
Obrolan dalam meja makan super panjang dan lebar itu belum juga berakhir. Saling melempar canda, jenaka dan kelakar. Tentu saja tidak semua akan mampu melempar candaan. Memilih saja jadi tokoh penyimak dan penyumbang tawa serta senyuman.
Dan salah satunya tentu saja Dhiarra. Merasa tidak nyambung, poor bahan, serta tidak match pada logat bahasanya yang jauh berbeda. Para tetua juga muda mudi di meja makan begitu kental logat melayunya saat berbincang. Dinner besar itu sangat terasa bernuansa dan beraura budaya Malaysia. Dhiarra merasa hanya pantas menjadi penyimak saja untuk mereka. Khawatir hanya akan memalukan diri jika ikut menyumbang ataupun menyahut obrolan.
"Sekretarisnya Shin, Dhiarra,,? Bila ni nak kawin? Jangan lupa kena undang kitaa,,," ini adalah pertanyaan tiba-tiba dari datin Fatinah, istri dari datuk Fauzan. Telah tahu perihal Dhiarra dari cerita datin Azizah, ibunya Shin.
Yang ditanya sedikit terkejut. Tidak disangka-sangka akan dapat lemparan tanya dari calon besan datin Azizah. Gadis Indonesia melempar senyum sambil menyusun jawaban kemudian.
"Dalam waktu dekat inilah, datin Fatinah. Insya Allah semua akan saya beri kabar. Datin Fatinah bisa datang ke Indonesia kah?" kali ini jawaban Dhiarra murni dengan bahasa negaranya.
Risau justru akan terdengar aneh jika ucapannya ada yang tak betul saat mencampur dengan bahasa mereka. Tidak ingin diam-diam dicemooh dalam hati.
"Eh, Indonesia kat mana tuh calon suami Dhiarra?" kali ini datuk Fazani, ayahnya Shin yang bertanya.
"Kota Yogyakarta, datuk,,, sama kota juga dengan saya," sahut Dhiarra dengan cepat dan merasa bersemangat. Merasa dianggap dan diperhatikan. Bagaimanapun Dhiarra merasa dirinya juga bagian dari tamu.
"Wah, best lah tuu,, Kat sana banyak tempat-tempat cantik yang konon wajib kena kunjung sekali sebelum mati,,," ini adalah sahutan konyol Hisyam tiba-tiba.
"Cantik sangat mulut kau tuh cakap, Syam,, Kawin dulu lah engkau tuh sebelum matiii,," kali ini Fara menyahut Hisyam lebih cepat.
"Dah lah tuu. Kita tengah bahas pasal Dhiarra laah. Asal pulak kau cakap pasal aku nii, Fara,?" Hisyam bertanya seolah tak bersalah.
"Sape pulak yang mula,,?!" Fara sengaja kembali mengumpan.
"Ehhmm!! Dah,,dah,,dah,,bertenang. Syam, Fara,,, elok-eloklah kalian lanjut makan tuu,," datuk Fazani menengahi keduanya.
Memang begitulah Fara dan Hisyam. Suka berdebat gaduh tak berujung. Seperti Tom dan Jerry. Hubungan antara keponakan dan tante seperti telah terlupakan. Sebab tante lebih muda dari keponakan laki-laki. Datuk dan datin telah lelah menegur keduanya.
"Yogyakarta letak candi Borobudur yang megah itu kee? Eh, betul tak,,,?" kali ini si cantik Ladisa yang tengah memandang senyum pada Dhiarra. Yang dipandang juga membalas tersenyum.
"Bukan, kak. Yogyakarta adalah kota cantik dan asyik. Sedang candi Borobudur ada di kota Magelang. Dua kota tuh kira-kira satu hingga dua jam saja waktu tempuhnya," Dhiarra bersemangat menjawab.
Meski yang bertanya kali ini bisa juga jadi rivalnya diam-diam,,,tapi tetap dengan ramah dan lembut dijawabnya. Uh,, Dhiarra menghirup nafas tegangnya dalam-dalam, diam-diam.
__ADS_1
"Nah, Shin, masa Dhiarra kawin kat Indonesia nanti, kau pulak yang kena datang jenguk. Aku dengan mamamu ni macam dah tak ralat (sanggup) pergi jauh sangat. Bawalah Ladisa sekali. Nampaknya Disa teringin sangat nak melawat(mengunjungi) Borobudur tuuu..." Datuk Fazani kembali aktif mengarahkan anak lelaki kesayangan.
"Atau masa tengok babynya Hazrul kat Penang nanti, bawa juga Ladisa. Kat sana pun lawa juga. Kalian pergilah kat Langkawi, dekat sangat pun," sahut datin Azizah.
Shin dan Ladisa bersamaan saling pandang. Keduanya sama-sama saling melempar senyuman. Dan tentu saja si gadis Indonesia melihat pemandangan manis itu. Manis untuk yang lainnya, bukan bagi Dhiarra..
