Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
80. Dipercepat Segalanya


__ADS_3

Adzan subuh di Cameron Highlands hanya sayup lemah terdengar di kejauhan dan telah lama berlalu. Alarm ponsel Dhiarra juga tidak berbunyi pagi ini, benda itu mati berjam-jam yang lalu sebab habis dayanya.


Lelaki di balik selimut nampak bergerak dan terkejut sambil membuka kelopak matanya. Siaga melaser seseorang yang dengan erat memeluk dadanya dengan kaki yang menumpang di paha dan hampir menindih miliknya.


Wajah terkejutnya berubah pias dan tersenyum saat sadar siapa dan bagaimana ini terjadi. Segera dibalas peluknya tubuh indah berbalut baju tidur tipis yang dipakai semalam. Mencium kening hangat milik Dhiarra dan mengamati bibir merona yang semalam selalu mengeluh dingin itu. Shin tersenyum lebar sambil mengeratkan pelukan.


Dhiarra terus tertidur lelap tak bergerak dan tak menyadari apapun. Sepertinya sangat lelah dan telah begitu lama tidak tidur. Dan kini sedang puas membalaskan dendam tidurnya.


Shin mulai bergerak gusar tidak tenang. Kapitan di bawah sana perlahan telah siaga sempurna pagi-pagi. Bersama sadarnya bahwa hari telah pagi dan menjelang siang. Itu jelas terlihat dari balkon kaca kamar hotel. Sedang dirinya belum menyapa subuhnya.


Shin kembali mendekati wajah Dhiarra. Mencium sebentar pangkal hidung, pipi dan bibir. Mengelus sebentar juga rambut di kepala Dhiarra. Lalu bergegas bangun dan sedikit bingung mencari bajunya. Ternyata telah terlipat rapi ditumpuk di kursi sofa dekat ranjang. Pasti Dhiarra lah yang melakukannya.


Disambar dan segera masuk kamar mandi. Shin menggunakan kamar mandi Dhiarra untuk membersihkan total dirinya dengan sangat buru-buru.


Dan Dhiarra masih nyenyak juga saat Shin selesai dan akan pergi keluar untuk kembali ke kamarnya.


"Ra, Dhiarra,,,,!" Shin memanggil Dhiarra agak keras.


Yang bernama langsung merespon, sedikit gerak dan membuka matanya. Sangat terkejut melihat pria super tampan menawan dengan rambut basah yang masih menetes, berdiri menjulang di samping ranjangnya.


"Ra, sudah siang. Mandilah. Subuh hampir lewat. Aku ke kamarku. Sebentar lagi kembali,!" Shin berkata lagi dengan keras namun sangat lembut. Berharap Dhiarra segera bangun.


Tidak lagi menunggu reaksi Dhiarra, sebab melihatnya tergolek di ranjang itu sangat meresahkan. Sedang dirinya habis bersuci dan berwudhu juga. Shin tak ingin kehilangan waktunya.


Dhiarra tertegun menatap punggung Shin yang lenyap di balik pintu sambil menyambar kunci kamarnya.


Klik....Klik..Klik...


Eh...Jadi lelaki itu juga menyambar pintu kamar ini? Shin benar-benar ingin kembali sebentar lagi? Hati Dhiarra berdebar.


Mengingat kejadian panas bersama Shin semalam, Dhiarra meloncat bangun dan duduk. Menepikan selimutnya jauh-jauh, menyisir seluruh permukaan tempat tidur.


Putih,,bersih,,tidak ada noda merah setitikpun. Hanya ada noda lembab keruh yang agal lebar di sana. Lebih berdebar rasanya, entah itu noda siapa, milik Shin,, atau juga dengan miliknya. Dhiarra berdebar dan malu sendiri.


Noda darah sama sekali tidak ada. Bermakna Shin tidak berhasil mengambilnya. Atau Shin memang sengaja tidak jadi mengambilnya,,,


Dengan galau menyeret kakinya tergesa ke kamar mandi. Membersihkan diri dengan sesekali tersenyum. Ini adalah mandi istimewa pertama baginya. Akhirnya mengerjakan mandi besar seperti ini juga dirinya...


