
Azlan tiba-tiba berdiri dan berseru "Jomlah ikut aku kat atas. Lawa dan seronok pasti kau tengoknya, Dhiarra! Jom,,!!"
Azlan dengan santai menarik pergelangan tangan gadis itu yang secepatnya berdiri mengikuti tarikan tangan Azlan. Meniti anak tangga di samping ruangan menuju ke lantai paling atas penginapan.
Tercengang-cengang Dhiarra memandang. Pemandangan malam di depan sana, di belakang penginapan milik Azlan, betul-betul indah menakjubkan. Terlihat daratan pulau Penang seperti keseluruhan saat malam. Lengkap dengan patung budha yang menjulang dari salah satu kuil di kejauhan. Penang memang kental dengan nuansa China dan menyebar banyak kuil dan pagoda di sana.
"Masya Allah, Azlan,,, beruntung sangat kau tinggal kat sini...Mempunyai penginapan seperti ini. Sangat seronok ini, Azlan,,!" Dhiarra berseru takjub pada Azlan sambil memegangi pagar lantai atas penginapan. Memandang tiada henti pemandangan malam yang menghampar seluas mata memandang.
"Sering-seringlah datang kat Penang. Kau takkan merugi datang kat kota Situs Warisan Dunia semacam ini, Dhiarra,,!" Azlan kembali mengimingi Dhiarra.
"Heih, Azlan,,tak yah hiperbolis laah.. Cinta sangat engkau kat kota orang. Kau lupa Melaka kee,,? Asal kau tak promosi sekali negeri engkau sendiri,,? Melaka pun sama, Situs Warisan Dunia juga,,!" tiba-tiba Shin berseru bersamaan dengan berdiri dekat pagar di samping Dhiarra.
Berdiri menekuk punggung bertumpu lengan di atas pagar, memandang ke hamparan Penang malam di sana. Meniru seperti yang sedang dilakukan Dhiarra saat itu.
"Yelah..Yelah... Lupa pulak aku Situs Warisan Dunia kat sana! Melaka pun tak kalah elok dan lawa.. Masa kubalik kat Melaka, kubawa pulak engkau pusing-pusing kat MP, Melaka Parade. Tunggulah aku balik, Dhiarra,,!"
"Betul, Azlan,,? Dah lama aku tinggal kat Melaka, tapi tak paham juga mana-mana tempat elok kat Melaka,,!" sangat cepat Dhiarra menyahut.
Azlan tertawa pada sahutan Dhiarra. Dan sambil menatap dua orang yang sama-sama membungkuk memunggunginya.. Azlan hanya duduk di bangku kayu. Sebab sudah tak tertarik lagi pada hamparan malam Penang yang terlihat dari Penginapannya itu.
Dhiarra melirik sang paman yang terus lurus memandang ke depan. Wajah tegasnya terlihat keras dan tampan. Sedikit berkilat sebab wajah tegasnya sedang terkena lampu sorot di atap penginapan..
Merasa pegal, puas dan malam cukup larut, Dhiarra mengajak turun sekaligus berpamitan pada Azlan. Lelaki pemilik rumah makan dan penginapan mungil namun unik itu membawakan banyak roti canai pisang untuk Dhiarra. Hanya isi pisang, sebab kata Azlan stok telur tengah habis. Tentu saja Dhiarra merasa sangat suka dan gembira...
🍒🍏🍒
Keheningan dalam kereta di perjalanan pulang dari tempat Azlan terpecah oleh suara Shin Adnan.
"Apa saja yang kau lakukan saat pergi keluar dari rumahku, sampai kau cakap tak tahu menahu situs Melaka?" Shin bertanya datar pada Dhiarra.
"Saya selalu pergi ke rumah Yuaneta. Dia pun tak pernah cakap,,,lagipun Saya sibuk cari duit kat kedai obat serta buat rancang busana laah, encik Shin,,!" Dhiarra menjawab apa adanya. Ditolehnya Shin, lelaki itu telah mulai cerah dan tersenyum.
"Bekerja dan bersikaplah yang baik. Bila-bila (kapan-kapan) senggang, kubawa engkau berlibur," Shin berkata sambil membuang muka ke jalanan di samping, menyimpan senyumnya.
Dhiarra terdiam tak lagi menimpali. Hanya meniru sang paman, membuang muka dan tersenyum pada jalanan di samping.
🍒
Pukul 11.17pm
Tok...Tok...Tok...Tok..Tok..!!!
__ADS_1
"Assalamualaikum, maaaa,,!!!"
