Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
23. Saling Maaf


__ADS_3

Pelayan muda yang biasanya itu telah berlalu dari pintu. Barusan memberi tahu pada penghuni kamar agar keluar untuk segera makan malam.


Gadis pendatang tidak lagi lambat pulang. Telah sampai di rumah besar sebelum adzan Maghrib berkumandang. Sebab saat di rumah sang karib, begitu selesai urusan dengan bakso urat dan rasa pedasnya lenyap, Dhiarra segera meluncur pulang.


Gadis itu nampak segar dengan dress warna sunkist rancangannya sendiri. Panjang sebetis dengan lengan tangan sebahu. Rambutnya tidak lagi digelung namun jatuh indah tergerai. Bukan sengaja, tapi tak sempat lagi merapikan. Sebab, tidak ingin terlambat datang ke meja makan.


Orang yang disegani ternyata tak ada. Kursi itu masih kosong. Tapi kursi-kursi lain yang telah terisi membuat gadis itu agak enggan dan heran. Mak cik Zubaidah dan si manis Sahila telah duduk lagi di kursinya. Mereka kembali makan bersama di meja, mungkin hukuman mengasing di rumah belakang telah usai. Berapa hari..Dhiarra coba-coba mengingat..


Lebih mengherankan, mantan keluarga Hazrul itu tak lagi terang-terangan sinis memandang seperti selama ini. Tapi justru tersenyum saat tak sengaja saling menatap dengan Dhiarra. Meski senyum itu samar, kaku dan nampak sedikit dipaksakan, itu benar-benar mengejutkan.


Rasa herannya buyar saat harum semerbak berhembus dari samping bersamaan sosok tegap pembawa wangi itu melewati, lalu duduk santai di kursi. Encik Shin datang dan duduk tenang di depannya. Ponsel kesayangan di tangan telah diletak rela ke meja.


Pria berkulit cerah semu kecoklatan itu nampak segar berwibawa. Rambutnya selalu sedang basah ketika makan malam. Tuan Shin nampak kian lebih muda dan kelewat tampan di saat demikian.


"Apa kalian menunggu? Kalian segera makanlah.," bersamaan ucapannya, Shin segera mengambil nasi ke piring. Melengkapi dengan bermacam sayur dan lauk. Mengambil sendok garpu, dan mulai makan tanpa suara dengan tenang.


Shin terus fokus pada makanan sambil sesekali menyentuh layar ponsel. Dan menyimak sesuatu yang menarik di sana. Tidak sekalipun memandang orang-orang di sekitar. Dhiarra yang berkali-kali memandang sambil makan pun tak pernah juga di tanggapi. Sepertinya berita yang dia baca di ponsel begitu penting, dan makanan di piring itu terlalu nikmat diabaikan.


Dhiarra melirik sekali lagi sekilas. Makanan di piring encik Shin telah bersih tanpa bekas, dan kini sedang meneguk teh hangatnya di gelas. Mungkin sebentar lagi, lelaki itu akan meninggalkan kursi dan meja makan tanpa memberi apa pun sapaan yang pantas.


"Ehhemmm!!" cukup mengagetkan, Shin tidak pergi seperti sangkaannya. Tapi justru berdehem keras, pertanda ingin sedikit perhatian.


Kini semua wajah menatap menyimaknya. Hisyam, Sahila, Nimra dan mak cik Zubaidah. Fara tidak pulang, gadis itu pergi ke Kuala Lumpur mengunjungi orang tua. Sedang suami Nimra, Rafiq, masih juga ada urusan dengan pekerjaan di lapangan.


Shin mulai bersuara.. Matanya tajam memandang gadis di depannya.


"Zubaidah dan Sahila..Kalian telah datang padaku mengakui kesalahan. Dan sekarang perlihatkan jiwa besar kalian pada Dhiarra. Minta maaflah padanya," meski tak bertekanan, tapi suara Shin sangat tegas.


