Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
84. Bye, Encik Shin..


__ADS_3

Punggung Shin sudah tidak nampak lagi saat Dhiarra mencapai pintu ruangan pribadinya. Mengetuk beberapa kali sebagai formalitas, yakin Adrian sedang mengawasi di belakang. Dibuka pintu besar itu meski sahut samar dari dalam belum terdengar oleh telinganya. Dan itu tidak perlu.


Dhiarra sangat paham, lelaki di dalam yang masih berstatus sebagai suami dadakannya itu sedang bad mood dan tidak mungkin menyahutinya.


Kaget setengah jantung rasanya. Baru saja membuka pintu dan membawa masuk dirinya ke dalam ruang pribadi Shin. Tubuhnya tetiba ditarik peluk oleh tangan besar Shin yang telah siaga menunggu di balik pintu.


Klik,,!


Shin memeluk Dhiarra sambil sebelah tangan mengunci pintunya.


"Encik Shin,,!" berseru lirih Dhiarra sangat terkejut.


"Kenapa tidak memberitahuku cepat-cepat?! Sudah kucakap jangan sembunyikan apapun dariku,,!" berseru bisik juga Shin di telinga Dhiarra.


Dhiarra mengira Shin begitu marah. Keinginan untuk mencoba bebincang dengan sedikit waktu yang ada, segera ditepisnya. Wajah Shin yang begitu mengeras, tajam dan beraura panas itu menciutkan selera bincang Dhiarra dengan lelaki yang masih memeluk paksa tubuhnya.


"Apa kau sangat bahagia akan menikah dengan Adrian?"


Dhiarra tidak menjawab, tapi tertegun menatap kedua mata Shin yang memerah dan berkilat air di sana. Mata yang biasa melaser itu menggenang air mata. Hati Dhiarra seperti teriris rasanya.


Shin merasa geram dengan diamnya gadis yang masih dalam pelukannya.


"Aku suamimu Dhiarra, kau belum memberi hakqu seutuhnya darimu,," Shin seperti bukan yang biasa. Rasa frustasi membuatnya mulai kalap. Wajah tampan, tenang, dan berwibawanya telah berubah kelam dan berkabut. Suara stereonya jadi parau dan dalam.


"Aku sadar itu, encik Shin. Tapi aku sudah berusaha memberikan segalanya untukmu. Tolong adillah padaku.. Dan sekarang calon suamiku sudah di sini. Adrian menungguku diluar," Hati yang biasanya berdebar panas dingin saat dipeluk Shin, mendadak cemas tidak tenang. Selain Shin begitu keras memeluk. Tapi juga perasaan tidak nyaman, seperti sedang diintip Adrian.


Semakin terasa henk dan terbakar saja segala syaraf yang ada di tubuh Shin. Sangat panas telingannya mendengar dan melihat bibir indah Dhiarra menyebut kata calon suami dan nama Adrian.

__ADS_1


"Encik Shin, lepaskan, sakit. Tadi kata nak tanya pasal file, apa itu, encik Shin?" Dhiarra merasa nafasnya mulai sesak. Shin sangat brutal memeluknya.


"File? Kau ingin tahu? Dirimulah file pending itu, Dhiarra,,!" Shin berkata parau berbisik.


Bersama wajah mengerasnya yang mendekati wajah Dhiarra. Seperti kilat saja cepatnya, bibir indah itu telah habis disambar lummatnya. Dengan tangan yang super agresif dan atraktif menembusi dress cantik Dhiarra. Bergerak-gerak dan meremas lembut di dada. Shin melakukan segalanya dengan lembut.


Debar cemas Dhiarra berubah jadi debar panas dingin rasanya. Gadis dalam cumbuan itu tak berdaya menolak rasa yang datang.


Namun di sela pagutan Shin yang panas, mata Dhiarra menangkap seseorang berdiri tercengang di seberang ruangan. Tangannya reflek mendorong dada Shin Adnan.


Namun Shin tak bergeming. Pelukannya selalu kuat dan siaga. Merasa mendapat tolakan Dhiarra, hatinya kesal dan membara.


Shin berubah menyentuh dengan kasar dan tergesa. Baginya, penolakan Dhiarra justru kian memompa hasrat nafsunya. Bahkan Shin telah berdesis-desis melebihi ular yang mengganas. Melummat kasar bibir Dhiarra yang terus berusaha lepas, dengan rakus. Mengelusi kasar dada Dhiarra dan agak kuat meremas.


