
Dhiarra tengah merebah di ranjang empuk hotel CH (Cameron Highland) guna melepas kaku dan tegang di punggung. Apalagi dengan duduk di depan selama di perjalanan. Kian menambah ketegangan di badan.
Pukul berapa ini,,, terasa cukup perih perutnya. Padahal baru makan siang beberapa jam lalu sebelum berangkat. Bagaimana mendapat makanan di tempat seperti ini?
Meski sedang galau lapar seperti itu. Tidak juga bangun dan bangkit berdiri. Hanya bergulung-gulung dan membolak-balikkan tubuh di pembaringan super empuk dan nyaman. Merasa tubuhnya sedang menempel lekat sangat nyaman di sana. Dan tidak rela melepasnya.
Tok... Tok.... Tok.... !
Ketukan di pintu yang pelan terdengar membuatnya berjingkat. Berdiri mendekat ke pintu sambil berfikir siapa di sana. Bersit harap tiba-tiba agar orang di balik pintu itu adalah Shin Adnan.
Kamar yang hangat dan nyaman itu justru membuatnya berdebar dan mengingat sang paman. Sejenak lupa akan niatnya untuk menjauh dari Shin serta menepis kesadaran bahwa dirinya sedang plin plan..!
Ceklerk,,! Seorang lelaki tampan dan bersih khas lelaki Malaysia berdiri tegak dan tersenyum. Dhiarra senyum tipis menanggapi.
Ah, sedikit kecewa rasanya,,, orang itu bukanlah lelaki yang diharapkan. Melainkan petugas hotel laki-laki dan sedang membawa sebuah nampan untuknya.
"Excuse,me.. Nak hantar pesanan dari kamar namber satu tujuh buat anda, nona. Ada notes kat dalam nampan.," pegawai hotel mengulur sembari berbicara.
Pegawai hotel tidak pergi, hanya sedikit menepi dari pintu. Dhiarra paham, segera dibukanya selembar note dari penghuni kamar satu tujuh yang disampaikan oleh pegawai kamar sekaligus kurir pesan.
*Jika terminat nak ikut, turunlah ke lobi lima belas menit lagi. Aku dan Ladisa akan memutari kebun stroberi di Cameron,* By,Shin Adnan
Dhiarra memegang erat lembar note dan memandang pegawai hotel yang berdiri di depannya. Berbalik cepat ke kamar dan mengambil lembaran puluh ringgit dari dalam dompetnya.
"Abang boleh pergi. Tak ada replay untuk pesan dari kamar satu tujuh. Terimakasih," gadis itu mengulur lembar ringgit pada pegawai hotel. Segera menutup rapat pintu kamar setelah pegawai itu mengangguk dan berlalu.
Remasan kertas di tangan dia lempar ke ranjang dengan kasar. Sedikit goresan yang terasa panas di dadanya. Shin memang berminat akan bersenang-senang dengan Ladisa. Hanya demi pantas-pantas sajalah Shin mengajaknya. Itupun hanya lewat pesan kurir...
Eh, bukankah ini terasa unik,,? Kenapa tidak berpesan dengan ponsel saja? Justru ribet menggunakan pesan kurir pegawai hotel... Ah, Dhiarra tidak pernah mendapat pesan dari lelaki dengan cara seperti ini.. Apakah ini sebetulnya sangat romantis?!
Ish,, encik Shin,, sebetulnya engkau ini sedang marah atau tidak?!
Sambil galau menduga, diambilnya nampan dan dipangkunya. Super kilat diteguknya coklat hangat dalam cangkir yang bertutup. Memotong kacil brownis panggang kesukaan, lalu dimakan dan ditelannya dengan laju. Tentu dengan dorongan coklat hangat beberapa teguk dari cangkir. Lambung yang terganjal itu membuat Dhiarra lebih tenang.
Menghempas semua ragu dan menggunakan sisa dari waktu lima belas menit, Dhiarra hanya mencuci muka dan buang air kecil. Memanfaatkan waktu untuk menambal sulam riasannya.
