Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
86. Petuah Datuk


__ADS_3

Perjalanan singkat dari Zeta Bar ke rumah orang tua sang tuan serasa beribu kilo meter saja jaraknya. Meski kicau bising di belakang telah reda tiba-tiba, tapi Idriss benar-benar kalang kabut selama perjalanan. Sangat khawatir dan was-was.


Sempat ragu jika keadaan sang tuan akan membuat marah besar datuk Fazani.


Pulang ke Melaka bukan dekat, bisa jadi jika hujan badai begini akan memakan waktu jauh lebih lama dari normal. Bahkan memakan waktu tiga jam lebih.


Menyorok sang tuan masuk hotel, Idris tak bernyali. Berfikir dengan resiko besar jika terjadi hal-hal gawat dan bahaya. Khawatir jika dirinya justru akan berurusan dengan aparat.


Sebab selama jadi driver pribadinya, sang tuan tidak pernah berkelakuan seperti ini. Jadi, meski sang tuan selalu nampak sehat dan bugar, tapi Idris tidak berani menduga sekuat mana tubuh Shin Adnan bereaksi pada air keras yang telah diminumnya.


Idris telah menglighting lampu kiri mobil untuk berbelok mendekati gerbang rumah datuk Fazani. Bersama dari arah berlawanan, sebuah kereta juga mulai membelok ke arah yang sama. Mereka sama-sama berhenti di depan gerbang dengan saling berhadapan. Dan keduanya seperti tengah bertanding sorot lampu.


Sebab mendapat klakson beberapa kali dari mobil di depan, Idris jualah yang awal bergerak memasuki gerbang rumah. Diikuti perlahan oleh mobil di belakang.


Hujan masih turun sangat deras. Namun latar parkir luas di rumah datuk Fazani telah beratap total seluruhnya. Idris tidak repot saat keluar dari mobil.


Bersamaan dengan mobil berkaca hitam gelap yang mulai terbuka dan nampak para penumpang di dalamnya. Rupanya mereka adalah keluarga datuk Fazani sendiri. Baru kembali dari perjalanan Malaka- KL. Selepas mengunjungi om Hafiz di hospital.


Driver nampak keluar disusul Fara dan datin Azizah hampir bersamaan keluar. Menyusul datuk Fazani yang terakhir.


"Assalamu'alaikum. Selamat malam, datuk,," sapa hormat Idris pada datuk Fazani dan mengangguk pada datin serta Fara.


"Wa'alaikumsalam. Shin,,mana, Dris? Tak nampak,,," datuk Fazani bertanya sambil memandang mobil di sebelah.


Idris nampak bingung menjawab.


"Tuan muda Shin, ada dalam mobil,," jawab Idris terdengar gamang.


"Kenapa tak nampak segera turun? Tidur,,?" tanya datuk Fazani lirih. Sepertinya sang datuk sedang lelah.


"Biar Fara yang bagi kejut bang Shin, pa,,," sahut Fara sambil mendekati mobil baru.


"Tuan muda Shin tengah tak sadar, datuk. Kami baru balik dari Zeta Bar,,!" seru Idris sebelum Fara membuka pintu mobil.


"Buat apa, jumpa rekan bisnis kah, Driss?!" sahut datin Azizah tiba-tiba. Berfikir jika tak biasanya Shin tertidur.


Idris menunduk sebentar.


"Tuan muda Shin, minum banyak arak kat Zeta Bar, datin,," Idris menerangkan dan kembali menunduk.


"Apa,,??!!"


"Whaaaatt,,?!"


Fara dan datin Azizah sama-sama tak percaya dengan jawaban Idris yang lirih itu.


Berbeda dengan reaksi istri dan putrinya. Datuk Fazani bergegas mendekati mobil dan membuka pintu belakang.


"Terangkan lampu, Driss,,!!" datuk Fazani berseru, ingin lebih jelas memperhatikan putranya.

__ADS_1


Idris bergegas menuju mobil dan menyalakan lampu cukup terang.


Shin yang sempat meracau sepanjang jalan dan kemudian bungkam tiba-tiba itu ternyata telah tidur. Badannya telah merebah separuh di kursi mobil dengan posisi yang setengah miring.


"Kau tahu, Driss,,? Apa sebab tuanmu buat hal tak guna tuu,,?"datuk Fazani bertanya pada Idris, sambil memperhatikan wajah Shin yang nampak merah meradang.


