
Shin terbangun tepat saat adzan maghrib di samping luar penginapan berkumandang. Segera sadar di mana dia sekarang. Menoleh ke samping, mendapati si guling penghalang yang tak bergeser sedikit pun letaknya.
Mereka telah berhasil tidur dua jam lebih yang lalu. Tertidur dengan serabut pikiran serta berkabut perasaan. Merebah dengan dipisah guling besar sebagai pelindung dan pembatas bagi Dhiarra.
Rasanya penasaran pada orang yang sedang tenang di seberang.
"Raa,,Dhiarra,," Shin menunggu. Tak ada jawaban dan juga tanpa tanda pergerakan. Shin sangat ingin tahu.
Disentuhnya guling dan diangkat ujungnya ke atas sedikit. Shin terkaget sendiri dengan apa yang dilihat. Wajah cerah yang sangat damai saat terpejam itu sedang tidur terlentang. Hidung, bibir, mata, pipi atau juga alis, semua begitu serasi terlihat.
Dan,,, sesak nafas dadanya. Shin merasa darahnya sedang memanas dan berdesir. Jas coklat yang dipakai Dhiarra tersingkap benar-benar. Terlihat jelas pada pandangan Shin. Bukit kembar yang menjulang sempurna dengan puncak-puncaknya yang juga kembar sama persis bentuknya. Shin memang selalu memilih kemeja dengan bahan tekstur kain yang super lembut dan halus.
Matanya tersihir pada suguhan yang diberikan Dhiarra tak sengaja maghrib ini. Merasa kian frustasi saat guling penghalang diangkat dan disingkir jauh ke bawah. Selimut yang selalu melekat dan menutupi tubuh Dhiarra telah berserak di bawah kakinya. Menampakkan kaki jenjang yang mulus mengkilat meresahkan. Seperti kesambar setan maghrib, mata Shin terus menyisir tubuh Dhiarra.
Kemeja putih yang biasanya hanya setengah paha, kini lebih tertarik lagi ke atas. Hampir menampakkan seluruh permukaan area sensitif Dhiarra. Terlihat sedikit sembulan dengan lapisan pengaman warna hitam. Kontras dengan kulit paha mulus Dhiarra yang putih.
Ah, Shin semakin panas dan frustasi, mengingat jika saja tadi kain pengaman warna hitam itu juga dipaksa dilepas, seperti penutup dada warna hitam yang telah dilepasinya. Ah, entah apa lagilah yang akan dilihat Shin saat ini....
Lelaki yang kian cool saat bangun tidur itu tertegun cukup lama. Sempat merasa apa yang sedang dibuatnya sangat memalukan. Tapi teringat bahwa gadis yang membujur lelap itu sangatlah legal untuknya, Shin kembali memandang sepuasnya.
Sangat ingin menyentuh, tapi Shin hanya memegang erat sarung bergarisnya. Mengendalikan gelombang hasrat yang datang menyerang. Susah payah Shin menahan. Sebab hanya ingin menyentuh apapun bagian milik Dhiarra, jika yang punya membolehkan. Bukan mencuri atau juga memaksa. Shin akan coba bersabar menunggu saat itu.
Ingat pada kebohongan besar yang telah dilakukan, menikahi Dhiarra atas rekayasanya sendiri. Itu sudah cukup membuatnya tahu diri dan mengendalikan dirinya. Shin tidak akan pernah memaksa. Tidak ingin merampas apa yang ingin dijaga Dhiarra. Menghargai apa keinginan serta kebahagiaan Dhiarra.
Namun Shin juga tetap ingin memiliki seutuhnya, tentu dengan kerelaan Dhiarra sendiri. Shin akan mencoba mendapatkan segalanya perlahan. Sebelum Adrian datang mengambilnya. Shin tak ingin menikah kedua kalinya dengan perempuan yang berbeda.
Sebenarnya Shin cukup panik saat kedatangan Jais di kamar. Tak ada keinginan licik untuk menikahi Dhiarra dengan cara seperti itu. Tapi karena kesal saat Dhiarra menangis dan merasa tidak dipercaya. Tiba-tiba pemikiran Shin berubah. Jiwa bar-bar egonya sebagai lelaki, membuat Shin penasaran dan mengabaikan pembebasan yang ditawarkan olef Asraf padanya...
Tak ada kepuasan memandang. Hasratnya kian menuntut untuk berbuat lebih dari sekedar memandang. Kapitan perang yang terjepit di bawah sana telah bebas dan kaku tegak sedari tadi. Shin lebih frustasi lagi kali ini. Bahkan kepalanya jadi terasa sangat pening. Segera disambar lagi guling dan dikembalikan menjadi penghalang. Selimut yang tertindih kaki Dhiarra ingin ditarik perlahan namun diurungkan.
