Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
26. Adrian..?


__ADS_3

Ting..Ting..Ting...Ting...Ting..Ting..


Entry ketik email dan password berhasil. Telah terpampamg halaman baru di layar komputer. Dan penampakan itulah pembuat Dhiarra menahan nafas sekali lagi. Gambar baju-baju cantik yang muncul adalah miliknya. Keenam model baju yang telah disetujui oleh Shin waktu lalu.


Beserta keterangan data di setiap model. Telah diproduksi beberapa baju yang siap dilaunchingkan. Tidak banyak memang, hanya beberapa helai saja yang akan ditawar pasarkan oleh perusahaan Shin's Garment. Dahi Dhiarra sedikit berkerut. Menolehkan kepala pada Shin..


"Kenapa hanya beberapa lembar, encik Shin? Apa anda berencana akan menawarkan dengan.....," pertanyaan Dhiarra menggantung, rasa ragu dan segan. Seperti tak percaya saja rasanya..


"Kau sudah paham, Dhiarra..?" mata itu memicing menatap Dhiarra.


"Hanya menduga saja, encik Shin..," berusaha setenang mungkin menjawab.


"Ya, karya kawanmu ini akan kubuat terbatas. Namun akan kulabel dengan harga fantastis," Shin diam sejenak. Kembali bicara dengan terus memperhatikan wajah halus gadis itu.


"Aku ingin bertemu kawanmu itu secepatnya. Mana yang dia suka.. Produksi besar-besaran dengan harga wajar, ataukah seperti ini? Sangat terbatas, namun bernilai sangat tinggi?" mata itu makin lekat menatap.


"Kurasa kawan saya itu ikut saja pada putusanku dan Yuaneta, encik Shin..!" tak sadar, Dhiarra menyahut dengan nada agak keras.


Shin nampak biasa, hanya mengangkat sedikit sepasang alis tebalnya.


"Tidak semudah itu, Dhiarra. Kuakui karya rancang kawanmu itu cukup bagus. Aku tak ingin menggampangkan. Kalian hanya perantara, bagaimana jika ternyata kalian mencuri karya kawanmu. Dan suatu saat kawanmu menudingku sebagai penadah? Perusahaanku akan goncang. Kau paham..,?" nada bicara Shin sangat tegas.


Dhiarra termenung sejenak.Sangat paham dengan yang dibincangkan oleh Shin. Memang seperti itu adalah ancaman dan mudah saja terjadi. Tapi bagaimana ini...? Sang designer kebingungan sendiri.


"Baik, saya paham. Akan saya coba bincang dengan kawanku itu, encik Shin..," seperti tanpa tenaga Dhiarra bicara. Apa yang dikatakan ini mana mungkin jadi nyata.


Sebenarnya Dhiarra paling tidak tahan menyembunyikan sesuatu. Dan kali ini rasanya sungguh simalakama.


"Dhiarra..," sepertinya Shin sudah akan pergi dari ruangan. Lelaki itu telah bergeser ke dekat pintu.


Dhiarra yang sedang simalakama itu memandang bertanya tanpa suara.

__ADS_1


"Pemasaran baju rancangan kawanmu cukup bagus. Lihatlah di kurva pemesanan. Belum dilaunching, tapi sudah terorder habis. Dan untuk order menyusul, harga tentu kubuat lebih tinggi. Jadi aku betul-betul ingin bertemu designer itu,"


"Bukan aku kedekut (pelit), tapi seberapa besar pun hasil pemasaran, akan kuserah langsung pada kawanmu itu, Dhiarra...," suara Shin lirih namun bagai dengungan di telinga gadis itu.


Bibir Dhiarra terus merapat. Memandang Shin yang juga masih diam menatap padanya. Dhiarra sangat paham. Shin bukanlah pebisnis kemarin sore. Lelaki itu tentu saja lebih lihai dari seekor belut sawah.


Ceklek..


Orang yang tiba-tiba membuka pintu adalah Faiz. Lelaki melayu itu tertegun sejenak memandang Shin, lalu Dhiarra.


"Macam mana, Iz..?" Shin berbalik ke arah Faiz.


