Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
25. First Day


__ADS_3

Setelah menaiki lift, Dhiarra setia mengikuti Faiz yang menyusuri sebuah lorong panjang agak lengang. Ternyata di sebelah kiri, adalah sebuah ruang luas berkaca dan nampak berisi banyak pekerja kantoran. Sedang di kanan, mungkin juga ruangan, namun hanya berjendela beberapa. Semuanya tertutup dan bergorden.


Tiba-tiba Faiz berhenti lalu sedikit menepi. Merapat pada sebuah pintu kayu yang licin dan mengkilat.


Pada bagaian atas pintu, tergantung sebuah mini neon box bertulis Shin's Room. Sudah pasti ruangan itulah tempat Shin menghabiskan urusan kerjanya. Serta di balik pintu itu jugalah kemungkinan Shin sedang ada di dalam sekarang.


Tok..! Tok..!


Ceklek..


Faiz mengetuk pintu hanya dua ketukan dan tidak menunggu jawaban. Lelaki itu masuk dengan santai dan Dhiarra mengikuti.


Seperti ruang penyambut tamu, dengan set sofa, kulkas dan televisi. Sebuah rak berisi buku, majalah, sedikit surat kabar dan banyak kaset disk yang tertumpuk rapi di sana.


"Dhiarra, kau tunggu kejap kat sini..," Faiz tersenyum sekilas. Dhiarra mengangguk.


Mengamati Faiz yang mendekati sebuah pintu dan mengetuk. Kali ini Faiz mengetuk lalu menunggu.


"Ya, Iz..Masuklah..!" Suara dari balik pintu yang terdengar sayup itu sangat khas. Dhiarra yakin milik siapa seruan itu.


Ceklek...


Faiz telah menghilang ke balik pintu... Menunggu, beberapa saat...


Ceklek...


Dhiarra bersiap dengan berdiri sopan dan lurus. Menyambut calon atasan dengan ekspresi wajah terbaiknya, meski dia adalah encik Shin sekalipun. Dhiarra ingin bekerja sungguh-sungguh..


Faizlah lelaki pertama yang nampak. Dan setelahnya, adalah lelaki yang sedang ditunggu. Encik Shin nampak menyembul di belakang punggung Faiz. Dan lelaki itu betul-betul nampak setelah Faiz bergeser menepi dari pintu.


Shin berdiri di pintu menjumpai Dhiarra yang sedang memandangnya. Wajah sangat cantik serta penampilan sempurna itu sedang tersenyum sangat tipis dan manis. Keramahan yang wajar tanpa menyimpan maksud dan jeratan apapun. Itulah yang dicari Shin, gadis yang menarik tanpa sidikit pun tertarik padanya. Shin hanya ingin mendapat kenyamanan serta kemudahan dalam kerja.


Dhiarra merasa serba salah, Shin tidak membalas sedikitpun senyumnya. Berdiri diam di pintu lekat memandang. Menatap dari ujung kepala hingga di ujung kakinya. Mata laser itu terang-terangan mengamati tanpa segan. Dhiarra ingat saat pertama tiba di rumah besar. Shin juga melihatnya dengan cara yang demikian. Dhiarra jadi seperti salah tingkah.


"Hai, encik Shin.. Selamat pagi...Terimakasih, memberi saya kesempatan kerja. Mohon tunjuk ajarmu...," gadis itu kemudian sedikit membungkuk cukup sopan.


"Ya, pagi...," jawaban salam Shin terdengar menggantung.


"Faiz.., tunjuk meja kerja kat dia. Kau bagilah training semacam biasa," pandangan Shin mengarah pada Faiz. Dan berganti ke posisi Dhiarra.


"Dhiarra, ikutlah cakap Faiz. Ada hal tak paham, engkau boleh tanya juga padaku..," sambil bicara, lelaki itu berjalan menuju sofa dan duduk menyandar di sana. Mata itu terus mengawasi Dhiarra dan Faiz.


"Jomlah..Dhiarra..Di sanalah ruangan kita..," lelaki itu bergerak. Mendekati pintu tertutup yang sederet dengan pintu ruangan milik Shin.


Ruangan yang tentu saja sangat bersih dan nyaman. Ternyata ruang itu menyatu dengan milik Shin. Dengan pemisah kaca yang tertutup total dan bening sangat jelas. Ruang ini mempunyai jendela yang langsung membuka ke langit-langit biru di luar. Sedang ruang Shin, berbentuk huruf L dan ada juga jendela yang langsung menghadap ke luar. Tentu saja ruang kerja Shin jauh lebih luas.


"Bang Faiz, apa nih kerjaku..?" merasa bingung. Sebab Dhiarra hanya didiamkan cukup lama setelah Faiz menunjuk meja kerja berserta kursi miliknya.