Teringat akan sang karib. Sangat rindu, ingin bercerita segalanya pada sang karib, Yuaneta...


🍒


Tok..Tok..Tok..


Ketukan halus kembali mendebarkan Dhiarra. Tapi untuk apa Shin mengetuk pintu? Lelaki itu sedang membawa kunci pintu kamarnya.


Menghampiri meja rias dan berkaca sebentar. Memastikan diri akan penampilan perfectnya. Dan menyambar keycard pintu kamar di meja riasnya.


Ceklerk,,,!


Dua orang wanita berseragam pegawai hotel nampak tersenyum ramah dan manis begitu pintu dibuka.


"Selamat pagi, nyonya Dhiarra,,?" salah satu dari mereka menyapa dengan riang. Meski terdengar aneh, Dhiarra pun mengangguk tersenyum.


"Maaf, nyonya. Kami mengantar pesanan suami anda. Harap mengizinkan kami menatanya di dalam," wanita itu kembali menyampaikan.


Kaget bercampur geli rasanya. Suami,,,?! Ah, rasa kaget geli itu berubah sesak tiba-tiba,,oh,Shin Adnan.. Apa yang telah kamu katakan pada mereka,,?


Dua wanita pramusaji hotel telah selesai memindahkan seluruh sajian yang kini menghampar di meja. Mereka menghampiri Dhiarra dan akan berbicara.


"Suami anda juga meminta kami untuk menukar seluruh cover bed kamar ini, nyonya. Apa anda keberatan?" wanita itu bertanya sangat sopan pada Dhiarra.


"Oh, tidak. Silahkan saja kakak tukar,," tertegun Dhiarra menjawabnya. Shin teliti sekali dirimu...


Mereka mengangguk. Hanya seorang saja yang stay dengan membawa setumpuk set cover bed. Sedang seorang lagi pergi keluar mendorong troli makan yang masih ada lagi dalam satu nampan kecil. Dhiarra sempat membaca sekilas dalam nampan yang berlapis plastik bening itu tertulis Nn Ladisa.


"Eh, sorry, kak. Apa yang itu juga dipesan oleh orang yang sama?" sebab penasaran, Dhiarra menghentikan sebentar pegawai itu di pintu.


"Betul, nyonya. Nampan yang ini untuk saudari suami anda," pegawai itu mengiyakannya dengan sangat ramah. Lalu permisi sekali lagi pada Dhiarra.

__ADS_1


Pemilik kamar segera menutup pintu dan menghampiri meja sofa. Ada tulisan juga di plastik wrapping luar nampan yang bertulis Mrs. Adnan/Dhiarra.


Berdebar nyass nyass rasanya. Benarkah namanya kini adalah nyonya Adnan? Sekali lagi, ini menggelikan dan seperti dalam mimipi. Ah, betulkah dirinya adalah perempuan pilihan Shin Adnan? Oh, encik Shin, apa bagimu aku ini benar-benar istrimu,,? Apa pernikahan sebab tindakan Jais itu adalah pernikahan sebenarnya bagimu? Kepala Dhiarra sedikit nyutt nyutt rasanya..


Ah, bagaimana ini? Shin belum tahu bahwa Adrian akan datang lusa pagi. Lelaki itu pasti terkejut saat tahu jika Adrian akhirnya akan datang dengan cepat. Apa Shin akan ingkar janji dan keberaatan? Rasanya jadi takut dan enggan untuk membicarakannya dengan Shin. Selain itu, Dhiarra juga merasa bersalah dan merasa tidak tega pada Shin Adnan.


🍒


Pegawai perempuan hotel sangat terampil, cekatan dan cepat. Dalam tempo menit saja, seluruh set cover untuk ranjang super size besarnya itu telah terganti sempurna dan rapi. Dan pegawai wanita hotel telah berlalu beberapa detik yang lalu dari kamarnya.


Set cover baru yang telah dipasang, mempunyai warna sama dengan sebelumnya, yaitu warna putih bersih. Memandang pembaringan itu membuat Dhiarra tersenyum bersama hadir pikiran mesumnya. Shin sebentar lagi akan datang kembali ke kamar.


