
Sreeekk..!!
Degh..!! Lebih tersiksa kejut lagi rasanya. Hanya dalam hitungan detik saja gorden penutup kaca sempat dibuka oleh pegawai itu. Namun kembali ditutup tiba-tiba juga oleh pegawai yang sama.
Dan tentu saja memutus adu pandang dua insan saling rindu yang sedang sama-sama tercengang. Seperti dihentak putus saja rasa jantung mereka sekarang. Masih laju berdetak bersama kejut yang sangat.
Shin terbungkam, gadis yang luar biasa dirindu dua puluh empat jam tiap hari dan telah satu minggu ini tak bertemu, baru saja nampak di depan mata. Dan yang membuatnya tak habis pikir, pegawai perawatan di seberang itu seperti sengaja menggodanya. Hanya sebentar membuka gorden dan kemudian cepat menutupnya kembali.
Namun Shin justru merasa lega dan rela. Di antara rasa cengang takjub pada pandangan di kaca seberang, tampilan Dhiarra yang meresahkan itu membuatnya risau dan cemas. Tidak suka jika pegawai rawatan lelaki dalam ruangan ini juga ikut melirik di ruang sebelah.
Tidak ingin Dhiarra menjadi tontonan, Shin merasa lega saat gorden itu kembali ditutup tanpa harus memintanya. Meski jantungnya pun juga seperti sedang dihentak putus tiba-tiba.
πππ
Setelah mendapat layanan rendam siram air hangat bertabur bunga segala rupa dan warna, Dhiarra dikembalikan ke kamarnya dan mendapat pijat rawat yang terakhir. Hingga tertidur nikmat tanpa sadar dan dibangunkan saat pegawai layanan telah selesai bertugas.
Dhiarra kembali tertidur setelah sempat meminum ramuan yang diberikan mereka. Minuman sejenis rapat wangi dan berasal dari rempah ratus pilihan dan berguna. Dhiarra menghabiskannya dengan pasrah. Merasa begitu penuh isi lambung perutnya hingga terasa mabuk dan tak sadar sambung tidur sangat nyenyak. Ingatan pada Shin seperti terbang melayang bersama lelap tidurnya.
πππππ
Pukul 4.30 am.. Hotel Casa del Rio Melaka di Melaka Bandaraya situs Unesco warisan dunia.
Kriiìiiiiiiiiiii......!!
Dering alarm rutin di ponsel telah berbunyi. Hanya samar terdengar dan sama sekali tidak nyaring. Gadis molek yang tergolek dengan selimut berhamburan itu tak sedikipun merespon hasil alarm yang telah disettingnya sendiri. Masih merasa nikmat dalam pejam lelapnya.
Kriiiiinnngg,,,!! Hingga alarmnya terus berbunyi samar ke sekian kalinya pun tidak juga mendapat respon sambutan yang layak. Dhiarra masih lelap memejam.
Tok...Tok...Tok...Tok...Tok...!!
Sampai akhirnya bunyi ketukan di pintu itulah penyeret sedar Dhiarra dari karam tidur yang lelap.
Ceklerk..!
"Selamat pagi, cik Dhiarra. Kami dari tim make up wedding organizer nak rias anda sebentar lagi dalam kamar. Silakan anda bersiap diri. Riasan pengantin anda akan dimulai pukul enam setengah pagi ini di kamar anda. Sebentar lagi kami akan datang. Jangan lupa anda sarapan dulu jika makanan sudah datang, yaaa. Permisiii..."
Wanita pegawai make up dari tim wedor itu sangatlah hemat waktu. Berbicara hanya dalam satu kali gugusan tanpa peduli jika calon pengantin masih sedang setengah tersadar dan setengah bernyawa.
Saat Dhiarra kembali ke kamar, terdengar samar lagi bunyi alarm di ponsel. Ternyata benda pipih itu tersimpan dalam tas cantiknya di sofa dan tak dilihat lagi sejak sampai di hotel semalam.
Ada beberapa data panggilan dari nomor yang sama, namun tanpa bernama. Mengabaikan data panggilan asing itu dan beralih langsung pada menu pesan di aplikasi online ponselnya.
__ADS_1
Terkejut sangat si gadis jelita. Ada nama Yuaneta dalam pesan ponselnya.