Saat begini memilih prinsip lebih baik tidak mandi namun nampak cerah dan cantik adalah pilihan paling tepat. Daripada mandi tapi kehabisan waktu dan akhirnya tak sempat berdandan. Dhiarra ingin terlihat lebih mempesona dan menarik daripada Ladisa sore ini. Ingin mendapat kembali sedikit perhatian Shin padanya.
__ADS_1
Meski dengan baju yang masih berkerah tinggi di leher dan berwarna biru tosca, namun tetap memukau dan menarik. Berjalan cepat namun anggun, tengah menuju lobi di lantai bawah nomor satu dari lantai kamarnya nomor lima. Besi kotak tertutup tengah mengangkutnya meluncur ke bawah.
Shin dan Ladisa langsung berdiri saat Dhiarra baru saja mencapai lobi. Seolah kedatangan Dhiarra begitu lambat dan sangat membuat mereka menunggu.
Tanpa berkata sapa Shin melangkah meninggalkan lobi diikuti tergesa oleh Ladisa. Namun gadis itu sempat melempar senyum manisnya pada Dhiarra.
Berjalan di belakang sejoli dengan rasa gerah tak menentu akhirnya menipis dan berlalu. Perjalanan dengan berjalan kaki menuju dataran lebih tinggi dan nampak petak-petak kebun stroberi di kanan kiri sangatlah menyenangkan. Angin dingin berhembus menembusi baju dan membelai kulit dan tulang. Rasanya terlalu sejuk menggigit saat sore.
Shin membawa Ladisa dengan Dhiarra yang setia mengikuti, memasuki sebuah petak raksasa dan super luas. Mungkin itu adalah area pertanian stroberi yang khusus dikelola dan dikembangkan sebaik mungkin oleh perusahaan produksi, sekaligus layanan yang dikomersilkan untuk pengunjung dan wisatawan.
Mereka bertiga memasuki rumah hijau stroberi itu dengan membeli tiket masuk di loket yang tersedi sebelum pintu masuk.
Begitu banyak pengunjung lain yang masuk ke dalam rumah hijau stroberi namun tetap terasa lengang saat di dalam. Rumah hijau itu terlalu super luas untuk terus menyisipkan para pengunjung ke dalamnya.
Pengunjung yang tak dibolehkan membawa apapun kecuali dompet kecil dan ponsel, dibebas puaskan untuk memetik stroberi langsung dari tangkai serta memakannya di tempat.
Dhiarra begitu kalap menyusur dan menyusup di antara petak-petak stroberi yang juga bertebar spot selfie. Rumah hijau itu mungkin berhektar-hektar luasnya. Dan Dhiarra tidak sadar jika dia telah terpisah dari Shin dan Ladisa. Bahkan adzan maghrib mulai terdengar sayup dari kejauhan.
Terlalu asyik memilih stroberi yang terlihat akan manis saat dimakan, namun tetap saja masamlah yang didapatnya. Rasanya begitu penasaran untuk menemukan stroberi dengan rasa yang sempurna.
Dhiarra mendapati seorang lelaki gagah dan berkulit putih semu kemerahan berdiri ramah di samping. Sepertinya lelaki itu cukup baik dan sopan.
"Iya, silahkan,," Dhiarra membalas sapa dengan sedikit tersenyum.
"Tak bersama dengan teman?" lalaki itu nampak mengamati sekitaran.
Dan pertanyaan itu baru menyadarkan si gadis bahwa dirinya terpencar. Tak ada Shin ataupu Ladisa di sekitarnya.
"Saya bersama dua teman. Tapi di mana mereka, sir,,?" Dhiarra sedikit tertawa kebingungan. Lelaki itu mengedikkan bahu dan heran.
"Bagaimana jika kita bergabung? Sambil mencari jalan keluar. Sabab saya ingin keluar, tapi lupa di mana jalan keluar,," kini lelaki itulah yang ganti tertawa sebab merasa konyol sendiri.
