
Mata bening itu sedang memicing tajam dengan mendongak pada lelaki yang berdiri menunduk di depannya.
"Kamu membuatku panik secara sia-sia, hon Shin. Bicaralah yang jelas padaku, apa alasanmu tidak ingin turun berenang?" Dhiarra nampak kesal dan justru terlihat kian cantik.
Shin membungkuk badan tiba-tiba" Aku cakap, tubuhku sedang tidak aman, Dhiarraaa..." Begitu dekat Shin berbicara pada Dhiarra. Bahkan bibirnya seperti akan menyambar bibir meresahkan milik gadis yang sedang tajam menjeling padanya itu.
"Jelaskan, aku tidak paham. Aku risau jika kamu diam-diam tengah sakit, hon Shin. Atau kita pulang saja,,?" Dhiarra benar-benar kesal dan mengancam.
Shin kembali menunduk dan mendekati telinga Dhiarra.
"Dengarkan baik-baik, agar kau paham," Shin lebih merapatkan lagi bibirnya, dan hampir menyentuh telinga Dhiarra.
"Tentang daging kambing, itu bukan mitos. Kurasa sedang bereaksi ditubuhku sekarang. Milikku di bawah sana sedang tidak aman. Kau sudah pernah melihat dan memegangnya, kan? Aku tidak bisa berenang saat ini. Dan tidak mungkin aku berenang dengan celana jeans panjangku ini. Kau paham, Raaa, Dhiarraaaa,,," puas Shin Adnan menjelaskan. Kini berganti matanya yang memicing di wajah Dhiarra.
Melihat gembira pada wajah cantik Dhiarra yang mendadak merah padam sekarang. Mungkin gadis itu sedang merasa sangat malu padanya.
"Ah, hon Shin, lebih baik aku pergi merendam kakiku di pantai. Kamu mau ikut atau tidak?" gugup Dhiarra bicara. Berusaha setenang mungkin mengalihkan debar panas di dadanya. Tergesa melangkah meninggalkan Shin yang sedang tersenyum lebar di belakang.
"Raa,,Dhiarraaa!! Aku ikut, tunggulah akuu,,!" Shin berjalan laju mengejar. Langkah panjang cepatnya telah mampu menyusul Dhiarra hanya dalam beberapa kedipan mata saja.
Langsung disambar lagi tangannya dan erat lagi digenggam. Melangkah bersama lagi mencari sudut dan posisi bibir pantai yang aman dan nyaman.
Shin dan Dhiarra telah saling duduk berhadapan di gugusan batu karang yang ada cekungan air di tengahnya. Mereka duduk dengan menurunkan kaki sebatas tumit untuk merendamnya di air.
Banyak ikan-ikan kecil yang mulanya terkejut menjauh kini mulai datang lagi berduyun mendekat perlahan. Dua orang pemilik kaki itu sengaja mematung dan tidak menggerakkan sedikit pun kakinya. Berharap ikan-ikan itu percaya lalu berenang nyaman di bawahnya.
"Raa,, sudah berapa kali kau bermain di pantai?" tanya Shin tiba-tiba. Lelaki itu sudah lelah dengan gaya patung hanya demi menyamankan ikan berenang, sedang dirinya tersiksa.
Dhiarra memandang Shin dengan raut yang sedikit kecewa. Ikan-ikan itu kembali berenang terbirit menjauh dari zona kakinya.
"Sangat sering, hon Shin. Dah tak bisa kuhitung lagi laah," jawab Dhiarra.
"Dengan siapa?" mata Shin sedang melaser Dhiarra.
"Dengan mama dan almarhum ayah, pernah.. Dengan teman,,,pernah." sahut Dhiarra cepat pada Shin.
"Dengan tunangmu,,?" tanya Shin memicing menyelidik.
"Sering juga,," Dhiarra menjawabnya agak segan.
"Kau sering pergi ke pantai dangan mantan tunangmu itu, tapi kenapa tak pandai juga berenang?" tanya Shin dengan ekspresi sedikit mengejek Dhiarra.
Gadis itu sekilas mengerti akan ekspresi yang Shin coba tunjukkan di wajahnya. Dhiarra bukan tersinggung. Namun justru tersenyum.
__ADS_1
"Hon Shin. Coba bayangkan, bagaiman perasaanmu andai aku sudah pandai berenang sebab sudah diajari berenang oleh mantan tunangku Adrian? Atau hon Shin lebih suka aku yang sekarang, tidak pandai berenang sebab Adrian belum mengajariku,," panjang Dhiarra berbicara. Berakhir dengan cibiran bibirnya pada Shin.
Tentu saja Shin seketika paham maksud Dhiarra. Merasa tersindir sendiri. Memang tidak rela andai Adrian mengajari Dhiarra berenang. Lebih baik, istrinya ini tidak usah belajar renang sama sekali. Kecuali dirinya yang mengajari.
"Ra, aku ingin mengajarimu berenang. Tapi tidak sekarang." Shin berkata sambil memandang Dhiarra serius. Disambut anggukan manis gadis itu.
"Lalu dengan siapa lagi pergi ke pantai?" tanya Shin melanjutkan wawancara.