Pikiran konyol kembali melintas. Mematah niat untuk menyelimuti Dhiarra. Shin ingin Dhiarra sadar dan tahu keadaan tidurnya. Ingin Dhiarra berfikir dan tahu bahwa Shin telah melihatnya. Ingin tahu bagaimana ekspresinya, Shin rasa itu menyenangkan. Berharap lambat laun Dhiarra mengharap sentuhannya. Lelaki rupawan itu tersenyum akan pikiran nakalnya sendiri.
Dengan terus menahan tegang dan hasrat, Shin turun ranjang dan memutar. Berhenti tepat di samping Dhiarra. Sedikit membungkuk untuk membangunkannya.
"Raa, Dhiarraaa,,?!" berseru pelan Shin memanggil. Pemilik nama yang masih lelap nampak bergerak kelopak matanya.
"Raa, Dhiarraaa,,?!" kembali diseru dengan nada yang sama. Pemilik nama telah benar-benar terbangun. Sangat terkejut, wajah Shin menjulang tepat di atasnya. Mata bintang itu melebar membelalak. Dhiarra terlihat seperti manekin jelita yang menggairahkan.
Shin semakin berlipat tegang rasanya. Harus segera masuk ke dalam kamar mandi sekarang.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita pulang. Kau bisa menjaga gulingmu tetap menghalang di sana. Tapi di mana selimutmu?" Shin bertanya tergesa. Hanya ingin memberi efek kejut pada Dhiarra. Setelahnya berjalan tergesa mencapai kamar mandi.
Tidak langsung merespon, alis indah itu bertaut kerut sesaat. Mencerna perkataan Shin barusan. Bersamaan gerak tangan meraba permukaan tubuhnya sendiri. Sangat terkejut, menyadari keadaan tubuhnya yang terbuka vulgar sekali lagi di hadapan Shin. Dari meraba permukaan dada, turun cepat meraba area paha dan sensitifnya. Ah, kenapa memalukan begini?!
Sempat berprasangka buruk bahwa itu perbuatan Shin Adnan. Tapi tertepis oleh selimut yang sebagian telah berada di bawah betisnya. Itu murni dari gerakannya sendiri! Ah, Shin,,,, rasanya sungguh malu denganmu!
🍒🍒
__ADS_1
🍒🍒
Shin baru datang ke kamar sehabis turun dari Mushola, sambil membawa makanan yang telah dibelikan Idris dari luar.
Dhiarra nampak segar dengan rambut diikat jadi satu di belakang. Wajahnya telah kembali cerah dengan polesan make up dan lipstik yang tipis. Duduk tegak di kursi dengan memangku selimut yang telah dilipatnya dengan rapi.
"Pakai saja bawahannya sementara, sambil kita mencari kedai baju," Shin mengulur lipatan kain warna putih padanya.
Itu adalah sepasang mukena terbaik dari mushola yang diambil Shin demi digunakan Dhiarra. Mengganti berlipat-lipat dengan memasukkan uang ganti di kotak sedekah mushola. Shin bisa menafsir harga mukena itu dari bahan dan model jahitannya.
🍒🍒🍒
Mereka telah bergerak meninggalkan penginapan yang penuh dengan masalah sekaligus berjuta kenangan di sana. Meski merasa lega, cukup menyesak juga bagi Dhiarra. Entah kenapa dengan perasaannya. Seperti enggan untuk keluar dan pergi dari penginapan..
Penginapan yang hanya ditempati tidak sampai sehari namun serasa bartahun lamanya. Penginapan yang menghamparkan pada pilihan surga dan neraka di awal kedatangan. Yang sekaligus telah mengubah status mereka berdua hanya dengan sekelip mata memandang. Ah,rasanya...
Dhiarra menoleh sedikit, memandang Shin di sebelah dengan bermacam perasaan. Tak ada lagi Idris di antara mereka. Idris bertugas membawa mobil om Hafiz sendirian.
Kini mereka sedang menaiki mobil milik Dhiarra, mahar pemberian dari Shin. Sekaligus Shin sendirilah yang sedang membawanya saat ini. Usulan Idris agar menyewa seseorang untuk membawa mobil om Hafiz ditolak oleh Shin.
Tiba-tiba Shin juga menoleh, menangkap mata Dhiarra yang sedang memandanginya. Alis golok itu terangkat ke atas sebelah. Lurus lagi memandang ke depan. Dhiarra telah membuang mukanya juga ke jalanan di depan.
"Apa kau mengantuk, Ra,,?" Shin bertanya pelan.
"Tidak, saya sudah cukup istirihat," jawab Dhiarra sambil menoleh pada Shin.
Dhiarra memandang lelaki itu sekali lagi.