"Marilah, sir. Saya pun harus keluar segera. Risau jika teman saya mencari," sahut Dhiarra mencoba bertenang.
Merek berjalan bergantian dengan Dhiarra di depan. Lelaki itu memilih mengikuti Dhiarra.
"Siapa namamu?!" lelaki bertanya dari belakang.
__ADS_1
"Dhiarra,,!" sahut Dhiarra cepat. Agak berdebar sebab suasana mulai temaram. Lampu-lampu dalam rumah hijau kurang mencukupi.
"Saya Justin. Kamu dari Indonesia?!" lelaki yang bernama Justin itu kembali berseru.
"Iya,,sir!" jawab Dhiarra.
"Saya ingin menyimpan number phonemu, boleh tidak?!" Justin berseru tanya dan percakapan mereka masih dalam mode english.
"Saya lupa nomor ponselku. Tak bawa ponsel!" sahut Dhiarra dari depan.
"Kamu menginap di mana?" tanya Justin kembali.
"Hotel CH ,!" sahut Dhiarra cepat.
"Dhiarra, kenapa pintu keluar tak juga ketemu? Tak adakah petugas di sekitar sini? Apa kita tidak semakin jauh?!" Justin semakin terheran dengan sistem alur pengunjung di rumah hijau yang mega luas itu.
"Aku pun tak paham, sir Justii,,,aauuuww!!" tiba-tiba Dhiarra berseru heboh sekali.
Bersama tubuhnya yang terjatuh sebab tersangkut tanaman stroberi yang lolos terliar menjulur. Sepertinya terlewati saat pemangkasan. Kaki Dhiarra terkilir dan sakit bukan main.
Seorang petugas lelaki nampak tergopoh mendekat dan paham jika Dhiarra jatuh dan terkilir. Justin segera meminta petugas agar membawa mereka keluar dari rumah pertanian. Petugas itu mengangguk dan meminta maaf cepat-cepat.
"Dhiarra, aku akan menggendongmu jika kamu tak bisa berjalan," Justin berkata sungguh-sungguh.
"Sorry merepotkanmu, Justin sir,," lirih Dhiarra menyahut. Dhiarra tidak ingin bermanja tapi sangat paham dengan kondisi kakinya. Bergerak halus sedikit saja rasanya nyeri tembus jantung dan kepala.
"It's ok, Dhiarra. No problem," jawab Justin tersenyum.
Dhiarra meringis sakit hingga terpejam saat Justin menyentuh dan mengangkat tubuhnya. Justin mengangkat tubuh Dhiarra di depan dan mengikuti arah jalan petugas dengan langkah gesit dan ringan. Badan Justin memang besar. Mungkin kurang lebih sama besar dengan Shin Adnan.
Dengan cepat, petugas itu telah membawa Justin berada di luar rumah hijau hanya dalam hitungan menit, benar-benar tidak rumit. Dan telah menunggu beberapa petugas kesehatan yang sigap menerima Dhiarra untuk dihandle pulihkan secepatnya.
"Dhiarra, apa hal denganmu,,?!" sebuah seru perempuan terdengar cemas dari arah depan.
Ternyata Ladisa, nampak kebingungan bersama Shin di sebelahnya. Wajah Shin sangat tegang dan bingung memandang Dhiarra yang masih dalam dukungan tangan Justin. Dhiarra baru diturunkan Justin saat tim penolong menyambut dengan sebuah tandu sorong emergency.
Dhiarra dibaringkan dengan seorang petugas yang bersiap di kakinya. Seperti bersiap untuk melakukan pertolongan pertama pada kaki Dhiarra yang terkilir. Mengolesi kakinya dengan gel cair yang terasa super dingin. Dan entah bagaimana, Dhiarra sedikit menjerit menegang. Petugas telah sukses membetulkan urat sendi Dhiarra yang tergeser hanya dalam hitungan detik saja...
__ADS_1