
Dhiarra telah selesai makan dengan cepat dan sempurna. Tidak ada sebutir nasi pun yang tertinggal dalam piring dan sendok. Meneguk air putih dari gelas hingga kosong tanpa setetes pun tersisa. Mencabut selembar tisu lembut dan mengelap cepat di bibir dan mulut.
Memandang Fara yang sedang melihat juga ke arahnya sambil mengunyah tersenyum.
"Akak makan cepat sangat, dah serupa abang Shin lah tuu,," tegur Fara di sela makan kunyahnya. Dhiarra tersenyum menanggapi.
"Terbiasa makan berdepan dengan dia, Fara," timpal Dhiarra mengiyakan. Fara mengangguk tersenyum dan terus memandang Dhiarra.
"Akak nak dulu naik atas kee? Pergilah, kak. Lepas nii, aku nak keluar lagi kejap. Nak jumpa kawan kat KLCC. Coba akak tak dalam pingitan, kuajak serta daah,," Fara seperti tengah iba pada Dhiarra.
"Iyalah, Fara. Aku belum pernah pergi sana. Tapi tak pe lah,,, Fara pergilah berseronok. Hati-hati kat luar,," pesan Dhiarra pada adik ipar.
"Trims, akak," sahut Fara. Piringnya pun juga terlihat sudah bersih.
"Fara, aku pergi ke atas dulu ya,," pamit gadis Indonesia itu pada Fara. Dara muda Malaysia itu hanya membalas dengan anggukan, mulutnya sedang penuh berisi air dari gelas.
Dhiarra bergegas naik tangga menuju kamarnya di kamar sang suami. Membuka pintu dan memasuki, serta merta mengingatkan lagi pada sang pemilik kamar, Shin Adnan.
Duduk di sofa sambil menyambar ponsel dari meja. Tangan halusnya bergerak geser di layar ponsel sangat cepat. Membuka sebuah pesan video yang dikirim Fara barusan.
Wajah cantik yang nampak bertaut alis dan sangat fokus menatap layar ponsel itu tiba-tiba menggit bibir dan samar tersenyum. Namun berubah mendung dan nampak muram wajahnya.
"Aah,,,hon Shin,,, maafkan aku waktu itu. Aku tak berniat pergi darimuuu,,,hon Shiiiinn,," Dhiarra terdengar mengeluh dan merintih sangat lirih.
Wajahnya kian sendu dengan mata yang barkaca-kaca tanpa niat diusapnya. Video dari Fara yang tengah diputar dan ditatap, benar-benar menaikkan rasa rindunya pada sang suami.
Terus diputar ulang video yang berisi rekaman Shin Adnan saat pergi ke Zeta Bar bersama Idris.
Fara mendapatkan rekaman video cctv itu dari hasil meminta rayu pada salah seorang kawan rapatnya yang bekerja sebagai tenaga admin di Zeta Bar. Dan datuk Fazani telah mengesahkan video itu sebagai dokumen sekaligus video keluarga yang rahasia dan dilarang kebocorannya.
Dhiarra terus memutar ulang dan tak pernah berpaling menyimaknya. Video dengan back ground musik dari covered Zidane "Aku Bukan Jodohnya" itu memang sangat menyentuh dan mengiris perasaan. Sangat sesuai dengan keadaan Shin Adnan. Dan Fara telah menandai video itu dengan tajuk 'Collapse'
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Akulah jodohmu itu, Raaaaaa...."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Raaaaaaaaa....Dhiarraaaaaa....."
"Akulah jodohmu, akulah suamimu, Raaaa..."
__ADS_1
"Raaaaaaaaaa........Dhiarraaaaaaaa....."
"Ayolah kita bercinta, Raaaaaaa......Dhiarraaaaaaaa..........!!!"
Itulah bunyi racau kicau Shin di video cctv Zeta Bar yang terus disimak Dhiarra. Kian merasa rindu pada sang suami sekarang.
Dengan video yang terus berputar ulang otomatis, Dhiarra berdiri dan menghampiri almari besar milik Shin. Membukanya dan mengeluarkan sebuah baju dari sana. Bukan baju,,, tapi baju tidur mini dan transparant.
Lingerie kelewat seksi yang sempat dibelikan Shin saat belanja di butik Baby, Kids & Mom, di Gurney Paragon. Lelaki yang sempat menghilang dan tiba-tiba telah berdiri bangga di baris antrian kasir. Ternyata telah membelikan sepotong lingerie seksi untuk Dhiarra berwarna biru tua. Isi kepala Shin Adnan memang suka berisi tiba-tiba.
Dengan rasa yang terus berdebar, sedih dan rindu, Dhiarra bediri di depan kaca cermin di almari. Melepasi seluruh baju dan menyisakan dua potong kain kecil itu menyisa di tubuhnya. Memakaikan baju tidur yang baru dibelikan Shin itu di tubuhnya.
Merasa dirinya menakjubkan dan cantik. Memegangi sendiri di beberapa bagian tubuhnya. Meraba dada,,,meraba leher,,, meraba dada,, meraba perut,,meraba **** * dan pahanya. Merasa rindu pada Shin Adnan yang sangat.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Kamar besar di rumah megah Melaka sedang remang saja lampunya. Lelaki yang merasa gerah dan melepas juga baju atasan, menyisakan celana pendek berkain halus dan longgar saja di badan. Dan tidak berminat untuk menyalakan AC sekecil berapa pun.