"Saya tidak pernah memintanya. Ini juga bukan milikku. Anda pun juga bebas dariku, encik Shin," Dhiarra menegaskan lagi pada Shin.
Lelaki yang kadang fokus kadang menoleh itu nampak tegang dan wajahnya mengeras.
"Apa yang sudah aku ucap, tidak mungkin kujilat lagi. Dan apa yang sudah aku beri, tidak akan juga kuambil lagi. Terserah bagaimana tanggapanmu. Terserah, Ra, Dhiarraa,," jawaban Shin terdengar santai, meski wajahnya terbaca jelas bahwa dia sedang serius.
Agak tersentuh juga dengan ucapan Shin itu. Mamandangi wajah yang kini terlihat dari samping. Shin Adnan,,, sangat tak diragukan bahwa dia adalah pria tampan meresahkan. Tapi kenapa lelaki itu nampak tidak pernah berpasangan? Maksudnya pergi keluar dengan wanita pasangannya...
Sazlina,,,mereka hanya sesekali nampak mesra, bahkan hanya Sazlina yang keseringan memepet Shin. Dan tak pernah terlihat jika mereka pernah pergi berdua. Shin Adnan tidak pernah pergi berkencan..
"Encik Shin,," panggil pelan Dhiarra pada orang di samping.
"Hemmm,," Shin hanya menggemakan bibir dan mulutnya.
"Maknanya, jika mobil itu tetap punyaku dan sopirnya juga milikku, apa akan berlaku dalam dua puluh empat jam?" sepertinya Dhiarra sedang berubah pikiran.
"Apa kau tidak keberatan, jika kita juga harus berdekatan dalam dua puluh empat jam?" Shin merasa mendapat peluang yang paling ditunggu.
Ish,,,nyali Dhiarra menciut, tapi berusaha ditutupinya.
__ADS_1
"Apa encik Shin tidak merasa risih, dua puluh empat jam bersama?" Dhiarra merasa kembali santai bersama Shin.
"Apa kau lupa kita ini pengantin baru?" begitu santai Shin berusaha menjebak Dhiarra.
"Pernikahan tadi hanya formalitas dan tidak bermakna, encik Shin,," Dhiarra berkelit, meski dadanya mulai laju berdebar.
"Baiklah, bagaiman jika besok aku pergi ke kantor pusat Jais? Kudaftar resmikan perkawinan ini?" Shin agak ketus menjawab. Meski sebenarnya ragu, bagaimana status pernikahan mereka di mata negara. Shin tidak menanyakan hal itu pada Asraf.
Terkaget Dhiarra, itu bisa saja terjadi. Shin orang kuat, dia bisa melakukan apapun jika mau.
"Encik Shin, kenapa anda terkesan tidak keberatan dengan perkawinan memalukan ini?" tiba-tiba Dhiarra bertanya hal yang susah untuk Shin jawab segera.
Lelaki itu terdiam, tidak lagi menyahut cepat seperti sebelumnya. Matanya hanya lurus menatap jalanan. Dhiarra pun terdiam, hilang selera untuk kembali bertanya.
Tiba-tiba Shin berbelok. Rupanya lelaki itu berhenti pada sebuah kedai baju yang terlihat cukup ramai. Dhiarra cukup terkejut, merasa diri justru lupa akan kebutuhannya. Tapi ternyata Shin terus memikirkannya.
"Belilah baju, jangan lama-lama, Raa,," Shin berpesan.
Dengan agak termangu, gadis itu bergerak membuka pintu dan akan menurunkan kakinya.
"Eh, Dhiarra! Diamlah kat sini! Aku saja yang pergi. Orang tengok kau boleh jadi macam nampak ayam kampus!" Shin berseru tiba-tiba. Lelaki itu meraih dompet dari ranselnya.
Meski kesal dengan ucapan Shin, tapi Dhiarra menahannya. Memang benar ucapan lelaki itu. Penampilan Dhiarra terlihat cukup aneh.
Duduk diam dengan terus mengamati Shin yang tengah berjalan menuju kedai baju. Mengusir rasa malu mengingat apa saja yang akan Shin belikan untuknya. Tapi ini bukan yang pertama, Shin pernah melakukan hal yang sama juga sebelumnya. Hadiah sekoper baju yang kini tertinggal di Penang.
Ah, encik Shin,,, apa nanti kau juga akan bertanya, bahwa Adrian sudah pernah melakukan hal itu ataukah belum? Dhiarra tersenyum, teringat pada kebiasaan Shin yang tidak lupa bertanya seperti itu.....
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Harap sumbang dukung ikhlas rela darimu...
Tinggalkan jejak komen yaaa..
Vote di sini yaaa..
Kasih nilai bintang 5 yaaa...
Ulur hadiahmu...
Klik like mu...
__ADS_1
Terimakasih datangmmuuu...