"Sabar sikit.....Buka saja dulu komputer itu, Dhiarra..!" Faiz menjawab sambil menulis sesuatu di mejanya.


"Dah, bang Faiz. File bertulis For Secretary inikah yang boleh kubaca..?!" Dhiarra berseru dari mejanya.


"Yap, betul...Bacalah hingga habis..!" Faiz juga berseru merasa lega. Dhiarra tak sabaran, tapi cukup cekatan, padahal gadis itu tak ada pengalaman.


Ruangan itu hening... Sekian lama...


Hanya sesekali terdengar gesekan kursor di mouse komputer atau bunyi denting benda jatuh dari keduanya.


"Ssst...Bang Faiz..!" seruan lirih Dhiarra membuat Faiz menoleh.


"Tugasku pagi-pagi membuat teh hangat?" mata bintang penuh tanya itu membuat Faiz menahan nafas sesaat..

__ADS_1


"Iya..Dhiarra..Jangan terlalu panas," Faiz segera membuang pandangan, sebab sekilas nampak jika Shin telah kembali masuk ke ruangannya.


Dengan berdebar semangat, Dhiarra berjalan cepat keluar dan menuju ruang bertulis Kitchen di sebelah tepat ruangan Shin. Gadis itu sempat membaca sekilas sebelum Faiz membawanya masuk ke dalam.


Tiga buah cangkir berisi teh hangat, telah diusung Dhiarra dalam sebuah nampan. Meletakkan dua cangkir di meja sofa dan membawa sisa cangkir kepada Shin. Meniru apa yang dibuat Faiz, mengetuk pintu tiga kali..


"Ehhmm...!!" hanya deheman gahar yang terdengar. Bukan sahutan hangat seperti yang tadi Faiz dapatkan.


Ceklek..


"Saya buat teh hangat untukmu, encik Shin," tangan indah itu meletak teh dengan cekatan di depan Shin dengan tenang. Shin meliriknya.


"Maaf, saya agak belum paham dengan tugasku. Jika anda perlu saya, tolong cakaplah.," gadis itu memandang Shin sekilas. Lelaki itu tetap fokus pada layar laptop di meja.


"Permisi, encik Shin..," sebab tak ada tanggapan, Dhiarra segera berundur setelah berbicara agak tergesa.


"Dhiarra...!" panggilan stereo itu menghentikan langkahnya.


"Iya, encik... Anda nak sesuatu?" Dhiarra cukup siaga menjawab.


Bibir tegas lelaki itu samar tersenyum.


"Dhiarra, apa kau merasa cemas? Bekerjalah dengan tenang. Tidak ada satu kesalahan pun tanpa alasan. Dan aku bukan pemarah," suara stereo ini serasa hangat dan nyaman didengar.


Dhiarra memang sedikit tegang. Dan ucapan Shin barusan memang mampu membuatnya sedikit lega dan lapang. Apapun dan di manapun, jika suasana baru memanglah merunsingkan..


"Terimakasih pengertianmu, encik Shin.," mata bintang itu berkedip memandang Shin.


"Telah kukirim sebuah file ke komputermu. Sebentar lagi kutunjukkan padamu. Keluarlah..," Shin berucap cukup lirih.


"Baik, encik...Permisi..," bergegas gadis itu keluar tanpa melihat lagi pada Shin.


Shin melepas penampilan indah itu hingga lenyap dengan mata lasernya tanpa sadar. Terkesiap..


Shin telah menepi di jendela ruangan. Mata itu menembusi kaca dan menatap sangat jauh ke depan. Sambil sesekali menatap ke samping, ruangan tempat Faiz dan Dhiarra berada.


Ruang sebelah..


Dua cangkir teh telah diletak di meja Faiz dan mejanya sendiri.


"Minumlah, bang Faiz...Kurang gula bagi tambah sendiri..!" senyum Dhiarra melebar sembari duduk lagi di kursi.


"Wah, engkau buatkan aku sekali kee..? Baik sangat..Terimakasih, Dhiarra..!" senyum Faiz juga tak kalah lebarnya. Sambil meraih cangkir teh yang nampak menyegarkan.


"Sedap sangat teh yang engkau buat ini, Dhiarra. Tak pernah lah aku dapat cangkir teh dari sekretaris tuan Shin...!" seruputan bibir Faiz di cangkir berulangkali dilakukan.


"Betul kee,...Tapi teh itu bukan panas kan, bang Faiz..?" gadis itu nampak heran, Faiz menyeruput seperti teh itu sangat panas.


"Sengaja lah aku buat macam ini, agar tak cepat habis, Dhiarra..!" Faiz sengih dan mengacak rambut lurus pendeknya.


Dhiarra tersenyum, mengedik bahu dan kembali fokus pada komputer. Mencari file yang Shin kata telah dikirim barusan.


Faiz terus senyum dan nampak gembira. Tak sadar jika sang tuan sedang berdiri tegak di sebelah.