*Ish..Ish..Ish... Kawin juga dengan paman tirimu yang handsome gila itu yaaa.. Bilang-bilang tidak akan... Giliran cinta, diam-diam... Tau-tau kawin.. Dasar, kawan tak ada akhlak kamu, Raaaaaaa..πππ,,* 11.20 pm
Gadis yang baru bangun itu kembali rebah tidur. Dengan senyum yang belum juga menutup dari bibir merahnya.
Senyum itu perlahan mengatup saat berganti pesan di layar. Membaca pesan dari sang paman handsomenya..
*Raaaa, sudah tidur? Aku telah tahu di mana kamarmu. Tapi sedang kukuat tahankan diriku untuk tidak mendatangimu malam ini. Sangat tersiksa rasanya, Ra* 11.45 pm
Dhiarra kembali tersenyum, bayang pias nampak muncul di wajahnya. Meski pesan itu kian membuatnya panas berdebar, namun tidak di balasnya pesan lelaki itu. Ditutupnya lembar pesan dari Shin.
Saat kedua pesan mereka datang, Dhiarra memang sudah terbang melayang ke awan dalam pejam. Tidak lagi mampu menahan sadarnya.
Kembali berfikir pada sang karib. Ah, Yuaneta... Merasa bersalah rasanya. Bagaimana bisa lupa tidak berkabar pada sang karib beberapa hari ini.
Ah, tidak salahnya,,,Yuaneta begitu susah dihubungi tiap kali Dhiarra merindukan. Hingga terlupa sama sekali akhirnya.
*Nett, kau tidak pernah bisa kuhubungi. Kau di mana? Datanglah kumohon. Pagi ini aku akan kawin di Hotel Casa del Rio Melaka. Kutunggu, dampingi aku ya, Nett... Aku tak ada kerabat. Kasihan kan, diriku? Kau sedang apa?*
Send... Dhiarra menunggunya.. Tidak lama sangat, namun bukan cepat. Dua centang biru telah menanda di pesannya. Yuaneta sedang mengetik balasan.
*Aku telah di hotel yang sama denganmu. Paman tajirmu telah menyuruh sopirnya untuk menjemputku dan Denis. Hampir semalaman aku tidak tidur. Kau paham kan, hotel bagusnya buat ngapain? Bahkan saat ini pun kami sedang menyambungnyaπππ. Tunggulah aku, Raa...*
Ah,, tertawa berdebar rasa di dada Dhiarra. Meski sang karib memang peyang. Segala ucapan dia hampir semua memang benar adanya. Dhiarra tidak ingin munafik. Bahkan telah merasakannya sendiri, semua yang diucapkan sang karib itu, Dhiarra telah melakukan hampir semuanya bersama sang paman. Ah, Dhiarra kembali mendapat serangan panas dingin pagi ini.
Dengan terus tersenyum, Dhiarra membawa badan yang terasa meremang meluncur ke dalam kamar mandi. Tak ingin kedatangan tim make up dari wedor sementara dirinya tidak siap.
Tok...Tok...Tok..!!
Bunyi ketukan di pintu, terdengar bersamaan dengan keluarnya Dhiarra dari kamar mandi. Merasa tidak sia-sia untuk mengakhiri mandi paginya kali ini dengan agak tergesa. Bayang orang akan mengetuk pintu di kamarnya selalu mengejar.
Makanan lengkap yang diantar pihak hotel oleh orang pengetuk pintu di kamar, telah tersaji menggoda di meja. Bergegas juga membalik piring dan mengisinya cukup-cukup.
Bekal saat berperan sebagai pengantin, yang konon cukup menuntut untuk bertahan sementara dalam mode berpuasa. Meski makna puasa hanya dalam tanda kutip belaka. Dan tergantung pada pribadi dan sikap sang pengantin itu sendiri.
Tok..Tok...Tok..Tok..Tok..!!
Ketuk nyaring di pintu kembali berbunyi untuk kesekian kalinya pagi ini. Gadis jelita yang telah berstatus istri namun juga sebagai calon pengantin itu baru keluar dari kamar mandi selepas menggosok gigi. Kembali bergegas menuju pintu dan membuka dengan cepat.
Ceklerk,,!
__ADS_1
Datin Azizah dan beberapa wanita dewasa sedang berdiri tersenyum di depan kamarnya.
"Dhiarra,,, mereka sudah akan start meriasmu. Jangan sedih, kau kena ingat pasal indah-indah saja yaa.. Agar hasil riasmu nampak sempurna. Mama, papa dan Fara tengah kawani kerabat.. Tak pe ya, Dhiarra,,?" terang datin Azizah yang bermaksud meninggalkan Dhiarra lagi untuk dirias tim wedor.
