Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
62. Pilihan


__ADS_3

Idris, sang sopir datang bersamaan Shin yang baru selesai berbincang serius bersama Asraf, sang ketua sidak JAIS di lobi yang sepi. Hujan masih juga turun meski tidak sederas saat tadi. Namun bunyi air jatuhnya masih jelas terdengar dari lobi.


Asraf adalah sahabat kental abang angkatnya. Asraf sering dibawa Hazrul main ke rumah di Ayer Keroh. Meski Hazrul telah menikah dengan Siti Zubaidah bahkan telah mempunyai anak sekali pun, Asraf tetap datang dan lebih sering bersembang dengan Shin.


🍒


Gadis Indonesia itu telah selesai makan dan menelan sebutir obat. Hanya jenis paracetamol yang diselip dalam tas, pemberian dari Chen hari itu padanya.


Lilitan selimut pembungkus tubuh telah dilepas dan ditanggal. Bukan lalu memakai baju yang dicarikan oleh Idris, sebab Idris telah angkat tangan dan gagal mendapatkan kedai penyedia baju. Akan tetapi, gadis jelita itu menerima tawaran Shin untuk memakai kemeja kerja serta jasnya sekali milik Shin.


Mulanya hanya kemeja yang dipinjamkan Shin pada si gadis. Namun tampilan Dhiarra yang polos di bagian tubuh atas itu tercetak jelas di balik kemeja. Tentu saja Shin tak ingin frustasi sebab yang terjepit di sana kembali merespon dan tegang tiba-tiba di balik sarungnya.


Dhiarra pun sadar diri dan merasa sangat tidak nyaman dengan hanya sepotong kemeja lembut yang melekati tubuh setengah toplesnya. Dirinya paham dan segera menyambar saat Shin yang nampak pias itu menyuruh melapisi dengan jas. Bagi Dhiarra itu lebih baik daripada berlilit selimut yang pasti akan merepotkan sang paman.


Gadis itu telah kembali duduk di ranjang menggelosor kaki dengan santai. Merasa tubuhnya masih gemetar dan pening. Namun tidak lagi meradang kedinginan. Tubuhnya sudah mulai terasa menghangat. Dan perasaannya sudah sangat baik saat ini. Shin telah kembali ke dalam kamar penginapan bersamanya.


Ceklerk...!


Shin yang baru keluar dari kamar mandi membuat Dhiarra segera menyelimuti kaki mulusnya yang terbuka hingga sebatas tengah paha. Shin memperlambat langkah untuk mendekati gadis itu di ranjang. Membiarkannya menata selimut agar merasa nyaman dan tenang.


Mendekati Dhiarra yang telah terlihat nyaman sambil menyeret kursi dan duduk menghadap di samping. Seperti ada hal penting yang akan dibincang sang paman pada keponakan barunya.


Susah payah menutup gugupnya saat Shin menarik kursi dan duduk dekat di samping ranjang menatapnya. Meng-erat kencangkan tautan jas di dada sambil menatap heran pada Shin.


"Dhiarra,,," Shin menyebut namanya cukup lembut.


Dhiarra terus memandang Shin, wajah cool dengan baju koko itu nampak menawan berwibawa.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Bisa kau anggap penting bisa saja tidak penting," Shin mulai berbicara.


"Yang terjadi barusan, orang-orang yang datang kemari tadi, kau paham apa tugasnya kan?" Shin menyorot dengan tatapan hangat teduhnya, si gadis pun mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar lagi mereka akan datang ke sini," Shin menatap lekat Dhiarra yang sedang melebarkan matanya.


"Ap,,appa,,? Apa mereka akan menindak kita juga, encik Shin?!" meski tadi sempat menduga, tapi melihat sikap Shin begitu tenang, Dhiarra pikir mereka terbebas dan lolos. Dan prasangka itulah yang membuat gadis itu sempat merasa santai dan tenang.


"Tenanglah, Dhiarra. Percayalah padaku. Meski mereka menindak kita, tidak akan merubah apapun. Hubungan kita tetap seperti sebelumnya. Sebab tak ada seorang pun yang tahu, bahkan sopirku, Idris pun tak tahu," Shin menatap Dhiarra.


"Ini hanya penjamin agar kita bisa segera keluar dari Terengganu untuk melanjutkan perjalanan," Shin melanjutkan bicara.


"Apa,,,tidak ada hitam,, di atas putih?" Dhiarra tergagap bertanya.


"Anggap saja begitu," Shin tenang menyahut.


"Apa,,kita nikah siri,,?" Dhiarra kembali tergagap bertanya.


