Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
72. Tak Peduli Skandal


__ADS_3

Dhiarra memandang abang beradik yang sedang bermufakat atas dirinya. Mulai paham benar dengan makna perkataan Fara yang heran pada kondisi leher yang dihisteriskan gadis itu.


Dhiarra telah berdiri tegak di depan meja rias yang berkaca lebar dan jernih. Kaca cermin yang dilap elus oleh pegawai rumah setiap hari, setiap pagi. Tentu saja menampakkan visual Dhiarra begitu jelas di sana. Mematung dan lupa bernafas sebab terkejut sendiri. Merasa menanggung malu dan aib tiba-tiba di depan Fara.


Shin meninggalkan Fara yang masih mengangguk. Bergeser mendekati Dhiarra dan memandangnya di cermin. Gaun yang dipakai memiliki potongan leher cukup rendah dibanding baju Dhiarra sebelumnya. Gaun cantik berwarna navy gelap yang kontras dengan warna kulit Dhiarra yang cerah berkilat. Gaun dengan kerah melingkar sebatas bawah leher di tulang selangka itu sangat indah sempurna di kenakan Dhiarra.


Namun sangat jelas terlihat beberapa lebam kecil yang masih memerah di sana. Juga ada lagi yang tercetak pada leher bawah di samping. Shin tak ingin menghitung. Dan itu memang jelas hasil karyanya pada gadis itu semalam. Shin merasa lalai dan tidak berfikir jauh akibatnya. Hanya rasa nikmat indahlah yang mengusai kepalanya malam tadi.


Kini Fara terlanjur melihat meski tidak mendesak siapa yang berbuat. Dan Shin tidak berharap muluk juga Fara akan mampu untuk terus menutup mulutnya.


"Ikutlah ke kamarku. Aku ada salep mujarab untuk segera menghilangkan memarmu," Shin berkata pada Dhiarra dengan nada yang terdengar tetap kaku.


Dhiarra cepat mengangguk. Baginya itu lebih baik daripada kembali mendapat desak paksa Fara agar mengaku siapa si pelaku. Rasanya sangat tertekan. Malu dan seperti direndahkan.


Mungkin Fara sedang merasa jijik padanya. Atau paling tidak menganggap dirinya adalah gadis Indonesia yang murahan. Ah, jadi ingat pada sang ibu. Begitukah rasanya? Tidak sadar dan tidak mampu menolak...


Hanya bersyukur, sebab Shin sedang ada di sana. Yang sekali lagi akan menjadi dewa tampan sang penolong. Meski Shin lah penyebab aibnya. Namun Dhiarra sama sekali tidak menyalahkan Shin saat ini.


Dhiarra berjalan cepat mengikuti Shin yang juga berjalan tergesa. Memandang Fara yang sedang berkerut dahi sekilas. Mungkin Fara bertambah heran sekarang. Heran pada sikap dan tindakan sang abang yang terlihat so care pada Dhiarra.


🍒🍒


Shin mendudukkan Dhiarra di depan meja yang bercermin di kamarnya. Mengusapkan salep dengan pelan di lebam pada kulit lehernya satu persatu. Menolak keinginan Dhiarra untuk menyalepkannya sendiri.


Mereka terdiam, tidak ada bahan untuk saling dibicarakan. Shin tidak meminta maaf sebab tidak ingin nampak bersalah di depan Dhiarra. Meski rasanya cukup iba padanya, gadis yang sedang tidak punya siapa-siapa di Melaka.


Memandang wajah jelita di cermin, sangat serba salah rasanya. Antara keinginan untuk terus mempertahankan dan menunggu hingga hati Dhiarra terbuka untuknya. Tapi bisakah, akankah? Sampai kapan?


Dengan keinginan lama sang ayah juga ibunya agar Shin segera berumahtangga lalu mempunya anak dan keturunan. Shin kini mulai sadar dengan umur serta kebutuhan pribadinya sebagai lelaki.


Entah sejak kapan, gadis jelita yang duduk mematung itulah pemicu dan penyebab tuntutan hasratnya muncul kapan saja. Dan susahnya, tuntut rasa panas itu datang tak peduli tempat dan waktu. Seperti juga saat ini. Shin sedang menahan setengah mati hasrat lelakinya yang muncul kembali tiba-tiba.

__ADS_1


Apalagi di moment seperti ini. Meski awalnya murni untuk menyalep kulit memar Dhiarra agar berkurang efek timbul merahnya, kini tuntut hasrat panasnya kembali merasuk tidak sopan. Terus dengan susah payah lagi dienyah tahankan nafsunya.


"Ra, malam ini tidur saja di kamarku. Aku akan tidur di kamar seberang. Jika kau kembali ke kamar Fara, dia pasti tidak akan berhenti mendesakmu." Shin telah menyudahi menyalep leher Dhiarra. Meski tangannya ingin terus memegang tempel di kulit leher Dhiarra yang lembut dan jenjang..


"Ini akan menjadi skandal yang tidak patut, encik Shin!" sahut Dhiarra agak keras.


"Aku akan bertanggung jawab. Akan kukatakan terang-terangan pada semua orang tentang fakta status kita sekarang ini, Dhiarra," Shin kembali mengatakan hal yang serupa.