"Iya, ma. Aku paham, kita semua tengah sibuk. Mama jangan lah risau, mereka pasti akan meriasku dangan maksimal,," Dhiarra mengangguk dan tersenyum.
Nampak sangat segar, cerah dan jelita. Sepertinya usaha datin Azizah untuk memberi perawatan pada calon istri dari putra tersayangnya satu minggu ini tidaklah sia-sia. Dan datin Azizah tahu dan yakin bahwa Dhiarra adalah masih anak dara. Merasa bahagia memiliki anak lelaki dan calon menantu perempuan yang bisa dipercaya dan menjaga nama baik keluarga.
πππππ
Tok..Tok..Tok..Tok...!!
Ketukan di pintu kamar Dhiarra kembali terdengar untuk yang ke banyak kalinya pagi ini. Jika didata, mungkin kamar Dhiarra lah yang paling laju aktivitasnya di seluruh kamar hotel bintang lima internasional di Melaka itu.
Langkah kaki mengayun terdengar masuk ke kamar Dhiarra. Salah seorang pegawai make up wedor yang telah membukakan pintu.
Dan kaki itu nampak berhenti tepat di depan Dhiarra yang memejam mata rapat sebab arahan dari orang wedor yang tengah meriasnya.
"Heiii,,,, calon pengantin paling jelita sejagat raya, yang akhirnya kawin juga dengan pamannya yang tampan seduniaaa... Selamat ya, Raaaaaa..." Suara ini sudah sangat dihafal Dhiarra di luar kepala.
"Neeeeett..!!! Kau sudah datang kah?! Temani aku, jangan keluar-keluar lagi dari kamar ini. Mana bang Denis?!" Dhiarra histeria akan datangnya sang karib tiba-tiba. Merasa sedih, haru dan gembira bersamaan. Perasaan yang tak bisa diungkapkan.
"Bang Denis kerja, Raa. Sorry ya, mungkin dia tak bisa datang lagi. Sebab boss dia ingin dia lembur malam ini,," sesal nada Yuaneta berkata.
"Iyalah, tak apa, Neeett. Asal dia bolehkan kau temani aku terus pun, aku dah suka. Eh, tiap malam lembur tak penatkah, Net? Semalam kalian lembur juga kan,,?" Dhiarra tersenyum nampak jahil.
"Ish,,, jauh bedalah rasa lemburnya. Eh, sudah pintar ya bicara? Paman tirimu yang hot itukah yang mengajarimu? Ha..ha..ha..!" Yuaneta tak tahan lagi tertawa.
"Husst,,, sudahlah, Nett.. Kita jangan berisik dulu. Kata akak-akak perias aku harus diam dan tenang. Lupa aku,, kau tungguilah aku sambil ngapain gitu. Makan juga ada.. Nonton tivi,,, atau terserah, Nett... Aku start diam nih yaa,," Dhiarra telah merapatkan lagi mulutnya.
"Iyaaaaa,, aku pahaaamm. Dah kau nikmati saja elusan-elusan itu. Jangan risau, akan menunggumu." sambut Yuaneta berjanji.
Sambil memandang tersenyum pada Dhiarra yang memejam mata sempurna seperti semula.
Dhiarra Tidak ingin membuat geram para periasnya diam-diam. Terpaksa mengabaikan sang karib yang dirindunya itu sementara. Tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan sang karib di kamar demi menemaninya.
Yuaneta duduk di sofa dengan terus mengamati Dhiarra yang tengah dihias. Merasa gembira sekaligus terkejut tak menyangka. Harapan akan terus bersama sang karib di negara asing ini bersama, ternyata bukan hanya khayalan semata.
Dhiarra pun punya nasib yang hampir sama dengannya. Berjodoh dengan lelaki warga Malaysia. Namun sang karib jauh lebih beruntung darinya. Suaminya yang tajir itu telah mendapat restu penuh dari seluruh keluarganya. Beda jauh dengan Yuaneta, yang justru diputus keluarga besar sang suami sebab Denis lebih memilih menikahinya.
Yuaneta tidak pernah menyesali. Justru semakin bersyukur telah memiliki suami yang bertanggung jawab pada pilihannya meski harus hidup seadanya. Yuaneta terus termenung. Akhirnya begitu mengantuk dan tak bisa ditahannya. Perempuan istri orang yang kurang tidur sebab lembur semalaman itu tengah tertidur nyenyak di sofa..
__ADS_1