
"Di mana ibuku? Kenapa lama sekali? Apa dia tak ingin bertemu denganku?" Dhiarra sudah tidak sabar. Ini adalah pertanyaan keduanya yang sedikit lebih panjang dari yang pertama.
Nada dingin pada suara Dhiarra telah bercampur dengan getaran. Sepertinya diam-diam gadis Indonesia itu sedang menahan sesak tangisannya.
Hampir setengah jam lama menunggu sejak kedatangan di rumah mungil dan nyaman ini, orang yang menjadi tujuan satu-satunya Dhiarra datang mencari, tidak juga keluar menemui.
Bayangan akan bertemu dan mendapat pelukan hangat penuh rindu dari sang ibu, tapi hanya rasa kecewa yang dijumpa. Merasa tidak diharap serta diabaikan kedatangannya membuat perasaan Dhiarra cukup terluka dan sedih. Dhiarra merasa seorang diri di negara asing ini.
Pertahanan Dhiarra telah pecah. Shin mendapati mata Dhiarra yang mulai berkaca-kaca. Dan pasti sebentar lagi kaca-kaca itu mencair dan jatuh deras bergulir. Berfikir seperti itu, Shin merasa tidak nyaman bernafas.
"Bang, mana ibunya? Istri barumu itu? Aku pun nak kenal. Panggil keluar sekarang, bang," Shin mencoba mendesak Hazrul untuk segera membawa istri abangngnya itu keluar.
Hazrul memandang Shin sesaat lalu berdiri terhenyak.
"Harap tunggulah kat sini. Maaf, Dhiarra. Tunggu sebentar, kumohon bersabarlah," Hazrul memandang Dhiarra penuh maksud.
Pria tinggi besar itu melangkah melewati ruang tamu dan hilang di ruangan berikutnya. Terdengar ketukan di pintu, lalu pintu terbuka beberapa saat kemudian. Dan terdengar pintu ditutup kembali.
Tiba-tiba Dhiarra berdiri dan berjalan perlahan ke arah ruangan di mana Hazrul baru saja menghilang. Sepertinya sudah tidak sabar dan tidak tenang.
"Dhiarra, tunggu saja kat sini,!" Shin yang juga telah ikut berdiri menyeru Dhiarra.
Gadis yang diseru berhenti dan berbalik. Memandang pada Shin.
"Apakah saya ini hanya tamu, encik Shin? Telah hampir dua puluh empat tahun selama hidupku ini, tak pernah sekali pun saya terpisah dengan ibuku. Kami tak pernah berjauhan. Tapi tiba-tiba ibuku memilih pergi dengan seorang lelaki asing dan meninggalkan aku sendiri. Setelah itu sama sekali tanpa kabar. Sudah hampir sembilan bulan abangmu membawa ibuku. Bayangkan bagaimana perasaanku, encik Shin,,?" air mata Dhiarra benar-benar sudah jatuh.
Air mata dipipi merona itu cepat-cepat dihapus dengan punggung tangan. Badannya berbalik dan melangkah lagi menuju ruangan di dalam. Shin bergegas melangkah menyusul Dhiarra.
Ceklerk..!
Shin berdiri di samping Dhiarra yang telah juga menghentikan langkahnya. Sama-sama memandang pintu kamar di depan yang membuka. Menunggu orang yang sedang berjalan menuju keluar itu terlihat seluruhnya.
Hazrul telah nampak keluar, tangannya menggandeng sekaligus menarik telapak tangan seseorang. Hati Dhiarra berdebar dengan lekat memandang. Tangan yang sedang Hazrul genggam adalah milik ibunya. Ada apa, apa ibunya sedang sakit? Dhiarra benar-benar berdebar dan sedang menahan nafasnya.
Sosok ayu dan anggun yang sangat dirindu telah berdiri ragu di depan pintu. Seperti mimpi, Dhiarra telah bertemu dan berhadapan langsung dengan sang ibu.
"Dhiarra,,,anak mama,," itulah kalimat yang terluncur dari wanita ayu yang sedang dalam genggaman tangan Hazrul.
Bersamaan dengan Dhiarra, sosok ayu itu juga melangkah mendekati Dhiarra dengan laju. Hazrul telah melepas genggamannya.
Dhiarra mengulas sekilas keadaan sang ibu yang semakin ayu dan anggun serta nampak lebih segar dan tembam. Tak ragu Dhiarra mendekat memburu. Ditubruk peluknya sang ibu penuh rindu.
Tapi....
Dhiarra terkejut, mereka gagal berpelukan. Hatinya segera sadar apa yang sedang terjadi pada tubuh sang ibu. Saat dipandang, sang ibu dengan gamis besar serta berkerudung panjang terlihat biasa saja. Namun langsung terasa segalanya begitu mereka bersentuhan.
Refleks Dhiarra merenggang dan menjauh. Perasaan asing, hampa, kecewa dan tak menyangka, bercampur aduk di dadanya.
__ADS_1
"Mama,,?" pemilik bibir yang menyebut mama itu seolah sedang mencari kebenaran.
