
Kamar Shin Adnan nampak lengang. Tak nampak bayang sang pemilik. Ke mana lelaki tampan putra pemilik rumah megah, tapi air dalam rumah bermasalah itu?
Dhiarra akan kembali ke kamar miliknya dan sedang berdiri di pintu.
Klik..klik..klik..
Was-was berdebar hati Dhiarra. Pintu balkon terkunci, gagal ditariknya. Di mana encik Shin, kenapa pintu di kunci?
Gadis itu mundur berbalik, tergesa menuju pintu utama di depan. Sama..., terkunci.
Kembali mundur berbalik dari pintu. Mencoba bertenang, dan tetap berprasangka baik sajalah yang harus dilakukan. Meski hati tetap saja berdebar. Ke mana Shin Adnan...
Sambil mencoba bertenang, Dhiarra berjalan berkeliling mengitari kamar Shin. Kamar luas bercat dinding biru muda. Sangat segar, selain tertempel pengharum ruangan dan berAC, ada juga seikat lily putih di atas meja sofa.
Melabuh mata ke tempat tidur Shin yang besar. Sprei biru tua dan bed cover dengan warna senada nampak jelas berantakan. Mungkin Shin buru-buru turun subuh tadi untuk mengejar berjamaah.
Atau mengejar sebagai imam shalat subuh berjamaah,,, bagus juga encik Shin...
Kembali menyisirkan mata. Kali ini di dinding yang dihias beberapa pigura menempel di sana. Di atas sebuah cermin ukir cukup besar.
Pigura pertama, nampak foto empat orang. Shin, Fara, serta kedua orang tua. Pasti mereka itulah datuk Fazani dan datin Azizah.
Pigura kedua, foto Shin yang dewasa, berwibawa, berkharisma dan tentu saja tampan. Itulah cerminan Shin yang sekarang. Shin Adnan.....Dhiarra tersenyum di tengah gundahnya.
Pigura ketiga, foto Shin terlihat cool dan jauh lebih muda. Penampilan berantakan khas anak muda di zamannya. Umur berapa itu..?Mungkin saat masih kuliah... Ah, meresahkan..
Pigura ke-empat, hampir sama dengan pigura yang ketiga. Penampilan semrawut berantakan. Cool dan innocent. Dengan pengambilan gambar diperdekat. Foto yang tersenyum dan menebar pesona. Duh, menggemaskan... Dhiarra berpaling, tak ingin terbawa resah karenanya.
Ceklek...
Mendengar pintu utama terbuka, Dhiarra cepat berbalik dan mendekat. Mendapati Shin yang berdiri memandangnya sesaat di pintu.
"Sudah? Kau tidak mandi?" Shin mendekati Dhiarra.
Gadis itu mundur, nampak jelas kecemasan.
"Hei, kau takut padaku? Sorry, tadi kukunci semua pintu. Aku tak ingin Azlan masuk langsung ke kamar. Ini, sikat gigi baru untukmu," Shin mengulur sebuah kemasan berisi sikat gigi yang baru. Rupanya Shin pergi keluar mengambil sikat gigi baru untuk Dhiarra.
"Terimakasih, encik Shin. Saya ingin kembali ke kamarku,,," Dhiarra meraihnya, mengangguk pada Shin dan berjalan ke pintu di balkon. Sebab pintu utama di kamarnya masih terkunci.
Dhiarra diam tegak di pintu menunggu Shin yang sedang berjalan mendekat untuk membukanya.
__ADS_1
"Dhiarra, punya siapa baju yang kau pakai?" Shin terus terang mengamati. Paju itu nampak press di badan Dhiarra. Sepertinya itu milik Fara yang sengaja diletak di sana. Sebab Fara lebih kurus sedikit dari Dhiarra.
"Tak tahu, saya jumpa kat almari. Saya pinjam sebab tak bawa baju ganti,," Dhiarra merasa risih dan tak nyaman. Shin terus saja mengamati. Lelaki itu sama sekali tidak segan.
"Dhiarra, kau tidak shalat subuh? Di mushola ada mukena. Kerjakan saja di sana," Shin berkata sambil memutar anak kunci yang baru dipasangkan di lubang.
"Saya sedang tidak shalat, encik Shin." refleks saja gadis itu menjawab.
"Kenapa? Datang bulan?" tak segan juga Shin menanyakan hal pribadi begitu.