Idris tak ada pilihan. Menceritakan segala kata yang telah diucap sang tuan saat meracau tidak sadar.


Datuk Fazani nampak terkejut yang sangat. Datin Azizah dan Fara pun juga ikut terkejut meski tidak sekaget sang datuk.


"Mana Dhiarra, Driss,,?" datin Azizah bertanya pada Idris.


"Tak sangka, bang Shin sedemikian dalam rasa sukanya kat kak Dhiarra,,?!" seru Fara reflek tak sengaja.


Dan ucapan Fara membuat datuk Fazani terkejut.


"Apa ada hal yang boleh kau jelaskan pada papa, Fara,,??" datuk Fazani menatap tajam pada Fara. Merasa ada yang tengah ditutupi oleh putrinya.


Fara menatap sang mama yang juga tengah melebar mata menatapnya.


"Pa,,,, nanti mama yang akan bagi tahu semua pada papa. Papa tunggu kat bilik sambil rehat yaa.. Nanti mama susul. Mama nak urus Shin kejap. Macam mana pun die, kita kena belas kasih kat putra kita,,," datin Azizah berkata lembut sambil mengusap lengan bahu sang suami.


"Dris, jaga tuanmu. Jangan kau bagi balik Melaka sebelum aku berbincang dengan dia masa sadar.." Datuk Fazani berkata tajam pada Idris. Kemudian cepat berbalik dan melangkah masuk dalam rumah.


Fara yang baru menghubungi seseorang di ponsel, mendekati sang mama.


"Betul kee, Fara,,?!" datin Azizah terkejut.


Fara mengangguk. Mereka termangu bersama.


Dengan gontai sang mama memanggil seorang petugas jaga di depan. Meminta membantu Idris untuk membawa Shin ke kamarnya di lantai dua.


Mama dan Fara mengikuti mereka yang sempoyongan memapah Shin dengan badan besarnya. Idris dan security itu memang jauh lebih kecil daripada Shin adnan. Mereka berdua adalah lelaki yang kurus.


🍒🍒🍓🍒🍒


🍒🍒🍓🍒🍒


Pukul 05.05 am


Pagi buta selepas subuh di kamar Shin lantai dua.. Kuala Lumpur, Malaysia.


"Apa kau ini bukan lelaki, Shin,,? Kau tak mesti join sama bilik.. Apa kau tak boleh pandai macam Idris? Dia pun tak butuh bilik penginapan. Dia boleh guna mushola,,! Idris bahkan lebih pandai menjauhi aib daripada engkau,," datuk Fazani tak habis fikir kenapa Shin sampai kena tindakan oleh Jais di Terengganu. Dan terheran, kenapa sang putra kebanggan itu nekat ambil sebilik dengan Dhiarra.


Shin hanya terdiam, kepalanya sangat berat. Pandangannya jatuh di sarung bergarisnya. Sang Ayah telah memaksanya bangun satu jam yang lalu. Kini selepas subuh bersama, Shin Adnan sedang terpojok menghadapi sang datuk.


"Dan engkau ini suami macam apa, Shin?? Tak paham makna ijab kabul, kee? Asal pulak kau cakap ayat itu, tapi kau ingkar pada maknanya? Istri dibawa orang kat depan matamu pun, kau biarkan?? Tak kisah lelaki tu, tunangnya kee... Abangny kee.. Ayahnya kee.. Atau presiden dia sekali pun...! Shin,, kau paham lelaki dayus, tak? Serupa engkaulah itu, Shin,,!!"


Datuk Fazani menahan geram pada putranya.

__ADS_1


Shin berusaha tak membantah,, namun sangat sesak rasanya diam tanpa pembelaan apapun.


"Sebetulnya, akulah yang silap, pa. Telah menipu paksa Dhiarra untuk aku kahwini dengan alasan sebab Jaiz." Shin setengah sadar dan kepala sakit membuka alasan akan sikap dayusnya pada sang ayah.


"Apa maksudmu, Shin?" datuk Fazani berkerut.


"Ketua Jais tuh bang Asraf, pa. Dia telah tawarkan kat aku pembebasan tindakan. Tapi aku tak nak ambil peluang yang dibaginya. Aku pinta kat bang Asraf agar tetap mengawinkan aku dengan Dhiarra,," Shin mengatakan hal sebenar itu dengan pasrah.


