
Pertemuan dengan calon klien baru selepas tengah hari, tidak berjalan sesuai yang dijangka. Pengusaha dari Kuwait yang datang bersama tiga rekannya sekaligus itu cukup alot menego. Begitu juga dengan Shin dan Hafiz yang tetap bertahan pada standart mufakat di Shin's Garment. Serta Dhiarra sekaligus Faiz sebagai pendukung dua petinggi perusahaan yang berdiskusi.
Ini adalah kali pertama bagi Dhiarra menyertai Shin dalam meeting. Shin mengajaknya sebab bertempat di gedung sendiri serta memberi peluang bagi Dhiarra untuk belajar.
Tak ada tugas apapun yang dibebankan Shin pada Dhiarra. Selain menyuguhkan minuman, menyimak serta mendampingi...
Pengusaha Kuwait itu selain perhitungan, sepertinya memang kurang fokus pada perbincangan. Beberapa kali diingatkan oleh ketiga rekan yang mungkin adalah asisten atau bawahan untuk fokus pada topik yang dibincang. Sebab, mata coklat itu kerap lari ke arah sekretaris Shin's Garment yang jelita, Dhiarra. Sangat sering seperti itu.
"Apa wanita itu pembawa baju maskot perusahaan anda, tuan Shin?" pengusaha Kuwait itu terus terang memandang Dhiarra. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa persatuan dunia.
"Betul sekali, tuan Jack. Dia sekretaris sekaligus desainer kami," Shin memandang Dhiarra. Faiz yang duduk di samping Shin juga mengangguk meyakinkan.
Dan tuan Jack bahkan mengamati Dhiarra tanpa sungkan. Membandingkan visual real Dhiarra dengan video saat malam launching yang terputar di layar proyektor super lebar di depan mereka, di meet room. Video tengah menayang putar saat Shin berjalan bersama Dhiarra di panggung.
"Sekretaris..? Dan dia brand desainer perusahaan anda? Wanita itu memang cantik dan sangat menarik. Betul bukan, tuan Shin,,?" tuan Jack memandang Shin dengan senyuman sedikit genit, penuh maksud dan sindiran.
"Maaf, tuan Jack. Apa anda masih berminat melanjutkan perbincangan pada inti masalah tadi?" pertanyaan ini diberikan oleh sang manajer, Hafiz.
Sang manajer khawatir jika Shin akan melempar kalimat balasan yang tidak mengenakkan dan sekaligus merugikan perusahaan. Sebab wajah Shin telah berubah pias setelah pengusaha Kuwait itu berbicara mengenai sekretarisnya. Meski Shin tidak mungkin bersikap atau pun bertindak sangat bodoh.
"Maaf juga, tuan Hafiz dan tuan Shin. Apa desainer anda masih single? Bolehkah saya berkenalan secara pribadi setelah ini dengannya?" tuan Jack begitu abai pada teguran Hafiz padanya. Namun pria dari negara Kuwait itu cukup sopan bertanya.
"Maaf, tuan Jack. Saya keberatan. Perusahaan saya adalah tempat bekerja bukan untuk berkenalan ataupun urusan pribadi yang lain. Jadi kita lanjutkan saja urusan kita. Namun jika anda berjumpa sekretaris kami di luaran, setelah masa kerja di syarikat, silahkan saja anda berkenalan," suara stereo Shin terdengar tenang tanpa ada nada emosi.
Sang pimpinan kembali menatap hangat pada calon rekan bisnis yang jika sudah datang harus dapat digenggam. Shin tidak ingin kehilangan calon tambang uang hanya masalah semacam ini. Sebab telah paham, hal serupa sudah biasa dan umum terjadi pada kalangan pebisnis. Dengan alasan sebagai hiburan, penyemangat, kebutuhan, sekaligus mempererat hubungan perdagangan. Namun Shin tidak menyediakan layanan plus semacam ini di niaganya.
"Baiklah, mari kita lanjut, tuan Shin. Tapi izinkan saya memberikan kartu saya pada sekretaris anda agar disimpan," tuan Jack tersenyum harap makhlum pada Shin Adnan dan Hafiz.
__ADS_1
Tuan Jack, pengusaha dari Kuwait itu memang lihai. Maksud minatnya terhadap sekretaris Shin's Garment, yang diharap bisa didekati dan lalu dipakainya, tersamar oleh sikap dan bicaranya yang sopan dan santun.
Dhiarra merasa serba salah saat tuan Jack mengulur kartu nama serta tersenyum hangat penuh maksud padanya. Memandang sekilas pada Shin yang kemudian lelaki itu mengangguk. Meski heran dengan anggukan Shin, tapi Dhiarra segera berfikir untuk memfungsikan diri dengan baik. Sebab di tangannya jugalah, kesuksesan rancang bajunya ditentukan.