"Dhiarra, apa kau ingin kita benar-benar menikah, bukan nikah siri? Sebab mereka berbaik hati memberi kita pilihan," Shin menyahut dengan cepat.


"Encik Shin,,,!" rasanya seperti shock dengan jawaban Shin yang santuy.


"Kenapa anda tak cakap kamar di penginapan tinggal satu? Sedang cuaca tengah hujan deras, apa mereka tetap tak nak maklum?" gadis itu masih susah menerima kenyataan.


Shin terdiam memandang pintu, samar terdengar derap langkah banyak orang menuju kamarnya.


"Dhiarra, merekalah yang akan datang ke sini. Itu sangat mudah bagimu. Seharusnya semua tindakan dilakukan di Mushola samping penginapan. Karena kau sedang sakit, merekalah yang datang menemui kita. Percayalah, ini sangat mudah, Dhiarra," Shin seperti sedang menghipnotis Dhiarra dengan ucapan tenangnya. Padahal Shin pun tengah berdebar kencang di dadanya.


"Tapi saya akan menikah dengan calon suamiku, encik Shin,!" Dhiarra masih kebingungan.


"Tidak ada yang melarang kau akan menikah dengan siapapun, juga dengan siapa saja calon suamimu..Kau percaya padaku?" Shin memandang redup hangat mata Dhiarra.


Tapi Shin cukup lega dan tenang, mata bening sembab itu tidak lagi menangis. Bahkan kini sedang mengangguk dan merapatkan selimutnya ke pinggang.


Tok,,,Tok,,,Tok,,,Tok,,!

__ADS_1


Ketukan pelan dan sopan telah terdengar di pintu. Jauh beda dengan cara mengetuk saat mereka pertama baru datang. Shin kembali bernafas dalam-dalam. Mengingat sebentar lagi dirinya akan mengakhiri masa lajang. Meski tak akan ada yang boleh tahu, dan tidak disangka terjadi secepat ini, namun perasaan Shin cukup berdebar sekarang.


Ceklerk...!


Asraf telah berdiri di depan pintu sambil samar tersenyum. Membawa pasukan penindak sejumlah sembilan orang. Mereka semua adalah pegawai kerajaan dari JAIS di Kuala Terengganu. Mengemban peran sebagai penghulu, wakil wali nikah pihak Dhiarra yang telah professional, pencatat dan sisanya adalah para saksi.


Kebetulan kamar di ujung lorong yang sedang ditempati Shin dan Dhiarra adalah kamar paling luas. Jadi sangat longgar saat dibentang karpet dan seluruh pegawai telah duduk bersila dengan nyaman.


Posisi mereka membelakangi ranjang, di mana calon pengantin perempuan mematung terduduk. Hanya Shin seoranglah yang duduk menghadap tenang ke ranjang.


Sepertinya Asraf tidak ingin membuang waktu, mempersilakan agar acara tindakan itu segera saja dilakukan.


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Agak-agak (kira-kira) satu jam yang lalu...


Shin tengah berbincang hal serius dengan Asraf di lobi yang sepi..


"Shin, kau betul-betul pada pilihanmu itu? Aku dah bagi kesempatan bagus buat tolong engkau. Aku bisa padamkan (hapus) nama engkau dua orang kat buku ini sekarang juga,!" Asraf merasa heran dengan keputusan Shin Adnan.


"Lakukan saja, bang Asraf. Samakan dengan pasangan-pasangan lain yang kau tak nak terima dengan apapun alasan yang mereka cakap kat engkau," Shin terdengar sangat yakin dengan ucapannya.


"Baiklah, Shin. Seperti yang engkau nak. Sejam lagi aku naik bawa pasukan penindak. Ingat Shin, bukan aku yang bagi tindakan kat engkau. Tapi ini pilihan engkau agar kubagi tindakan." Asraf sebentar terdiam.


"Tapi jujur aku rasa suka, kau nak kawin juga,, kau dah nak buang masa bujang engkau. Sayang sangat orang lain tak boleh tahu, Shin. Sayang sangat kau ambil cara macam ni,," Asraf berhenti bercakap pada Shin.


"Bang, tolong janji padaku. Hal ini jangan sampai orang dengar. Sebab, calon istri aku ni dah ada calon suami," Shin nampak agak tegang berkata.


"Ah, aku tak paham apa alasan kau nak kawin sangat nii? Kau suka perempuan lawa kat bilik engkau itu kee?!" Asraf kembali tak habis pikir dengan Shin. Lelaki yang seperti adik lelaki dan sangat dia pahami akan sikap dan sifatnya. Tapi yang di depannya ini, adalah lelaki kekanakan yang seperti bukan Shin Adnan biasanya...

__ADS_1


__ADS_2