Dhiarra tak menyahut. Segera keluar melewati pintu yang tidak lagi terkunci.
"Permisi, encik Shin. Terimakasih," Dhiarra bergegas turun dengan cepat. Menuruni tangga besi lingkar balkon Shin untuk kembali naik di tangga besi lingkar ke kamarnya.
Shin terdiam di balkon, terus memandang langkah Dhiarra yang lincah menaiki anak tangga di balkon sebelah. Dan kemudian gadis itu lenyap ditelan kamarnya.
π
Beberapa menit kemudian..
Shin masih mengenakan sarung dan baju koko yang tadi. Kini tengah berada di gudang stok pakaian segala macam milik orang tuanya. Orang tua belum juga kembali dari negeri Kelantan. Mungkin petang nanti baru pulang kembali.
"Apakah mama akan tahu jika stoknya berkurang?" Shin mengamati pekerja perempuan yang cukup di kenalnya.
"Ini uang gantinya. Cakap saja pada mama, ada yang beli banyak benda itu," Shin berucap sambil mengulur ratusan uang ringgit banyak lembar.
"Beres, tuan muda. Akan saya hantar kat pegawai laundry. Agar cepat boleh di guna," pegawai itu tanggap dan cekatan. Bungkusan besar itu siap dibawanya.
"Terimakasih. Cepat sikit, mak cik Ramlah!" Shin sempat berseru saat pegawai itu berjalan cepat untuk menemui pegawai laundry.
π
Dua jam kemudian...
Tok..tok..tok..tok..tok..!!
Pukul tujuh pagi, Dhiarra yang tidur-tidur ayam dan juga belum mandi nampak terkejut dengan ketukan di pintu.
Bangun dan dibuka pintu kamarnya. Seorang gadis sangat muda berdiri dan tersenyum hormat di depannya. Menyerahkan sebuah koper kecil lalu izin undur diri buru-buru.
Pintu telah kembali ditutup dan dikunci. Sangat penasaran, dibukanya cepat koper mini. Tercengang sekali Dhiarra, dalam koper itu tersusun rapi baju dan keperluan wanita.
__ADS_1
Setumpuk dalaman untuk tubuh bagian atas dan tubuh yang bawah. Empat baju santai.,, dan empat baju sopan bepergian. Meski tidak membuka dan hanya mengintip sekilas, sebab terlalu rapi dilipat dan disusun, rasanya jadi segan untuk merusak tatanannya. Dhiarra merasa sangat malu sekaligus haru dan takjub. Siapa yang memberinya, apakah Shin Adnan? Tapi tidak mungkin orang lain!
Drrt.,,drrt.,,,drrt..
Ponsel Dhiarra mode panggilan senyap bergetar. Cepat disambar dan dibuka.
*Apakah sekoper hadiah untukmu sudah diantar? Segeralah mandi di kamarku. Dan cepatlah turun makan pagi.* Encik Shin
*Bawalah koper itu untuk perjalanan ke Pulau Penang nanti malam,* Encik Shin
ππππ
ππππ
ππππ
Ada penampakan sedikit. Jika bertabrakan dengan visual kesukaan author... Jangan dipandang... πππ
Pigura kedua..Shin saat ini..bujang dewasa dan berumur.
Shin semrawut di zamannya.. Pigura ketiga..
Semrawut juga..cool dan innocent..pigura ke-empat..ππππ
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπππππππππππππππππ π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
π’π’π’π’π’π’π’ππππππππ Dearest readers... Pembaca tersayangku meski jumlahnya tak seberapa..mudah2n ceritaku ini mampu menghiburmu yaaa.... Sedikit membuatmu tersenyum,,,dan itu akan membawa berkah tersendiri untukku..
Tapi juga tolong bantu aku sediiikiiit saja... Agar otor kelas bilis ini bisa naik sedikiiit lagii, agar karya2ku bisa terbaca lebih banyak readers lagiii,,
Terimakasih banget datangmuuu... singgahmu...
Mohon kasih bintang 5 yaaaaa............... Mohon kasih vote yaaaaaaaaaa............ Mohon kasih apapun hadiah yaaaaaa.... Dan paling penting, paling kuharap, paling kutunggu, sangat menyemangatiku adalah komentarmuuuu... Tinggalkan banyak2 tulisan jejakmu di sini yaaaa...
Aku padamu !!!! π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’ππππππππππππππππππ
__ADS_1
πππΊπΊπΊπΌπΌπ·π·ββ