"Pergi Langkawi kena kawin dulu... Rugi sangat pergi sana belum kawin. Dosa pulak nanti uncle Shin tak boleh tahan,," Hisyam kembalilah penyelorohnya.
"Syaam,,,!" ini adalah teguran Siti Zubaidah, sang ibu. Sang ibu mungkin dah tak tahan pada sikap si bungsu.
Sebab celutukan Hisyam itu, Shin dan Ladisa sama-sama menunduk di piring bersamaan, keduanya masih sempat saling senyum sebelumnya. Entah bagaimana perasaan mereka berdua, yang jelas dada Dhiarra begitu sesak mendapati suguhan mesra dan hangat mereka seperti itu. Bertambah pada tangkapan telinga akan dukungan dan semangat yang gencar diberikan untuk calon pasangan baru itu. Jadi kian sesak dengan kemesraan mereka berdua di depan matanya..
🍒🍒🍒
Makan malam telah usai. Namun Shin belum juga memberi keputusan pada ikut atau tidaknya Ladisa guna turut serta bersama ke Cameron Highland besok petang. Ladisa yang asyik itu tidak masalah, terus menunggu pada kabar terbaru yang akan Shin sampaikan untuknya kemudian.
🍒
Dhiarra tidak ingin bertukar baju lagi saat tidur. Stamp itu masih tetap jelas terlihat, entah salep apa yang telah dioles Shin di kulitnya. Dhiarra tak ingin Fara melihat kembali, meskipun itu tak disengaja.
Kini tengah berada di kamar Fara dan bersiap untuk rehat. Gadis itu tidak nampak entah ke mana. Tadi memang naik ke atas dan masuk ke kamar bersama. Tapi sehabis Dhiarra keluar dari kamar mandi, si pemilik kamar telah lenyap tak berbekas.
Dhiarra tidak terlalu memikirkan. Ini sama juga dengan rumah Fara sendiri, gadis itu bebas menyandarkan diri di manapun pada tiap-tiap sudut di seluruh rumah ini. Tidak ada yang heran dan curiga padanya.
Dan Dhiarra telah mulai mengantuk saat ini.. Perlahan matanya menutup,, merapat,, dan mulai terkaram dalam tidur.
Tok...Tok...Tok...Tok...Tok...!!
Ketuk pintu yang diulang dua kali itulah pengejut awal mimpinya. Dhiarra terduduk cepat dan menoleh pada pintu. Siapa..Itu tidak mungkin Fara...!
Sedikit bergegas berlari ke pintu. Ada debar was-was yang tiba-tiba dirasa Dhiarra.
Klik...!
__ADS_1
Sedikit lega rasanya. Pintu kamar telah dikunci dan diamankan. Itulah keputusan Dhiarra saat yakin bahwa seseorang pengetuk pintu di luar kamar itu adalah Shin. Mungkin putaran kunci di kamar Fara malam ini adalah penentu masa depan serta akhir dari hubungannya dengan Shin.
Tidak ingin terus tenggelam dalam nafsu jika sedang bersama Shin Adnan. Dhiarra telah berkeputusan untuk membatasi segala hubungannya bersama Shin dan ingin kembali normal saja seperti awal kedatangannya.
Drrtt..Drrtt...Drrtt..Drrtt...
Bunyi getar dari ponsel milik Dhiarra di atas meja rias. Bergegas disambarnya ponsel itu. Ada pesan masuk, dari orang yang sudah disangkanya. Encik Shin..
12.35 am
*Ra, tadi kau yang mengunci pintu? Fara tidur di sofa lantai bawah.*
Dhiarra tidak tahu apa maksud pesan Shin dann bagaimana menyahut di balasan. Didiamkan saja pesan itu.
50 am
*Pergilah ke kamarku. Pintu depan dan pintu balkon tidak kukunci. Kutunggu,,,*
Apa maksud Shin? Kenapa tidak membiarkan dirinya istirahat dengan tenang? Dhiarra yakin, jika pergi ke kamar itu, sama dengan memasrahkan dirinya malam ini pada Shin. Kenapa lelaki itu berubah dan terus memaksa?
Dhiarra kembali abai pada permintaan Shin. Membaringkan miring tubuhnya. Berusaha tenang dan mengantuk meski rasa dada berdebar. Begitu lama, tidak juga mengantuk.
Drrtt..Drrtt...Drrtt..Drrtt...
Ponsel di tangan bergetar kembali.
2.15 am
*Baiklah Dhiarra. Aku sungguh panas dingin menunggumu. Tapi kau tak peduli.*
Membaca pesan Shin seperti itu, rasa debar yang sama seolah menyalur dan merambat ke tubuh Dhiarra. Gadis itu pun telah merasa panas dingin sekarang. Mengingat betapa baiknya Shin,, mengingat wajah Shin yang tampan kelewatan,, mengingat tubuh besar Shin yang telah beberapa kali merapatinya... Mengingat kegiatan panas mereka akhir-akhir ini... Ah, Dhiarra semakin panas dingin saja rasanya...
__ADS_1