
Gedoran di pintu penginapan semakin keras dan kencang. Namun beberapa saat tidak lagi terdengar. Mereka sepertinya sedang bergeser pada kamar lain. Kian yakin sekarang, siapa yang dengan brutal mengetuk pintu kamarnya itu dari luar.
Penggedor pintu tidak sendiri, penginapan ini tidak kedap suara sepenuhnya. Masih sayup terdengar gedoran pintu di kamar-kamar lain saling bersahutan. Jika dugaan Shin benar, maka tak ada ampun bagi pasangan haram manapun yang kedapatan tinggal bersama di kamar untuk mendapat hukuman setimpal dari badan negara.
Shin terdiam dahinya tengah berkerut, menoleh pada Dhiarra yang terlihat lemah dalam baringnya. Mata itu sayu memandang Shin penuh tanya.
"Encik Shin, sebenarnya siapa itu?" suara Dhiarra lirih dan sangat tidak jelas. Seperti sedang mengigau.
Shin membungkuk dan mendekati telinga Dhiarra.
"Dhiarra, tenanglah. Kau harus percaya padaku. Apapun yang akan terjadi nanti, percayalah padaku. Kau janji akan percaya denganku?" Shin menarik sedikit wajahnya.
Memandang wajah sayu dan mata redup begitu dekat. Dhiarra sangat mempesona dengan rambut menyebar, menghampar di bantal. Setelah saling memandang cukup lama, gadis itu mengangguk. Shin merasa lega. Merasa tenang untuk berfikir pada segala kemungkinan yang akan menimpa mereka.
Dhiarra merasa tubuhnya gemetar, nyeri, serta kepala sangat ngilu dan berat. Merasa begitu nyaman dengan lilitan dari selimut hangat dan lembut ditubuhnya. Tidak ingin terusik dari apa yang sedang dirasainya.
Hanya mengangguk pasrah pada ucapan dan pertanyaan Shin padanya. Tidak ingin membuat Shin marah dan kemudian bertindak seperti tadi. Dhiarra paham akan perasaan dan tindakan Shin padanya barusan. Bukan merasa tidak percaya pada sang paman, tapi Dhiarra merasa malu dan segan. Tidak menyangka Shin begitu marah dan membuatnya jatuh dalam jurang malu yang dalam.
Tok..!!Tok..!!Tok..!!
Tik..!!Tok...!!Tok..!!
Tok..!!Tok..!!Tok..!!
Tik..!!Tok...!!Tok..!!
Gedoran di pintu terdengar lagi guncangannya. Mereka mungkin telah menggedor berkeliling seluruh pintu di penginapan. Dan sekarang telah kembali menghampiri kamar yang ditempatinya dengan ketukan yang tak berkurang brutalnya.
Shin berjalan menghampiri pintu dengan berusaha bersikap tenang. Mempersiapkan diri dengan kepala dingin, menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi setelah pintu penginapan itu dibukanya.
Ceklerk,,!!
Ada lima orang yang sedang berdiri menghadapnya dengan pandangan yang sama sekali tidak ramah. Terkejut rasanya, di antara kelima orang pegawai kerajaan dari JAIS/Jabatan Agama Islam negeri Trengganu itu, Shin mendapati seseorang yang pernah sangat dikenal. Pegawai itu pun sama terkejutnya dengan Shin. Namun berusaha bersikap biasa setelah mengedip sebelah mata kemudian pada Shin sebanyak dua kali. Shin segera mengangguk samar dan ini membuat perasaannya semakin tenang.
__ADS_1
"Selamat petang! Kami dari Jabatan Agama Islam Kerajaan wilayah negeri Trengganu sedang melakukan tugas. Harap bekerja sama dengan baik. Izinkan kami melakukan sweeping di kamar anda!!"
"Permisi!!" Salah satu dari mereka berbicara dengan lantang.
Bersamaan dengan ketiga pegawai lain yang maju ke depan bersiap menerobos masuk ke kamar Shin.
"Ehm,,,! Kalian buat kerja dengan baik-baik kat kamar ini. Buat perlahan,,!" pria yang Shin kenal tadi berseru pelan pada keempat orang yang bersiap itu.
"Siap, sir,,!" salah satu dari mereka menyahut.
Shin menepi sambil menarik daun pintu untuk lebih terbuka lebar lagi. Mereka masuk dengan bergiliran dan tenang. Benar-benar paham dan mengikuti arahan orang yang mengarahkan tadi, yang kemungkinan adalah ketua pemimpin sweeping di penginapan.
Keempat pegawai yang memasuki kamar hanya berdiri di jendela dan membukanya agak susah. Meski melihat adanya Dhiarra yang tengah berbaring kaku, mereka tidak mendekat.
"Segera periksalah seperlunya.."
"Maaf encik, tolong segera keluarkan IC anda. Juga milik teman perempuan anda itu. Serta akta kawin yang anda miliki," pria ketua menghadap dan berkata pada Shin.
Tak ingin membuang banyak waktu, segera dikeluarkan seluruh dokumen diri dari dompet di ransel. Lalu berjalan menghampiri Dhiarra di ranjang. Sesak rasanya, gadis itu sedang menangis. Air mata bergulir jelas dari sudut mata jatuh ke pelipis dan sebagian ke telinga. Tangannya sedang terkunci di balik selimut, tidak ingin mengeluarkan untuk mengelap air matanya. Risau jika selimut akan lebar tersibak.