Seharian ini, melakukan pekerjaan dengan gusar tidak tenang. Terus saja mengingat sang istri dan menyeru-nyeru nama gadis itu di hati. Shin juga sedang sangat merindukan Dhiarra seharian.
Merasa tak mampu lagi menahan, Shin menyambar ponsel dan berdiri duduk di atas sandaran sofa. Tidak peduli jika hamparan dadanya sedang terbuka dan terlihat sangat menggoda. Shin mendial nomor ponsel Dhiarra dengan mode video call on line di ponsel canggihnya.
Panggilan video itu sedang tersambung menunggu. Menunggu agar seseorang segera menyambar terima panggilan. Resah berdebar di dada Shin Adnan. Tak sabar agar Dhiarra segera menyambar talian.
Ponsel lebar super canggih dalam pegangan Shin tengah menampakkan gadis indah jelita berbaju seksi warna biru tua.
"Dhiarra,,assalamu'alaikum," tak berkedip Shin menyapa. Dadanya kian resah berdebar.
"Wa alaikum salam,,,hon Shin,," sahut gadis jelita di layar dengan mata redup dan sembab.
"Bajumu baru,,?" tanya Shin tersenyum.
Gemas dengan anggukan gadis yang nampak begitu meresahkan di layar ponselnya. Mata Shin terpaku pada benda meyembul dari dada Dhiarra. Sangat jelas kentara bentuknya.
"Hon Shin, kenapa tak berbaju?" tanya si cantik di ponsel beningnya.
"Rindu,, gerah, Dhiarra,," sahut Shin tanpa menutupi perasaannya.
"Sudah melihatku sekarang. Pakailah bajumu, nanti kamu masuk angin, hon Shin," sahut Dhiarra perhatian dan lembut.
"Tidak. Lepas melihatmu, rasanya semakin gerah, Dhiarra," Shin jujur pasrah dengan apa yang dirasanya. Gadis di layar sedang berpaling merona.
"Sabarlah, hon Shin," sahut lembut Dhiarra kemudian. Paham dengan maksud ucapan Shin padanya.
__ADS_1
"Ra,, apa suka dengan baju itu? Aku suka kau memakainya. Kau nampak sangat cantik." ucap Shin tercekat berhasrat.
"Warna biru ini, kesukaanmu hon Shin,,?" tanya Dhiarra. Coba menetralkan panggilan.
"Ya. Dan sangat cocok dengan warna kulitmu." Shin kian resah dengan kulit cerah Dhiarra yang nampak halus licin mengkilat.
"Sudah berapa kali kau pakai? Lain kali akan kubelikan sangat banyak. Aku risau kau tidak menyukainya," terang Shin dengan suara stereo beratnya.
"Baru aku pakai satu kali inilah, hon Shin," jelas Dhiarra.
"Apa kau memakainya untuk kulihat? Kau tahu akan ku telepon?" tanya Shin berharap.
"Tidak, hon Shin, aku tidak tahu. Tapiii,,, aku tiba-tiba tak tahan ingin memakainya. Sebab,, rasanya aku sangat rindu padamu, hon Shin,," jawab gadis jelita itu apa adanya.
"Apa yang kau rindu dariku, haah, Dhiarra,,?" tanya Shin gemas. Sudah merasa panas dingin di seluruh bagian tubuhnya.
"Aku,,," Dhiarra menggantung jawaban. Berpaling dari kamera ponsel dengan wajah pias merona.
"Raa,,, kau rindu kupeluk?" tanya Shin parau.
Dhiarra menunduk dan mengangguk nampak malu.
"Rindu kucium,,?" sambung tanya Shin Adnan.
Dhiarra kembali mengangguk perlahan.
"Rindu kusentuh?" tanya Shin parau dengan tegangan yang tinggi. Shin nampak resah menunggu anggukan Dhiarra sekali lagi. Gadis itu perlahan mendongak menatap sayu Shin Adnan.
*Tap!*
Aarrgh!! Kecewa berat Shin Adnan. Layar di ponselnya gelap sesaat. Lalu kembali di menu layar utama. Panggilan terputus sepihak tiba-tiba. Putus dari sambungan di ponsel Dhiarra.
Dengan cepat segera dicoba dialnya kembali. Tidak tersambung. Ponsel Dhiarra telah mati tak terkoneksi...
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Dhiarra telah merebah bahagia. Merasa sangat lega. Meski panggilan panas bersama Shin barusan telah putus tiba-tiba, tapi telah mampu menambah rasa yakin akan perasaan lelaki itu padanya.
Ponsel Dhiarra telah mati habis daya. Terlalu lama untuk memutar ulang video cctv Shin di Zeta Bar. Dhiarra berusaha tidur dengan terus tersenyum. Menutup rapat tubuhnya dengan selimut Shin Adnan yang juga berwarna biru tua.
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
🍒🍒🍒🍓🍓🍓🍓
__ADS_1