Ini adalah kesekian kali Dhiarra mengetuk pintu dan bersalam di rumah Hazrul. Mungkin sang ibu tengah tidur lelap bersama ayah sambung di kamar. Hazrul tengah cuti kerja hari ini, itulah yang tadi sempat Azlan katakan pada Dhiarra.
Tok...!!Tok..!!.Tok...!!Tok..!!Tok..!!!
Kali ini adalah Shin yang jauh lebih keras mengetuk pintu. Setelah mencoba bersabar dan terdiam cukup lama, mulai terdengar sayup sahutan Hazrul dari dalam.
Ceklerk...!
"Sorry, tak dengar sangat,,! Jomlah masuk!" Hazrul terkesan salah tingkah. Entah kenapa ayah sambung Dhiarra bertingkah seperti itu.
"Apa mama sudah tidur?" Dhiarra mengamati ayah sambungnya yang terlihat sedang lelah.
"Belum, masih kat kamar mandi. Kejap lagi keluar,," Hazrul menjawab tanya Dhiarra.
Lelaki itu duduk di sofa sambil menggaruk rambut kepalanya.
"Aku nak istirahat dulu, bang. Besok kena bertolak ke Melaka,," Shin berkata pada Hazrul.
"Betul, Fiq. Istirahatlah," sahut Hazrul.
Shin berjalan tenang menuju ruang tengah yang diikuti Dhiarra di belakang.
Ceklerk...!
"Kalian baru sampai?" sang ibu tersenyum dan mendekat.
Mama Ira juga berdiri berhadapan dengan Shin dan Dhiarra begitu dekat.
"I..iya, maaa,,, Ini ada canai untuk mama," Dhiarra agak tercekat menjawab pertanyaan ibunya. Sambil mengulur canai ke tangan sang ibu.
Tak sadar sedikit mendongak perlahan pada Shin Adnan yang juga memandangnya kemudian. Mata mereka sama-sama melebar saling pandang.
"Ma, aku masuk kamar dulu ya! Ingin basuh muka,," setenang mungkin Dhiarra hendak berundur dari sang ibu secepatnya.
"Iya, Ra,, pergilah ke kamarmu," sang ibu berkata lembut sambil tersenyum.
"Mari, encik Shin,,!" Dhiarra sedikit menyikut Shin Adnan agar segera menirunya masuk kamar.
Tidak lagi menunggu, Shin dan Dhiarra seperti saling lomba adu cepat memasuki kamar masing-masing. Dalam hitungan detik, pintu kamar mereka kembali menutup, menenggelamkan pemiliknya di dalam. Seperti ada sesuatu yang harus mereka hindari secepat mungkin dari sang ibu.
__ADS_1
🍒
Pukul 12.50 am, tengah malam...
Telah bulat keputusan Dhiarra, segera ditulisnya pesan untuk Shin lewat ponsel.
*Encik Shin, sudah tidur?* send....
Cukup lama menunggu..
Bunyi pesan balasan..
*Baru mandi, ada apa?*
Cepat Dhiarra mengirim balasan..
*Encik Shin, aku ikut kembali ke Melaka denganmu besok pagi.* send...
Tidak lama..balasan beruntun diterima..
*Kau berubah pikiran sebab ikan ****** merah ibumu?*
*Sekarang kau sudah sadar? Ayah sambungmu dan mamamu masih pengantin baru. Jangan jadi pengganggu*
Dhiarra merapatkan bibir. Tak ingin lagi membalas. Tidak tahu, apakah sedang merasa malu pada Shin atau sedang merasa kecewa pada sang ibu.
Ya, Dhiarra merasa malu dan kecewa. Saat sang ibu menyambut mereka barusan, kerudung instant ibunya yang kecil itu terlipat tak sengaja. Mungkin sebab dipakai buru-buru.
Bukan sebab dada ibunya yang nampak itu penyebab malunya. Tapi banyak bercak merah memar di dada ibunya. Sangat jelas terlihat. Dan Dhiarra sangat paham maknanya. Yuaneta sering memiliki dan memamerkan pada Dhiarra dengan menyebutnya ikan ****** merah. Sama dengan sebutan Shin Adnan dalam balasan pesannya barusan.
Karena alasan kuat tiba-tiba itulah Dhiarra tidak lagi berminat untuk menambah malam di Penang. Khususnya bermalam di rumah ibu dan ayah sambungnya. Perasaan yang telah berubah menjadi sangat tidak nyaman. Dhiarra kecewa...
🍒🍒🍒🍒🍒
🍏🍏🍐🍐🍐
🍐🍐🍏🍐🍐
🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
Pemandangan pulau Penang saat malam yang terlihat dari penginapan Azlan di lantai palinh atas.