Wanita yang telah menjadi istri sah Hazrul Rahman memandang sayu pada Dhiarra dan perlahan mengangguk. Mata sayu redup yang memang sudah sembab itu kini banjir air mata berlinang lagi tak ditahan.
"Maafkan mama,,,, nak.... Maafkan,,,, mama ,,,," wanita itu menangis tersedu-sedu.
Dhiarra berdiri kaku menatap tegang pada sang ibu.
"Kita duduk saja dulu di sofa, Dhiarra," Hazrul berkata pada Dhiarra sambil merangkul bahu sang istri dan membawanya ke depan.
Dhiarra termangu mengikuti dengan perasaan tak menentu. Hazrul dan Ira, ibunya Dhiarra telah duduk bersebelahan bersama. Dhiarra kembali duduk bersama Azlan yang hanya diam mengamati sebab merasa dirinya sudah paham. Shin duduk sendiri di sebelah.
Ibunya tiba- tiba berdiri berjalan mendekati Dhiarra.
"Azlan, akak nak duduk dengan anak akak. Tolong, Azlan menepi kejap," Azlan segera paham dan berdiri. Berpindah duduk di samping Shin Adnan.
"Dhiarra," ibunya yang sudah duduk dekat dengannya, memanggil dan memegang pundak Dhiarra.
Bibir yang semakin merona sebab tangisan itu tetap saja merapat. Kini telah tertunduk memandang tangannya di pangkuan.
"Maafkan mama. Mama tidak bermaksud meninggalkan dan melupakanmu lalu memilih suami baru mama. Tapi mama sangat merasa bersalah denganmu. Mama bingung waktu itu, mama benar-benar serba salah,"
Ibu Dhiarra kembali menangis, menjatuhkan kepala berkerudungnya di pundak Dhiarra. Dan menangis terguncang di sana.
Sekecewa apapun, tentu saja lama-lama Dhiarra tidak tahan, hatinya iba dan tersentuh. Punggung Dhiarra berbalik dan langsung memeluk bahu ibunya.
"Iya, Ra...Kamu akan menjadi seorang kakak sebentar lagi. Saat ayah sambungmu mendapat kasus itu, mama sedang hamil. Sebenarnya mama juga sangat berat ninggalin kamu sendirian di Indonesia. Tapi mama juga bingung dengan masa depan kandungan mama. Dan mama terpaksa menjual harta kita demi bisa ikut dengan ayah sambungmu ke mana saja. Maafkan mama,," tangan wanita ayu itu sambil terulur mengelus rambut putrinya. Air mata terus saja mengalir.
"Tapi mama tega,, tak pernah menghubungiku. Juga tak mau kuhubungi, kenapa,, mama tega,,!" Dhiarra kembali mengalirkan air mata seperti halnya sang ibu.
"Mama nggak kuat..Nggak kuat dengar suaramu,, Mama takut lemah. Sedang mama pernah janji dulu denganmu, kamulah anak satu-satunya mama selamanya. Mama tak mungkin mempunyai anak lainnya, sebab mama memang tak berfikir untuk menikah lagi. Tapi ternyata mama melanggar ucapan mama padamu..Dan mama tidak menyangka, ternyata mama masih bisa hamil....Maafkan mamamu, nak,," sang ibu kembali menangis.
Dhiarra juga semakin tak bisa membendung air mata yang mengalir ke luar. Kembali memeluk sang ibu yang sangat dirindu erat-erat, seperti tak pernah ingin saling terpisahkan sekali lagi. Mereka saling berpelukan rapat dan sesekali saling berciuman di pipi.
Shin terus mengawasi dengan picingan matanya. Nampak bernafas dengan nyaman sambil sesekali menatap sang abang yang tengah sibuk menyeka mata sesekali.
Azlan yang semula juga ikut tegang, kini melemas dan menyandar lapang di sofa.
"Dhiarra, apa kamu tidak ingin tinggal di sini? Bagaimana kalo menetap saja di Penang? Kita tinggal bersama lagi seperti dulu?" suara lembut ibunya bertanya dengan sangat hati-hati.
Dhiarra terdiam, matanya berlari pada Shin Adnan. Lelaki itu terdiam, merapatkan bibirnya kuat-kuat. Matanya redup menatap Dhiarra.
"Akan kupikirkan, ma. Sebenarnya ingin tinggal bersama dan dekat denganmu," gadis itu terdiam sebentar.
"Tapi, ma. Adrian sudah melamarku. Sebentar lagi dia akan menikahiku. Jadi setelah kami menikah, mungkin aku akan dibawa Adrian pulang ke Indonesia. Apa mama keberatan?" Dhiarra menatap sang ibu dengan sayu.
"Ternyata kalian masih bersama,,?" alis melengkung itu bertaut kerut di dahi menyimak wajah jelita putrinya.
__ADS_1
"Iya, ma. Adrian sering ada urusan bisnis di Malaysia," ucap Dhiarra sambil mengangguk.
"Ibu pikir Adrian tidak serius,,, Mengingat dia itu berdarah keraton,,," sang ibu berkata seperti mengeluh.