Dhiarra masih berusah menolak. Shin kian kalap dan penasaran untuk menjinakkan Dhiarra. Tangannya bergeser cepat ke perut dan bergeser menyelip ke area sensitif Dhiarra.


Tersentak kejut tiba-tiba. Sangat sakit dan perih terasa menusuk di sela nikmatnya. Shin berusaha menyelip jari ke lubang miliknya. Sangat sakit dan terkejut. Dhiarra tidak bisa menerimanya. Kembali berontak dan menarik keluar tangan Shin. Dan tenaganya kembali tanpa makna bagi Shin.


Dhiarra merasa panik yang sangat. Takut jika Shin benar-benar akan nekat.


Dengan panik, sekuat tenaga mendorongkan tangannya di wajah Shin.


"Jangan lakukan itu, encik Shin. Jangan rogal aku dengan tanganmu. Kumohon, hentikan ini, encik Shin,," Dhiarra berkata lemah dan lirih begitu bibirnya terlepas dari pagutann Shin. Suaranya bergetar, ada bulir air keluar dari matanya.


Ucapan Dhiarra dan air matanya, menyadarkan Shin dari kalapnya seketika. Menarik tangan dan sedikit menjauhkan tubuh Dhiarra darinya. Kembali menarik Dhiarra dan memeluk sangat lembut.


"Maaf, maafkan aku, Dhiarra,," Shin benar-benar sadar dan menyesal.

__ADS_1


Tok..Tok..Tok..Tok...!!


Dhiarra cepat menarik tubuhnya dari pelukan Shin Adnan. Merapikan diri, menepuk-nepuk wajah dan mengelusi rambutnya. Tidak ingin nampak semrawut saat keluar dari ruangan Shin. Hanya bibir yang kehilangan lapisan lipstik itulah yang tidak diingatnya.


"Dhiarra, maafkan aku," Shin kembali berbicara.


Bibir yang masih merona namun pucat, tidak menjawab perkataan Shin. Hanya mata bening itu yang memandang Shin dengan sayu.


"Bye, encik Shin,," ucapan Dhiarra terdengar lirih dan sedih. Tidak jelas lagi bagaimana perasaannya sekarang. Hanya merasa kecewa dan sedih pada perlakuan Shin Adnan padanya barusan.


"Dhiarra,,,!" Shin berseru saat Dhiarra melangkah cepat, membuka pintu dan keluar.


Gadis yang dipanggil telah lenyap dari pandangan. Menyisakan pintu kayu yang kembali menutup.


Shin terduduk lunglai dengan rasa yang seperti kalah berperang. Kalah yang diperparah oleh hunusan pedangnya sendiri...


🍒🍓🍒


Mobil Malaysia yang disewa Adrian telah meluncur dengan dikendalikan sang sopir yang juga disewa. Membawa dua insan calon pengantin yang duduk bersebelahan, namun saling jauh dan saling terdiam.


Sang sopir meluncurkan sangat patas seperti yang diinginkan sang penyewa. Membelah lebuh raya menuju Bandar Udara International Kuala Lumpur di Sepang, negeri Selangor-Malaysia.


Perjalanan yang umum akan memakan waktu satu setengah hingga dua jam. Namun sang penyewa meminta dengan khusus untuk mencapai tujuan hanya dengan waktu kurang lebih satu jam saja. Dan tentu tarif sewa akan naik berlipat-lipat jika ada request khusus seperti itu.


Adrian meminta sang sopir menambah kecepatan. Waktu untuk check in dan terbang semakin mepet dan terancam. Waktu yang telah direncanakan oleh Adrian dengan matang itu jadi berantakan dan jauh dari hitungan.


Dhiarra terlalu lama menghabiskan waktu di ruangan Shin Adnan. Entah file pending model bagaimana yang harus mereka bahas dan kerjakan itu. Yang jelas, Adrian begitu kecewa saat Dhiarra keluar dari ruang pribadi boss garment dengan penampilan kusut dan bibir polos tanpa lipstik.

__ADS_1


Tentu saja Adrian sangat paham. Adrian tidak bodoh. Dia adalah lelaki dewasa yang sangat berwawasan serta berpengalaman..


__ADS_2