pahami.
***
Dhiarra melirik Adrian yang menyandar diam di sampingnya. Sedikit kecewa,, teringat lagi dengan lelaki di Melaka. Lelaki yang hampir tidak pernah menanyainya lapar atau tidak. Tapi lelaki itu selalu menyediakan makanan di meja makan meski melalui pekerjanya. Mengharuskannya makan dengan tanpa bantahan.
Ah,,hei sang juara makan... sedang apa dirimu,,,?? Apa kau sudah makan,,? Siapa yang akan duduk di depanmu saat makan bersama?
(Hei Dhiarra,,,yang sedang duduk gundah di bangku pesawat,, engkau pasti tidak menyangkanya,, sang juara makan saat itu sedang berjalan memasuki Zeta Bar... Ingin mencoba jadi seorang peminum,,, Sebab apa,,,? Sebab kepergianmu,,! )
__ADS_1
"Ra,,,kupesankan sesuatu yang bisa kamu makan yaa,,?" Adrian kembali bertanya di samping Dhiarra. Mungkin lelaki itu merasa tidak tenang.
"Iya, mas,, Pesankan,,,. Kalo ada mi cup saja yaa,, Kurang selera dengan sajian di pesawat,," sahut Dhiarra. Tidak ingin Adrian mencemaskan dirinya.
"Jangan mi ya, Ra.. Menu bernasi saja, gimana,,?" lembut Adrian membujuk.
Dhiarra paham dengan maksud Adrian.
"Iyalah, terserah mas Drian saja. Kalo ada,, pilihkan yang pedas atau bersambal,," Dhiarra mengatakan apa yang diinginkan. Berfikir jika rasanya pedas, mungkin akan lebih mudah ditelan.
"Lebih baik hindari makan pedas ya, Ra,,.. Nanti perutmu sakit. Dingin soalnya,Raa,," Adrian kembali menolak request Dhiarra dengan lembut dan pelan. Tidak ingin menyinggung sang kekasih.
Susah payah Dhiarra menelan cepat ludah dalam mulut. Memang begitulah sifat Adrian. Jarang mengiyakan keinginan Dhiarra begitu saja. Dengan tujuan memilihkan yang terbaik baginya.
Dulu...Bahkan telah hampir lebih dua tahun, Dhiarra mengikuti saja, menerima dengan rasa bahagia. Bahkan terkadang justru teruja, merasa Adrian sangat perhatian padanya.
Namun sekarang tidak, sudah sangat paham apa beda perhatian dan paksaan. Semenjak dekat dan sering pergi bersama Shin Adnan. Lelaki yang abai dan acuh namun perhatian.
Jadi sangat paham bagaimana Adrian. Dan sekarang mulai sadar, Dhiarra merasa tidak nyaman di dekatnya.
Kepala kian berat saja terasa. Apapun yang dilihat dan didengar dari Adrian, akan kembali pada perlakuan Shin Adnan padanya. Dan sakitnya,,,, apapun sikap dan perlakuan Shin selama ini, justru terasa baik dan telah nyaman dalam ingatan. Ah, encik Shin,,,!! Gadis Indonesia ini sedang sangat tersiksa!!
πππππ
Pukul 22.30 WIB...
Adrian dan Dhiarra telah sampai di bandara Yogyakarta International Airport. Adrian mengajak singgah di kafe dalam bandara untuk melepas tegang serta beradaptasi sejenak dengan kondisi di luar pesawat.
__ADS_1
Perjalanan hampir tiga jam itu cukup membuat kepala dan telinga Dhiarra seperti terganjal bebatuan dari gunung. Apalagi dengan banyak pikiran yang terus berkecamuk dalam kepalanya.
πππππ