"Jangan menangis, berhentilah menangis. Baiklah, akan kuambilkan dalam tasmu." Shin yang akan lurus berdiri kembali membungkuk dan berbicara di telinga Dhiarra.
Bukan menyahut, justru air mata Dhiarra semakin deras mengalir. Itulah penyebab Shin kembali mendekat di telinga Dhiarra.
"Sudah aku cakap, percayalah padaku. Tapi kau masih saja terus menangis," lelaki itu justru berkata agak ketus. Kembali kesal sebab si gadis justru menangis kian deras. Shin merasa Dhiarra tidak mau mempercayai dirinya.
"Diamlah," Shin berkata dengan dingin. Namun tangannya mengulur ke wajah Dhiarra. Mengelap cepat air yang berkumpul di pelipis dan telinga gadis itu.
Shin telah berdiri dan mengambil tas bahu Dhiarra di kursi. Mengambil dompet dan menarik kartu IC dengan cepat.
"Catatlah," Shin menyodorkan dokumen pada salah satu petugas JAIS. Mereka menelitinya.
"Kalian berdua tak ada ikatan, apa hubungan kalian?" salah seorang bertanya.
__ADS_1
"Dia putri dari istri abang angkatku. Mudahnya cakap, keponakan perempuanku," Shin sama sekali tidak berniat menutupi. Biarlah orang JAIS yang pandai agama itu yang memutuskan sendiri.
"Hubungan kalian sangat saling jauh. Itu tak boleh jadi alasan kalian boleh kongsi(gabung) satu bilik bersama. Kami terpaksa mendatamu, encik,," salah satu dari mereka berkata.
Shin diam tak menyahut. Dipandanginya orang yang mulai menulis data dirinya juga milik Dhiarra di sebuah buku data yang tebal. Mungkin telah ratusan pasang nama yang dianggap haram telah ditulis di dalam buku itu. Tak ada niatan Shin untuk mencegahnya sama sekali.
"Apa kawan encik yang berbaring itu tengah sakit?" tanya sang ketua sidak pada Shin.
"Kami habis kehujanan, baju yang dipakainya basah kuyub. Dan tidak membawa pengganti. Sopirku sedang belanja untuknya," jawab Shin dengan cepat dan jujur.
Ketua sidak mengangguk mengerti. Lalu memberi arahan pada anggotanya untuk pergi duluan keluar. Kini hanya tinggal ketua sidak saja di kamar.
"Shin, aku ingin berbicara denganmu. Turunlah ke lobi penginapan lima belas menit lagi. Kutunggu di sana," pria seumuran Hazrul itu menepuk pelan pundak Shin berkali-kali.
"Iya, bang. Aku akan turun lima belas menit lagi," jawab Shin sambil menerima dokumen yang diulur ketua sidak.
"Baiklah, aku keluar dulu. Ada hal yang harus kuurus segera," kata ketua sidak sambil berjalan keluar. Pegawai kerajaan itu menutupkan kamar Shin dengan pelan.
Sambil menghela nafas, lelaki bersarung koko itu pergi ke dalam kamar mandi. Adzan dzuhur tengah terdengar dari Mushola di samping luar penginapan. Shin akan turun dan pergi ke sana sekarang.
Dari kamar mandi, menyempatkan diri mendekati Dhiarra yang ternyata masih saja menangis. Meski paham perasaan dan sebab gadis itu menangis, Shin benar-benar merasa kecewa dan kesal.
"Aku akan turun sebentar ke Mushola. Akan kukunci pintu kamar dari luar. Atau kau ingin menguncinya sendiri?" diantara kesal hatinya, Shin masih bicara baik-baik dan pelan.
Tapi Dhiarra hanya diam sambil mengarahkan pandang redupnya pada Shin.
"Akan kukunci saja dari luar. Mungkin aku akan kembali tiga puluh menit lagi. Selama aku tak ada, bergeraklah atau apapun yang kau ingin. Akan segera datang makanan untukmu," Shin telah memegang pintu kamar dan membukanya. Dan telah hilang dalam sekejap. Hanya bunyi pintu dikunci dari luar yang terdengar.
Bukannya lega yang dirasa Dhiarra sekarang. Ternyata justru tidak tenang setelah ditinggal Shin Adnan keluar. Seperti trauma jika rombongan orang dari JAIS itu datang lagi dan menggedor pintu kamar dengan sangat tidak sopan. Sedang dirinya hanya mampu pasrah tak berdaya seperti itu.
Merasa menjadi orang tak berguna sekaligus dimalukan, membuatnya sedih lagi dan menangis terisak dalam tidur.
Rasanya memang sangat terhina. Seperti pasangan haram yang ditangkap basah beramai-ramai sedang berbuat hal mesum di kamar. Seumur hidupnya, Dhiarra tidak pernah menyangka akan mengalami hal yang memalukan sekaligus mengaibkan seperti yang sedang dialaminya sekarang.
__ADS_1
Menangis lagi meski ingat pada pesan Shin agar dirinya bertenang. Menangis sebab juga merasa kasihan pada sang paman. Kesalahan yang tak disengaja membuat mereka seolah sedang melakukan dosa besar dan harus mendapat tindakan..