Klik..Klik...


Degh,,,berdebar setengah jantung sekarang, itu pasti Shin Adnan. Lelaki itu benar-benar kembali ke kamarnya. Datang menjumpainya, jadi panas dingin lagi rasanya,,


Ceklerk..!


Pintu yang mulai menganga itu membawa angin wangi masuk berhembus bersama pemiliknya.


Shin Adnan lah pemiliknya, bergegas masuk dan memandang sekilas pada Dhiarra yang sedang berdiri tegang di depannya. Menutup pintu cepat dan mengunci rapatnya kembali. Berbalik badan dan memandang Dhiarra yang nampak tegang dan pias. Shin tersenyum tipis dan menggoda.


"Sudah mandi?" Shin bertanya pelan setelah berdiri di depan Dhiarra.


Yang ditanya mengangguk tersenyum.


"Menungguku?" Shin bertanya lagi. Memandang Dhiarra dan melirik ranjang yang begitu rapi.


"Mereka sudah menukar cover bed?" shin bertanya lagi dan tidak menunggu jawaban Dhiarra. Tapi kali ini dilihatnya gadis itu mengangguk.


Shin mendekati, memegang rambut Dhiarra yang masih agak basah. Mengelus dan mengusap kepalanya. Tangan besar Shin turun perlahan menyentuh bibir Dhiarra. Mengusap lembut bibir indah yang pernah jadi fantasinya. Dan kini nyata disentuhnya. Mungkin Dhiarra sedang berdebar panas dingin seperti yang sedang Shin rasakan.


"Setelah makan, kita buat lagi seperti semalam, bagaimana?" Shin berkata begitu dekat dan berbisik. Sambil jarinya masih menyentuh dagu dan bibir Dhiarra.


Mata bintang bening itu memandang sayu pada Shin. Tangannya terulur mengambil tangan Shin dari bibirnya.


"Encik Shin," Dhiarra seperti kesusahan bicara. Shin menaikkan alis goloknya tanda bertanya


Shin berusaha tersenyum meski wajahnya juga pias.


"Semalam kau melarangku, aku tidak tega. Dan aku sangat lelah. Jadi kubatalkan, aku menundanya." Shin samar tersenyum. Matanya nampak sayu dan meredup.


"Tapi setelah ini akan kuulang melakukanya. Kau rela?" Shin bertanya dengan wajah mulai berkabut sebab hasrat.


Wajah jelita itu lebih merona dan pias. Tapi juga menganggukkan kepalanya.


Shin menarik nafas, menghembusnya cepat dan tersenyum. Tiba-tiba mengulur tangan ke tubuh Dhiarra dan membopongnya menuju sofa begitu mudah.


"Encik Shin,,,!" Dhiarra histeris terkejut.


"Kau tidak suka kuangkat? Tapi sangat suka jika Justin yang mengangkatmu?" Shin bertanya dengan nada geram di wajah Dhiarra.


Dhiarra hanya menahan senyum memandang Shin dengan geli dan gemas. Mengulur tangan mengelus dagu licin Shin Adnan. Dengan rasa raga yang terus saja panas dingin. Perbincangan mereka selalu mesum dan menjurus.


Shin tidak ingin membuang banyak waktu. Segera mengambil makan di piringnya. Dhiarra pun begitu, bergegas meniru sang juara makan mengisi penuh piringnya....


🍒🍒🍒🍒


🍒🍒🍒🍒


Drrt...Drrtt...Drrtt...Drrtt...


Pemilik ponsel bergetar itu menyambarnya dari meja sofa. Sambil memasukkan sesendok makanan ke mulut. Membaca pesan dengan mulut terus bergerak memamah biak.


Tuingg..!!


Tetiba tangan kekar itu menjatuhkan sendok dari tangan. Gugur sudah predikat sebagai juara makan.


"Ada apa, encik Shin,,?!" Dhiarra sangat terkaget. Diletak juga sendok makannya.

__ADS_1


Memandang Shin yang juga lekat menatapnya. Tangan Shin terulur memegangi bahu Dhiarra.


"Om Hafiz, accident teruk (parah) kat lebuh raya(jalan raya). Tengah ada kat wad hospital Melaka." Shin berkata-kata dengan cemas.


