
Dua bulan kemudian...
Kaca pembatas ruangan sedang bergetar dan berbunyi cukup bising. Ketukan tangan yang berulangkali lah penyebab bunyi gaduh yang mengganggu. Bermaksud ingin berjumpa langsung dengan penghuni ruangan di sebelah itu, yang kini hanya ditempatkan sendirian saja di dalamnya.
Ya, siapa lagi yang bebas melakukan hal seperti itu jika bukan Shin Adnan. Bujang matang yang berubah kekanakan dan manja semenjak menikahi istrinya. Dan hanya di depan sang istri sajalah berani menunjuk sikap manja lebaynya itu kapan pun dan di mana saja.
Dhiarra bukan tidak tahu, tapi terpaksa abai sebentar saja. Shin telah mengetuk pintu ruangan dan berpindah mengusik kaca pembatas. Itulah usilnya Shin jika merasa dirri sedang luang dan tidak diburu deadline apa pun.
Jika Dhiarra menurut dan membiarkan Shin masuk ke dalam ruangannya, bisa dipastikan rancangan yang dibuat Dhiarra tidak akan pernah selesai tepat waktu satu pun. Shin akan lama mengusik dan terus merapatinya.
Ceklerk,,!
Dhiarra telah selesai dengan rancangan baju terbaru dan mematikan aliran power di laptopnya. Kini telah keluar ruangan untuk mendatangi ruang pribadi sang suami.
Ceklerk,,!
"Hooon,,,,Hon Shiiiin,,, ada apa?" Dhiarra mendekati Shin yang telah duduk tegak dan tenang di kursi besarnya kembali.
Shin tak bergeming, melirik istrinya pun tidak. Pura-pura merajuk adalah kegemaran baru Shin Adnan. Dan Dhiarra begitu hafal akan kebiasaan Shin yang seperti ini. Tipu daya Shin Adnan tidak pernah berubah.
"Siapa yang pagi-pagi tadi bagi tahu kat aku jika Justin nak model terbaru petang nanti, haaa,,,?" tanya Dhiarra begitu dekat di wajah Shin Adnan.
Shin tetap abai dan pura-pura memeriksa beberapa file di notebooknya.
"Sekarang dah siap. Petang nanti boleh hon Shin bagi tunjuk kat sir Justin. Dia jadi datang, tak,,?" tanya Dhiarra tersenyum.
Shin terlalu tampan dalam mode acuh seperti itu. Wajahnya yang berkerut dan pura-pura abai nampak menawan menggemaskan.
Hingga Dhiarra duduk menyelip di pangkuan pun, Shin tetap teguh dengan mode rajuknya. Tangan halus yang kini mengusik dan merayap di mana-mana pun, Shin tetap abai.
Dhiarra tersenyum, mungkin ada ide baru yang sedang muncul di kepalanya. Bumil muda itu beringsut turun dari pangkuan Shin Adnan. Berputar di sisi meja dan berdiri tepat di depan meja suaminya.
"Baiklah, hon Shin. Aku akan menemui sir Justin petang nanti. Akan kutawarkan sendiri baju rancang terbaruku. Akan kuajak Fara atau Faiz untuk menemaniku," terang Dhiarra dengan sangat meyakinkan.
Membalik badan dan berjalan cepat menuju pintu untuk keluar dari ruangan Shin Adnan.
__ADS_1
Pegangan pintu yang sudah terpegang di tangan terhentak lepas begitu saja. Pinggang Dhiarra telah di tarik dan di rengkuh erat oleh tangan kekar yang melingkari pinggangnya.
"Mau kemana, haaah,,,? Jangan pernah melakukan hal itu tanpaku, paham,,?" Shin telah berdiri memegangi pinggang dan membalikkan tubuhnya. Mereka berdiri saling berhadapan sangat dekat dan rapat.
"Tapi jangan abai padaku... Apa merajukmu sudah cukup, hoon Shin?" merasa senang dan yakin bahwa sang suami tercinta telah mode mencair.
Shin juga masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Mudah membatu dan mudah juga melunak.
Juga tukang pahat-tukang angin. Kadang hangat kadang dingin.Tergantung keinginan dan kebutuhan Shin Adnan.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Setelah ditahan untuk diperlakukan panas dingin cukup lama di ruang pribadinya, Shin melepas bebaskan Dhiarra. Membiarkan istri candunya pergi ke mana pun ke seluruh zona perusahaan yang ingin dikunjungi.
Dan berada di ruangan Fara dan Faiz lah kini sang nyonya boss berkelana. Mengamati pengganti manajer sementara beserta sang asisten cantiknya yang nampak aneh terlihat.
Memandang Fara yang mengenakan jas kerja milik Faiz. Sebab celana kain Faiz itu sama warna dengan warna jas yang sedang dipakai oleh Fara.
"Fara, asal pulak jas abang Faiz ada kat badanmu?" selidik Dhiarra ingin tahu.