"Kenapa, ma? Apa sebetulnya aku tidak pantas untuk Adrian,,?" Dhiarra bertanya lembut pada ibunya. Seperti sedang meminta pertimbangan.
"Tidak, Ra. Jangan bertanya seperti itu. Kamu,, anak mama yang cantik, baik dan pintar. Lelaki yang menikahimu itulah yang beruntung. Hanya saja, kamu harus belajar lebih kuat lagi jika menikah dengan Adrian. Kamu harus siap lahir batin jika dibawa Adrian masuk di keluarga besarnya. Harus kuat,," Ira Larasati terus mengelus rambut dan kepala anak gadisnya.
Dhiarra terdiam tak menjawab, tanpa sengaja memandang Shin yang tengah tajam menatap padanya. Dhiarra cepat mengalihkan pandangan dari Shin. Terlalu lama dipandang Shin seperti itu, rasanya sangat tidak nyaman.
Dhiarra memilih untuk mengulur badan dan tangan pada ibunya untuk berpelukan sekali lagi. Tapi kembali rasa tak nyaman dirasakan. Ada ganjalan besar diantara mereka yang terasa memisahkan keduanya.
Ya, perut ibunya memang sudah besar dan hampir cukup bulan. Mungkin sebentar lagi melahirkan. Dhiarra merenggangkan diri dan menunduk. Sedikit rasa kecewa masih ada dan menggelayut hatinya.
Ibunya kembali memegangi bahu Dhiarra.
"Dhiarra, sepertinya anak mama semakin bersih dan cantik. Apa kamu betah tinggal di rumah om Syafiq,?" tiba-tiba sang ibu membahas topik lain.
Dhiarra berusaha menyamarkan rasa terkejut atas tanya sang ibu. Kembali melabuh pandang pada Shin sekilas. Lelaki itu sedang menaikkan alis memandangnya.
"Aku tidak hanya tinggal di sana, ma. Tapi om Syafiq juga memberiku pekerjaan. Om Syafiq membayarku cukup tinggi. Jadi aku bebas bersenang-senang dengan salaryku," ibu Dhiarra mengangguk merasa gembira dengan penjelasan putrinya. Lalu memandang pada Shin.
"Adik abang, Syafiq, terimakasih sudah berbesar hati serta bermurah hati pada putriku, Dhiarra. Semoga rezekimu semakin melimpah, yaa..," ibu Dhiarra berkata lembut dan sungguh-sungguh pada Shin.
Shin terdiam tanpa jawab dan anggukan. Tapi duduk tegak dan samar tersenyum.
"Aku merasa wajib melakukan hal itu kak. Justru aku dan keluargakulah yang seharusnya minta maaf dan berterimakasih pada kalian. Sebab perbuatan bang Hazrul yang sesat itu, kalian,,, ibu dan anak jadi terpisah," Shin menyahut sambil melirik pada Hazrul.
Hazrul yang merasa tersindir membungkam sesaat. Lalu memandang Dhiarra penuh sesal.
"Dhiarra, aku minta maaf. Tidak bermaksud merampok uangmu dan tidak bermaksud membohongimu. Akan kuganti semuanya, Dhiarra. Tapi aku benar-benar masih belum mampu saat ini. Sekali lagi, mohon maafkanlah," lekat-lekat Hazrul menatap Dhiarra. Berharap maaf dan ampun dari putri sambungnya.
Dhiarra kemudian menunduk, lalu mengangkat wajah lagi dan mengangguk sekali pada Hazrul.
"Terimakasih, Dhiarra. Aku pasti melunasinya," sambut Hazrul sungguh-sungguh.
Dhiarra tidak lagi menyahut, wajahnya ditekuk menunduk. Semua ikut terdiam. Dengan pandangan hanya pada pada satu arah. Pada Dhiarra dan ibunya.
Begitu juga dengan Shin. Boss garment Ayer Keroh super tampan itu tak melepas pandangan sebentarpun dari Dhiarra.
"Ehm,,! Bang, Kak, aku nak balik tempat aku! Dhiarra, jika dah hilang penat, singgahlah tempatku!" Azlan yang mungkin dah mulai mengantuk lagi, berpamitan pada Shin, Hazrul serta istri, dan juga pada Dhiarra.
"Tempatmu kat mana, Azlan?" Dhiarra berminat untuk mengunjungi tempat Azlan.
"Pergilah sama ayah engkau. Bang Hazrul kerja kat sana. Atau sama bang Shin pun boleh, nanti aku send balik driver die,,!" jelas Azlan.
Dhiarra memandang Shin yang nampak mengangguk menyanggupi. Berpandangan sesaat dengan saling memberi senyum yang samar.
__ADS_1
Azlan berlalu setelah berpamit salam sekali lagi. Pergi dengan membawa mobil miliknya namun dengan drivernya Shin Adnan. Driver itu akan kembali dengan membawa mobil lain milik ayah Azlan yang akan dibawakan Shin pulang kembali ke Ayer Keroh besok pagi..