"Belum ada, tuan. Tapi saudagar muda Indonesia itu akan datang sendiri besok siang, melakukan kunjungan langsung ke syarikat kita, tuan Shin..," penjelasan Faiz untuk sang tuan sangat jelas.


"Berapa orang?" Shin bertanya memandang Faiz


"Dua orang....," Faiz menyahut setengah ragu.


"Usahawan muda Indonesia itu ambil asisten sewa kat Malaysia, tuan Shin..," Faiz kembali menjelaskan.


"Jadi, dia sendiri saja datang ke Malaysia?" ada saja yang ditanyakan Shin.


"Saya kurang paham pasal itu, tuan Shin,," Faiz memandang Dhiarra. Gadis yang nampak diam sedari tadi.


"Siapa nama pengusaha muda itu, Iz.. Betulkah, Adrian..?" Shin menyambung tanya lagi.


Mendengar pertanyaan Shin barusan. Sangat terkejutlah Dhiarra. Nama pengusaha muda dari Indonesia yang akan berkunjung itu, Adrian..? Nanar memandang pada Faiz.. Menunggu jawaban..


"Emm...," Faiz sedang membuka ponselnya. Mulut itu telah bergerak. "Iya betul, tuan Shin. Adrian Dibyo Matarmaja ..,"


Seperti tersambar burung terbang, Dhiarra lebih terkejut lagi sekarang. Nafas yang tadi sempat ditahan, telah tersangkut sangat susah dihembuskan. Dhiarra merasa sangat berdebar penasaran.

__ADS_1


Adrian..Adrian Dibyo Matarmaja, adalah nama kekasihnya. Mungkinkah nama itu juga dimiliki orang lain? Sama-sama pengusaha fashion dari Indonesia dan muda... Tapi rasanya tidak mungkin! Adrian Dibyo Matarmaja yang ini, pastilah kekasihnya! Dhiarra sangat yakin, seperti ada ikatan batin dengan pemilik nama itu..


"Eh, Dhiarra..! Kau nampak banyak merenung? Apa hal..?" sedari tadi Faiz memang terus melirik pada Dhiarra.


"Tak ada lah, bang Faiz. Saya pekerja baru, sedang ikut simak bincang kalian saja..!" gadis itu berkelit. Menutupi isi kepala yang sedang berbelit.


"Dhiarra..!" jelas, suara stereo ini dari Shin.


"Apa, encik Shin..?" Dhiarra berusaha fokus kembali. Shin telah di pintu menghadap ke arahnya.


"Ini hari pertamamu. Khusus hari ini, pulang saja tengah hari. Buat dulu kopi sebelum pulang..," suara itu tidak keras, tapi tetap tegas didengar.


"Siip, encik Shin..!!" Dhiarra berseru sambil loncat berdiri, rasa gembiranya tak bisa ditutupi.


Mulut yang melebar cantik itu terkatup perlahan, merasa sadar bahwa hal itu tidak sopan. Faiz dan Shin sama-sama sedang menaikkan alis melihat respon Dhiarra yang lepas sembarangan. Rasa senang berubah seketika jadi tegang..


Ceklek..


Leganya...Nasib baik Shin tak peduli. Lelaki itu telah menghempas daun pintu. Dhiarra menghembus nafas dan merasa sangat lega.


"Dhiarra.... Seronok sangat pulang cepat, engkau nak pergi mana..?!" Faiz berseru pelan dari mejanya. Dhiarra tersenyum.


"Nak jumpa karib lah, bang Faiz..," Dhiarra duduk lagi di kursi.


"Jangan pulang lambat, pamanmu tak suka..!" Faiz kembali berseru lirih.


"Terimakasih, bang. Aku paham...!" gadis itu mengangguk.


Hening...Dua orang beda genre dan negara itu kembali tenggelam di layar komp masing-masing. Terkesan sungguh-sungguh dan fokus..


Sebetulnya...Nampaknya saja konsentrasi, sedang kepala dan perasaan seperti menjelajahi seluruh isi negeri...

__ADS_1


__ADS_2