"Terimakasih, tuan Jack. Saya merasa tersanjung. Akan saya simpan dengan baik kartu nama anda. Dan mungkin akan saya gunakan jika sudah saatnya,,," tangan lembut itu menerima uluran kartu dari tuan Jack.
Sambutan lugas Dhiarra nampak nyaman dan memuaskan. Tuan Jack merasa tenang dan semakin berharap mendapat peluang setelah kartu nama itu di simpan Dhiarra dalam saku bajunya.
Shin, manajer Hafiz serta Faiz saling berpandangan mengangkat alis melihat sikap Dhiarra yang cukup responsif. Meski tidak terlalu paham akan sambut kata Dhiarra, namun kedua petinggi Shin's Garment itu merasa puas dan lega.
Sebab setelahnya, perbincangan dan nego bersama tuan Jack berjalan lancar dan cepat. Tuan Jack seperti berubah rela tiba-tiba dengan apa saja ketentuan yang diajukan oleh Shin's Garment padanya...
🍒
Pukul 08.00 pm
Ceklerk..
Pemilik gedung garment melewati pintu ke dalam ruangan yang lengang. Gadis yang sedang dicari tak ada. Ke mana ..
Shin berjalan mendekati ruangan Faiz. Sayup terdengar suara gadis yang dicari.
"Iya mas. Hanya pergi ke KL saja. Jangan khawatir,," mungkin Dhiarra sedang bicara dengan Adrian.
"Iyaa..., dengan uncle Shin,," mungkin Adrian bertanya dengan siapa.
"Keberatan? Kenapa?,,,,,,,,,,,Tidak berdua saja, ada kekasihnya. Uncle Shin bersama kekasihnya, kami pergi bertiga," sepertinya Adrian tidak rela jika Dhiarra pergi jauh berdua saja dengan Shin.
__ADS_1
"Baiklah, mas. Iya..... Halooo.. Mas Drian.. Halooo..,," sepertinya pembicaraan sedang terputus tiba-tiba.
"Sudah...? Mas Drian aneh sekali. Dia yang nelfon, dia juga yang tiba-tiba mutusin,,," Dhiarra berbicara sendiri. Menyimpan rasa kecewa pada Adrian.
"Ehhemm..!" Shin sengaja mengejutkan gadis itu.
Seperti biasanya, mata bening itu melebar meresahkan. Nampak terkejut menatap Shin yang sudah berdiri mengawasi di pintu. Bibir merona gadis itu terbuka dan akan berbicara.
"Encik Shin,,,, apa tamu dari Kuwait sudah pergi?" gadis itu berdiri merapikan bajunya yang sudah rapi.
"Apa kau akan menghubunginya?" Shin justru menanyakan hal yang sama sekali tidak Dhiarra pikirkan.
"Apa yang akan terjadi jika saya menghubungi orang Kuwait, encik Shin?" Dhiarra meraih tas bahu dari kursi. Sebab Shin juga nampak menenteng tas kerjanya.
"Kau jangan pura-pura polos, Dhiarra. Sekali kau hubungi, kau akan bisa membeli apapun dengan uang yang kau terima darinya. Apa kau berminat,?" Shin tahu, Dhiarra hanya asal bicara belaka.
"Sementara tidak. Sebab uang yang anda beri ke akunku, telah berlebih dan melimpah," inilah kenyataan yang ada. Shin telah membayar semua rancang bajunya di muka. Dan akan bertambah setelah mendapat laporan penjualan.
"Teruslah berkarya yang bagus, Dhiarra. Kau tidak akan pernah kekurangan uang dariku. Dan kau tidak akan sempat berfikir untuk menghubungi lelaki manapun demi uang,," Shin seperti bersemangat membicarakan hal itu dengan Dhiarra.
Gadis itu terdiam, memandang lelaki yang tengah berdiri di sebelah menununggu kedatangan lift.
"Adrian,,,,?" tak sadar Dhiarra bergumam. Shin menoleh, melasernya sesaat. Gumaman Dhiarra tetap mampu ditangkapnya.
"Ya,,,ya,,,ya,,,kecuali dia. Calon suamimu.. Kau tidak mungkin tak menghubunginya,,," suara Shin menggema di ruang lift. Dhiarra terdiam, tidak menimpali lagi sahutan Shin padanya barusan.
Mereka telah meluncur turun ke lantai dasar perusahaan. Dan akan mengadakan perjalanan menuju kota Kuala Lumpur malam itu.
__ADS_1