Dhiarra tak sengaja memandang Sahila dan Zubaidah. Mereka saling memandang Dhiarra.


"Maafkan mulut silapku, Dhiarra...," kali ini Sahila yang memulai mengakui. Selebihnya terus diam, tak keluar lagi suaranya.


"Mak cik sama juga, banyak buat silap mulut padamu. Maaf lah, Dhiarra," mak cik Zubaidah berkata sambil menatap lurus pada Dhiarra. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya.

__ADS_1


Dhiarra termangu diam, merasa sangat heran. Ada haru juga yang dirasakannya. Adalah kejutan jika secepat itu mereka mengucap maaf dan mengakui kesilapan. Keraguan pada tulus mereka adalah urusan kemudian.


"Iya Sahila....juga mak cik.. Saya pun juga minta maaf, telah banyak bercakap kasar pada kalian. Semoga kita tidak lagi bermusuhan..," Dhiarra membalas maaf itu dengan lembut. Mengharap ikhlas dari Sahila dan mak cik Zubaidah.


Sahila dan mak cik Zubaidah mengangguk kecil agak kaku lalu menunduk. Makanan di piring belum habis seluruhnya. Mereka lanjut makan dalam bisu.


"Hisyam...," terdengar suara tiba-tiba dari Nimra pada nama si bungsu. Semua mata menyimak pada pemilik nama tersebut.


"Apa hal aku pulak..?!" ada rasa tidak terima namanya kena kutip oleh sang kakak.


"Minta maaf laah.. Pagi itu kau pun pernah buat bising pulak kat dia, kan..? Jomlah cakap maaf... Dan jangan ulang buat lagi, Syam....," sangat lembut dan tegas Nimra berkata pada si bungsu.


"Yelaaah....Sorry lah, Dhiarra... Aku tak sengaja buat bising kat engkau pagi itu. Sebab engkau lawa sangat... Tak tahan aku nak kacau engkau..," suara Hisyam sangat santai. Lelaki berbadan besar itu lekat menatap gadis yang juga termenung memandangnya.


Dhiarra tak menyahut, hanya mengangguk kecil sambil senyum tipis pada Hisyam. Dhiarra pun mengharap agar bungsu tiri itu tak mengulang lagi mengacaunya. Tapi gadis jelita itu tidak yakin.


"Ehm...," tuan rumah berdehem. Perhatian tertuju pada Shin kembali.


"Apa dia mau, uncle...?" dengan malas Hisyam ganti bertanya. Matanya memandangi Dhiarra.


"Apa sudah kau pikirkan, Dhiarra...?" kali ini mata laser Shin mengarah pada Dhiarra.


Dhiarra menggeleng cepat tanpa sadar "Belum, encik Shin..," lirih Dhiarra menyahut. Tapi Shin mendengar sangat jelas. Pria itu meraih gelas minum, meneguk hingga kosong dan meletak balik semula. Lalu memandang keduanya bergantian.


"Jika kalian minat, cakap saja padaku..," ada nada kecewa pada perkataan Shin. Lelaki itu bergegas berdiri dan pergi. Berjalan cepat meninggalkan ruang makan dengan langkah yang lebar.


Dhiarra juga segera berdiri dan pergi, enggan terjebak dalam meja yang masih diliputi kecanggungan. Melempar senyum sedikit sebelum benar-benar undur diri. Tak sempat lagi menyimak tanggapan senyumnya dari wajah-wajah yang masih duduk diam di kursi.


Gadis pendatang itu berjalan santai menuju pintu kamar di teras. Sambil merasa heran pada perubahan sikap para saudara tiri padanya. Sebab penat menduga, dianggap sajalah bahwa mereka telah mendapat hidayah. Dan semoga saja kebaikan yang menyapa mereka itu berkelanjutan tanpa henti.