Hening.. Keduanya telah berlomba adu fokus kembali..


Ceklerrrk..!


Keduanya menoleh, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar. Rupanya orang yang membuka pintu itu adalah tuan Shin. Lelaki itu masuk dan menutup pintu kembali. Menatap langsung pada Faiz.


"Faiz, apa investor asing itu telah menyetor dana?" pertanyaan itu meluncur bersama langkah kaki mendekati meja Faiz.

__ADS_1


"Belum saya cek kat bagian keuwangan, tuan Shin...Anda nak tahu sekarang, kee..?" Faiz menunggu jawaban sang tuan.


"Tanyakan sekarang, Iz..!" Shin memerintah tegas namun bukan keras.


"Siap,tuan Shin..!" lelaki itu berdiri cepat.


Faiz melangkah tergesa menuju pintu. Faiz adalah lelaki baik yang kompeten. Telah bertahun-tahun Shin merasa nyaman memperkerjakan Faiz bersamanya.


Shin memandang Dhiarra sekilas, lalu berbalik ke pintu hendak keluar.


"Encik Shin..! Tunggu..!" gadis yang sedari tadi diam menunggu itu berseru.


Shin berhenti dan membalik badan tegapnya. Memandang Dhiarra dengan dua alis golok hitam lebatnya tanpa ekspresi..


"Ada yang tak kau pahami..?" Shin berjalan mendekat.


"Encik kata telah mengirim file padaku..,tapi sudah kucari.., tetap juga tak jumpa..," ucapan Dhiarra sedikit mengandung nada protes.


"Kenapa tak segera kau cakap padaku, Dhiarra,," Shin juga menyahut dengan nada menyalahkan.


Mereka berpandangan sejenak. Dhiarra mendongak,,,sebab duduk di kursi, Shin menunduk,,, sebab berdiri di samping belakangnya.


Dhiarra menunduk, merasa serba salah. Belum juga merasa tenang. Gadis itu lebih terkejut..


Shin telah membungkuk melengkungnya. Lelaki itu meraih kursor dengan tangan kanan dan menggerakkan perlahan. Sedang tangan kirinya menyangga di atas sandaran kursi Dhiarra..


"Perhatikan baik-baik.. Di mana kusimpan file ini. Ada kata kunci, sebab sedikit rahasia. Jika kau ingin, tukar saja sandi password."


Dhiarra tercekat, suara stereo itu seperti angin lalu.Bagaimana tidak.., tubuh Shin begitu dekat dengan kepala dan wajahnya. Bahu dada Shin sedikit menempel dikepala. Dan wajahnya teramat dekat..., hingga saat bicara pun, hembusan hangat itu menerpa wajah Dhiarra.


Dhiarra benar-benar tidak tenang. Mencuri pandang di leher Shin, jakun itu terlihat jelas naik turun. Hidung Shin yang terlalu mancung, terlihat rambut bulu di lubangnya. Dhiarra seperti tak bebas bernafas, apalagi bergerak.


"Masukkan passwordnya, Dhiarra," gadis itu tersentak.


"Apa, encik Shin..?" Dhiarra benar-benar tidak dengar.


"VELINDA.," bibir Shin kembali menyebut sebuah password, yang tadi tidak terdengar oleh Dhiarra.


Mata Dhiarra cepat lari ke layar komputer, ada entry password yang sedang menunggu. Tangan mulus itu segera menaip..


VELINDA.. Enter... On process... Berputar-putar sebentar... Kembali ke kolom entry email dan password.. Dada Dhiarra berdegup rasa cemas..


"Masuk ulang sekali lagi, Dhiarra...," Shin menyuruh dengan suara yang lirih.


Itulah, yang dicemaskan Dhiarra terjadi...


"Encik Shin, saya lupa emailnya...," suara Dhiarra sedikit goncang karena cemas.


"Apa Dhiarra, bagaimana bisa kau lupa secepat itu..," kali ini suara stereo itu sedikit mengeras.


"Saya tidak fokus.. Tolong sedikit menjauhlah, encik Shin..Maaf..," Dhiarra berkata jujur begitu saja.


Kali ini Shin yang terkejut. Paham maksud gadis itu. Shin tercekat sesaat dan segera tersadar. Menarik diri sedikit menjauh dari kursi. Berdiri tegap, tidak lagi bungkuk melengkung di samping Dhiarra.


Ruangan itu hening sesaat..


"Ulang masuk sekali lagi, Dhiarra..."


"shin'sgarment@gmail.com,"


"VELINDA27,"

__ADS_1


Dengan cepat jemari lentik itu menaip. Tak ingin mengulang kelembaban(bodoh) sekali lagi. Tak ingin membuat Shin merasa kecewa pada pilihannya. Apapun alasan itu...


__ADS_2