Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
30. Teguran Shin


__ADS_3

Setelah puas mengguyur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kuku kaki di bawah shower yang hangat, gadis itu berpindah ke bathup. Merendam perlahan tubuh indah cerahnya dengan air yang juga diatur menghangat hingga penuh di bak mandi.


Meski tidak banyak yang dilakukan dalam melakukan job baru sebagai sekretaris Shin. Rasa di badan tetap sama, letih dengan kepala juga pening. Bahkan perasaan hati Dhiarra juga sering gusar tidak tenang. Gadis itu merasa raganya lelah sia-sia.


Tok..! Tok..! Tok...! Tok..! Tok..!


Merasa nyaman dan santai dengan tubuh bersih yang terendam air hangat, mata bintang itu terpejam. Telinga indahnya membangkang. Tidak lagi peduli akan ketukan di pintu kamar yang telah berbunyi ulang banyak kali. Dhiarra benar-benar terseret dalam tidur.


Tok..! Tok..! Tok...! Tok..! Tok..!


🍒


Pelayan muda yang biasanya, berjalan cepat menuju meja makan. Itu adalah kedatangan ke sekian kali seteleh gagal mengetuk pintu di kamar Dhiarra.


"Tetap tak ada tanggapan, tuan..," pelayan memberi laporan yang sama untuk yang ke tiga kali.


Shin terdiam, memberi anggukan samar pada pekerjanya. Tidak lagi menyuruh ulang untuk datang melakukan hal yang sama. Shin terus menghabiskan makanan di piring dengan tenang hingga bersih.


Tak ada penghuni kursi lain yang datang. Fara masih betah menghabiskan liburan di Kuala Lumpur. Zubaidah sedang ada perkumpulan arisan sosialita. Sahila ada undangan pesta perkawinan sahabat di Pahang. Hisyam, menghabiskan malam minggu bersama teman gila clubbingnya di Genting Highland.


Sedang Nimra dan suami, telah mulai menempati rumah baru. Rumah idaman yang dibeli dengan bantuan keuangan cukup besar dari Shin Adnan. Bukan Shin yang mengusir, namun Nimra datang pada sang paman untuk meminta pinjaman cukup besar. Ternyata untuk menambah jumblah pembayaran membeli rumah baru di Johor.


Dan tinggal Shin sendirianlah yang tidak akan meninggalkan rumah sesuka hatinya. Pria tegar dan hebat sekuat tembok Cina itu sedang sendirian di meja makan. Berteman piring, sendok dan garpu yang sesekali berdenting sebab tak sengaja beradu. Dengan seorang pelayan setia berdiri di samping, tanpa berani mengajak sang tuan bersuara.


Orang menganggap Shin mungkin sudah tak ada keinginan apapun selain kemajuan perusahaan. Hanya Shin yang sangat menyimpan rapat bagaimana rasanya sendiri. Dengan usianya yang matang dan dewasa, akan memalukan jika bermanja kembali pada orangtua. Namun Shin juga sadar akan perlunya pendamping hidup demi penyandar jiwa dan lelahnya...


Mengingat dan memikirkan nama-nama perempuan yang pernah dekat ataupun mendekat, justru tidak membuat Shin bersemangat. Hati Shin tidak tertarik,tergetar, ataupun tergerak. Hanya sabar menunggu agar ditunjuk siapa perempuan tepat yang akhirnya datang dan pantas bersamanya. Shin sedang menunggu saat seperti itu..


🍒🍏


Tok...!Tok..! Tok...!


Pukul 10.30 pm , waktu di Malaysia.


"Ehm..!" pria yang sengaja tak tidur itu berdehem.


Ceklek...


Pelayan muda yang biasanya, masuk bergegas. Mengatakan hal dengan maksud yang sama juga.


"Belum ada tanda-tanda cik Dhiarra bangun, tuan..," nada suara pelayan itu sepertinya putus asa.


"Kau istirahatlah. Barsiap saja jika aku memerlukanmu," suara stereo itu agak dingin.