Fara nampak terkejut dan memandang Faiz sebentar. Lalu memberi sedikit senyum pada kakak ipar jelitanya yang sedang nampak buncit di perutnya
"Asal tak padamkan aikon (AC),,?" Dhiarra terus saja mengejar.
"Gerah lah tanpa aikon, kaak,," sahut Fara.
"Heeemm,? Alasan lah tuu, nak pinjam jas kerja bang Faiz, yee,,?! Serasa kena peluk yang punya jas kee, ha,,ha,,ha,,!!" Dhiarra begitu puas tertawa. Seperti mendapat peluang emas yang sudah sangat lama ditunggunya.
"Daaah, Dhiarra,,, bukan Fara yang minta pinjam tuu.. Aku yang bagi pinjam kat dia,," Faiz tiba-tiba bersuara menengahi. Lelaki melayu tampan berkulit sawo matang itu nampak agak pias wajahnya.
"Yelah,,yelah,, aku just ingin cakap pada Fara. Petang ni kena ikut abang Shin berjumpa dengan sir Justin." terang Dhiarra memandang Fara yang masih memerah di wajah putihnya.
"Iyee,,kaak. Pukul berapa tuu,?" respon Fara.
"Lepas ashar. Boleh jadi pukul lima lah, Fara," terang Dhiarra sambil berlalu dan menutup pintu kembali.
__ADS_1
Meninggalkan ruangan Faiz, sang manajer pengganti sementara. Sebab om Hafiz masih belum fit dan sedang menjalani terapi pemulihan sendi-sendi di kakinya. Maka Faiz mendapat ruangan baru sementara dan entah sampai kapan..
Sedang Hisyam,,masih seperti sebelumnya. Masih enggan terikat kerja yang sesungguhnya. Lebih menyukai membawa kereta ke pelosok negeri demi membawa para penumpang sewa. Hisyam bekerja sebagai driver taksi gelap kereta miliknya sendiri.
Farahida Adnan,,,, entah sampai kapan mengambil cuti kuliahnya. Ingin menikmati kerja magang atas arahan sang papa dan sang abang. Kerja magang sebagai asisten sementara dari manager sementara juga di Shin's Garment.
Dan Dhiarra,,, gadis pendatang yang berubah status dari sekretaris,,,jadi desainer,,, jadii istri boss Shin Adnan,, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anaknya boss Shin's Garment..
Jadi,,Dhiarra Azzahra Lara harus siap dan siaga jika tenaga dan kepalanya diperlukan sang suami untuk berperan jadi pengganti sementara, sebagai apa pun di Shin's Garment mendampingi Shin Adnan selamanya.
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Sir Justin, pengusaha konveksi asal negara Filipina baru saja berpamit undur diri. Perjumpaan bisnis sore ini begitu lancar tercapai mufakat bersama tanpa kendala apa pun yang bermakna.
Dan intinya, Sir Justin sangat menyukai model-model baju ciptaan dari nyonya Dhiarra Adnan yang terbaru. Tidak merasa berat atau pun berfikir ulang kali untuk membubuhkan tanda tangan di order pesanannya yang melimpah di Shin's Garment.
"Fara, apa hal kau termenung-menung macam tuu,,?" tegur Shin pada Fara yang tidak juga berdiri dari kursinya.
Dhiarra nampak mengulum senyum memandang pada wajah cantik adik iparnya.
"Kurasa Fara masih melayang-layang, sebab sir Justin dah simpan nomor ponsel Fara." sela ucap Dhiarra.
Fara menoleh cepat pada kakak iparnya.
"Akak nii tahu betul lah.. Akhir-akhir ini aku kerap berpartner dengan banyak lelaki dewasa laah. Boleh cepat dewasa pulak aku nii,,ha,,ha,,ha,,!" Fara bangkit berdiri dengan sisa tawanya.
"Haish,,,Fara..! Tak sadarkah kau dah berlebih dewasa sedari dulu, daah.. Tak yah banyak alasan Fara..!" pungkas Dhiarra cepat-cepat. Merasa suka berkesempatan memberi serangan pada Fara. Meski sebenarnya semua kata-kata Dhiarra adalah untuk bercanda. Yang tentu ada juga kebenarannya!
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
🍒🍒🍓🍓🍒🍒
Bab detik-detik akhir di ketamatan riwayat encik Shin..
__ADS_1
Terimakasih tiap datangmu... tiap jejak komentar yang ditinggalkan di sini... Terimakasih segala dukungan readers untukku ya...
Memberi dukungan like..hadiah..bintang.. VOTE,,, juga KOMENTAR hingga tamat dan berakhir.. Komentarmu sangat menyemangatiku!!! Terimakasih, semoga.. Nikmat rizqi, nikmat sehat,.. Nikmat bahagia dan nikmat senyum,, senantiasa tercurah padamu.. Aamiin..