"Faiz kata lepas tengah hari ada lawatan banyak customer dari Jepun(Jepang). Aku kena kawankan orang-orang Jepun. Gantikan om Hafiz. Kita mesti segera bertolak ke Melaka, Dhiarra," sambung Shin dengan suara tercekatnya.


Mata bening Dhiarra sedang melebar maksimal.


"Kita kena bersiap dan segera bertolak, encik Shin!" Dhiarra juga panik. Merasa ikut khawatir dengan keadaan om Hafiz, ayah Azlan, sekaligus adik bungsu datuk Fazani.


Shin mengangguk dan langsung berdiri. Menyentuh kepala Dhiarra dan mengusapnya sebentar.


"Hari ini tidak usah pergi ke syarikat. Aku saja yang datang. Istirahat saja kat rumah. Tunggulah hingga aku balik kerja," Shin berkata pelan pada Dhiarra. Wajah tampan itu sudah tidak terlalu nampak cemas.


"Iya. Terimakasih, encik Shin," jawab Dhiarra sambil mengangguk.


Shin kembali menyentuh bibir Dhiarra dan mengusapnya sebentar.


"Ayo kita bersiap," sambil berkata, lelaki itu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Kemudian hilang terhempas pintu kamar.


🍒🍒🍒


Ladisa akan masuk kembali ke dalam kamar setelah dari kamar Shin yang ternyata penghuni kamar tidak ada. Namun terheran saat tiba-tiba Shin nampak berjalan dari arah kamar Dhiarra.


"Bang Shin dari kamar Dhiarra,,?" Ladisa tak mampu menutup herannya.


Shin berhenti tepat di depan Ladisa yang memegangi keycard kamarnya.


"Ladisa, kita akan bertolak kat Melaka pagi ini juga. Om Hafiz, adik papa, tengah kemalangan, accident kat lebuh raya. Bersiaplah sekarang. Dhiarra dah aku bagi tahu," Shin berkata terburu pada Ladisa.


"Lekas sekarang berkemas. Masuklah ke bilikmu. Aku pun nak bersiap sekarang," Shin berkata lagi, lalu bergeser ke kamarnya di sebelah.


Ladisa termangu-mangu di depan kamarnya..


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Adrian telah menghubungi Dhiarra kembali. Panggilan dari sang tunang itu diterima Dhiarra sambil memasukkan baju ke dalam paper bag setelah rapi dibenahi.


Wajah cantiknya nampak serius menyimak dengan sesekali mengangguk dan berkata mengiyakan.


Perbincangan antara Adrian dan Dhiarra hanya sebentar. Tidak ada sedikit pun perdebatan. Sebab Dhiarra hanya nampak diam dan mengiyakan. Seperti hanya termangu dan tidak fokus mendengarkan. Namun hanya diam setuju begitu saja..


Dhiarra sedang dalam kegalauan yang sangat..


Adrian berkabar akan datang petang ini. Tidak lagi besok pagi. Dipercepat, sebab lusa pagi,, Adrian akan mendapat kunjungan kerja dari Singapura tiba-tiba. Jadi Adrian memajukan penerbangannya ke Malaysia demi menjemput Dhiarra, untuk dibawanya pulang ke Yogyakarta, Indonesia..


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


🍒🍒🍒


Sebab Sunday....Satu bab..Tapi panjaang...


Otor bukan tak semangat, tapi terus selalu bersemangat,, Jadi, semangatlah mendukungku yaa...


Terimakasih sangat-sangat yang tidak bosan memberi dukungan.. Segala dukungan..


Baik yang wujud atau juga yang ghoib..


Semoga readers tersayang sehat selalu dan bahagia.. Aamiin.


🍓🍓😘😘**Mohon votingnya dooong... Lebih-lebih yang belum pernah ngevote novel ini yaa..


Juga klik lah tanda bintang di pojok..klik 5 bintang yaa...

__ADS_1


Yang nggak 5 bintang jangan dikirim yaa.Dah,,silahkan baca aja dgn tenang....


Jazakillah..😘😘🍓🍓**


__ADS_2