"Terimakasih, tuan Shin..," pelayan mengangguk dalam. Berbalik untuk keluar dari kamar.


Shin meletak ponsel yang baru diselami. Sebuah memory card yang baru di lepas dari ponsel, disimpan ke dalam laci meja. Lelaki itu baru memutar tayang rekam cctv antara Adrian dan Dhiarra siang tadi.

__ADS_1


Adegan yang sempat disangkanya tidak terjadi. Mereka tidak saling menyentuh, apalagi saling peluk ataupun saling cium. Namun justru mendapati percakapan mengejutkan antara sepasang kekasih yang terdengar cukup dramatis.


Sambil tersenyum samar, lelaki itu berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Mendatangi kamar perempuan dalam video yang baru dia putar tadilah tujuannya. Shin berjalan cepat menuruni tangga berundak, penghubung antara kamar miliknya dan kamar si gadis pendatang.


TOKK...! TOKK...! TOKK..! TOKK..! TOKK...! TOKK..! TOKK...! TOKK..! TOKK....! TOKK. ! TOKK..! TOKK..!


Dhiarra yang sedang membuka mata dan terkesiap bangun, lebih terkejut lagi setelah tiba-tiba pintu kamarnya diketuk sangat keras serta bertubi-tubi.


Tubuh polos itu meloncat keluar dari bak mandi dan panik menyambar handuk bajunya. Tergesa dipakai dan diikat talinya buru-buru. Nyawa setengah bangun itu seperti takut jika orang pengetuk pintu tidak sabar lalu mendobrak pintu dan masuk ke kamar.


TOKK..! TOKK..! TOKK..! TOKK..! TOKK...! TOKK..! TOKK...! TOKK..! TOKK....! TOKK. ! TOKK..! TOKK..!


Gadis cantik itu berlarian menuju pintu. Bahkan untuk menjawab ketukan bertubi itupun rasanya sangat berat.


Ceklerrkk..!


Lemas sebab panik, itulah yang sedang Dhiarra rasakan. Berdiri mematung memegangi pegangan pintu sambil menatap lebar pada Shin.


Shin pun terhipnotis. Wajah basah itu nampak cerah dan segar alami. Rambut hitamnya melekat dan mengkilat sebab basah dan berair. Handuk Dhiarra nampak banyak bercak bulat tak teratur dengan warna putih yang basah. Dan Shin pun merasa dirinya juga mulai ikut basah saat ini.


Handuk baju yang melekati tubuh Dhiarra sebatas tengah paha, amat sangatlah tipis. Shin paham, handuk Dhiarra berbahan dari wool dan sutera. Namun Shin coba mengabaikan.


"Lama sangat kau mandi, Dhiarra..?" Shin menampakkan wajah kosong, terkesan sedang tak berfikir apapun.


"Saya tertidur kat bak mandi... Ada apa mencari saya, encik Shin..?" memandang kebingungan pada Shin.


"Aku lupa bagi tahu. Segera coba hubungi kawan desainermu itu. Para customer sudah mendesak untuk segera peluncuran. Sudah sangat urgent, Dhiarra..," Shin tedengar sangat serius. Selalu begitu jika menyangkut pekerjaan.


Dhiarra hanya diam memandangi Shin. Tak tahu harus menyahut bagaimana. Bimbang antara menyanggupi ataukah jujur saja secepatnya.


"Dhiarra, engkau paham..? Secepatnya.." mata itu melaser lekat-lekat.


"Iya..., akan coba kuhubungi..," Dhiarra mengangguk, menjawabnya asal saja.


"Selepas ini segeralah makan. Kau berjam-jam ritual mandi. Kau tahu, berapa banyak kali pelayanku mendatangi kamarmu..?" suara stereo itu semakin menggema.


"Saya tadi tertidur dan bangun sendiri. Lain kali tuan Shin tenang saja, jangan mengurusi." Dhiarra merasa tidak suka terlalu dipantau.