"Anda jangan coba menjebakku, encik Shin!" Dhiarra agak kecewa. Shin kembali memberi pilihan yang susah diambilnya.


"Kau melihat sendiri Dhiarra. Papaku berharap aku segera berkahwin. Dan aku sudah berkahwin denganmu. Aku tak ingin mengulangi berkahwin lagi dengan perempuan yang berbeda," Shin berharap Dhiarra berubah pikiran kali ini.


"Jangan memaksaku, encik Shin! Aku tidak suka!" Dhiarra berseru menguatkan hatinya.


Shin kembali merasa frustasi. Sangat setia sekali Dhiarra ini..Secinta apa Dhiarra pada calon suaminya? Apa hebatnya Adrian dibanding dirinya? Apa hanya karena umur Shin sudah terlalu tua bagi Dhiarra?


"Apa kau benar-benar akan melepasku? Kau akan jauh dariku dan kehilanganku. Jangan salahkan aku, Ra," Shin terang-terangan mengultimatum Dhiarra.


"Kita tidur bersama malam ini. Hanya tidur bersama saja, Ra. Bukan yang lain," Shin seperti sudah tidak menjadi dirinya. Terlalu bimbang bagaiman harus bersikap pada Dhiarra.


Shin hanya mengikuti inginnya. Menyambar dan memegang tangan lembut padat Dhiarra dengan erat.


"Jangan nekat, encik Shin. Ini sangat memalukan. Ingatlah, calon besan parentsmu,,, calon mertuamu,, dan calon istrimu, semua sedang ada di rumahmu!" Dhiarra seperti merasa panik sendirian. Heran dan agak kecewa pada sikap Shin yang kembali berubah kekanakan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Dhiarra seperti itu, Shin bertambah kalut rasanya. Kesal, sesal, kecewa dan setengah putus asa.


"Aku tak peduli, Ra,,,Dhiarra!" Shin seperti sedang kerasukan.


Menarik kuat tangan Dhiarra dan membawa pemiliknya ke dalam pelukan. Shin kembali melakukannya. Menciumi wajah dan bibir Dhiarra sepenuh hasrat panasnya. Memasang tenaga demi meluluhkan penolakan Dhiarra. Seperti sebelumnya, si gadis yang sudah dalam pelukan akan pasrah lunglai akhirnya.


Tangan Shin tidak mau terus diam mencengkeram. Mendapat peluang dari Dhiarra sekali lagi, tidak ingin menyiakan kesempatan. Menyelusup ke dalam gaun dan menggerayang pelan kulit punggungnya yang lembut.

__ADS_1


Tidak hanya punggung, bahkan tangan Shin begitu erotis menelusur. Turun perlahan ke pinggang,, merambat ke pinggul,,, merambat turun lebih lagi ke bawah, dan di sanalah tujuan elusan tangannya. Pada bongkahan padat dan lembut tubuh Dhiarra yang membelah di tengah.


Gadis dalam pelukan telah mendesah tanpa segan dan enggan. Begitu pun dengan Shin, sesekali menggeram di sela-sela pagutan bibir lidah basah dan panas mereka.


Telah belasan menit mereka melakukannya penuh desah....


Tok...! Tok..! Tok...!Tok..!


Bunyi ketukan di pintu menyadarkan Dhiarra dari kalap nikmat raganya. Tak terlalu disadari, kapan Shin merebahkannya di ranjang. Dan sekarang Dhiarra tengah menelentang dengan Shin telah berada di atasnya...


"Ahh,,sudah,,, sudah,,encik Shin," Dhiarra berkata terengah, mendorong kuat-kuat dada Shin agar menepi dan menyingkir.


Gaunnya masih sempurna terpasang. Hanya telah mulai disingkap oleh tangan Shin di sebatas pangkal paha. Dhiarra buru-buru bangun dan menurunkan kembali bajunya. Shin telah menghempas di samping dan sedang mengatur nafas membaranya.


"Biar kubuka, Dhiarra," Shin menahan langkah Dhiarra yang akan menuju pintu. Lelaki itu memang selalu bisa menguasai dirinya kembali dengan cepat. Tapi mungkin tidak jika mengahadapi hasratnya pada Dhiarra..


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Hari ini mungkin beruntun 4 bab... Yang 2 bab pagi itu adalah setoranku semalam.. Seperti biasa,,otor remahan ini setorannya suka dikekepin lama sama editor...


Mungkin editornya diam-diam suke sama otor..auwwauww... Positif thinking aja kan euy..hi,hi,hi...


Lariiiiiii... Otor takut ditoyor atau bahkan kena tendang sortir editor..


Tapi kan memang kukejar setor benar2 hingga ketikan typo brlepotan.. Eh malah kepending lebih 12 jam.. Gggrrrgh....


Readers terbaik yang jumlahnya tak seberapa tapi sangat-sangat kusayang, aku ingin encik ini cepat2 berakhir dan menyambung novel mangkrakqu 1 lagi itu dan selesai....

__ADS_1


Jujur otor pengen cepet jalan2 ke pasar di kota sebelah... 😂😂😂


__ADS_2