Beberapa langkah lagi akan mencapai pintu di kamar. Gadis itu terkejut, terlihat seseorang tengah duduk di bangku teras kamar. Rupanya lelaki itu adalah encik Shin. Kemudian berdiri begitu Dhiarra telah sampai di depan kamarnya.


"Encik Shin..? Kenapa anda di sini? Ada perlu denganku?" pertanyaan Dhiarra yang bertubi dibalas Shin dengan anggukan samar satu kali.

__ADS_1


"Ada hal pentingkah, encik Shin?" sinar terang dari lampu kamar yang menembusi kaca jendela, menyorot tepat di wajah tampan tegasnya. Shin kembali mengangguk samar satu kali.


"Aku hanya ingin sedikit berpesan denganmu, Dhiarra..?" suara lirih stereo itu tetap saja menggema di teras.


Dhiarra sedikit menautkan alis indahnya. Mata bintang itu menatap heran pada Shin.


" Engkau dengar baik-baik, Dhiarra," Shin mulai menjelaskan. Dhiarra menunggu...


"Perlakuan Zubaidah dan anak-anaknya kuakui memang keterlaluan padamu. Tapi harap sedikit makhlummu, Dhiarra... Mereka mungkin terlalu kecewa, terkejut bahkan mungkin sedang sangat sakit. Hazrul, abangku..,tiba-tiba menceraikan Zubaidah dan itu terjadi hanya dalam hitungan hari. Mereka sudah menikah puluhan tahun. Meski rumah tangga mereka sedang tidak bagus, pasti tetap sakit bagi Zubaidah dan anak-anaknya." Shin menjeda ucapannya sejenak.


"Apalagi setelah tahu apa penyebab Hazrul nekat menceraikan Zubaidah. Menikahi ibumu... Mengkhianati Zubaidah. Jadi, kuharap pengertianmu jika mereka bersikap kurang hangat denganmu. Meski mereka sudah meminta maaf padamu barusan.."


Ucapan Shin terhenti. Mata itu tiba-tiba menatap berkilat pada Dhiarra. Sinar dingin dan tajam tersorot nyata dari mata pekat semu biru. Dhiarra merasa sangat serba salah, hatinya sedikit berdebar resah tidak nyaman. Ada samar rasa takut dan was-was pada adik ipar tiri ibunya itu. Dhiarra mengambil nafas kuat di dadanya..


"Apa encik Shin membenci ibuku? Membenci saya..?" gadis itu memberanikan diri bertanya. Ia ingin tahu jelas posisinya.


"Untuk apa..? itu bukan salah kalian. Kalian tidak paham masalah dalam keluarga Hazrul. Bahkan kalian pun juga korban silap Hazrul. Ibumu dan engkau telah keluar uang banyak sebab Hazrul."


"Aku hanya ingin, engkau sedikit mengerti perasaan Zubaidah dan anak-anaknya. Mereka hanya tengah geram denganmu."


Shin terdiam dan memandang Dhiarra.


"Baiklah encik Shin, saya paham. Meski dalam segi materi pun saya rasa sakit. Ayah Hazrul melakukan segalanya dan memberi juga segalanya pada janda dan anak-anak dia. Sedang akulah yang menanggung salah dia... Juga ibukulah yang menanggungnya....." Dhiarra berbicara sambil mengeluh.


"Kuakui itu, Dhiarra. Itulah sebab aku bagi peluang agar engkau mau berkerja padaku.."


Shin berkata tegas dan sangat meyakinkan.


"Dhiarra, sekali lagi pikirkanlah betul-betul tawaranku itu.." Shin hendak berjalan, namun berhenti lagi dan menoleh.


"Istirahatlah.." Pria tegap itu benar-benar pergi berlalu kali ini.


Dhiarra terus menatap lelaki itu hingga lenyap ke dalam pintu kamarnya. Dan tak lama gadis itu juga hilang melesat ke balik pintu kamarnya..

__ADS_1


__ADS_2