"Dengan teman baikku. Yuaneta," sahut cepat Dhiarra.
Mendengar nama teman yang baru disebut, Shin mengingat sesuatu. Wajah tampan itu nampak cerah dan tersenyum.
"Raa,,," lembut Shin meemanggil. Dhiarra yang sedang memainkan kaki dalam rendaman air mendongak memandang Shin.
"Ya, apa hon Shin,,?" tanya Dhiarra menunggu.
"Tentang baju brand yang akhirnya kau bagi kat Yuaneta, kenapa kau tak pernah cakap maknanya padaku. Aku selalu menunggunya, Raa,," Shin berucap lembut dengan pandangannya yang teduh. Berharap Dhiarra akan sudi memuaskan hatinya.
Kening licin itu tengah berkerut sekilas. Wajah cerahnya telah berubah pias merona. Dhiarra berpaling muka dan menggigit lagi bibirnya.
"Raa, aku menunggu masa kau mengatakannya padaku. Ayo, Raa,,cakaplah,," Shin terus mendesak tak sabar.
Memandang gemas pada wajah pias dan merona di depannya.
Shin sedikit tersenyum, merasa kurang puas dengan jawaban Dhiarra.
"Jangan sekedar suka Dhiarra. Cakap kata lain,," Shin merasa gemas tidak puas.
"Love you, encik Shin,," jawab Dhiarra sangat lirih. Shin benar-benar tersenyum lebar sekarang.
"Kurang keras, Dhiarra. Aku tidak dengar. Ulangilah,," pinta Shin tersenyum.
Dhiarra juga tersenyum, paham jika Shin hanya alibi padanya.
"Love you, encik Shin,,!" ulang Dhiarra keras dan jelas. Tapi Shin tetap nampak tidak puas. Menyadari sesuatu yang tidak disukainya.
"Kenapa guna encik lagi, Raa,,?" protes keras Shin Adnan.
"Sebab,,, masa itu, aku dah rasa cinta pada encik Shin," jawab Dhiarra tersipu.
Alis golok itu terangkat sedikit, mencoba paham maksudnya.
"Ya, aku dah paham, Dhiarra. Terimakasih pada ucapan jujurmu. Aku rasa sangat bahagia saat ini, Raa." Shin terdiam menelan air mulutnya sesaat.
__ADS_1
"Ra, hari itu,, aku dah cakap kat semua orang tentang perasaan cintaku padamu. Di depan keluargaku juga pada mamamu. Sekarang buatlah sepertiku. Cakaplah keras-keras padaku sekali lagi,,," Shin meminta dengan ekspresi seriusnya. Mungkin ini adalah keinginan terpendam masa remaja mudanya yang sempat tertunda. Dan pada Dhiarra lah mungkin kini ingin dihempaskan mimpinya.
"Ayolah, Raa,,, aku ingin dengar. Cakaplah yang keras," pinta Shin lagi. Sebab Dhiarra hanya menatapnya terheran dengan mata melebar.
Mengangguk juga akhirnya, gadis cantik itu juga tersenyum. Tiba-tiba Dhiarra berdiri dan menggeser kakinya di batu karang yang letaknya lebih tinggi. Menoleh ke belakang dan tersenyum pada Shin.
"Hon Shin, akan ku cakap keras-keras. Tapi lepas ini, kamu gendong aku berkeliling pantai. Setuju tak,,?!" Dhiarra bernego tiba-tiba.
Shin tersenyum menahan tawanya. Kemudian mengangguk pasrah pada sang istri.
"Hon Shin, bersiap dengarlah,,!" seru Dhiarra.
"LOVE YOU, ENCIK SHIIIN !!!!!!!"
"LOVE YOU, ENCIK SHIIIN !!!!!!!"
"LOVE YOU, ENCIK SHIIIN !!!!!!!"
Tak disangka Shin Adnan. Gadis jelita itu telah berteriak sangat keras dan bar-bar berulangkali serta beruntun di batu karang yang tinggi itu.
Lelaki itu sadar bahwa sedang banyak mata dari para pengunjung pantai lainnya menatap tercengang pada Dhiarra juga dirinya. Tapi Shin tidak peduli, telah merasa puas, terkejut dan sangat bahagia.
"Raa, Dhiarra,,, turunlah,,!! Ayolah cepat naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sepuas inginmu,!!" seru Shin sambil melambai pada Dhiarra.
Dhiarra termangu sebentar sebelum merambat turun dari karang. Shin benar-benar akan menggendongnya. Diam-diam rasa sebak sesak di dadanya. Kerinduan pada ayah kandung saat kecil dan sering menggendongnya di punggung, sebentar lagi terobati.
Siapa lagi yang boleh menggendongnya seperti sang ayah saat Dhiarra kecil dulu jika bukan Shin Adnan?
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
Readers ******tersayang****** kuuuuh..
Terimakasih masih istiqomah datangmu yaaa... Terimakasih telah menyemangati otor oleng ini yaaa...😄😄
Berkat beloved readers yang selalu datang, meski tak seberapa banyak... diriku kian semangat berdiri saat ini.. Aku padamu! 😘😘
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