"Apa,,,Shin,,? Apa sebab kau buat macam itu? Kau suka gadis itu kee,,,?!!" datuk Fazani semakin terkejut.


Mungkin sang datuk sedang sangat fit dan dalam kondisi yang prima. Jadi bincang kejut dengan sang putra pagi ini tidak berpengaruh pada jantung lemahnya.


"Itulah pa,,, Aku hanya mencoba bersikap bijak pada Dhiarra," sahut Shin dengan pelan.


"Shin, apa kau sudah menidurinya? Fara kata Dhiarra dah kedapatan ada stamp sebab engkau,,??" nada datuk kembali rasa geram pada putranya.


"Iya,,pa. Aku dah sentuh Dhiarra. Tapi aku tak ambil dara dia,,,," Shin berkata dengan suara yang terdengar mulai suntuk kembali.


Hanya sarung hitam bergaris merah itu saja yang dipandangnya. Tak sanggup menatap mata sang datuk. Merasa segan untuk berbincang urusan seperti ini bersama ayahnya.


Datuk Fazani melepas peci hitam dari kepala. Merasa geram dan gerah pada putranya kali ini. Anak lelaki yang sebelumnya tidak pernah nampak dekat dengan wanita dan terkesan enggan. Kini sekalinya kesandung wanita, seperti hilang akal sehatnya...


"Jika macam tuu,,, aku tak tau lagi macam mana mengata engkau ni, Shin,,,,, Dayyus kee,,, atau bijak kee,,,,," datuk Fazani berkata lirih kali ini.


"Tapi jika kelakuanmu macam tuu,,, pergi kat Zeta Bar,,,pulang-pulang tidur pengsan. Aku sebagai ayahmu,,, merasa sangat malu, Shin. Rasa rugi telah didik engkau. Aku yang pernah letak engkau masuk pesantren tiga tahun pun merasa itu tak guna. Kau tak ingat kuasa jodoh, kee,,??" suara dan pandangan sang datuk kembali sama tajamnya pada Shin.


"Maafkan aku, pa,," Shin menatap ayahnya. Memandang wajah kerut di depannya sangat segan, sang ayah yang cukup patut jadi panutan baginya.


"Dahlah, pagi ini juga,,kau kena bertolak balik kat Melaka. Kasihan Faiz, dia sendiri. Om engkau tuu, agak-agak lama lagi boleh buat kerja. Kau kena urus sendiri baik-baik syarikatmu dulu," sang datuk mengarahkan putranya.


"Masalah Dhiarra, ingat saja pasal jodoh, Shin. Lagipula gadis itu tak mungkin boleh berkahwin lagi kat Indonesia.." ucap sang datuk.


"Apa maksud papa,,?!" Shin tercengang dengan ucapan ayahnya.


Datuk Fazani samar tersenyum.


"Dia dah kawin. Kat mana-mana pun, sistem IT takkan bolehkan dia kahwin. Tak kisah mana-mana negara. Kecuali dia nak juga dikawin siri oleh tunangnya. Bermakna Dhiarra memang tak patut denganmu."


"Kau jangan runsing, Shin. Jika gadis itu tak jodoh dengan engkau. Kawin saja dengan dara lain yang baik dan juga lawa. Ladisa atau Sazlina dah patut tuu buat engkau. Ayah engkau ini pun dulu kahwin dengan mamamu tak sebab cinta.. Boleh tahan juga hingga tua.. Jodoh lah macam tuu, Shin..." sang datuk menambahkan.


Wajah Shin nampak sedikit lebih cerah, matanya yang masih memerah telah terbuka sempurna sekarang. Nampak ada harapan baru di wajah tampan kusutnya.


"Jadi, perkawinanku dengan Dhiarra yang sebab kena tindak Jais tuh resmi diakui negara, pa,,?" Shin menatap lekat wajah ayahnya.


Sang datuk tersenyum masam pada putranya.


"Kau tu,,Shin. Nak kawin sangat, tapi tak pergi pahamkan pasal dan ayat negara. Kau juga yang susah, kan,,?"


"Jais tuh badan agung negara. Kau pikir Jais buat kerja main-main kee? Tunggulah, Shin. Biasa dalam satu hingga dua minggu dokumen kahwinmu akan dihantar kat engkau," sahut datuk. Tak habis pikir dengan sang putra yang telah tertutup mata dan hatinya pada Dhiarra....

__ADS_1


__ADS_2