"Jika ternyata ada apa-apa denganmu di dalam sana, bagaimana..?!" pertanyaan Shin terdengar menajam.


"Encik Shin merisaukanku..?" mata bintang itu semakin bersinar. Shin kian susah berekspresi.


"Bukankan kau akan menikah? Kau calon istri orang, Dhiarra. Jaga baik-baik dirimu. Jaga kesehatanmu..," Shin terdiam, mata lasernya meredup. Menunggu reaksi Dhiarra.


"Encik Shin..., anda tahu?!" mata itu melebar lagi makin indah. Berharap Shin menjelaskan padanya.


Tapi Shin mengabaikan rasa heran Dhiarra.

__ADS_1


"Ibgat pesanku, Dhiarra. Terlebih jika membuka pintumu. Apapun yang terjadi, jangan pernah membuka pintu dengan penampilanmu seperti ini. Pakailah bajumu dulu dengan baik.." suara Shin terdengar lirih tapi meresahkan.


"Mmaksudmuu...?" wajah cerah Dhiarra nampak sedikit pucat seketika.


"Kuncilah pintumu. Bercerminlah sekarang. Jangan lupa pergi makan. Bye, Dhiarra..," meski masih nampak tenang, Shin terdengar buru-buru berbicara.


Shin meraih pintu yang dipegang Dhiarra dan menutupkannya dengan cepat. Lalu berbalik dan bergegas meninggalkan kamar Dhiarra menuju kamarnya.


Dhiarra termangu, pandangannya kosong menatap pintu yang barusan ditutup oleh Shin. Tapi segera berbalik dan berjalan menghampiri cermin besar di kamar, Dhiarra berdiri menghadapnya.


Seperti ingin berenang dalam di lautan. Memang sangat memalukan. Tampilan Dhiarra di cermin seperti patung cantik bertubuh putih sangat indah namun seperti tak berhanduk. Bahkan ingin menangis sebab terlalu malu pada Shin. Merasa tak akan ada muka jika berhadapan lagi dengannya.


Rasa ingin marah tanpa tahu pada siapa. Segera dipilihnya baju paling sopan dan rapat yang sedang dimiliki. Dhiarra memakainya cepat-cepat. Merasa seperti sedang diintai oleh Shin Adnan sang paman. Ini adalah kedua kali Shin menangkap basah penampilan Dhiarra yang vulgar. Dan kali inilah yang parah. Perasaan malu dan tak nyaman terus kembali mengejarnya...


Drrt...Drrt..Drrt...Drrt..


Tak bersemangat Dhiarra mengambil ponsel di meja, di samping tempat tidur. Sambil terus merebah gontai dibacanya pesan itu.


*Apa sangat malu untuk pergi makan? Tak perlu keluar. Ambillah makanan yang diantar. Makan saja di kamarmu,* Encik Shin


*Kenapa tak langsung menegurku dan pergi?!* Dhiarra


Tak ada balasan ..belum ada tanda dibaca..


Tok..! Tok..! Tok..!


Dhiarra mengabaikan sesaat... Mungkin pelayan yang antar makanan.


Tok..! Tok..!Tok..!


Dibiarkan pun risih juga..,sebab pasti berterusan..


Ceklek..


Benar...Makanan itu diantar pelayan..


"Tuan Shin yang menyuruh saya, cik... Silahkan..,"


Dhiarra menerima nampan yang diulur pelayan dengan diam.


"Permisi, cik Dhiarra..," pelayan mengangguk sedikit.


"Terimakasih, bang..," Dhiarra mengucap terimakasih sebelum pelayan muda itu benar-benar berlalu.


Drrt..Drrt..Drrt..


Dhiarra cepat menyambar ponselnya.

__ADS_1


*Maafkan aku Dhiarra. Anggap saja mataku sedang buta. Habiskan saja makanmu .* Encik Shin


Mana mungkin bisa tenang. Hati Dhiarra justru semakin kepanasan sekarang, sebab marah.., sesal, dan malu...


__ADS_2